Selasa, 14 Januari 2020

KOPI DAN ALIRAN HATI

Januari 14, 2020 0 Comments


Tak terasa game level #9 sudah di ujung waktu. Secangkir kopi menemaniku mengalirkan isi hati. Allah memang Mahadahsyat! Kenapa? Karena, DIA benar-benar selalu tepat menempatkan diriku di kelas bunda sayang batch ini. 

Setelah bulan lalu, aku alirkan bagaimana menjalani liku asik di level-level sebelumnya, yang kadang, aku tak punya ide untuk berkegiatan mengasah logika matematika anak. Kemudian, Allah tunjukkan sendiri, ketiga anakku, antusias belajar angka, bentuk dan sebagainya yang terkait dengan logika matematika. Allah lah yang memberiku solusi, diriku hanya menulis apa yang sudah Allah berikan.
MasyaAllah ....

Pun, kali ini. Di level tentang berpikir kreatif, tepat Allah skenario-kan di masa liburan sekolah anak-anak. Berkegiatan sederhana, mengisi liburan mereka, mengasah kreativitas ketiganya. Pas banget!

Aku nggak sempet membayangkan, kalau saja game level ini harus aku lalui saat kondisi normal anak-anak bersekolah. Rasanya akan sulit mengatur waktu bermain-main lebih leluasa dengan mereka. Bebikinan buku gambar dari kertas bekas, memanfaatkan kardus bekas susu formula, dan sebagainya. MahaBesar Allah dengan segala kuasa-Nya.

Di akhir semua petualangan kreativitas, diriku menemukan fakta bahwa ternyata proses kreatif itu erat kaitannya dengan bagaimana cara kita bersyukur atas apa saja yang DIA amanahkan (titipkan) serta anugerahkan pada kita.

Proses kreatif menggunakan daya pikir/akal kita, sebagai wujud syukur bahwa Allah ciptakan milyaran sel otak dalam diri kita, supaya kita menggunakannya dengan bijak dan untuk tujuan baik.

Proses berpikir kreatif juga melahirkan hal-hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri, dan bagi orang lain. Wujud syukur atas potensi yang telah Allah berikan dalam diri kita. Potensi fitrah yang jika dikembangkan, akan menjadikan kita lebih sukse dalam hidup. Sukses dalam arti sesungguhnya. 

"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain."





Kenapa Harus Bersama?

Januari 14, 2020 0 Comments

Saat bersama, sedih menjadi sirna
Saat bersama, duka berganti ceria
Saat bersama, terlahir lah karya
Saat bersama, bagai kertas dengan pena


Sepenggal asa masih tersisa, di sela reruntuhan harapan yang tak lagi menerpa. 
Sepi yang terasa sejak sekian purnama, memang tak bisa menghapus sekian dalam kenangan yang pernah ada.

Keriuhan dan kehangatan ruang virtual tempat belajar para pengelana aksara dan pencinta kata berkumpul, haruskah hanya menjadi "sejarah"?
Sejarah yang hanya dikenang ... 
Sejarah yang hanya dilewati masa berikutnya ....

Kali pertama merasakan ghiroh belajar, antusias berbagi informasi, bahkan mencetak karya buku, bukan hanya satu! Melainkan dua buku dalam satu tahun!
Sebuah prestasi dan bukti kesungguhan belajar bersama. Mendewasakan diri dan menulis pengalaman inspiratif dalam sebuah buku.

Aku, sungguh berharap, rumah belajar ini tetap ada. Bukan hanya kegiatan online, melainkan juga kegiatan offline. Menyuarakan literasi yang dianggap lesu!

Sesungguhnya, menulis itu seperti mengayuh sepeda. 
Jika berhenti, maka kita akan terjatuh. 


Rumah Belajar Literasi Media di IP Semarang adalah wadah berkumpulnya para pengayuh sepeda. Berhenti sejenak untuk minum kopi dan diskusi, sehingga bisa kembali bersemangat saat mengayuh sepeda. Kebersamaan memberikan kumparan energi yang besar. Sehingga bersepeda bersama-sama tentu menjadi lebih menyenangkan, daripada hanya sendirian!


