Kamis, 26 September 2019

Tak Sekadar Aliran Rasa #GameLevel6

September 26, 2019 0 Comments

Berkaitan dengan menstimulasi logika Matematika memang cukup menguras otakku waktu pertama kali game level ini diluncurkan. Apalagi saat melihat beberapa teman di kelas Bunsay #5 Jateng sudah setor tantangan mereka.

Hmmmm ... jadwal kegiatan offline yang memadat pun menjadi tantangan luarbiasa yang harus mampu aku lompati! Motivasi dalam diriku senantiasa terbakar. Allah pasti sudah mengatur semuanya, DIA yakin kalau aku akan mampu menyelesaikan T10-ku di level ini (meski dengan susah payah, #rapelan).

Logika Matematika yang awalnya aki pikir hanya berkaitan dengan angka, ternyata salah besar. Mengelompokkan jenis bangun datar, mengelompokkan warna serta sekadar berbincang tentang uang pun sesungguhnya sudah menerapkan logika Matematika. 

Yap, sesimpel itu ternyata. Lula dengan gaya bocahnya yang mulai mengenal warna, mengelompokkan warna, bentuk bangun yang sama, serta mengenal angka dan menuliskannya. 


Shahia di level lebih tinggi, memang Matematika baginya sudah sebuah rumus. Shahia menikmati Matematika dengan berhitung. Pertambahan dengan angka yang semakin besar, kemudian mengenal konsep pembagian serta perkalian. Membagi jajan miliknya misalnya, secara sederhana Shahia belajar pembagian. Beda hal dengan Aksan. Konsep lebih matang, ternyata sulungku itu lebih menyukai menghitung nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. 

Semua yang aku alami ternyata memang bukan sebuah kebetulan. Proses belajar dengan anak-anak terkait menstimulasi logika Matematika mereka nyatanya Allah sangat berperan di sana.

Contohnya saat aku bingung di awal merumuskan apa yang akan aku tulis untuk memulai tulisanku tentang game ini, qodarullah Shahia mendapatkan PR dari sekolahnya (tumben bener anak ini ada PR, sekolahnya yang fullday memang tidak biasa memberikan PR untuk anak-anak, kecuali untuk mengisi liburan supaya tidak terlalu terbuai kegiatan yang tidak ada faedahnya). Saat aku lirik PR-nya, ternyata sudah masuk bab pembagian sederhana.
Jadilah emak mulai mencari cara, bagaimana dengan kalimat sederhana pula memahamkan gadui 7 tahun ini. Mulai dari memberikannya pemahaman sederhana dengan contoh berbagi jajanan, hingga benar-benar melibatkan angka serta runtutan cara pembagian dengan metode "porogapit".

Sejurus dengan tantangan game level #6 ini, di hari lain, Aksan yang tidak sengaja menemukan uang asing di dompetku mulai kepo. Aksan terus saja bertanya tentang perbandingan mata uang Brunei dan Vietnam yang dia temukan tersebut. Kami pun terlibat obrolan ringan dan sesekali membuka aplikasi kalkulator di smartphone untuk menghitung nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah.

Perhitungan ringan tentang rupiah dan beberapa mata uang asing nampak begitu asik bagi Aksan. Dia mulai menghitung sendiri untuk mata uang laiinya, Euro, Dollar Singapore, Dollar Amerika, Yen Jepang, dan sebagainya. 

Nayura a.k.a Lula si bungsu, qodarullah beberapa hari selalu buku aktivitas yang berkaitan dengan angka yang dia pegang. Mulai dari aktivitas menebalkan tulisan angka tersebut, mewarnai angka hingga mencocokkan angka dengan jumlah benda yang ada dalam gambar kotak di buku tersebut. 

Allah begitu luarbiasa mengatur skenario-Nya untukku. DIA tidak membiarkanku buntu ide! MasyaAllah ... 

DIA tunjukkan segala bentuk aktivitas anak-anakku yang berhubungan dengan logika Matematika lebih dari 2 pekan ini. 
Nikmat manalagi yang bisa aku dustakan??

Alhamdulillah ....

Selasa, 17 September 2019

ITUNG KURS YUK!

September 17, 2019 0 Comments


"Bun, ini uang apa sih?" Kak Aksan menemukan beberapa lembar dollar sisa perjalananku ke luar negeri beberapa waktu lalu.

"Oh, itu Dong, Nak. Mata uang Vietnam." Aku menjawab sesaat setelah melirik apa yang dipegangnya.

"Kalau yang ini?" tanyanya lagi lebih antusias.

"Hmm... itu dollar Brunei."

"Loh, memangnya Bunda pernah ke Brunei?"

"Belum sih, tapi mata uang Brunei itu bisa dipakai di Singapura. Jadi saat Bunda ke Singapura dulu, selain bawa dollar Singapura, Bunda juga bawa dollar Brunei itu, Nak."

"Oh gitu ya .... Bun, 1 dollar Singapura berapa rupiah?"

"Kita googling yuk, itung kurs."

"Kurs itu apa sih?"

