Sabtu, 28 Desember 2019

#10 : JADI, APA CITA-CITAMU?

Desember 28, 2019 0 Comments


"Wah, buku baruuuu!!!" Shahia menyerbu paket yang baru saja datang.

"Buka dulu yuk! Minta tolong ambilin gunting atau cutter dong, Kak Shahia." Aku meminta bantuannya untuk mengambil peralatan guna membuka kardus besar yang baru saja mendarat di teras rumah kami.

Beberapa judul buku terbitan Pejuang Literasi sampai di pangkuanku. Dua di antaranya genre anak. SHahia dengan mudah mengenali kalau buku-buku itu adalah genre anak dari covernya yang memang ramah anak banget.

Aku dan Cita-citaku volume #1 dan volume #2. Keduanya memiliki cover yang memang anak-anak banget. Beberapa ilustrasi di dalamnya pun apik. 

Jatah satu eksemplar masing-masing judul pun kuserahkan ke Shahia, royalti untuk anak-anakku yang selalu memberiku dukungan dan ide untuk berkarya.

"Aku dan cita-citaku." Shahia membaca judul buku itu.

"Ini cerita anak-anak dengan cita-cita mereka. Kak Shahia mau jadi apa kalau sudah besar? Coba dicari di buku ini, ada gak ya cita-cita yang sama dengan Shahia?" Aku mencoba mendorongnya untuk membaca buku itu.

Shahia tiba-tiba mengambil seperangkat mainan edukasi yang aku pernah belikan untuknya dan Lula. Boneka tangan dengan beberapa profesi, lengkap dengan papan mainannya. Shahia dengan ide kreatifnya sendiri, membongkar boneka-boneka itu, sambil membaca deretan kalimat di daftar isi buku cerita anak bertajuk "Aku dan Cita-citaku volume #1" dan "Aku dan Cita-citaku volume #2". 

Kulirik, dia mulai asik membaca, serta bermain dengan boneka tangan yang memang sesuai dengan cerita di buku itu. Setelah lelah membaca, dia nampak asik bermain peran dengan jemarinya penuh boneka kecil-kecil itu. 

"Ceritain dong, kalau dokter itu ngapain aja?" Aku ikut nimbrung di dekatnya.

"Nih, Shahia bacain yang tentang dokter ya, Bun. Dokter tuh pakai jas kaya gini," jemarinya yang sedang memainkan peran dokter dia majukan ke arahku. 

Aku manggut-manggut menurut dan mendengarkan saja apa yang dia ceritakan, tentunya sebagian besar dari membaca buku yang baru saja dia terima itu.

Jadi, apa cita-citamu? Mainkan peran yuk!

Jumat, 27 Desember 2019

#9 : SULAP BARANG BEKAS JADI LEBIH BERMANFAAT

Desember 27, 2019 0 Comments


Sterofom bergambar yang dibawa Shahia dan Lula dari aksi mewarnai di mall beberapa bulan lalu nampak sudah lusuh. 

Fungsinya sudah nyaris tidak ada. Bahkan dari segi estetika pun sudah tidak ada. Beberapa bagian nampak robek. 

Aku meminta izin Shahia dan Lula untuk memanfaatkan sterofom itu. 

"Kita bikin sesuatu yuk dari ini. Udah jelek, tapi dibuang masih eman juga. Dibikin apa ya enaknya?" 

"Hmm ... dibikin apa ya ... dibuat nempel-nempel aja Bun. Kaya yang dulu punya Bunda, tapi sekarang udah patah, lalu dibuang Bunda." Shahia memberi usulan.

"Oh iya juga ya ..., tapi ini bagian pinggirnya harus dipotong nih, karena udah enggak rapi .. eh, tapi di sebelah sini kalau dipotong nanti bisa jadi patah, dan malah jadi rusak semua." Aku mencoba menganalisa bentuk sterofom itu.

"Dilapisin apa gitu, Bun." Shahia kembali memberikan usulan.

"Oh iya, kita lapisin kertas manila aja. Ini kan ada dua, satu nanti dipakai Shahia, satunya dipakai Kak Aksan ya!"

"Lha Lula mana? Ini kan punya Lula!" si bungsuku protes.

"Lula kan belum punya PR dari sekolah. Belum bisa nulis, belum bisa baca. Nah, ini pinjemin ke Kakak dulu ya, biar dipakai Kakak untuk nempelin tugas, jadwal harian, dan lain-lain." Aku mencoba memberinya pengertian. Lula pun dengan wajah manyunnya, akhirnya setuju.

"Nah, kalau gitu, kita beli kertasnya dulu yuk untuk melapisi." Aku mengajak anak-anak ke toko alat tulis. 

Shahia memilih warna pink, sedangkan Aksan yang tadinya ingin biru, karena kosong, dia pun memilih warna kuning.