#SaveRumbelLM
#IbuProfesionalSemarang
#SemestaKarya

Sabtu, 28 Desember 2019

#10 : JADI, APA CITA-CITAMU?

Desember 28, 2019 0 Comments


"Wah, buku baruuuu!!!" Shahia menyerbu paket yang baru saja datang.

"Buka dulu yuk! Minta tolong ambilin gunting atau cutter dong, Kak Shahia." Aku meminta bantuannya untuk mengambil peralatan guna membuka kardus besar yang baru saja mendarat di teras rumah kami.

Beberapa judul buku terbitan Pejuang Literasi sampai di pangkuanku. Dua di antaranya genre anak. SHahia dengan mudah mengenali kalau buku-buku itu adalah genre anak dari covernya yang memang ramah anak banget.

Aku dan Cita-citaku volume #1 dan volume #2. Keduanya memiliki cover yang memang anak-anak banget. Beberapa ilustrasi di dalamnya pun apik. 

Jatah satu eksemplar masing-masing judul pun kuserahkan ke Shahia, royalti untuk anak-anakku yang selalu memberiku dukungan dan ide untuk berkarya.

"Aku dan cita-citaku." Shahia membaca judul buku itu.

"Ini cerita anak-anak dengan cita-cita mereka. Kak Shahia mau jadi apa kalau sudah besar? Coba dicari di buku ini, ada gak ya cita-cita yang sama dengan Shahia?" Aku mencoba mendorongnya untuk membaca buku itu.

Shahia tiba-tiba mengambil seperangkat mainan edukasi yang aku pernah belikan untuknya dan Lula. Boneka tangan dengan beberapa profesi, lengkap dengan papan mainannya. Shahia dengan ide kreatifnya sendiri, membongkar boneka-boneka itu, sambil membaca deretan kalimat di daftar isi buku cerita anak bertajuk "Aku dan Cita-citaku volume #1" dan "Aku dan Cita-citaku volume #2". 

Kulirik, dia mulai asik membaca, serta bermain dengan boneka tangan yang memang sesuai dengan cerita di buku itu. Setelah lelah membaca, dia nampak asik bermain peran dengan jemarinya penuh boneka kecil-kecil itu. 

"Ceritain dong, kalau dokter itu ngapain aja?" Aku ikut nimbrung di dekatnya.

"Nih, Shahia bacain yang tentang dokter ya, Bun. Dokter tuh pakai jas kaya gini," jemarinya yang sedang memainkan peran dokter dia majukan ke arahku. 

Aku manggut-manggut menurut dan mendengarkan saja apa yang dia ceritakan, tentunya sebagian besar dari membaca buku yang baru saja dia terima itu.

Jadi, apa cita-citamu? Mainkan peran yuk!

Jumat, 27 Desember 2019

#9 : SULAP BARANG BEKAS JADI LEBIH BERMANFAAT

Desember 27, 2019 0 Comments


Sterofom bergambar yang dibawa Shahia dan Lula dari aksi mewarnai di mall beberapa bulan lalu nampak sudah lusuh. 

Fungsinya sudah nyaris tidak ada. Bahkan dari segi estetika pun sudah tidak ada. Beberapa bagian nampak robek. 

Aku meminta izin Shahia dan Lula untuk memanfaatkan sterofom itu. 

"Kita bikin sesuatu yuk dari ini. Udah jelek, tapi dibuang masih eman juga. Dibikin apa ya enaknya?" 

"Hmm ... dibikin apa ya ... dibuat nempel-nempel aja Bun. Kaya yang dulu punya Bunda, tapi sekarang udah patah, lalu dibuang Bunda." Shahia memberi usulan.

"Oh iya juga ya ..., tapi ini bagian pinggirnya harus dipotong nih, karena udah enggak rapi .. eh, tapi di sebelah sini kalau dipotong nanti bisa jadi patah, dan malah jadi rusak semua." Aku mencoba menganalisa bentuk sterofom itu.

"Dilapisin apa gitu, Bun." Shahia kembali memberikan usulan.

