Sabtu, 07 Desember 2019

#Aliran Rasa : Rezeki itu Punya GPS

Desember 07, 2019 0 Comments





Ngomongin kecerdasan finansial selalu berhubungan dengan pemahaman konsep rezeki. Finansial yang dekat dengan urusan pengelolaan uang, rezeki yang juga kaitannya dengan hal-hal berbau uang. 

Sering kita mendengar kata rezeki dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya tidak semua orang tau arti yang sebenernya. Kebanyakan orang menganggap rezeki manusia itu berupa harta atau uang saja. Mereka menghabiskan waktunya untuk memburu rezeki yang berupa uang untuk memakmurkan hidup. Padahal rezeki tidak hanya berupa harta atau uang, jika kita semua paham, tentunya akan selalu bersyukur kepada Allah dengan yang dimiliki. 


Arti rezeki yang sesungguhnya adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah hahalkan untuk manusia, baik itu pakaian, makanan, pasangan (suami/istri) dan anak-anak. Kesehatan, pendengaran, penglihatan dan segala sesuatu yang dapat manusia rasakan itulah arti rezeki yang sebenarnya.


Konsep pemahaman tentang rezeki memiliki makna supaya kita terhindar dari mencela Allah setelah bekerja keras namun tidak mendapatkan harta atau uang, padahal kita masih diberikan kesehatan dan kecukupan hidup. Jangan sampai kita kufur tidak kunjung mencapai keinginan meski sudah berikhtiar sekuat tenaga, namun bersyukurlah karena Allah senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Hal yang selalu aku ingat bahwa, sesungguhnya kita memerlukan apa yang tubuh butuhkan bukan apa yang kita inginkan, bukankah sangat tidak mengenakkan bila Allah memberikan keinginan kita berupa rumah yang bagus namun tidak memberikan kesehatan yang sesungguhnya kita butuhkan? 



Allah Yang Maha Pemelihara, selain menciptakan seluruh alam semesta juga memelihara ciptaan-Nya. Allah menciptakan manusia, Dia juga mencukupi segala kebutuhannya termasuk semua rezekinya, dari lahir sampai mati Allah sudah tetapkan rezeki manusia. namun bukan berarti segala rezeki tersebut akan diterima dengan instan melainkan manusia perlu mencarinya dan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menempatkan rezeki dibeberapa tempat. Sumber rezeki manusia yang sudah disediakan oleh Allah, antara lain: 








Rezeki karena Usaha 


Sumber rezeki manusia yang pertama terletak pada usahanya. Ada sebuah kata mutiara yang berbunyi “Bergeraklah, karena dalam gerakan terdapat barokah”, dalam kalimat penyemangat tersebut mengajarkan kepada manusia untuk bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dimimpikan. Tentu saja hanya orang yang akan bekerja yang akan menerima upah, Allah juga berfirman bahwa manusia akan mendapatkan sesuatu bila melakukan sesuatu.


وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى


“ Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh (apa-apa), selain apa yang telah di usahakannya” (QS. An Najm: 39)


Rezeki karena Bersyukur



Setelah kita mendapatkan apa yang kita usahakan, baik itu kecil atau besar kita harus mensyukurinya, karena dibalik ungkapan syukur tersebut Allah hadirkan sumber rezeki manusia. Berterima kasih kepada Allah maka Dia akan menambah rezeki kita.


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ


“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memeklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …” (QS. Ibrahim: 7)


Rezeki yang Telah dijamin


Allah berfirman dalam surat Hud ayat 6 yang berbunyi:


وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ


“Dan tidak ada suatu binatang melatapun dibumi, melainkan Allah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat peyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Hud: 6)


Dalam ayat diatas Allah menunjukan keagungan-Nya. Dia memelihara segala sesuatu yang diciptakan-Nya, bahkan binatang-binatang yang paling terkecil dan tersembunyi kehidupannya. Dia-lah Allah yang Maha Menciptakan dan Maha Pemelihara ciptaan-Nya. Yakini dan syukurilah bahwa Allah sudah menjamin rezeki manusia.


Rezeki karena Istighfar


Dalam Al Qur’an Al Karim Allah berfirman:


اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١

“Mohonlah ampunan (Beristigfar) kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun (10) Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu (11)”. (QS. Nuh: 10-11)


Kita telah mengetahui bahwa yang berupa rezeki tidak hanya harta melainkan segala sesuatu yang menyimpan manfaat bagi manusia, seperti yang termaktub dalam ayat di atas, Allah akan memberkahi orang-orang yang senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Salah satu yang mengganjal sulitnya rezeki datang kepada manusia adalah dosa, lewat istighfar inilah Allah akan mengampuni setiap dosa dan menurunkan hujan sebagai rezeki yang berkah.


Rezeki karena Sedekah

Sumber rezeki yang ke lima adalah sedekah. Banyak kita jumpai dalam firman ataupun hadits Rasulullah tentang keutamaan sedekah, yang salah satunya adalah melipatgandakan rezeki, sebagaimana firman Allah berikut:


مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjamanan yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al Baqarah: 245)


Barangsiapa yang menyimpan rezekinya di jalan Allah, seperti bersedekah, berinfak, membantu orang lain, mengajari ilmu kepda orang yang bodoh dan sebagainya. Sesungguhnya Allah akan melipatgandakan rezeki tersebut dengan berkali-kali lipat.


Rezeki karena Menikah

Banyak yang beranggapan untuk menikah seseorang harus mapan terlebih dahulu, punya ini dan itu sehingga menjadikan beberapa pihak tertunda bahkan tidak bisa melakukan perintah Allah yang Mulia. Padahal menikah adalah salah satu sumber rezeki bagi manusia, dengan menikah masnusia akan semakin dekat dengan rezeki yang berkah. Allah berfirman:


وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu laki-lelaki dan hamba-hamba sahayamu perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nur: 32)


Dengan tegas Allah berfirman akan memberikan karunia-Nya kepada orang yang menikah. Dengan kata lain orang yang menikah akan lebih kaya dari sebelumnya.