Sesampainya di rumah, Aksan dan Shahia mulai "bertindak". Mereka menyiapkan gunting, isolasi dan double tip untuk mulai melapisi sterofom dengan kertas warna yang sudah kami beli.

Dalam waktu singkat, sterofom itu sudah nampak lebih enak dilihat. Shahia dan Aksan menempelkannya di samping rak buku. Mereka menempelkan tugas harian di sterofom masing-masing.

Alhamdulillah, anak-anak belajar lebih banyak memanfaatkan barang bekas. 

#8 : KREATIF ITU TAK BERBATAS!

Desember 27, 2019 0 Comments


Tiga set perlengkapan mewarnau berbentuk segi enam baru saja aku beli. Satu untuk Kak Aksan bergambar Spiderman, satu untuk Shahia bergambar tokoh Frozen (Elsa dan Anna), dan satu lagi, tentunya untuk si bungsu, Lula, bergambar Barbie. 

Lula memang sedang getol mewarnai. Sekejap saja, buku mewarnai yang baru saja dibeli akan habis dia selesaikan. Tak terkecuali hari ini, saat 1 set perlengkapan mewarnai barunya dia terima. 4 in 1, kira-kira begitu aku sebut paket lengkap ini. 1 set berisi : 12 pensil warna, 12 crayon, 6 spidol dan 12 warna cat air. 

Lula yang excited tentu saja tidak bisa menunda aku membelikan buku mewarnai. Dia udah kebelet kepengen nyobain set perlengkapan mewarnai bergambar Barbie itu.
cerita
Beberapa buku dia bongkar dari rak. Semua buku mewarnai dia buka lagi satu per satu. Bahkan majalah dari sekolahnya pun dia buka kembali. Sudah full color semua!

Aku lirik, wajahnya nampak kecewa, karena dia tidak memiliki kanvas untuk dia pakai sebagai media menjajal warna-warni yang dia punyai. 

Tapi sesaat kemudian, dia kembali mengaduk-aduk rak buku. Dia buka buku-buku cerita di sana. Tentunta buku cerita bergambar dia lewati, karena buku jenis pictbook itu sudah full color!

Matanya berbinar ketika menemukan salah satu buku antologiku bertema detektif cilik. Dalam buku itu memang ada beberapa ilustrasi, dan dicetak hitam putih, sehingga terkesan gambarnya polos, belum ada warna sama sekali.

Lula menghampiriku. "Bunda, ini boleh diwarnai?" tanyanya sambil menunjukkan halaman buku yang terdapat ilustrasi hitam putih.

Aku tersenyum geli dan mengganggukkan kepala. Spontan matanya berbinar, dia tengkurap di lantai, dan mulai menggoyang-goyangkan crayon barunya di atas lembaran buku itu. 

Beberapa menit kemudian, ilustrasi polos itu sudah terwarnai penuh! 
Kreativitas itu memang tak berbatas! Apa pun medianya, memang harus diekspresikan ...
Tak ada buku mewarnai, buku lain pun jadi diwarnai! Wkwkwkwkwkwk .... 

#7 : BUKU LEBIH RAPI, KARDUS BEKAS PUN TAK MENUMPUK LAGI

Desember 27, 2019 0 Comments


Si bungsu Lula memang masih rajin minum susu formula. Alhasil kardus bekas susu menumpuk. Aku memang jarang membuang kardus-kardus bekas susu tersebut, selain bisa aku gunakan untuk packing saat mengirim pesanan buku atau formula sabun ramah lingkungan yang aku jual, juga kadang menjadi ide untuk bebikinan mainan dengan anak-anak, terumata Shahia dan Lula.

Kali ini, aku ingin Shahia memiliki ide supaya kardus-kardus susu ini lebih bermanfaat. Kubuka almari bukunya yang agak berantakan. Lalu aku berikan ide kepada Shahia, bagaimana jika membuat kotak buku dengan bahan kardus bekas tersebut.

Aku meraih ponsel pintarku, membuka laman browser dan segera mengetik kata kunci. "Kulakan Ide" judulnya. Aku ketik, kreasi kardus bekas susu.

Di sana ada beberapa cara mengkreasikan kardus bekas susu, akan tetapi memang membutuhkan beberapa bahan yang kami belum punya. Alhasil, aku dan Shahia berdiskusi untuk membuat desain, akan dibuat apa dan seperti apa bentuknya kardus-kardus ini. 

Dan kemudian gunting, penggaris, kerta pembungkus dari amplop bekas berwarna coklat, isolasi, semua sudah kami siapkan. Dan kemudian ... taraaaa ... hasilnya dari dua kardus bekas susu Lula, kami membuat wadah buku yang terdiri dari empat sekat. 

Shahia dengan semangat merapikan buku-bukunya ke dalam sekat-sekat tersebut. Meja belajarnya pun nampak lebih rapi, karena buku-bukunya sudah tertata. 