"Oh iya, kita lapisin kertas manila aja. Ini kan ada dua, satu nanti dipakai Shahia, satunya dipakai Kak Aksan ya!"

"Lha Lula mana? Ini kan punya Lula!" si bungsuku protes.

"Lula kan belum punya PR dari sekolah. Belum bisa nulis, belum bisa baca. Nah, ini pinjemin ke Kakak dulu ya, biar dipakai Kakak untuk nempelin tugas, jadwal harian, dan lain-lain." Aku mencoba memberinya pengertian. Lula pun dengan wajah manyunnya, akhirnya setuju.

"Nah, kalau gitu, kita beli kertasnya dulu yuk untuk melapisi." Aku mengajak anak-anak ke toko alat tulis. 

Shahia memilih warna pink, sedangkan Aksan yang tadinya ingin biru, karena kosong, dia pun memilih warna kuning.

Sesampainya di rumah, Aksan dan Shahia mulai "bertindak". Mereka menyiapkan gunting, isolasi dan double tip untuk mulai melapisi sterofom dengan kertas warna yang sudah kami beli.

Dalam waktu singkat, sterofom itu sudah nampak lebih enak dilihat. Shahia dan Aksan menempelkannya di samping rak buku. Mereka menempelkan tugas harian di sterofom masing-masing.

Alhamdulillah, anak-anak belajar lebih banyak memanfaatkan barang bekas. 

#8 : KREATIF ITU TAK BERBATAS!

Desember 27, 2019 0 Comments


Tiga set perlengkapan mewarnau berbentuk segi enam baru saja aku beli. Satu untuk Kak Aksan bergambar Spiderman, satu untuk Shahia bergambar tokoh Frozen (Elsa dan Anna), dan satu lagi, tentunya untuk si bungsu, Lula, bergambar Barbie. 

Lula memang sedang getol mewarnai. Sekejap saja, buku mewarnai yang baru saja dibeli akan habis dia selesaikan. Tak terkecuali hari ini, saat 1 set perlengkapan mewarnai barunya dia terima. 4 in 1, kira-kira begitu aku sebut paket lengkap ini. 1 set berisi : 12 pensil warna, 12 crayon, 6 spidol dan 12 warna cat air. 

Lula yang excited tentu saja tidak bisa menunda aku membelikan buku mewarnai. Dia udah kebelet kepengen nyobain set perlengkapan mewarnai bergambar Barbie itu.
cerita
Beberapa buku dia bongkar dari rak. Semua buku mewarnai dia buka lagi satu per satu. Bahkan majalah dari sekolahnya pun dia buka kembali. Sudah full color semua!

Aku lirik, wajahnya nampak kecewa, karena dia tidak memiliki kanvas untuk dia pakai sebagai media menjajal warna-warni yang dia punyai. 

Tapi sesaat kemudian, dia kembali mengaduk-aduk rak buku. Dia buka buku-buku cerita di sana. Tentunta buku cerita bergambar dia lewati, karena buku jenis pictbook itu sudah full color!

Matanya berbinar ketika menemukan salah satu buku antologiku bertema detektif cilik. Dalam buku itu memang ada beberapa ilustrasi, dan dicetak hitam putih, sehingga terkesan gambarnya polos, belum ada warna sama sekali.

Lula menghampiriku. "Bunda, ini boleh diwarnai?" tanyanya sambil menunjukkan halaman buku yang terdapat ilustrasi hitam putih.

Aku tersenyum geli dan mengganggukkan kepala. Spontan matanya berbinar, dia tengkurap di lantai, dan mulai menggoyang-goyangkan crayon barunya di atas lembaran buku itu. 

Beberapa menit kemudian, ilustrasi polos itu sudah terwarnai penuh! 
Kreativitas itu memang tak berbatas! Apa pun medianya, memang harus diekspresikan ...
Tak ada buku mewarnai, buku lain pun jadi diwarnai! Wkwkwkwkwkwk .... 