Rezeki karena Anak

Anak merupakan anugrah terindah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang menjalankan perintah-nya yakni menikah. Ada sebagian orang yang mengganggap anak hanya akan menambah beban hidup ini adalah anggapan yang salah. Anak adalah sumber rezeki bagi manusia, semakin banyak anak, makin luar rezekinya. Salah fatal yang menganggap anak hanya akan menjadikan miskin seseorang, karena Allah lah yang akan memberi rezeki kepada semua ciptaan-Nya. Allah berfirman:


وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا


“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin, Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (QS. Al Isra’ : 31)


Perlu diketahui, bagi umat islam memiliki banyak anak sangat di cintai oleh Rasulullah, sebagaimana sabanya, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan bangga dengan sebab banyaknya kamu di hadapan para Nabi nanti di hari kiamat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)


Rezeki tak terduga

Sumber rezeki manusia yang terakhir dalam artikel ini adalah rezeki yang Allah datangkan dari mana saja yang Dia kehendaki (tak terduga). Rezeki ini tentunya tidak didapat oleh semua orang, tapi hanya untuk orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, bertaqwa kepda-Nya dan selalu berusaha menjadi hamba-Nya yang taat.


Allah berfirman:


وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا


وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At Thalaq: 2)






Belajar di level 8 ini, membuatku lebih "melek" terhadap konsep rezeki. Kecerdasan finansial yang dibangun pada anak-anak, juga mampu menyuburkan pemahaman diriku terkait konsep finansial secara spiritual. 


Rezeki tidak pernah salah alamat. Rezeki itu punya GPS. Dimulai dengan anak-anak digali potensi dirinya, mengembangkan minat dan bakat di bidang tertentu sesuai dengan gaya belajarnya, membekali dengan konsep diri, adaptasi dengan lingkungan, logika matematika, finansial dan sebagainya sehingga anak tumbuh menjadi sosok hebat di bidang tertentu dan tetap terjaga akhlaknya. 


Rezeki itu pasti, kemuliaanlah yang dicari. Setiap orang itu akan mendapatkan rezeki tergantung dari keterampilan yang dimilikinya. Misalnya orang Madura yang pandai mencukur rambut, maka ia akan membuka usaha cukur rambut. Orang yang mendapatkan pelayanan dari keahlian si tukang cukur, akan membayar sesuai jerih payah dan keahlian tersebut. Sama halnya dengan anak-anak kita kelak, keterampilan apa yang bisa mereka “jual” agar pihak lain mau mengeluarkan sejumlah uang sesuai keahlian yang mereka miliki itu.


Intinya, pada level ini, anak-anakku belajar untuk tidak pernah berharap rezeki akan datang begitu saja tanpa ada satu usaha untuk menunjukkan satu bentuk keterampilan yang mereka miliki. Lebih dari satu keterampilan dimiliki, insya Allah akan lebih pula yang bisa didapat. Tidak punya keterampilan satu pun, maka siap-siap selalu gigit jari karena kesempatan selalu terlewat begitu saja tanpa bisa diraih.


Misalnya begini, pernah ada seorang kawan yang bertanya perihal lowongan di tempatku bekerja dulu. Kemudian aku tanya, “Bisa mengoperasikan komputer? Bisa perpajakan?” untuk dua pertanyaan tersebut, jawabannya sama: Tidak. Ooh, ya kalau begitu aku ajukan satu pertanyaan lagi, “Bisa mengemudi mobil?” berhubung saat itu di kantor memang sedang membutuhkan seseorang dengan keahlian tersebut. Nyatanya, ia juga menjawab “Tidak” meski dibubuhi kalimat pendukung, “tapi saya bisa belajar kok …” 


Agak sulit bagi siapa pun untuk membantu mencarikan pekerjaan buat seseorang yang tidak memiliki satu pun keterampilan. Bahkan seorang office boy (OB) sekalipun memiliki keterampilan khusus yang menjadi prasarat ia bisa diterima bekerja sebagai OB.


Rezeki tidak pernah salah alamat, itu pasti. Kalau mengibaratkannya dengan seorang tukang pos pengantar surat, ia tidak akan pernah kesulitan mengantar surat jika tertera alamat yang jelas dan lengkap. Ditambah lagi, si pemilik rumah pun semestinya menuliskan alamat rumahnya dengan jelas, seperti nomor rumah, RT/RW dan lain sebagainya, agar pas pos tak kesulitan mencocokkan alamat tertera di surat dengan alamat kita. Jangan salahkan jika tukang pos kebingungan mencari alamat kita, karena boleh jadi kita memang tak memasang alamat jelas di depan rumah.


Perumpamaan tersebut yang kemudian menjadi pembakar semangatku untuk terus memberikan motivasi kepada anak-anakku agar mereka senantiasa menunjukkan kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang mereka miliki. Agar orang lain bisa melihatnya dengan jelas dan memberikan kesempatan terbaik di masa depan mereka. Karena rezeki memang tidak pernah salah alamat, hanya kadang kita sendiri yang tak menunjukkan alamat jelas, sehingga seringkali rezeki berlalu begitu saja.

Pun, saat sudah mendapat rahmat Allah atas rezeki, anak-anak belajar bagaimana mengatur serta memanfaatkan rezeki tersebut. Bisa jadi apa yang menjadi rezeki kita, sebagian adalah hak oranglain, untuk itu mereka harus terbiasa bersedekah (tabungan akherat). Mengatur dan memanfaatkan rezeki dengan bijak (mengatur pengeluaran, dan sebagainya) serta menabung untuk masa depan. 













Selasa, 03 Desember 2019

#10 : Buku Daur Ulang

Desember 03, 2019 0 Comments




Proyek "Beberes Rumah" meninggalkan jejak tumpukan barang bekas. Barang-barang bekas dapat kita gunakan untuk daur ulang dan diolah menjadi barang-barang yang berguna. Bahkan, dapat memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar kita untuk membuka lapangan kerja baru dan menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan sekitar. 


Mungkin, aku gak akan melakukan sejauh itu, aku hanya ingin fokus agar kertas-kertas bekas buku tulis anak-anakku tidak mubazir. Lembar-lembar yang masih kosong dari bekas buku sekolah anak-anakku, aku kumpulkan.