Buku jadi lebih tertata rapi, kardus bekas pun tak menumpuk lagi!

#6 : IMAJINASI, KREATIVITAS DALAM FIKSI

Desember 27, 2019 0 Comments





Menulis, bagiku bukan hanya sekadar hobi atau kegemaran. Menulis adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin aku bagikan juga kepada orang-orang di sekitarku, teman-teman yang tergabung di komunitas yang aku bangun, Pejuang Literasu. Latar akademikku memang bukan pendidikan Bahasa atau Sastra. Namun dari pengalaman terapi jiwa dengan menulis, serta mengikuti beberapa kelas pelatihan menulis baik online maupun offline membuaku cukup bermodal dan ingin membagikannya kepada lebih banyak orang, sehingga, jadilah diriku seorang mentor di dunia tulis menulis. 


Menulis, memang sebuah kesenangan yang menguntungkan dan sebenarnya mudah dilakukan, bahkan oleh anak-anak. Mereka hanya berbekal kemampuan sederhana; menulis, kemampuan yang hampir dimiliki oleh setiap anak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Yang membedakan penulis cilik dengan anak-anak lainnya hanyalah soal kemauan dan ketekunan dalam menulis.


"Anak saya tak berbakat menulis," celetuk seorang ibu padaku. 

Sebenarnya tak perlu khawatir. Karena kemampuan menulis itu bisa dilatih. Bakat hanya memainkan peranan tak sampai setengahnya dalam bidang ini. Sisanya latihan. 

Memiliki bakat menulis tetapi tidak berlatih menulis, sama seperti sebuah mata pisau yang tumpul, tak dapat digunakan untuk menyayat. Sebaliknya, besi tumpul yang diasah terus-menerus akan berubah menjadi tajam. Dan, seringkali kita tak menyadari bahwa kita mempunyai bakat menulis sebelum menuliskan sesuatu yang berasal dari pikiran kita.


"Untuk apa menulis cerita? Buang-buang waktu saja. Lebih baik belajar." Pendapat para orangtua seperti ini juga sering aku dengar.

Menulis juga belajar. 
Anak yang suka menulis, biasanya lebih teliti dan memahami apa yang dibacanya, tak sekadar membaca, lalu lupa. Selain itu, biasanya anak-anak ini lebih cerdas, kritis dan mudah menuangkan ide-idenya.

Cerdas bukan berarti harus meraih ranking pertama di sekolah, karena banyak anak cerdas dan jenius yang ternyata tidak cocok dengan sistem belajar yang diterapkan oleh sekolah, sehingga kerap membuat masalah. 

Cerdas adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya dengan baik, tuntas dan dengan cara yang baik pula. 

Anak yang terbiasa menulis cerita, tanpa disadari juga terlatih mencari jalan keluar yang terbaik dari masalah-masalah yang ada dalam ceritanya. Karena inti dari menulis cerita itu adalah adanya pemicu masalah, konflik antartokoh, dan penyelesaian.

Anak yang suka menulis juga dapat mengatasi trauma emosional dengan menuliskan unek-uneknya. Kebiasaan memendam persoalan sendiri memang tidak baik, karena dapat menimbulkan trauma yang lebih parah.

Yang juga tak kalah penting, orang yang mampu menulis biasanya akan mempunyai keuntungan yang luar biasa dalam sebagian besar pekerjaan. Hampir semua bidang pekerjaan memerlukan orang yang bisa menulis. Bayangkan, bagaimana rumitnya membuat laporan kegiatan jika orang yang bersangkutan tak bisa menuliskan apa yang sudah dilakukannya? Bagaimana bingungnya seorang mahasiswa ketika menulis skripsi? Bagaimana sulitnya menuangkan ide-ide brilian jika orang tersebut tak terbiasa menuliskan isi pikirannya?

"Lalu, bagaimana melatih anak menulis? Saya sendiri tak bisa menulis." 
Kalimat ini juga sering dilontarkan oleh para orangtua. 

Sederhana sekali sebenarnya. Untuk tahap awal, yang aku lakukan adalah membiasakan anak untuk menulis apa saja; pengalaman sehari-hari, curahan hati, kesukaannya, ketakutannya, impiannya, dan apa pun yang ingin ditulis mereka. Bila tulisan anak masih "kacau", aku berupaya menahan diri untuk tidak mengkritiknya ataupun menuntut kesempurnaan. Karena bisa jadi, anak akan "down" dan tidak mau menulis lagi. Sebaliknya, aku memberikan dukungan untuk mereka. Dalam setiap karya, sesederhana apa pun itu, tetap ada sisi positif yang dapat dipuji. Apakah ketekunannya, kemajuannya dibandingkan karya sebelumnya, dan lain sebagainya. Aku selalu menghindari menyensor tulisan anak. Walaupun masih kecil, sebagai orangtua, aku tetap menghargai privasi anak dan "posisinya" sebagai penulis karya tersebut.