#7 : BUKU LEBIH RAPI, KARDUS BEKAS PUN TAK MENUMPUK LAGI

Desember 27, 2019 0 Comments


Si bungsu Lula memang masih rajin minum susu formula. Alhasil kardus bekas susu menumpuk. Aku memang jarang membuang kardus-kardus bekas susu tersebut, selain bisa aku gunakan untuk packing saat mengirim pesanan buku atau formula sabun ramah lingkungan yang aku jual, juga kadang menjadi ide untuk bebikinan mainan dengan anak-anak, terumata Shahia dan Lula.

Kali ini, aku ingin Shahia memiliki ide supaya kardus-kardus susu ini lebih bermanfaat. Kubuka almari bukunya yang agak berantakan. Lalu aku berikan ide kepada Shahia, bagaimana jika membuat kotak buku dengan bahan kardus bekas tersebut.

Aku meraih ponsel pintarku, membuka laman browser dan segera mengetik kata kunci. "Kulakan Ide" judulnya. Aku ketik, kreasi kardus bekas susu.

Di sana ada beberapa cara mengkreasikan kardus bekas susu, akan tetapi memang membutuhkan beberapa bahan yang kami belum punya. Alhasil, aku dan Shahia berdiskusi untuk membuat desain, akan dibuat apa dan seperti apa bentuknya kardus-kardus ini. 

Dan kemudian gunting, penggaris, kerta pembungkus dari amplop bekas berwarna coklat, isolasi, semua sudah kami siapkan. Dan kemudian ... taraaaa ... hasilnya dari dua kardus bekas susu Lula, kami membuat wadah buku yang terdiri dari empat sekat. 

Shahia dengan semangat merapikan buku-bukunya ke dalam sekat-sekat tersebut. Meja belajarnya pun nampak lebih rapi, karena buku-bukunya sudah tertata. 

Buku jadi lebih tertata rapi, kardus bekas pun tak menumpuk lagi!

#6 : IMAJINASI, KREATIVITAS DALAM FIKSI

Desember 27, 2019 0 Comments





Menulis, bagiku bukan hanya sekadar hobi atau kegemaran. Menulis adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin aku bagikan juga kepada orang-orang di sekitarku, teman-teman yang tergabung di komunitas yang aku bangun, Pejuang Literasu. Latar akademikku memang bukan pendidikan Bahasa atau Sastra. Namun dari pengalaman terapi jiwa dengan menulis, serta mengikuti beberapa kelas pelatihan menulis baik online maupun offline membuaku cukup bermodal dan ingin membagikannya kepada lebih banyak orang, sehingga, jadilah diriku seorang mentor di dunia tulis menulis. 


Menulis, memang sebuah kesenangan yang menguntungkan dan sebenarnya mudah dilakukan, bahkan oleh anak-anak. Mereka hanya berbekal kemampuan sederhana; menulis, kemampuan yang hampir dimiliki oleh setiap anak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Yang membedakan penulis cilik dengan anak-anak lainnya hanyalah soal kemauan dan ketekunan dalam menulis.


"Anak saya tak berbakat menulis," celetuk seorang ibu padaku. 

Sebenarnya tak perlu khawatir. Karena kemampuan menulis itu bisa dilatih. Bakat hanya memainkan peranan tak sampai setengahnya dalam bidang ini. Sisanya latihan. 

Memiliki bakat menulis tetapi tidak berlatih menulis, sama seperti sebuah mata pisau yang tumpul, tak dapat digunakan untuk menyayat. Sebaliknya, besi tumpul yang diasah terus-menerus akan berubah menjadi tajam. Dan, seringkali kita tak menyadari bahwa kita mempunyai bakat menulis sebelum menuliskan sesuatu yang berasal dari pikiran kita.


"Untuk apa menulis cerita? Buang-buang waktu saja. Lebih baik belajar." Pendapat para orangtua seperti ini juga sering aku dengar.

Menulis juga belajar. 
Anak yang suka menulis, biasanya lebih teliti dan memahami apa yang dibacanya, tak sekadar membaca, lalu lupa. Selain itu, biasanya anak-anak ini lebih cerdas, kritis dan mudah menuangkan ide-idenya.