Yess, kali ini proyeknya adalah mendaur kertas!


Pengertian daur ulang adalah salah satu cara untuk menggunakan barang bekas untuk dipakai kembali menjadi barang yang serba bermanfaat atau bisa juga diolah menjadi barang yang dapat diperjual belikan. Hal ini juga bertujuan untuk mengurangi dan mengatasi adanya pencemaran lingkungan akibat sampah plastik yang dibuang sembarangan.


Melibatkan anak-anak adalah hal yang wajib dalam semua aktivitas rumah. Anak-anak memilah buku-buku mereka yang sudah terpakai. Halaman-halaman yang masih kosong diambil. Sedangkan bagian yang sudah penuh tulisan dimasukkan ke dalam kardus yang nantinya akan kami berikan kepada pemulung. 


"Kira-kira, kertas-kertas ini mau diapain ya?" Aku mencoba menggugah kreativitas mereka.


"Uhm ... ya dibuat buku lagi aja, Bun." Simpel, Shahia dengan cepat menjawab.


"Yess, kita bikin buku lagi aja ya!" balasku sambil mengusap rambutnya.


Aku mulai merapikan kertas-kertas bekas tersebut, kemudian aku pisah menjadi beberapa bagian. Delapan tumpuk yang aku pisah dengan penjepit kertas siap disulap kembali menjadi buku.


Aku membawanya ke toko fotocopy untuk dijilid ring. Dan taraaaa ... hasilnya, kertas-kertas bekas itu menjadi beberapa buku yang siap digunakan lagi. Alhamdulillah ....


Selain mengajarkan anak-anak menghargai barang bekas, buku daur ulang ini juga aku harap bisa menjadi hikmah bagi anak-anakku supaya tidak mubazir terhadap segala sesuatu. Karena Allah ciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia. Maka sebagai makhluk ciptaan Allah yang disempurnakan dengan akal dan pikiran, aku berharap semoga anak-anakku kelak menjadi insan yang senantiasa kreatif dan efektif dalam memanfaatkan segala sesuatu. 



#9 : DECLUTTERING : Kebiasaan menuju Keteraturan

Desember 03, 2019 0 Comments


“Menjalani hidup minimal bukanlah tentang hidup kekurangan, tapi tentang bagaimana memiliki kebendaan sesuai kebutuhannya.”



Kebanyakan orang memiliki banyak tumpukan barang yang jarang atau tidak terpakai dan tidak memiliki fungsi esensial. Budaya ini akan semakin berkembang dan menjangkiti seiring dengan meningkatnya penghasilan dan meniru budaya Barat. Tanpa disadari, kita sudah nggak hanya beli barang sesuai kebutuhan, tapi karena keinginan. Termasuk diriku, yang dulu sering terlena dengan pop up diskon! 

Kemampuan untuk membeli dan memiliki banyak barang tentunya sering menjadi ukuran kemampuan finansial seseorang di mata orang lain. Namun, apakah kita sadar berapa banyak barang yang diperlukan untuk hidup dan bukan sekadar keinginan? Selain itu, apakah kita juga menyadari faktor-faktor yang diperlukan untuk menjaga dan merawat barang yang menumpuk di rumah? 


Kebiasaan ini kalau dibiarkan terus tentu akan menjadi mindset yang terikat pada kebendaan. Seberapa pun uang yang dimiliki, akan habis untuk membeli barang. Budaya konsumtif yang dibungkus oleh materialisme dan hedonisme. 

Oleh sebab itu, barang-barang tersebut sebaiknya dibuang atau disumbangkan. Dalam Islam, konsep hidup sederhana mengajarkan untuk tidak mubazir, melatih untuk ikhlas, membiasakan sedekah, disiplin dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya agar tidak hidup atau memiliki sesuatu secara berlebih-lebihan.

Ada banyak keuntungan apabila kita berhasil melepaskan diri dari kebendaan ini. Terutama dalam ajaran Islam yang mengingatkan kita “Genggamlah Dunia dengan Tanganmu, Bukan dengan Hatimu.”


Kalau sudah terlanjur mengoleksi beragam barang dan ingin menguranginya, proses ini dikenal dengan istilah DECLUTTERING. Dan inilah proyek keluarga kami pekan ini. Akhir November 2019, "beberes rumah" menjadi agenda utama. 


Decluttering adalah membuang atau merapikan barang-barang tidak penting yang memenuhi tempat tertentu.

Buat beberapa orang, decluttering ini nggak gampang karena terikat dengan kenangan pada suatu barang, misalnya kenangan masa kecil, kampung halaman, travelling dan sebagainya. Tapi kalau kita ingin hidup lebih ringkas, hemat dan rumah juga lebih lapang, harus ada sedikit “memaksakan diri” menyingkirkan barang-barang nggak perlu.

Aku sendiri termasuk orang yang nggak suka rumah berantakan, tapi sayang kalau membuang benda. Ya itu, banyak kenangannya. Tapi berangkat dari keinginan untuk hidup minimalis, kondisi harus diusahakan. Nggak bisa terbentuk dengan sendirinya.

Aku pun melibatkan genk krucils dalam proyek tersebut, agar mereka dapat belajar, bahwa mengoleksi barang sebenarnya tidak efektif, dan memberikan pemahaman, bahwa dalam hukum Islam, kita nanti akan ditanyai tentang kemanfaatan semua benda yang ada di sekeliling kita. Supaya tidak ada yang mubazir, aku pun meminta anak-anak ikut serta memilih serta memilah barang-barang mereka. Mulai pakaian, buku-buku, hingga mainan.


Aku menggunakan 10 cara merapikan barang (decluttering) yang kukutip dari buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay:


1. Start Over (Mulai dari awal)

Kosongkan sebuah ruang. Ketika kita ingin meminimalisir isi lemari, maka bongkar dan kosongkan isi seluruh lemari. Hal ini dilakukan agar kita benar-benar bisa memilih mana yang harus masuk dan keluar. Setelah semua barang dikeluarkan dan diletakkan di satu tempat, kita akan bisa memutuskan barang mana yang masih digunakan atau tidak.