Aku mencoba menekankan pada diri sendiri untuk tidak terjebak dengan konsep konvensional bahwa hasil akhir kegiatan menulis harus berupa cerita atau laporan. Karena sebetulnya, ranah penulisan kreatif justru lebih menarik bagi anak, dan hal itu dapat menggali lebih banyak potensinya.

Menurut Amelia Hirawan, seorang psikolog anak sekaligus art therapist dan writing coach, Budaya menulis pada anak bisa dikembangkan dengan menulis puisi, quote, komik, resensi film yang baru dia tonton, mengutip bagian favorit dari buku yang sudah dia baca, atau bahkan menulis status di sosial media, bila anak sudah diberikan akses ke sana. Anak bahkan juga bisa saja membuat liputan hasil risetnya sendiri, menulis lirik lagu, dan menyusun lapbook (buku atau sampul berisi gambar, tulisan, benda, apa pun terkait suatu topik).

Apabila dalam bentuk cerita, aku sendiri cenderung mendorong anak menulis fiksi (cerita khayalan) atau dongeng. Berdasarkan pengalamanku, anak-anak pun sebetulnya lebih suka menulis genre tersebut karena menyenangkan. Dalam dongeng, anak bebas berimajinasi tanpa terlalu berisiko menyinggung seseorang, atau khawatir menggunakan informasi yang salah.

Pendapat bahwa penulis fiksi itu tidak cerdas dan sekadar tukang khayal adalah salah besar. Justru fiksi lebih menantang daripada tulisan definisi atau liputan, yang konsepnya adalah memindahkan kejadian ke dalam tulisan. Fiksi itu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. 

Saat menuliskan laporan atau hal-hal nonfiksi lain, anak akan lebih banyak menggunakan otak kiri (bahasa, logika, analisis, urutan, detail). Sedangkan untuk menulis fiksi, anak juga sekaligus bisa mengasah kemampuan otak kanannya karena ada unsur imajinasi, kreativitas, emosi, membuat opini dan konsep.

Jadi, kalau ingin menantang anak menulis, jangan melulu menyuruh dia menuliskan pengalaman berlibur. Minta juga dia menulis hal-hal di luar kebiasaan yang memancing imajinasi, seperti kisah tentang harimau yang terjebak di tengah laut. Pasti seru!

Setelah kemampuan menulis anak-anak semakin baik. Mereka sudah memiliki banyak koleksi tulisan, atau volume tulisannya cukup panjang, maka inilah saatnya untuk membukukan karya tersebut. Punya buku akan sangat membanggakan, karena buku memiliki bentuk fisik yang nyata, dan ini murni miliknya, berbeda dengan bila tulisan dimuat di majalah. Minimal aku mendorong anak-anak untuk menerbitkan karyanya sendiri secara sederhana untuk dibaca oleh orang-orang terdekatnya, misalnya keluarga atau teman-teman. Yang penting, anak sudah selangkah lebih maju; dari hanya menulis untuk diri sendiri, kini sudah menulis untuk dibaca orang lain.

Aku berharap, keinginan dan rasa percaya dirinya untuk terus berkarya lebih baik lagi akan semakin kuat. Yang harus disadari, anak yang masih kecil belum bisa "bergerak" sendiri untuk mewujudkan impiannya menjadi penulis. Karena itu, sebagai orangtua, aku menyediakan waktu untuk memahami bagaimana cara merealisasikan keinginan anak menjadi penulis. Misalnya, membantu editing naskah, tentunya atas seizin mereka.

Selain itu, berhasil menyusun buku juga memiliki semacam gengsi yang bisa mendongkrak kepercayaan diri anak, karena prosesnya lebih kompleks, memerlukan waktu, juga komitmen jangka panjang. Setelah dicetak menjadi buku, jangkauan penyebaran tulisan pun jadi lebih luas. Tentunya, ini akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri, karena cerita dan informasi yang ditulis anak, bisa dibaca banyak orang. Banyak pengaruh positif didapatkan anak-anak dari menulis dan menerbitkan buku. Di antaranya adalah tanggung jawab pada deadline penulisan bukunya.

Bahkan manfaatnya tidak berhenti hingga saat buku terbit. Setelahnya, anak bisa dilatih public speaking pada saat mengadakan acara bedah buku. Anak juga belajar konsep wirausaha, misalnya dengan meminta anak menetapkan harga dan memasarkan bukunya sendiri, seperti yang kami lakukan di Pejuang Literasi.

Buku berjenis antologi (kumpulan tulisan dari beberapa penulis) dapat dijadikan pilihan, karena jumlah tulisan anak-anak kurang mencukupi untuk satu buku. Aku menggabungkan saja naskah mereka dengan tulisan kawan-kawannya, tentunya memiliki benang merah yang sama, yakni satu tema.