"Kurs itu nilai tukar mata uang, maksudnya sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing-masing negara atau wilayah." 

"1 Rupiah itu = 1,652 Dong, Nak. Rupiah masih lebih tinggi nilainya dibandingkan Dong."

"Kalau 1 dollar Singapura berapa rupiah Bun?"

"Sekarang ini, 1 dollar Singapura setara dengan 10,167 rupiah. Rupiah lebih rendah nilainya dibanding dollar Singapura, Nak."

"Kalau dollar Brunei nilainya hampir sama ya dengan dollar Singapura? Makanya bisa dipakai ya Bun di Singapura?"

"Betuuulll banget, Nak! Pinter anak Bunda!"

"Nah, coba kakak itung deh. Anggap saja 1 dollar Singapura itu 10,000 rupiah. Kalau itu Bunda punya 5 dollar Singapura, berarti sama dengan berapa rupiah hayo?"

Sejenak dahinya berkerut, lalu dia mengambil kertas. Mencorat-coret dengan seksama, lalu berbinar matanya menjawab, "50,000 dong Bun!"

"Iiiih udah hebat ya. Coba kalau Dong Vietnam. Anggap aja 1 rupiah itu 1,500 Dong, biar itungnya lebih mudah. Kalau Bunda mau nuker 10,000 rupiah, akan dapet berapa Dong hayo?"

Dia nampak kembali mencorat-coret kertas, dengan serius dia menghitung. Tak lama dia menjawab dengan nada agak ragu, "Kayanya sih 15,000,000 Dong ya Bun? Bener ga?"

"Bener Sayang. Hebat, Kakak udah bisa ngitung kurs!"


***



Diskusi ringan sore itu tak kusadari bahwa kami sedang bermain logika matematika. Aksan bahkan sudah mulai mengenal kurs setelah tanpa sengaja menemukan uang asing yang masih kusimpan. 

Memang belajar itu bisa dari mana saja, kapan saja, dengan metode dan alat apa saja, bahkan dengan siapa saja.

Terus semangat belajar ya, Nak!

Senin, 16 September 2019

SAATNYA BERAKSI

September 16, 2019 0 Comments



Kemampuan berhitung merupakan salah satu kemampuan dasar anak yang wajib di miliki sebagai bekal mendapatkan pendidikan selanjutnya dalam bangku persekolahan. Mengingat pentingnya kemampuan berhitung dimiliki bagi seorang anak, maka aku sebagai orang tua harus mampu mengajarkan dengan cara terbaik kebiasaan berhitung bagi anak-anakku. Sehingga beberapa hal harus aku lakukan untuk membuat anakku bersemangat dalam belajar berhitung. Beberapa hal ini aku lakukan untuk memotivasi anakku, khususnya Shahia, agar bersemangat dalam belajar untuk berhitung.


Hal yang paling penting bagi seorang anak ialah motivasi dalam belajar. Adapun motivasi bagi seorang anak bisa diciptakan dengan berbagai hal yang bisa dijadikan stimulus. Salah satu hal yang bisa memunculkan motivasi belajar berhitung anak ialah dengan berbagai teknik mengajar, media mengajar, dan strategi mengajar yang diberikan. Hal tersebut aku siasati dengan penggunaan media pembelajaran berhitung yang menyenangkan, misalkan angka berwarna, alat peraga yang dia sukai seperti mainan dan boneka kecil, dengan menerapkan benda-benda tersebut aku dapat mengajarkan berhitung dengan cara yang lebih menyenangkan lagi. 


Adapun mengenai teknik dan strategi mengajar, sebagai orang tua sangat mungkin bagiku untuk menerapkan beberapa jenis permainan untuk melatih kemampuan berhitung Shahia. Permainan yang dimaksud misalkan congkak, monopoli, dan lain sebagainya. Penerapan permainan dalam belajar berhitung akan membangkitkan motivasi belajar Shahia dalam berhitung.


Selain memperhatikan hal-hal yang disebutkan di atas, sikap yang ditampilkan orang tua dalam mengajarkan hitungan kepada anak tersebut sangat perlu diperhatikan ternyata. Tentunya dalam belajar, seorang anak akan melakukan beberapa kesalahan wajar, saat anak melakukan beberapa kesalahan sebaiknya kita menjadi orang tua yang pemaaf, jangan sampai terlalu menekan anak dan terlalu menuntut anak untuk selalu bersikap benar saat belajar. Hal tersebut justru akan menimbulkan efek kapok dan stres pada diri anak saat belajar berhitung. 


Pada setiap hasil kerja Shahia, aku mulai untuk menghargai dan juga memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang berlaku. Adapun hukuman yang dimaksud bersifat edukatif, tidakn berupa kekerasan yang menekannya. Dengan membiasakan hal tersebut, harapanku, Shahia tumbuh jadi pribadi yang hati-hati dan selalu semangat.


Selalu mengingatkan dirinya untuk rajin beribadah juga merupakan konsep menanamkan motivasi belajar berhitung. 