2. Trash, Treasure, or Transfer (Buang, simpan atau berikan)


Setelah menyortir isi lemari akan tersisa barang-barang yang tidak dimasukkan kembali, yaitu barang yang tidak layak pakai atau jarang digunakan. Sediakan satu kardus besar kemudian letakkan semua barang yang masih kita pertimbangkan apakah masih akan digunakan atau tidak. Setelah selesai menyortir, pikirkan kembali apakah barang-barang tersebut sangat perlu untuk disimpan, dibuang atau diberikan pada orang lain.


3. Reason for Each Item (Barang harus beralasan)

Setiap barang harus memiliki alasan kuat mengapa ia disimpan. Kenali kegunaan setiap barang. Barang dibagi menjadi fungsional, dekoratif dan emosional. Barang dekoratif hanya berfungsi sebagai hiasan dan barang emosional adalah barang yang kita sukai meski tidak berfaedah. Yang akan kita simpan adalah barang fungsional yaitu barang yang akan kita gunakan untuk bertahan hidup.



4. Everything in Its Place (Letakkan sesuai tempatnya)

Letakkan kembali setiap barang yang telah digunakan ke tempat semula. Sering kali kita kesulitan mencari barang yang diperlukan karena menaruh barang tersebut sembarangan. Jika setiap barang diletakkan di tempatnya, tiap permukaan akan bersih dari barang-barang yang tercecer dan rumah tampak lebih rapi.


5. All Surfaces Clear (Semua permukaan bersih)

Semua permukaan datar seperti lantai dan meja harus dibiarkan kosong dan rapi.


6. Modules (Punya ruang)

Siapkan ruang-ruang untuk menyimpan barang dengan membaginya sesuai kebutuhan. Sebuah ruang yang bebas akan membantu kita bernapas lega di dalam rumah.


7. Limits (Batas)

Batasi jumlah barang yang dimiliki seperti baju, sepatu, aksesoris atau yang lain. Jangan hanya karena suka, kita jadi memiliki suatu barang dengan jumlah yang berlebihan. Dikutip dari majalah forbes, dulu seorang wanita pada tahun 1930 hanya memiliki 36 pakaian namun kini seorang wanita bahkan bisa memiliki 120 pakaian sementara 80% di antaranya jarang digunakan.


8. If One Comes in, One Go (satu masuk, satu keluar)

Jika ada satu barang baru masuk, keluarkan satu barang lama sejenis yang sudah usang dan waktunya pensiun. Kitalah yang menentukan keluar masuknya barang ke dalam ruang yang kita miliki.


9. Narrow It Down (Kurangi)

Kurangi benda-benda yang lama tidak terpakai atau sudah tidak digunakan. Sedikit barang akan menurunkan stres karena kita tidak pusing memikirkan perawatannya.


10. Everyday (Perawatan tiap hari)

Rawatlah rumah agar tetap rapi setiap hari. Perawatan yang istiqomah itu penting.


***


Pada minggu ini, kami merasakan beberapa manfaat yang diperoleh apabila dapat menahan diri untuk tidak menjadi konsumtif dan membatasi jumlah barang-barang yang dimiliki. Setelah bersih-bersih rumah, beberapa manfaat yang kami dapat sebagai berikut:


1. Mengurangi stress yang disebabkan oleh menumpuknya barang


Seringkali kita menganggap enteng tumpukan barang yang berada di rumah. Padahal, secara tidak sadar, tumpukan tersebut dapat menjadi pemicu kegelisahan dan stress dalam hidup. Secara visual, apa yang kita pandang hanyalah tumpukan barang yang berantakan dan membuatnya tidak dapat beristirahat. Belum lagi ketika harus mencari sebuah barang di dalam tumpukan tersebut. Dan setelah mengurangi barang-barang dan hanya menyimpan yang diperlukan agar tidak mengganggu keharmonisan hidup. 

Aku dan anak-anak sepakat akan menyisihkan waktu untuk membereskan barang-barang di rumah sebelum menumpuk dan akhirnya menjadi enggan untuk membereskannya.


2. Menciptakan lingkungan yang lebih sehat

Ketika kita memiliki banyak barang yang tercecer dan tidak rapi, tentu akan memakan banyak waktu untuk merapikannya. Jika tidak dirapikan, barang-barang tersebut dapat menjadi berdebu dan lebih parahnya lagi, menjadi sarang binatang kecil, seperti cicak dan tikus. 

Setelah menata ruang aktivitas sedemikian rupa, sehingga tidak tercemar oleh debu yang berlebihan dan kotoran lainnya. Hal ini juga dapat memperbaiki kualitas udara yang kami hirup sehingga tidak menimbulkan alergi maupun penyakit respiratori lainnya.


3. Menjadi lebih fokus pada hal-hal yang tengah dikerjakan

Tumpukan barang-barang yang tidak teratur dapat mengganggu kemampuan berkonsentrasi dan memproses informasi dalam pikiran kita. Hanya dalam keadaan bersih dan teratur, baru kemudian kita dapat kembali bekerja tanpa gangguan dengan lebih efektif. Selain itu, dengan berkurangnya barang, kita juga dapat mengurangi waktu berbenah agar dapat menggunakan waktu tersebut untuk melakukan hobi, bersantai bersama keluarga, maupun beristirahat.


4. Lebih efisien dalam melakukan pekerjaan

Kami tentunya tidak akan membuang waktu mencari-cari barang yang diperlukan setelah lingkungan tertata rapi dan tidak terdapat tumpukan barang. Ini artinya, baik aku maupun anak-anak dapat memiliki waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan di rumah, seperti bekerja bagiku atau pun belajar bagi anak-anakku. Kami sepakat untuk tidak pernah menunda kegiatan merapikan barang ketika memiliki waktu agar tidak menumpuk semakin banyak barang yang kurang diperlukan.