Cerdas bukan berarti harus meraih ranking pertama di sekolah, karena banyak anak cerdas dan jenius yang ternyata tidak cocok dengan sistem belajar yang diterapkan oleh sekolah, sehingga kerap membuat masalah. 

Cerdas adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya dengan baik, tuntas dan dengan cara yang baik pula. 

Anak yang terbiasa menulis cerita, tanpa disadari juga terlatih mencari jalan keluar yang terbaik dari masalah-masalah yang ada dalam ceritanya. Karena inti dari menulis cerita itu adalah adanya pemicu masalah, konflik antartokoh, dan penyelesaian.

Anak yang suka menulis juga dapat mengatasi trauma emosional dengan menuliskan unek-uneknya. Kebiasaan memendam persoalan sendiri memang tidak baik, karena dapat menimbulkan trauma yang lebih parah.

Yang juga tak kalah penting, orang yang mampu menulis biasanya akan mempunyai keuntungan yang luar biasa dalam sebagian besar pekerjaan. Hampir semua bidang pekerjaan memerlukan orang yang bisa menulis. Bayangkan, bagaimana rumitnya membuat laporan kegiatan jika orang yang bersangkutan tak bisa menuliskan apa yang sudah dilakukannya? Bagaimana bingungnya seorang mahasiswa ketika menulis skripsi? Bagaimana sulitnya menuangkan ide-ide brilian jika orang tersebut tak terbiasa menuliskan isi pikirannya?

"Lalu, bagaimana melatih anak menulis? Saya sendiri tak bisa menulis." 
Kalimat ini juga sering dilontarkan oleh para orangtua. 

Sederhana sekali sebenarnya. Untuk tahap awal, yang aku lakukan adalah membiasakan anak untuk menulis apa saja; pengalaman sehari-hari, curahan hati, kesukaannya, ketakutannya, impiannya, dan apa pun yang ingin ditulis mereka. Bila tulisan anak masih "kacau", aku berupaya menahan diri untuk tidak mengkritiknya ataupun menuntut kesempurnaan. Karena bisa jadi, anak akan "down" dan tidak mau menulis lagi. Sebaliknya, aku memberikan dukungan untuk mereka. Dalam setiap karya, sesederhana apa pun itu, tetap ada sisi positif yang dapat dipuji. Apakah ketekunannya, kemajuannya dibandingkan karya sebelumnya, dan lain sebagainya. Aku selalu menghindari menyensor tulisan anak. Walaupun masih kecil, sebagai orangtua, aku tetap menghargai privasi anak dan "posisinya" sebagai penulis karya tersebut.

Aku mencoba menekankan pada diri sendiri untuk tidak terjebak dengan konsep konvensional bahwa hasil akhir kegiatan menulis harus berupa cerita atau laporan. Karena sebetulnya, ranah penulisan kreatif justru lebih menarik bagi anak, dan hal itu dapat menggali lebih banyak potensinya.

Menurut Amelia Hirawan, seorang psikolog anak sekaligus art therapist dan writing coach, Budaya menulis pada anak bisa dikembangkan dengan menulis puisi, quote, komik, resensi film yang baru dia tonton, mengutip bagian favorit dari buku yang sudah dia baca, atau bahkan menulis status di sosial media, bila anak sudah diberikan akses ke sana. Anak bahkan juga bisa saja membuat liputan hasil risetnya sendiri, menulis lirik lagu, dan menyusun lapbook (buku atau sampul berisi gambar, tulisan, benda, apa pun terkait suatu topik).

Apabila dalam bentuk cerita, aku sendiri cenderung mendorong anak menulis fiksi (cerita khayalan) atau dongeng. Berdasarkan pengalamanku, anak-anak pun sebetulnya lebih suka menulis genre tersebut karena menyenangkan. Dalam dongeng, anak bebas berimajinasi tanpa terlalu berisiko menyinggung seseorang, atau khawatir menggunakan informasi yang salah.