Hal-hal di bawah ini juga bisa dijadikan pedoman untuk memotivasi anak belajar berhitung sehingga dia menjadi sosok yang "SIAP BERAKSI" di sekolah maupun lingkungan yang lebih kompleks terkait dengan matematika. 


1. Bersemangat ketika mengajar matematika


Salah satu cara untuk meningkatkan minat anak adalah dengan bersemangat ketika mengajar. Anak bisa merasakan jika orangtua tidak semangat mengajar, hal ini menyebabkan dia pun tidak menaruh minat pada pelajaran matematika tersebut. Namun jika orangtua bersemangat dan menjadikan suasana belajar menarik, maka anak akan lebih termotivasi untuk mengikuti aktivitas belajar tersebut.


2. Perhatikan celah materi yang tidak dipahami anak



Orangtua sebaiknya mengetahui materi apa yang tidak dipahami anaknya untuk meningkatkan keinginan mereka belajar lebih banyak. Misalnya, orangtua menjelaskan contoh latihan yang biasa diberikan di guru di sekolah anak sampai jelas, diikuti dengan contoh latihan yang sedikit berbeda namun masih terkait dengan materi yang sama. Hal ini akan memberi anak motivasi untuk belajar lebih giat.


3. Temukan pola atau cara khusus




Orangtua dapat membantu anaknya menemukan cara mudah memahami suatu materi agar mereka lebih cepat mengingat suatu topik. Misalnya perkalian angka 1-10 dengan angka 9 menggunakan jari, 7x9 artinya jari ke 7 dari kiri menjadi pemisah antara sisa jumlah jari di kanan (6) dan jari di kiri (3). Lalu, kedua angka tersebut digabungkan maka hasilnya adalah 63. Pola atau cara khusus ini akan lebih memotivasi anak untuk belajar karena memudahkan mereka memahami konsep.


4. Memberi tantangan pada anak


Memberi tantangan sangat penting untuk menciptakan antusiasme siswa anak dalam belajar. Namun, orangtua harus memilih tantangan yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Karena tujuan diberikan tantangan ini adalah untuk menyemangati bukan menurunkan minat anak.



5. Memberi contoh pengaplikasian matematika dalam dunia nyata


Contoh pengaplikasian materi di kehidupan nyata dapat orangtua berikan pada awal pembelajaran. Hal ini agar anak menjadi termotivasi terhadap materi yang akan dijelaskan orangtua. Orangtua juga bisa membantu anaknya menghubungkan matematika dengan jenjang karir yang mereka inginkan di masa depan. Misalnya orangtua menjelaskan manfaat teori peluang yang bisa diaplikasikan ketika anak menempuh pendidikan di jurusan aktuaria. Ke depannya, anak akan bisa menghitung peluang terjadinya peristiwa tertentu, seperti resiko keuangan di masa depan dan dampak dari kondisi finansial.



6. Ceritakan sejarah terkait


Untuk menumbuhkan ketertarikan anak, orangtua bisa menambahkan sejarah terkait materi tertentu yang sedang diajarkan tersebut. Cara ini bisa memotivasi anak dan mengasah rasa keingintahuan anak, misalnya simbol akar (√ ) yang ditemukan oleh seorang matematikawan bernama Christoff Rudolff.



7. Menggabungkan teknologi dalam kegiatan belajar


Kedekatan anak-anak dengan teknologi dapat orangtua manfaatkan untuk menambah semangat belajar mereka. Apalagi saat ini, banyak aplikasi yang bisa membantu anak belajar dan memahami matematika. Di antaranya Math Tricks, Photomath-Camera Calculator, dan ruangbelajar di aplikasi ruangguru. Tidak hanya pelajaran matematika, ruangbelajar juga menyediakan video animasi untuk semua mata pelajaran sekolah yang menarik untuk ditonton. 




***




Dari beberapa motivasi belajar berhitung serta latihan-latihan yang Shahia kerjakan di rumah, konsep pembagian yang dengan contoh sederhana misalnya saat dia punya jajanan, lalu dibagikan ke kakak dan adiknya dan sebagainya.

Shahia menjadi lebih Siap Beraksi di ujian tengah semester meskipun bundanya tidak mendampingi saat dia UTS. Alhamdulillah ...

MENGENAL ANGKA DAN MENULISNYA

September 16, 2019 0 Comments

Membaca, menulis, dan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan oleh anak ketika ia ingin masuk sekolah. Saatnya aku sebagai orangtua mengenal tahapan normal perkembangan membaca, menulis, dan berhitung anak seperti yang aku kutip di website milik Ikatan Dokter Anak Indonesia, www.idai.or.id:

Membaca dan Menulis Usia 2-4 tahun

Pada usia ini, membacakan suatu cerita pada anak sesering mungkin bisa menumbuhkan minat baca dan memperluas kosakata. Anak juga bisa mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis nantinya. Keterampilan tersebut bisa Anda ajarkan berupa menarik garis, menggambar lingkaran, dan menghubungkan titik-titik. Mewarnai juga bisa menunjang keterampilan ini lho, Bunda. Gunakan alat tulis yang sesuai ukuran tangan anak agar nyaman dan mudah dipakai.