5. Mengurangi pengeluaran 

Poin terakhir ini merupakan yang paling nyata manfaatnya, karena memiliki sedikit barang berarti tingkat konsumsi rendah, dan tentunya membuat kita dapat menabung lebih banyak. Selain itu, dengan keterbatasan ruang penyimpanan yang dimiliki di rumah, ruangan akan selalu kelihatan rapi karena tidak banyak barang yang memenuhi dan cenderung menumpuk. Hal ini berpengaruh pada pikiran, sehingga dapat hidup lebih efektif dengan mengutamakan kesederhanaan.



#8 : SILATURAHMI Buka Pintu Rezeki

Desember 03, 2019 0 Comments



" Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."

(H.R. Bukhari Muslim)





Aku baru-baru ini terkesima membaca sebuah artikel guratan Hendro Prasetyo di internet yang menyingkap hikmah dari sebuah kebiasaan silaturrahmi. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa antara tahun 1965–1974 ada dua orang ahli epidemi penyakit yang melakukan riset pada gaya hidup dan kesehatan penduduk Alameda County, California yang berjumlah 4.725 orang.
Hasil menarik dari riset itu adalah bahwa mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang eksklusif (tertutup) dibandingkan orang-orang yang rajin bersilaturrahmi dan menjalin hubungan.
Pada artikel tersebut juga disampaikan bahwa ada sebuah riset yang pernah dilakukan pada penduduk Seattle di tahun 1997. Riset tersebut menyimpulkan bahwa biaya kesehatan lebih rendah didapati pada keluarga yang suka bersilaturrahmi dengan orang lain, dan konon keluarga yang seperti ini jauh lebih sehat dibandingkan keluarga-keluarga lain.
MacArthur Foundation di AS mengeluarkan kesimpulan sejalan yang menyatakan bahwa manusia lanjut usia (manula) bisa bertahan hidup lebih lama itu karena disebabkan mereka kerap bersilaturrahmi dengan keluarga dan kerabat serta rajin hadir dalam pertemuan-pertemuan.
Subhanallah …, begitu dahsyatnya manfaat silaturrahmi yang diajarkan oleh Rasulullah Saw hingga ilmu pengetahuan modern telah membuktikan kebenaran bahwa ia dapat memperpanjang umur!

Lalu bagaimana silaturrahmi bisa menambahkan rezeki?! 

Rezeki bisa mudah dicari selagi kita punya hubungan baik dengan sesama. Karena suka berbuat baik terhadap orang lain, maka mereka pun akan berbuat baik kepada kita. Inilah yang seterusnya akan berkembang menjadi trust, kepercayaan, amanah. Bagaimana seseorang akan mempercayakan hartanya kepada kita untuk diurus dan dikelola, kalau kita tidak mempunyai hubungan baik kepadanya?
Seorang sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter melakukan riset pada cara bagaimana orang mendapatkan pekerjaan. Riset ini dilakukan pada tahun 1970-an. Ia menemukan bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan berdasarkan koneksi pribadi. Karena koneksi atau hubungan silaturrahmi itulah seseorang mendapatkan pekerjaan.



Terinspirasi dari artikel di atas, diriku pun mulai mengajak anak-anak berdiskusi tentang silaturahmi, dan langsung mempraktekkannya. 

"Ada acara nih di rumah temen Bunda, yuk ikut semua, silaturahmi." Aku antusias mengajak ketiga krucilku. 

"Kakak agak males, Bun. Kakak di rumah aja ya." Aksan menjawab dengan nada malas.

Aku tahu banget sih, anak sulungku ini memang tipe yang lebih suka di rumah. Tapi, aku sedang ada misi menyampaikan hikmah silaturahmi. Dan itu gak akan bermakna jika dia tidak ikut serta.

"Harus ikut semua, menyambung silaturahmi, melaksanakan sunnah Rosul. Silaturahmi itu ibadah, selain itu juga memiliki manfaat membuka pintu rezeki dan memperpanjang usia." Aku menjawab dengan tegas.

Dengan gontai, Aksan pun menurutiku. Dia pun bergegas berganti pakaian.

Acara gathering di rumah sahabat lamaku berlangsung hangat. Shahia dengan mudah beradaptasi dan berbaur dengan anak-anak temanku yang sepantar bahkan berbeda usia dengannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan memang terhadap Shahia. Dia memang adaptable sehingga mudah bergaul, dan selalu nampak asik di mana saja.

Aksan yang awalnya nampak bete, lama kelamaan juga bisa mengikuti ritme. Rupanya, dia juga mendapat teman baru yang sepantar dengannya. Sedangkan Lula, tetap nempel di tubuh emaknya. 

Dari silaturahmi ini, aku mendapatkan sebuah peluang. Salah seorang temanku ingin anaknya di test bakat dengan tools GMP (Genetic Mapping Program). Satu pintu rezeki terbuka. Teman lain juga mulai tertarik dengan kelas privat buku solo. Dua pintu rezeki terbuka sekaligus.

Aksan yang duduk tidak jauh denganku, meskipun dia juga asik bermain game di gadget dengan teman barunya, tapi aku yakin bahwa dia mendengar semua obrolan kami. 

Dalam perjalanan pulang, aku membahas hasil silaturahmi kami hari itu. 

"Gimana? Apa manfaat silaturahmi menurut Kakak?"

Dia hanya terdiam. 

"Coba kalau Allah tidak gerakkan kita ke acara tadi, dua pintu rezeki untuk kita tidak jadi terbuka! Kakak denger kan, tadi Bunda dapat kerjaan. Temen Bunda mau ngetesin anaknya GMP, bisa jadi gak cuma 1 anak, tapi 3 anak! Lalu temen Bunda lainnya, minta Bunda privatin nulis buku. Janji Allah gak pernah ingkar bukan? Bener banget kan kalau silaturahmi itu membuka pintu rezeki?"

"Iya ya, Bun. Kakak jadi paham." Akhirnya mulutnya bersuara.

Anak-anak memang harus merasakan sendiri sensasi manfaat silaturahmi. Alhamdulillah ... 