***

Pencerahan juga aku dapat dari website mba Winda, www.urbanmama.com, tentang bagaimana melatih anak menjadi penulis, bahkan di usia yang sangat muda.

Sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak mempunyai atau menguasai kemampuan menulis huruf sekali pun. Lho, kok bisa?

Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.

Pertama, dapat mencoba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita. Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan out of the box selain anak-anak itu sendiri.

Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H: who (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.

Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map. Mind map atau 'jejaring ide' adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.


Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).

Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar. 

Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?


***


Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Maka, memberikan semangat kepada anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku adalah hal utama. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sedari kini. Semoga anak-anakku pun ikut bekontribusi dalam sejarah kebangkitan literasi di Indonesia.









#5 : MENJEMPUT PANGGILAN-NYA

Desember 27, 2019 0 Comments



Allah tidak MEMANGGIL orang-orang yang MAMPU tapi Allah MEMAMPUKAN orang-orang yang TERPANGGIL untuk berkunjung ke Baitullah (ka’bah).


Sebagai hamba, siapa pun orangnya, apa pun pekerjaannya, bagaimana pun keadaannya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhannya. Ibadah adalah terminologi untuk menyebut tindak-tanduk seorang hamba untuk mendapatkan ridha Tuhannya. Bagi umat muslim, salah satu bentuk ibadah adalah haji dan umroh. Setiap orang Islam yang beriman pasti ingin untuk melaksanakan ibadah ini, tak terkecuali aku.

Seringkali kita mendengar istilah “haji adalah panggilan Allah”. Lalu menyalahartikan istilah tersebut sebagai alasan belum berhaji atau berumroh padahal mampu dengan dalih belum dipanggil. Padahal, Allah sudah menyebarluaskan panggilan atau undangan ini kepada seluruh umat manusia. Undangan ini sudah dibuat oleh Allah dan disebarluaskan untuk hamba-Nya sejak ribuan tahun lalu oleh Nabi Ibrahim AS dan dilanjutkan oleh Rasulullah SAW, undangan ini akan tetap ada sampai akhir zaman.

Panggilan yang satu ini adalah sebuah “inisiatif” yang didasari keimanan dan taqwa, yang ‘mengharuskan’ diri untuk mau hadir, ‘harus’ bisa hadir, ‘harus’ merasa tidak enak jika tidak hadir. 

Memang benar-benar tidak ada pilihan lagi bagi yang berkesempatan. Harus hadir. Urusan undangan yang satu ini kaitan tanggung jawabnya lebih berat daripada sekadar ‘tidak enak’ pada si Pengundang. Tidak semudah itu pula lantas kita ‘bisa’ menghubungi si Pengundang dan dengan enteng memohon maaf atas ketidak hadiran kita karena bermacam alasan-alasan tertentu.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imraan [3]; ayat: 96-97)

Umroh yang juga disebut al-hajj al-ashghar atau haji kecil, karena seluruh ritual yang dilakukan ketika melaksanakan umrah, tercakup dalam ritual ibadah haji, dari segi bahasa, umrah berarti berkunjung. Secara syar’i, umrah berarti berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah dengan aturan tertentu. Umroh boleh dilakukan kapan saja, tidak seperti haji yang hanya dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. 

Ada dua hal sebenarnya yang menentukan keberangkatan kita ke Baitullah, yang pertama adalah Nisab. Apakah itu Nisab? kurang lebih, Nisab itu mengandung arti persiapan yang terukur secara manusiawi. Kalau kita sudah punya uang untuk bayar biaya paket haji/umroh, kondisi fisik secara medis bisa berangkat ibadah, kemudian waktu juga sudah bisa dikondisikan, maka ketiga hal tadi merupakan bentuk kesiapan kita secara Nisab -artinya kesiapan berangkat dalam ukuran kita sebagai manusia.

Namun, kita juga harus sadar bahwa ada satu lagi penentu keberangkatan kita ke Baitullah, yaitu Nasib. Faktor Nasib inilah yang dimaknai sebagai ketentuan dari Allah SWT. Kepada Allah jualah nasib keberangkatan haji/umroh kita serahkan. Apakah bisa berangkat tahun ini ataukah tertunda ke tahun berikutnya. Meskipun secara Nisab kita sudah siap, namun belum tentu Nasib-nya siap.