Berhitung Usia 2-3 tahun

Pada usia prasekolah, balita Anda mulai mengenal angka satu digit mulai dari 1 hingga 9. Bahkan beberapa anak mulai bisa menulis angka. Menghitung benda juga bisa mulai diajarkan, terutama jika jumlah benda tidak lebih dari lima. Selain itu, si kecil juga bisa mulai belajar mengelompokkan benda menjadi dua bagian menurut warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya. Seperti mengelompokkan mainan menjadi dua kelompok merah dan biru.

Berhitung usia 4-5 tahun

Di usia Taman Kanak-Kanak (TK), si kecil sudah bisa mengenali angka 1 hingga 20. Bahan beberapa anak sudah mulai bisa menghitung loncat. Untuk mengelompokkan benda, anak usia ini bisa membuat tiga kelompok atau lebih berdasarkan warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya.

***

Anak-anak memang sangat bersemangat untuk belajar hal baru dan menulis adalah salah satunya. Dan bagaimana cara mengajar anak menulis adalah pertanyaan yang paling banyak diajukan. Biasanya, usaha pertama anak-anak untuk menulis akan dilakukan pada usia prasekolah mereka. Inilah saat ketika mereka memperluas kosa kata mereka dan mulai mengerti bahwa huruf, angka dan simbol semuanya memiliki makna. Huruf, angka, atau simbol apa yang seharusnya dimiliki anak-anak benar-benar belajar terbentuk begitu mereka menguasai pegangan yang benar. 


Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak-anak didorong untuk mencoret-coret, dan mewarnai dengan bebas dengan cara yang menyenangkan dan tanpa stres, mereka ingin menulis lebih banyak. Dan sungguh, itulah yang kita inginkan: anak-anak yang memiliki keinginan untuk menulis! Sebagai orang tua, kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk menjaga suasana tenang dan ringan saat bekerja dengan anak-anak kita, dengan menggunakan pujian yang spesifik dan terarah bila memungkinkan.

Kemampuan anak untuk menulis yang baik tidak mungkin datang dalam semalam, sehingga peran orang tua sangatlah penting dalam mengajar anak menulis. Oleh sebab itu, sebagai orang tua aku pun tidak ragu mengenalkan anak dengan membaca, menulis, dan berhitung di usia balita.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi, calistung dapat diajarkan kepada anak usia 7-8 tahun. Namun, jika anak terlihat mampu dan sudah lulus pra-calistung, orang tua boleh mengajarkannya sejak usia 5-6 tahun.



Aku melatih Lula dengan menebalkan garis putus-putus Setelah dia berhasil mengajarinya menulis sesuai garis kertas, selanjutnya adalah latihan menebalkan garis putus-putus. Aku menyediakan gambar dengan garis putus-putus dan mengajak dia untuk menghubungkan tiap garis-garis pada kertanya.

Karena aku ingin dia menghafal angka, maka garis putus-putus yang aku jadikan bahan lahitan adalah angka-angka. Dan cara ini efektif, selain menstimulasi motoriknya, dengan sering menulis angka, Lula menjadi lebih cepat menghafal angka dari 0 sampai 9.




TABUNGAN AKHERAT VS TABUNGAN DUNIA

September 16, 2019 0 Comments


Usia dini adalah masa di mana si kecil belajar banyak hal. Pada usia inilah pembelajaran yang meresap dan awal dari terbentuknya karakter dan kebiasaan yang akan dibawa hingga dewasa. 

Untuk itu, penting sekali untuk mengajarkan dengan tepat agar anak kita mempunyai bekal yang baik ketika bertumbuh. 


Selain mengajarkan mengenai pengetahuan, kecerdasan akademis, dan juga sopan santun, kita juga perlu mengenalkan mengenai konsep uang dan menabung pada anak sejak dini.


Ada banyak manfaat baik yang bisa didapatkan jika mulai mengenalkan anak menabung. Salah satunya adalah sikap mandiri, tidak tergantung pada orang lain, tanggung jawab dan belajar memenuhi kebutuhannya sendiri di kemudian hari.


Memberi pemahaman pada anak mengenai menabung juga membuat anak lebih mudah menyadari kerja keras yang dilakukan oleh orangtua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, anak akan makin menghargai orangtuanya dan juga meningkatkan keterikatan antara orangtua dan buah hati.

Sejalan dengan tulisanku sebelumnya, pada tahapan menabung untuk dunia dan akherat ini aku mulai dengan tahap mengenalkan konsep uang pada anak-anakku.


#1 Mengenalkan Konsep Uang


Sebelum mengajarkan anak menabung, aku mengenalkan terlebih dahulu konsep uang pada anak. Aku mengajarkan dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Aku menjelaskan kepada anak-anakku bahwa uang adalah alat transaksi jual beli. Uang digunakan ketika melakukan pembayaran. Kemudian, aku juga mengenalkan kepada mereka bahwa nilai setiap uang itu berbeda-beda setiap lembar atau koinnya sehingga anak dapat membedakan nilai dari uang. 