#7 : TABUNGAN AKHIRAT

Desember 03, 2019 0 Comments


"Bunda mau cerita tentang orang yang sangat mencintai hartanya. Mau dengerin gak?" Suatu sore yang santai, aku berusaha memecah fokus mereka yang sedang asik bermain sendiri-sendiri, supaya mau duduk di dekatku dan berkumpul di hadapanku.


"Boleeeeh laaah, Bun," celetuk Shahia dengan nada centilnya. Sedangkan Lula, langsung berlari menubruk, kemudian duduk di pangkuanku.


"Ada seorang pedagang yang sukses luarbiasa, Pak Mahmud namanya. Pak Mahmud ini dikenal teman-teman, tetangga dan saudara-saudaranya sebagai orang yang sangat mencintai hartanya."


"Mencintai harta kan gak baik ya, Bun." Aksan menyela.


"Hmm ... kenapa kok ga baik?" Aku bertanya pada Aksan.


"Kan orang yang mencintai harta itu biasanya pelit atau serakah." Aksan dengan yakin menjawab.


"Nah, itu menurut Kakak. Tapi menurut Pak Mahmud berbeda. Karena dia sangat mencintai hartanya, bahkan tidak mau berpisah dengan hartanya, maka Pak Mahmud sangat rajin menabung. Tapi ... tau gak tabungannya itu ditaruh di mana?" 


"Di Bank dong," Shahia menjawab dengan cepat.


"Hmmm ... kurang tepat," sahutku sambil mengedipkan mata kiri.


"Trus tabung di mana, Bun?" tanya Shahia penasaran.


"Pak Mahmud saking cintanya sama hartanya, dia bahkan berencana membawa hartanya itu hingga dia meninggal dunia."


"Aneh ... orang meninggal kan ga bisa bawa hartanya, Bun." Aksan kembali menyela.


"Kata siapa enggak bisa bawa harta ke akherat?" tanyaku.


Aksan dan Shahia nampak bingung. Lula yang masih belum paham apa-apa cuma cengar cengir menunggu aku melanjutkan cerita.


"Pak Mahmud saking cinta kepada hartanya, dia pun membawa hartanya hingga akherat. Dia menabung hartanya di jalan Allah. Pak Mahmud selain selalu menunaikan zakat fitrah dan zakat mall yang memang wajib dilakukan, dia juga banyak bersedekah, infaq bahkan wakaf. Dia habiskan harta yang dicintainya di jalan Allah. Dia berkata pada teman-teman, tetangga dan saudaranya bahwa harta yang dia sangat mencintai hartanya, oleh sebab itu dia tabung untuk akherat."


"Ooooh gitu ya, Bun. MasyaAllah ..." Shahia bergumam kagum.


"Tabungan akherat itu berarti sedekah, beramal, wakaf, infaq, gitu ya Bun? Karena kalau harta yang disedekahkan itu pahalanya dibawa sampai ke akherat, jadi benar kalau Pak Mahmud sangat mencintai hartanya ya, Bun. Dibawa sampai meninggal, bahkan sampai akherat." Aksan mulai memahami dan mengulang ceritaku dengan bahasanya sendiri.


"Begitulah kalau sangat mencintai harta karena Allah, seharusnya membawanya juga sampai akherat. Jangan hanya mencintai harta di dunia saja. Kalau mencintai harta hanya di dunia, kita akan jadi orang yang pelit, atau malah serakah, sombong, atau bahkan menghamburkannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Naudzubillah."


"Manusia memang diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memiliki kecenderungan ini. Tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Tetapi mereka mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi cintanya pada Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah. Pernah dengar tentang kisah Abu Thalhah saat mensedekahkan hartanya?"

"Belum, Bun. Ceritain dong!" Shahia kembali menjawab dengan cepat.

Aku membuka sebuah laman internet, www.an-najah.net, lalu membacanya.



“Abu Thalhah adalah orang Anshar kaya yang paling banyak memiliki kebun kurma di Madinah. Dia sangat mencintai Bairuha (nama kebun) yang berhadapan dengan Masjid. Rasul juga suka masuk ke sana dan minum air segar dari mata airnya. Tatkala turun ayat (Qs. Ali Imran: 92). لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ Abu Thalhah berkata: Wahai Rasul, Allah telah menegaskan bahwa tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali menginfakkan apa yang dicintai; harta yang amat saya cintai adalah kebun Bayruha, maka dengan ini saya sedekahkan karena Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah SWT. Gunakanlah wahai Rasul sesuai kehendakmu. Rasul SAW bersabda: Bakh (kata-kata kagum), ini adalah harta yang sangat baik yang sangat bernilai! Saya mendengar apa yang kamu ucapkan! Saya berpendapat alangkah baiknya engkau berikan ke kerabatmu. Dia mengatakan aku lakukan wahai Rasul! Kemudian Abu Thalhah membagikannya ke kaum kerabat dan anak pamannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)."


"Kisah Abu Thalhah yang menyadari bahwa harta yang akan ia sedekahkan tersebut adalah harta yang sebetulnya sangat ia cintai. Akan tetapi, karena seruan Allah lebih ingin ia dengarkan dari pada seruan perasaan yang ada dalam hatinya, ia rela berbuat kemuliaan tersebut. Semakin besar ia berkorban, entah dengan harta ataupun jiwa, semakin kuat pula keimananya. Sebaliknya, semakin pelit dan kikirnya seseorang, akan menunjukkan keimannya yang tipis terhadap akhirat."


Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(Qs. Ali Imran: 92)



"Sahabat yang lain adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu, harta yang paling ia cintai adalah seekor kuda yang bernama ‘Sabl’. Ketika ayat 92 dari surah Ali Imran ini turun, ia menyedekahkannya dengan memberikannya kepada Rasulullah. Ketika kuda tersebut digiring oleh anaknya untuk diberikan kepada Rasulullah, baginda melihat wajah Zaid bin Haritsah berubah, namun Rasulullah segera bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menerimanya darimu (wahai Zaid)!” (Diriwaytkan oleh Ibnu Abi Hatim; lihat Tafsir Al Qurthuby dan Al Alusy)."