Oleh karena itu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT adalah hal utama dan pertama yang kulakukan. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, hamba-Nya, karena bisa jadi Allah sedang menguji keimanan kita. Tugasku adalah ikhtiar batin dan lahir serta senantiasa istiqomah menjaga prasangka baik, bahwa Allah akan kabulkan semua doa hamba-Nya, sesuai timing terbaik menurut-Nya. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-‘Ankabuut [29] : 2-3)

“Sungguh menakjubkan (luar biasa) urusan seorang mukmin. Sesungguhnya setiap urusannya akan mendatangkan kebaikan, apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan syukur itu adalah kebaikan untuknya. Bila ia mendapatkan musibah, dia bersabar dan sabar itu adalah kebaikan untuknya. Hal yang demikian itu tidaklah diberikan kecuali untuk orang yang beriman.” (HR. Muslim)

Untuk bisa menjadi yang “terpanggil” niat saja memang tidak cukup. Harus dengan “niat dan keinginan yang kuat” yang dimanifestasikan dalam tindakan sebagai bentuk “menjemput panggilan” itu sendiri. Berdoa setiap waktu dan mengerahkan segenap tenaga dan usahanya untuk bisa pergi ke Baitullah. Aku yakin, keinginan yang kuat akan menuntun ke jalan menuju Baitullah. 

Di akhir tahun 2019 ini, dalam waktu yang berdekatan, dua orang sahabat baikku yang telah menjadi hamba terpanggil Allah ke Baitullah melangitkan doa-doanya di sana, untukku!

Yaa .. untukku! Air mata haru sontak tumpah ruah tak terbendung saat sebuah foto terkirim kepadaku. Untaian kata doa yang singkat namun begitu indah. Rapalan doa dari sahabat-sahabat solihaku, kuyakini sebagai salah satu wujud panggilan-Nya yang semakin mendekat padaku, insyaAllah.


***

“Bunda lagi apa?”

Shahia menyapaku saat aku sedikit termangu di depan beberapa buah toples yang jarang kami gunakan. 

“Bunda mau bikin celengan. Mau bantu?”

“Celengan apa? Kan Shahia, Lula sama Kakak udah ada celengan.” 

“Kita bikin celengan lain. Celengan umroh, celengan qurban, celengan infaq dan sedekah. Kan pas nih, ada 3 toples.”

Shahia semangat. Dia memang paling seneng kalau diajak bebikinan, maklum lah anak kinestetik. 

Beberapa bahan dia siapkan, kertas manila berwarna ungu sisa prakarya Aksan beberapa waktu lalu, gunting, pensil, penggaris, isolasi dan cutter.

Aku mulai mengukur kertas pembungkus sesuai dengan toples. Shahia kemudian menggunting sesuai garis yang kubuat.

Menempel dengan isolasi, meski enggak terlalu rapi, tapi okelah semua terlihat cukup baik. Aku mulai membuat lubang pada tutup toples dengan cutter. Dan taraaaa … jadilah 3 celengan hasil kreativitas kami. Aku mengambil kertas label, menuliskan label pada masing-masing toples sesuai fungsinya.

Biiznillah … kami menjemput panggilan-Mu Ya Rabb …




#4 : KREATIF FINANSIAL

Desember 27, 2019 0 Comments


Setelah di level sebelumnya belajar banyak tentang mengelola keuangan, anak-anak pun sudah memiliki "celengan" dengan nama mereka sendiri. Shahia dan Lula masih digabung dalam wadah yang sama sementara ini, karena memang Lula masih belum terlalu paham tentang mengatur keuangan, sehingga kami sepakat, celengan Lula gabung dulu dengan Shahia.

Uang dari hasil celengan akan dibuka setiap satu bulan sekali, kesepakatan kami demikian. Lalu akan ditabung di salah satu rekening yang masih menggunakan namaku, akan tetapi rekening di bank tersebut sepenuhnya adalah uang anak-anak, gabungan tabungan Kak Aksan, Shahia dan Lula. Karena mereka menggunakan satu rekening bank, yang masih atas namaku, maka, harus ada pencatatan khusus berapa uang tabungan Kak Aksan, berapa punya Shahia dan berapa milik Lula.

Masih terinspirasi oleh kegiatan kemarin, anak-anak membuat buku gambar sendiri dengan memanfaatkan kertas bekas dan binder bekas. Kali ini, mereka membuat buku tabungan dengan menggunakan kertas bekas juga. Dengan binder agenda yang berukuran lebih kecil dari binder untuk buku gambar kemarin.

Karena sudah ada pengalaman sebelumnya, maka bukan hal sulit bagi mereka membuat buku mungil ini. Dan dalam waktu singkat, binder kecil sudah terisi kertas-kertas di dalamnya.

Aku pun mulai memberikan contoh cara mengisi buku tersebut. Kubuat beberapa kolom. Kutulis judul kolom, mulai dari tanggal, uang masuk, uang keluar, saldo. Aksan dan Shahia dengan khusyuk mendengarkan penjelasanku.

"Jadi, nanti cara ngisinya gini ya ... Kalau celengannya udah dibuka, uangnya kan dihitung, ada berapa. Nah, tulis jumlahnya di kolom uang masuk. Saldo itu artinya jumlah uang yang terkini, up to date istilah kerennya. Misalnya, sekarang kan uang Shahia 80.000, nah berarti di kolom saldo ditulis berapa?" 