#2 Mengenalkan Tujuan Menabung


Agar anak-anakku bersemangat dan berdisiplin dalam menabung, maka aku merasa mekera harus memahami arti penting dan tujuan dari menabung. Aku pun berusaha memberikan pemahaman bahwa menabung merupakan cara untuk dapat mencapai tujuan yaitu membeli suatu barang tertentu.

Jika mereka menginginkan suatu barang, aku mengajak mereka menghitung berapa kira-kira mereka harus menabung agar bisa mendapatkan barang tersebut. Mungkin akan sulit bagi beberapa anak untuk menunggu sebelum membeli sesuatu yang mereka inginkan, tapi ini adalah pelajaran yang penting untuk dipelajari. Aku selalu mengajarkan pada anak-anakku bahwa setiap memperoleh uang saku, mereka harus bisa menyisihkan sebagian ke dalam celengan miliknya. Dengan begitu mereka pasti sering menabung.

Bila uang yang terkumpul sudah cukup, maka aku memberitahukan pada anak-anak bahwa mereka dapat menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang diidamkan. Dengan demikian, anak-anak akan merasa bahwa menabung memang bermanfaat.

#3 Hadiahkan Celengan


Untuk mengasah jika menabung anak-anak, aku juga sering menghadiahkannya sebuah celengan dengan bentuk, warna dan gambar yang menarik. Aku bahkan membiarkan anak-anak untuk memilih celengan yang mereka suka. Kemudian, jika aku memiliki sisa uang koin, aku biasanya memberikan kepada mereka dan memintanya untuk menaruh uang tersebut ke dalam celengan. Jika ada anggota keluarga atau kerabat yang memberikannya uang, aku pun segera minta mereka untuk menabungnya. Lama kelamaan, anak-anak menjadi terbiasa untuk menabung.


#4 Menabung di Bank


Saat ini sudah banyak bank yang memberikan fasilitas untuk tabungan anak-anak, dengan bentuk buku bank yang menarik, kartu ATM yang menarik, bahkan terkadang diberikan hadiah alat tulis. Biasanya tabungan anak-anak memiliki jumlah minimum deposit dan tidak ada biaya bank jika rekening tersebut berada di bawah saldo tertentu. Kebanyakan anak-anak saat ini sangat paham mengenai bank, mereka dapat melihat saldo mereka sehingga dapat mendorong mereka untuk dapat menyimpan uang dan membuat pilihan belanja yang bijak.


Hal ini aku gunakan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa bank adalah tempat yang aman untuk menyimpan uangnya, tentunya dengan meniadakan riba. Aku memilih bank berlabel syariah sehingga aku juga bisa menjelaskan konsep riba secara sederhana. Intinya niatnya hanya untuk menyimpan uang, bukan untuk mendapatkan keuntungan tambahan (riba).


#5 Bantu Buat Anggaran Mini


Jika anak-anakku benar-benar menginginkan mainan tertentu, aku pun tidak langsung membelikannya. Aku mengajari mereka untuk membuat anggaran mini untuk pembelian mainan yang hendak ia beli. Seperti berapa banyak yang telah ia simpan, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, berapa banyak uang yang dia harapkan untuk dapatkan setiap minggunya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menabung. Di tahap ini lah sekaligus mengajarkan time frame untuk anak-anak. Dengan ini aku pun melatih mereka untuk bijak menggunakan uang.

Sebaiknya sih anggaran dibuat secara tertulis agar bisa membantu dan memotivasi anak-anak. Misalnya yang aku lakukan, aku menuliskan saldo setiap minggu di kalendernya, dan aku letakkan lingkaran warna-warni yang besar sekitar tanggal kapan mereka seharusnya memiliki cukup uang untuk membeli mainan tersebut.


#6 Saving, Spending, Sharing


Aku terinspirasi dari sebuah artikel, kemudian mempraktikannya. Aku memberikan anak-anakku 3 celengan atau botol kaleng yang dilabeli dengan tulisan Saving, Spending dan Sharing. Setiap kali mereka mendapatkan uang, aku meminta mereka membagi uangnya ke dalam 3 celengan tersebut dengan nilai yang sama.

Jika suatu saat mereka ingin membeli permen, stiker, atau hal kecil lainnya, ia dapat mengambil uang dari celengan “Spending”. Lalu jika ia ingin membantu temannya atau memberikan uang untuk rumah ibadah, aku menyuruhnya mengambil uang dari celengan “Sharing”. Sedangkan celengan “Saving” dapat ia gunakan untuk barang-barang yang lebih mahal dan membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan uang untuk membelinya.

Cara ini cukup efektif Melalui cara ini pula, anak-anakku dapat belajar mengenai cara membagi uang dan menentukan prioritas.



#7 Jadilah Role Model


Agar anak belajar menabung dengan baik, kita juga harus dapat menjadi role model yang baik untuk dirinya. Salah satunya, kita bisa menunjukkan kegiatan menghemat, misalnya saat belanja, aku lebih memilih barang yang lebih murah. Aku menjelaskan kepadanya mengapa lebih memilih barang tersebut.