"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu"
(QS Al-Baqoroh: 267)

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya, memperoleh pahala yang besar.” (QS Al-Hadiid: 7)


“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shale?” (QS Al-Munaafiquun: 10)




"Dari tiga ayat tersebut memang tidak dijelaskan besaran pasti untuk kita melakukan setoran. Yang diminta hanya sebagian. Bisa sebagian kecil, bisa sebagian besar. Tergantung diri kita masing-masing maunya berapa. Ketika kita sudah menyedekahkan harta kita, maka otomatis catatan kebaikan di buku amal kita akan bertambah."

"Dan, “bunga” yang kita dapatkan dari hasil sedekah kita adalah 700 persen. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus benih. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqoroh: 261)"

"Hitung-hitungannya, gini nih: 1 butir benih x 7 bulir x 100 benih = 700 benih. Itu minimalnya loh, paling sedikitnya loh. Coba lihat di hitungan tersebut, setiap benih itu bisa menghasilkan tujuh bulir. Kalo kita punya 700 benih berarti jadi 4.900 bulir yang akan menghasilkan lagi 100 biji pada masing-masing bulir. Begitu seterusnya. Tak akan pernah berhenti. Hal itu bisa dilihat di ayat yang tadi Bunda sebutin. “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”

"Bank akhirat ini memang tidak punya kantor resmi. Tapi kita bisa melakukan setoran di mana saja. Misal, ke Bunda nih, saudara ... kakak-adik, anak-anak yatim, orang miskin dan musafir."

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqoroh: 215)"

"Mudah banget kan?"



"Juga, gak perlu khawatir salah catat setoran. “Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Baqoroh: 121)

"Dengan membuka rekening di bank akhirat ini berarti kita telah menyimpan harta kita dalam bank teraman di dunia, bahkan di akhirat. Yang namanya tabungan tentu saja harta yang kita tabung sebenarnya masih ada hak kita. Hanya saja kita memang tidak memegangnya. Apalagi di bank akhirat ini kita tidak bisa melakukan penarikan tunai. Tapi kita bisa merasakan manfaat dari tabungan kita tersebut. Bisa di dunia ini atau di akhirat nanti."


Aku melihat ketiganya manggut-manggut. Semoga Allah benar-benar memahamkan mereka. Aaamiin.


#6 : KESEHATAN adalah REZEKI

Desember 03, 2019 0 Comments





"Bun, badan Shahia rasanya enggak enak," keluh anak keduaku.


Sebenarnya aku sedikit gugup setiap anak-anakku mengeluh sakit. Tapi aku selalu ingat, bahwa rasa sakit itu adalah atas izin Allah. Bisa jadi sebagai pengingatku sebagai bunda, mungkin kurang bisa menjaga amanah-Nya dengan baik, sehingga anak-anak merasa sakit.

Atau bisa sebagai bentuk ujian, buatku dan anak-anak, supaya lebih belajar sabar, serta memaknai kesehatan dengan banyak bersyukur.


"Bismillah, ga papa, Nak. Allah sedang ingin Shahia belajar mensyukuri saat sehat. Makanya, maem gak boleh telat. Bobok ga boleh terlalu malam." Aku mencoba menenangkannya.


"Kesehatan itu juga rezeki loh. Rezeki itu bukan hanya uang. Syukur nikmat dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Syukur hati dilakukan dengan cara meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberi kita kesehatan. Syukur lisan dilakukan dengan cara mengakui kenikmatan tersebut dan melafalkannya serta memuji Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan alhamdulillah. Nah, syukur dengan anggota badan dilakukan dengan mempergunakan nikmat kesehatan itu dalam perkara-perkara ketaatan dan menghindarkannya dari kemaksiatan. Misalnya, tidak boleh berbohong, membantah orangtua, dan sebagainya. Manfaatkanlah masa sehat, sebelum datang masa sakit. Allah suka dengan orang-orang yang semangat dalam menjalankan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat di saat sehat."


Shahia terus mendengarkan aku mengoceh dengan seksama.


"Tapi, saat sakit, lalu kita ikhtiar periksa ke dokter. Sakit Shahia juga sebagai cara Allah menyampaikan rezeki untuk Pak Dokter. Sakitnya Shahia juga bisa menjadi jalan penebus dosa."


"Kok bisa Bun?"


"Iya, saat Allah sedang uji dengan rasa sakit, kalau Shahia bersabar, maka Allah menghapuskan dosa-dosa Shahia. MasyaAllah ..." 


Saat anak sedang diberi nikmat sakit, itu bisa menjadi salah satu cara mereka belajar menghargai masa sehatnya. Nikmat sehat merupakan salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Dengan nikmat ini, yang termasuk di dalamnya nikmat hidup, anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas dengan nyaman mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur bahkan selama tidur itu sendiri.



Aku berusaha memberikan pemahaman bahwa dengan nikmat sehat menempel di badan kita bisa mendapatkan nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Seperti halnya kita bekerja keras untuk mendapatkan rezeki harta, jabatan, kekuasaan dan eksistensi.

Semua itu dapat kita capai dan peroleh ketika kita masih mempunyai nikmat sehat secara jasmani dan rohani. Maka dari itu aku mengingatkan anak-anak agar selalu bersyukur dan menjaganya dengan baik. 





#5 : Menabung untuk Masa Depan

Desember 03, 2019 0 Comments


Sedia payung sebelum hujan!

Peribahasa tersebut sepertinya tepat untuk menjawab pertanyaan penting ini, “Perlukah mengajarkan anak menabung sejak dini?”
Perkara pentingnya menabung untuk masa depan kita dan keluarga, tentu sudah tidak perlu dicari jawabannya. Uang tabungan adalah simpanan yang bisa digunakan sewaktu-waktu, saat genting atau saat muncul kebutuhan tidak terduga. Misalnya, untuk biaya rumah sakit, biaya pendidikan anak, atau biaya mendesak lainnya.