"Ya 80.000 juga dong, Bun." Aksan menjawab dengan cepat.

"Yess! Betul anak solih. Shahia udah paham?"

"Iya, Bun, agak ngerti."

"Nah, sekarang misalnya diambil 30.000 karena mau beli permen."

"Iiih, Bunda ... beli permen kok sampe 30.000," Shahia protes. Kami pun tergelak.

"Kalau uangnya diambil 30.000 berarti nulisnya gimana hayoo?" Aku kembali mengajak mereka fokus ke cara menulis buku tabungan buatan sendiri itu.

"Ditulis 30.000 di kolom uang keluar," Aksan kembali menjawab.

"Betul lagi. Lalu di kolom saldo ditulisin juga gak?"

"Ditulisin apa Bun?" tanya Shahia bingung. Aksan pun nampak belum paham dengan pertanyaanku.

"Saldo tadi apa sih?" Aku mengulang lagi.

"Saldo itu jumlah uang terkini, kata Bunda tadi gitu." Shahia kini yang menjawab.

"Yess, pinter anak soliha. Berarti jumlah uangnya yang tadinya 80.000, diambil 30.000, udah ditulis di kolom uang keluar, uangnya sekarang jadi berapa? Apakah tetap 80.000?"

"Jadi 50.000, Bun." Aksan mulai memahami, dia menggangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Nah, alhamdulillah sudah paham cara ngisi buku tabungannya. Oke, besok kalau celengan dibuka dan uang mau dititipkan Bunda ditabungin di bank, Kak Aksan dan Shahia setelah uang dihitung, lalu buku tabungannya diisi sesuai dengan jumlah uangnya, lalu di kolom saldo juga jangan lupa ditulis jumlah uang terkini-nya ya."

"Oke, Bunda!"

Alhamdulillah, kali ini mereka enggak cuma bebikinan buku tabungan dari kertas bekas. Tapi mereka juga belajar cara menulis di buku tabungan dan mulai memahami beberapa istilah dalam bidang keuangan. Kreatif Finansial bukan?

#3: KREATIF PLES INSPIRATIF

Desember 27, 2019 0 Comments




Level ini, kita memang lagi ngomongin tentang kreativitas. Apa sih sebenernya kreatif itu? Apa bedanya dengan inovatif? Lalu bisa enggak ya kalau kreatif, inovatif juga sekaligus inspiratif? 

Daripada makin bingung karena kebanyakan "if-if", cekidot dulu aja kayanya satu per satu definisi istilah "if-if" berikut ini.

Secara umum, pengertian kreatif adalah suatu kemampuan yang ada pada individu atau kelompok yang memungkinkan mereka untuk melakukan terobosan atau pendekatan-pendekatan tertentu dalam memecahkan masalah dengan cara yang berbeda.

Arti kreatif juga dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan dalam menciptakan hal-hal baru atau cara-cara baru yang berbeda dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Secara etimologis, kata “Kreatif” berasal dari bahasa Inggri yaitu “to create” yang artinya membuat atau menciptakan. Sehingga arti kreatif adalah kemampuan dalam menciptakan suatu ide dan konsep dalam memecahkan suatu masalah.


Pengertian Kreatif Menurut Para Ahli


Agar lebih memahami apa arti kreatif, maka kita dapat merujuk pada pendapat para ahli. Berikut ini adalah pengertian kreatif menurut para ahli:


1. Shadiq (2010)

Menurut Shadiq (2010), pengertian kreatif adalah gagasan terhadap konsep dan rencana untuk kemajuan, gagasan ini dibutuhkan dalam pemikiran dan juga hasil karya seseorang di dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang sedang berkembang.


2. Widyatun

Menurut Widyatun (1999), pengertian kreatif adalah kemampuan dalam menyelesaikan suatu masalah yang memberi kesempatan kepada setiap personal untuk berkreasi untuk memunculkan ide-ide baru/adaptif yang memiliki fungsi dan kegunaan secara menyeluruh untuk berkembang


3. James R. Evans

Menurut James R. Evans (1994), pengertian kreatif adalah kemampuan dalam menemukan hubungan baru, melihat subjek dari sudut pandang yang berbeda, dan mengkombinasikan beberapa konsep yang sudah mindstream di masyarakat dirubah menjadi suatu konsep yang berbeda.


4. Supriadi

Menurut Supriadi, definisi kreatif adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi, dan integrasi antara tahap perkembangan.


5. Conny R. Semiawan

Menurut Conny R. Semiawan, arti kreatif adalah kemampuan dalam membuat suatu gagasan baru dalam upaya memecahkan masalah.


6. Havvel

Menurut Havvel, arti kreatif adalah suatu kemampuan untuk menciptakan suatu sistem atau komposisi yang baru.


7. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan atau daya cipta, kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru dan orisinil yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses mental yang unik untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil.