#8 Latih Anak “Bekerja”


Aku melatih anak untuk mengenal proses bekerja dan mendapatkan uang yang harus ia lakukan saat dewasa nanti. Misalnya untuk Lula yang berusia hampir 4 tahun, aku selalu meminta untuk menaruh piring makanan di dapur. Untuk kedua kakaknya yang sudah lebih besar, aku meminta mereka berbagi tugas dalam urusan rumah. Misalnya menyapu, mengepel, melipat cucian, dan sebagainya. 

Aku memberikan “gaji” kepada anak-anak per minggu atau kadang per bulan. Tidak banyak sih, yang penting mereka dapat belajar bahwa untuk mendapatkan uang, ia tentu harus bekerja, tidak bisa diam saja. Kemudian, aku meminta mereka untuk menyimpan uang yang telah dihasilkan.


***


Menabung dapat membantu anak-anak untuk “menyingkirkan” beberapa keinginan mereka. Banyak anak, misalnya jatuh cinta dengan mainan tertentu dan memutuskan harus mendapatkannya. Seiring dengan waktu, bagaimanapun, mereka mungkin memutuskan bahwa mainan sama sekali tidak penting.

Menunggu untuk melakukan pembelian adalah cara terbaik untuk menghindari pembelian impulsif dan merupakan alat yang efektif untuk membantu anak menentukan apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang mereka dapat lakukan.

Mengajarkan anak mengenai berbagai hal tentang menabung tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Kita perlu menemukan waktu yang tepat untuk memulai hal ini sejak dini, termasuk dengan menggunakan dan menunjukkan berbagai contoh nyata dan sederhana kepada anak. Yang terpenting adalah melakukan kegiatan ini dengan cara menyenangkan agar anak paham dan bisa dengan mudah mengerti apa saja yang ingin kita sampaikan kepada mereka.

***


Kenalkan Konsep Tabungan Akherat

Setelah anak-anak terbiasa dengan pola "menabung", maka konsep tabungan akherat mulai aku tanamkan juga. Aku mulai dengan hadist Rosul.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” 
(HR. Muslim no. 1631)


Aku membangun mindset anak-anakku tentang kebiasaan menabung. Apakah mereka termasuk orang yang terbiasa menabung? Seberapa besar tabungan kalian? Tahukah kalian, bahwa HARTA kalian bisa menjadi KEBAIKAN bagi kalian DI AKHIRAT?

Ya, Sedekah Jariyah akan menjadi sebuah hal yang BAIK bagi kalian!

Bagaimana tidak? Walaupun seseorang kelak sudah tiada, namun amal solehnya dalam sedekah jariyah akan terus mengalir. Misalnya jika anda membangun sebuah Masjid, maka selama Masjid tersebut berdiri dan digunakan oleh Kaum Muslimin untuk Ibadah, maka kalian akan PANEN PAHALA !

Begitulah kira-kira yang aku tanamkan pada ketiga anakku. Lalu aku pun membacakan sebuah kisah tentang keutamaan sedekah (tabungan akherat).


*****


Suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw. menghampiri lemari Bilal bin Rabbah ra. yang di dalamnya disimpan harta sedekah. Saat dilihat, di lemari tersebut terdapat seonggok kurma. Beliau bertanya, “Kurma apa ini, Bilal?”

“Ya Rasulullah, itu adalah kurma yang saya simpan sebagai persediaan untuk engkau,” jawab Bilal.

“Apakah engkau merasa aman sampai pagi, sementara di lemari itu terdapat asap neraka Jahanam? Cepat, infakkan segera kurma itu! Janganlah engkau khawatir, Zat Pemilik ‘Arsy akan memenuhi kekurangan dan kebutuhan,” tegas Baginda Nabi saw. (HR Ibn Syihab).

Wajar saja jika kemudian, saat Bilal ditanya oleh Abdullah bin Luhay al-Huzni, berapa belanja Rasulullah saw., Bilal menjawab, “Beliau tidak memiliki apa pun. Akulah yang mengurusi beliau sejak diutus hingga beliau wafat. Jika beliau melihat seorang Muslim yang tidak memiliki pakaian yang layak, maka beliau menyuruh aku mencari pinjaman, lalu membelikan untuk dia pakaian, kemudian memakaikan pakaian itu kepada dia, sekaligus memberi dia makan.” (HR Ibn Hibban).

Dalam riwayat lain, Uqbah ra. bertutur: Aku pernah shalat ashar di belakang Baginda Nabi saw. di Madinah. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba beliau segera berdiri, kemudian berjalan cepat melewati pundak orang-orang untuk memasuki salah satu bilik istri beliau. Orang-orang pun menyingkir karena begitu terburu-burunya beliau. Lalu beliau segera keluar dan kembali ke hadapan mereka yang sedang terheran-heran. Beliau lalu bersabda, “Aku tadi teringat akan emas, sementara aku tidak suka menyimpannya. Karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR al-Bukhari).