Tidak cuma itu, uang yang tersimpan dalam tabungan ini juga bisa dialokasikan untuk perencanaan keuangan masa depan keluarga. Menyisihkan sebagian pendapatan tiap bulan secara rutin akan membuat kita terbiasa untuk menabung.
Selain berguna untuk simpanan masa depan, kebiasaan menabung juga bisa membentuk kepribadian, termasuk sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif terhadap keluarga terutama anak-anak. Dengan mendidik dan mengenalkan anak cara mengelola keuangan yang baik, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih menghargai uang.

Anak-anak sudah terbiasa menyisihkan uang setiap kali ingin membeli sesuatu. Dengan begitu, mereka belajar bahwa untuk memperoleh sesuatu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

Anak-anak menuliskan beberapa keinginan dalam buku, semacam dreambook. Bahkan terkadang mereka menempelkan gambar barang yang ingin mereka beli di dalam buku tersebut.



Sebagai orang tua memang sudah seharusnya bisa membangun pemahaman kalau menabung adalah cara untuk menggapai mimpi dan ambisi. Misalnya saat anak-anakku memiliki mimpi untuk memiliki mainan bisa dicapai bisa dilakukan dengan menabung, meskipun memerlukan waktu dan kesabaran. Tapi, dalam proses itu terdapat pendidikan karakter yang sangat kuat untuk mendidik anak dengan kepribadian yang baik.
Menjadikan menabung sebagai gaya hidup adalah tujuan akhir dalam pendidikan literasi keuangan. Ketika menabung sudah menjadi gaya hidup, itu akan menjadikan kebiasaan yang tertanam sejak dini. Aku berharap, nantinya, menabung bisa menjadi identitas pada diri anak-anak.
"Bun, boleh gak kalau ambil uang tabungan untuk beli stik PS?" sulungku Aksan mulai menambah daftar keinginannya.
"Boleh aja, itu kan uang Kakak. Silakan digunakan sesuai dengan daftar impian Kakak. Yang perlu diingat sampai dewasa, kebutuhan didahulukan sebelum membeli barang yang sekadar untuk keinginan. Barang-barang di daftar impian silakan dicapai tanpa mengganggu uang untuk kebutuhan, daaan paling penting, jangan lupa untuk selalu bersedekah."




#4 : Belanja Bijak

Desember 03, 2019 0 Comments
Salah satu cara untuk menentukan apakah sebuah pengeluaran alias belanja termasuk bijak atau tidak adalah mempunyai alasan yang jelas untuk membeli barang tersebut adalah cara standar.


Nah, cara standar sekaligus yang lebih spesifik itu yang kemudian aku sebut dengan 4 Kunci Utama Belanja Bijak. 




 
Selembar kertas kosong, kubuat 4 garis lurus dari atas ke bawah sehingga membentuk 4 kolom. Nah, di atas setiap kolom tulis “Wajib”, “Penting”, “Senang Kalau Punya” dan “Buang-buang duit.” Nah setelah itu, setiap aku akan belanja, aku tulis belanjaan di bawah masing-masing kolom tersebut.

Anak-anak pun aku minta untuk mengelompokkan semua yang akan dibeli ke dalam 4 kolom ini. 

Kategori pertama adalah yang Wajib dimiliki.
Di sini adalah uang-uang yang aku belanjakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal dan pakaian.



Sementara itu kategori kedua adalah Penting untuk dimiliki. Nah biasanya yang masuk di dalam kategori ini adalah hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas hidup sehari-hari, seperti service kendaraan, membeli buku dan lain-lain.




Ketegori ketiga adalah “Senang Kalau Punya” adalah pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda, tapi menyenangkan kalau kami bisa belanja / atau memiliki. Contoh untuk kategori ini misalnya makan di luar bersama, atau nonton bioskop di akhir pekan, atau jalan-jalan ke mall dan sebagainya.



Nah, lalu bagaimana dengan kategori terakhir alias buang-buang duit? Sebenarnya mengukurnya sangat mudah. Ketika barang yang ingin kami beli tidak menambah nilai atau keuntungan riil dalam kehidupan dalam hal positif, maka bisa dipastikan hal itu hanya buang-buang saja. Sebagai contoh, menambah koleksi mainan atau membeli gadget baru bukanlah hal yang penting dan hanya buang-buang duit. 



Karena 4 kolom tersebut bersifat pribadi, maka setiap grup akan berisikan daftar yang berbeda dari satu orang dengan orang lain. Semua akan sangat tergantung dari banyak hal seperti misalnya penghasilan, jumlah tanggungan keluarga, kebutuhan dan lain sebagainya.



Apa yang menjadi “Senang Kalau Punya” di satu orang bisa jadi menjadi “Penting” di orang lain. Jadi tidak ada aturan baku di sini. Yang paling penting adalah harus jujur pada diri sendiri.



Kalau belanja barang-barang yang masuk kategori “Buang-buang uang” tapi tetap dimasukan ke daftar “Penting,” sebenarnya memang menghamburkan uang dan menipu diri sendiri.




Nah, dengan melakukan hal ini, aku merasa lebih mudah bisa mengurangi pengeluaran  sampai dengan 20%. Ketika aku mulai mengurangi barang-barang yang “Senang Kalau Punya” bahkan menghilangkan barang-barang “Buang-buang Uang”, tentunya secara tidak langsung sudah menurunkan pengeluaran.



"Belanjanya seperti biasa ya, Bun?" tanya sulungku, Aksan.

Dia sudah memegang pensil dan secarik kertas kecil, bersiap menuliskan nama beberapa barang yang akan kami beli. 

Aksan sudah lincah dan nyaris menghafal semua barang yang harus kami beli. Membuat daftar belanja membuat anak-anak terbiasa "belanja bijak". 

Aku selalu mengingatkan mereka, sesampainya di supermarket untuk menaruh barang-barang di keranjang belanja sesuai dengan apa yang tertulis dalam daftar.


Tidak terkecoh dengan pop up diskon yang bertengger di sepanjang koridor supermarket, adalah sebuah prinsip dasar. Kecuali memang yang sedang didiskon adalah barang-barang yang tercantum dalam list belanja. Sekali lagi, menerapkan prinsip kebutuhan di atas keinginan adalah hal yang selalu aku usahakan agar dimengerti juga oleh anak-anakku.