Pendapat bahwa penulis fiksi itu tidak cerdas dan sekadar tukang khayal adalah salah besar. Justru fiksi lebih menantang daripada tulisan definisi atau liputan, yang konsepnya adalah memindahkan kejadian ke dalam tulisan. Fiksi itu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. 

Saat menuliskan laporan atau hal-hal nonfiksi lain, anak akan lebih banyak menggunakan otak kiri (bahasa, logika, analisis, urutan, detail). Sedangkan untuk menulis fiksi, anak juga sekaligus bisa mengasah kemampuan otak kanannya karena ada unsur imajinasi, kreativitas, emosi, membuat opini dan konsep.

Jadi, kalau ingin menantang anak menulis, jangan melulu menyuruh dia menuliskan pengalaman berlibur. Minta juga dia menulis hal-hal di luar kebiasaan yang memancing imajinasi, seperti kisah tentang harimau yang terjebak di tengah laut. Pasti seru!

Setelah kemampuan menulis anak-anak semakin baik. Mereka sudah memiliki banyak koleksi tulisan, atau volume tulisannya cukup panjang, maka inilah saatnya untuk membukukan karya tersebut. Punya buku akan sangat membanggakan, karena buku memiliki bentuk fisik yang nyata, dan ini murni miliknya, berbeda dengan bila tulisan dimuat di majalah. Minimal aku mendorong anak-anak untuk menerbitkan karyanya sendiri secara sederhana untuk dibaca oleh orang-orang terdekatnya, misalnya keluarga atau teman-teman. Yang penting, anak sudah selangkah lebih maju; dari hanya menulis untuk diri sendiri, kini sudah menulis untuk dibaca orang lain.

Aku berharap, keinginan dan rasa percaya dirinya untuk terus berkarya lebih baik lagi akan semakin kuat. Yang harus disadari, anak yang masih kecil belum bisa "bergerak" sendiri untuk mewujudkan impiannya menjadi penulis. Karena itu, sebagai orangtua, aku menyediakan waktu untuk memahami bagaimana cara merealisasikan keinginan anak menjadi penulis. Misalnya, membantu editing naskah, tentunya atas seizin mereka.

Selain itu, berhasil menyusun buku juga memiliki semacam gengsi yang bisa mendongkrak kepercayaan diri anak, karena prosesnya lebih kompleks, memerlukan waktu, juga komitmen jangka panjang. Setelah dicetak menjadi buku, jangkauan penyebaran tulisan pun jadi lebih luas. Tentunya, ini akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri, karena cerita dan informasi yang ditulis anak, bisa dibaca banyak orang. Banyak pengaruh positif didapatkan anak-anak dari menulis dan menerbitkan buku. Di antaranya adalah tanggung jawab pada deadline penulisan bukunya.

Bahkan manfaatnya tidak berhenti hingga saat buku terbit. Setelahnya, anak bisa dilatih public speaking pada saat mengadakan acara bedah buku. Anak juga belajar konsep wirausaha, misalnya dengan meminta anak menetapkan harga dan memasarkan bukunya sendiri, seperti yang kami lakukan di Pejuang Literasi.

Buku berjenis antologi (kumpulan tulisan dari beberapa penulis) dapat dijadikan pilihan, karena jumlah tulisan anak-anak kurang mencukupi untuk satu buku. Aku menggabungkan saja naskah mereka dengan tulisan kawan-kawannya, tentunya memiliki benang merah yang sama, yakni satu tema.

***

Pencerahan juga aku dapat dari website mba Winda, www.urbanmama.com, tentang bagaimana melatih anak menjadi penulis, bahkan di usia yang sangat muda.

Sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak mempunyai atau menguasai kemampuan menulis huruf sekali pun. Lho, kok bisa?

Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.

Pertama, dapat mencoba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita. Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan out of the box selain anak-anak itu sendiri.

Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H: who (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.

Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map. Mind map atau 'jejaring ide' adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.


Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).

Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar. 

Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?


***


Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Maka, memberikan semangat kepada anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku adalah hal utama. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sedari kini. Semoga anak-anakku pun ikut bekontribusi dalam sejarah kebangkitan literasi di Indonesia.