Ummu Salamah ra. juga pernah bertutur, “Baginda Nabi saw. pernah memasuki tempat tinggalku dengan rona wajah yang muram. Karena khawatir beliau sakit, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa wajahmu tampak muram?’ Beliau menjawab, ‘Gara-gara tujuh dinar (sekitar Rp 14 juta) yang kemarin kita terima, sementara hingga sore hari, uang itu belum juga diinfakkan.’” (HR Ahmad dan Abu Ya’la).

Saat menyertai Baginda Nabi saw. hijrah ke Madinah, Abu Bakar ra. membawa seluruh hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham (setara Rp 420 juta) untuk diinfakkan di jalan Allah SWT (HR Ibn Ishaq).

Utsman ra. pernah menginfakkan hartanya sebanyak 1000 dinar (setara Rp 2 miliar) saat Baginda Nabi saw. sedang mempersiapkan pasukan (HR al-Hakim; Al-Bidayah, II/179).

Abdurrahman bin Auf ra. pernah menginfakkan separuh hartanya; itu belum termasuk tambahan sebanyak 40 ribu dinar (setara Rp 80 milar), 500 ekor unta dan 500 ekor kuda (HR Ibn al-Mubarak; Al-Ishabah, II/416).

Hakim bin Hizam ra. pernah menjual tanahnya seharga 200 ribu dirham (setara Rp 14 miliar), yang semuanya diinfakkan di jalan Allah SWT (HR ath-Thabrani).

Demikianlah, mereka baru sejumlah kecil dari para Sahabat Nabi saw. yang mulia dalam menginfakkan harta-harta mereka. Sangat jarang diriwayatkan, bahwa mereka rajin menabung dan menumpuk-numpuk harta. Tentu, karena mereka adalah pengikut sejati Baginda Rasulullah saw. yang telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memperlakukan harta.

*****

Selain menanamkan kebiasaan menabung untuk menumbuhkan sifat sederhana dan hemat (zuhud), aku juga tetap menanamkan prioritas bahwa ‘menabung’ untuk kepentingan akhirat, itulah sejatinya yang lebih layak kita lakukan. Aku pun mulai dengan memberi mereka contoh secara langsung dengan cara membiasakan diri dengan memperbanyak infak di jalan Allah SWT. Itulah sejatinya ‘tabungan’ kita yang hakiki dan abadi, yang pasti akan kita jumpai kembali di akhirat nanti.

BELAJAR PEMBAGIAN SEDERHANA

September 16, 2019 0 Comments




Postingan kali ini, tentang konsep pembagian sederhana. Shahia yang duduk di bangku kelas 2, ternyata sudah sampai pada level pembagian! Beberapa latihan soal yang harus dia kerjakan di rumah cukup membuatku memeras otak untuk memberikan penjelasan sederhana tentang konsep pembagian,


1. Pengenalan konsep membagi


Ini awal-awal banget menganalkan konsep pembagian. Untuk mengenalkan apa itu pembagian, aku memanfaatkan semua barang yang ada, seperti: buku, pensil, biskuit, permen, dan sebagainya.
Yang aku lakukan:
"Bunda punya 6 pensil, kalo misalnya mau dibagikan ke Kak Aksan, Shahia, Lula, jadi masing-masing dapat berapa?"

Aku pun membagi satu per satu pensil untuk setiap orang. Aku mengulangi untuk benda-benda yang lain juga. Setelah Shahia tahu apa maksudnya pembagian itu, artinya dia siap untuk naik step ke berikutnya.


2. Pembagian sederhana


Ini konsep yang ada di buku-buku zaman sekarang.

Soal (1)
Berapa hasil dari 12 : 3? 

Jawab: 12-3-3-3-3
Aku mencoba menerangkan bahwa bilangan dikurangi pembagi sampai hasilnya 0 (nol). Setelah itu hitung berapa bilangan pembagi itu. Untuk soal di atas, bilangan pembagi (3) berjumlah 4, sehingga 12 : 3 = 4.
Versiku begini:

12
3
___ -
9
3
___ -
6
3
___ -
3
3
___ -
0

Hitung jumlah angka 3 dalam pengurangan tersebut. Dari penjabaran di atas dapat diketahui bahwa: 12 : 3 = 4.


Soal (2)
Berapa hasil dari 15 : 5?
Jawab:
15
5
___ -
10
5
___ -
5
5
___ -
0

Hitung angka 5 di atas. Jadi, 15 : 5 = 3.


3. Pembagian ala porogapit

Pertama, aku mengusahakan ada tabel perkalian. Yang penting diingat adalah: sebelum anak memahami cara membagi, enggak usah langsung tanya-tanya soal perkalian hasil hafalan mereka. Biarkan mereka fokus dulu ke "bagaimana cara membagi".

Ini pembagian yang aku ajarkan ke Shahia dan step-stepnya:

Soal:



Pertama, aku bilang ke Shahia bahwa untuk soal di atas, perkalian yang harus dilihat atau diingat adalah perkalian 3 (lingkari angka 3 di atas).

Step berikutnya: 
Aku menanyakan, apakah di perkalian 3 ada angka 7? (kami pun melihat tabel perkalian 3 bareng-bareng). 
Shahia menjawab tidak ada, aku kemudian menanyakan: Manakah yang paling dekat? 
Dia menjawab 6, aku kembali bertanya: Jadi perkalian 3 yang paling dekat dengan angka 7 adalah 3 kali berapa? 
Shahia pun menjawab 2, lalu aku tulis begini:



Alhamdulillah dengan metode tersebut, Shahia lebih mudah menghitung soal-soal pembagian.


TRIK PENJUMLAHAN KURANG DARI 1 MENIT!

September 16, 2019 0 Comments





Penjumlahan adalah landasan akademis dasar yang perlu dimiliki setiap anak. Bahkan, sebagian besar negara memiliki standardisasi akademis yang mengharuskan setiap anak kelas 1 SD memahami konsep penjumlahan (dan pengurangan) hingga menyentuh angka 20. 

Lantas bagaimana cara mudah untuk mengajarkan konsep penjumlahan kepada anak? Sebelum memberikan soal-soal penjumlahan maupun pengurangan, kita memang perlu terlebih dahulu memastikan bahwa mereka telah memahami konsep "menjumlahkan serta mengurangkan" dalam kehidupan sehari-hari.




Shahia yang sudah duduk di kelas 2 SD memang sudah tidak ada masalah dengan penjumlahan sederhana. Akan tetapi, untuk penjumlahan yang panjang, Shahia masih saja mengalami kebingungan. Maka, aku pun mencari beberapa referensi untuk memberikan pemahaman sekaligus cara cepat metode penjumlahan.



Cara mengajari anak penjumlahan dengan cepat


Beberapa trik cepat matematika penjumlahan kurang dari 1 menit, aku rangkum di bawah ini:


Trik 1:


Cara penjumlahan cepat dengan terlebih dahulu menjumlahkan pasangan berjumlah 10
misal: 6 + 2 + 5 + 4 = .....

Jawab: 
perhatikan angka 6 dan 4. kedua angka tersebut jika dijumlahkan hasilnya 10. Lalu jumlahkan angka 2 dan 5 yaitu hasilnya 7. jadi, jika dijumlahkan keduanya hasilnya 17.
Mudah kan?


Trik 2:


Cara penjumlahan cepat dengan menggenapkan menjadi 10, 20, 30, dst ..
Misal kita punya 9, maka kita perlu 1 agar jumlahnya 10. (Ingat, lakukan proses ini dalam pikiran saja).

Contoh:

29 + 26 = ...

Jawab:
Cermati angka 29, tambahkan 1 dengan mengambilnya dari angka 26.
Hasilnya 29 + 1 = 30. Karena 26 telah dikurangi 1 untuk dijumlahkan dengan 29 di atas, maka sisanya tinggal 25. Tambahkan 25 dengan 30.
Hasilnya 25 + 30 = 55.
Jadi, 29 + 26 = 55. 

Tidak sulit kan???


Trik 3:


Trik penjumlahan cepat dengan berurut dari kiri ke kanan. Untuk menjumlahkan bilangan berderet, kita dapat kerjakan dengan cara melakukan penjumlahan secara berurut dari kiri ke kanan. "Ingat! Lakukan langkah-langkah ini dalam pikiran saja." Dengan banyak berlatih maka anak-anak kita akan menjadi terbiasa dan dapat melakukannya dengan cepat.

Misal:
15 + 31 + 22 + 8 =...

Jawab:
Awali dengan memikirkan angka 15.
Selanjutnya tambahkan 31
(10 + 10 + 10 + 1) dengan menghitung 25, 35, 45,46.
Lanjutkan dengan menambahkan 22 (10 + 10 + 2) dengan menghitung 56, 66, 68.
Langkah terakhir tinggal menambahkan 8, diperoleh 68 + 8 = 76.
Jadi, 15 + 31 + 22 + 8 = 76. 
Mudah bukan?


Trik 4:


Cara penjumlahan cepat dengan menjumlahkan satuannya terlebih dahulu. Selain cara di atas, kita juga dapat melakukan penjumlahan berjajar dengan menjumlahkan satuannya terlebih dahulu, baru kemudian melakukan penjumlahan dengan puluhannya. Coba perhatikan contoh di bawah ini.

Contoh

25 + 36 + 22 + 11 =...

Jawab:

Pertama-tama kita lakukan penjumlahan angka satuannya dari kiri ke kanan. Yaitu dengan menjumlahkan 5 + 6 + 2 + 1.
Caranya, mulailah dengan memikirkan angka 5, 11, 13, 14. Selanjutnya lanjutkan dengan melakukan penambahan dengan penambahan puluhannya, yaitu 14 + 20 + 30 + 20 + 10.
Caranya dengan memikirkan angka 14, 34, 64, 84, 94.
Jadi, 25 + 36 + 22 + 11 = 94.