Nah, dalam kehidupan manusia, hal-hal kreatif dapat diwujudkan ke dalam berbagai bentuk, di antaranya:


1. Ide

Pemikiran yang kreatif akan menghasilkan ide yang unik dan tidak terpikirkan sebelumnya. Ide merupakan suatu pemikiran yang menciptakan solusi atas masalah yang ada di masyarakat.


2. Produk (Barang/Jasa)

Produk yang dihasilkan juga merupakan salah satu wujud dari kreatif. Tanpa adanya proses kreatif tentunya produk yang dihasilkan tidak dapat memenuhi harapan konsumen.


3. Gagasan

Kreatif dapat juga diwujudkan dalam bentuk gagasan-gagasan dalam mengatasi masalah yang ada. Gagasan dapat dikemukakan secara langsung maupun melalui tulisan pendek, buku dan lain-lain.

***


Khatam dengan penjelasan tentang kreatif, kita simak juga yuk, apa itu inovatif. Istilah ‘kreatif’ dan ‘inovatif’ sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mampu menciptakan terobosan baru. Namun, ternyata kedua istilah ini memiliki arti berbeda. 

Dari berbagai sumber, aku coba ulas perbedaan kreatif dan inovatif, yang tekait dengan bagaimana cara seseorang bekerja. Semua orang bisa menjadi kreatif sekaligus inovatif. Keduanya pun sama-sama berpengaruh terhadap performa kerja. Terlebih lagi jika bekerja dalam perusahaan yang selalu menghasilkan banyak hal baru.

Kata Inovasi sendiri diartikan berbeda-beda oleh beberapa ahli. Dalam arti luas, inovasi tidak hanya menyangkut masalah produk, akan tetapi dapat juga berupa ide, cara-cara maupun obyek yang dipersiapkan oleh seseorang untuk menjadikan sesuatu yang baru. 

Inovasi sering dikaitkan dengan perubahan yang dirasakan sebagai hal yang baru oleh masyarakat yang mengalami. Akan tetapi, dalam konteks pemasaran dan perilaku konsumen, dapat dapat juga dikaitkan dengan produk maupun jasa yang sifatnya baru. Kata “baru” merujuk pada produk yang belum pernah ada sebelumnya di pasar dan baru dalam arti ada dalam hal yang berbeda yang merupakan penyempurnan maupun perbaikan dari produk sebelumnya yang pernah ditemukan konsumen di pasar.

Kata inovasi dapat diartikan sebagai “proses”, atau “hasil” pengembangan dan atau pemanfaatan atau mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman guna menciptakan atau memperbaiki produk, proses yang dapat memperbaiki nilai yang lebih berarti. dibawah ini beberapa defenisi tentang inovasi:

  1. Secara teknis, “inovasi” didefinisikan sebatas “memperkenalkan sesuatu yang baru;”. 
  2. Inovasi: Suatu ciptaan (perangkat atau proses baru) yang dihasilkan dari studi dan eksperimen; penciptaan sesuatu dalam pikiran; tindakan memulai sesuatu untuk pertama kalinya; memperkenalkan sesuatu yang baru ” (Wordnet). 
  3. “Inovasi adalah kegiatan imajinatif yang dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil yang asli dan bernilai komersial” 
  4. “Inovasi. Sesuatu yang baru atau lebih baik, memiliki potensi yang dapat dipasarkan, termasuk (1) pengembangan aplikasi baru untuk teknologi yang ada, (2) penyempurnaan teknologi yang ada, atau (3) pengembangan aplikasi baru untuk teknologi yang ada. “ 
  5. Inovasi adalah kata yang telah diturunkan dari bahasa Latin Innovationem, yang merupakan kata benda untuk tindakan inovasi. Innovare berasal dari inovasi bahasa Latin, yang berarti mengubah atau memperbarui. 

Menurut Rosenfeld, inovasi merupakan transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru, tindakan menggunakan sesuatu yang baru.

Sementara menurut Vontana (2009:20) inovasi diartikan sebagai kesuksesan ekonomi dan sosial berkat diperkenalkannya cara baru ataupun kombinasi baru dari cara cara lama dalam mentransformasi antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada konsumen dan atau pengguna, komunitas, sosietas dan lingkungan.

Menurut Yogi dalam LAN (2007:115) inovasi biasanya erat kaitannya dengan lingkungan yang berkarakteristik dinamis dan berkembang.


Jenis jenis Inovasi


Menurut Robertson dalam Nugroho (2003:395) jenis jenis inovasi antara lain: 

  • Inovasi terus menerus 
Merupakan modifikasi produk yang sebelumnya sudah ada dan bukan merupakan pembuatan produk baru sepenuhnya. Inovasi ini menimbulkan pengaruh yang tidak mengacaukan pola perilaku yang sudah mapan. Misalnya, memperkenalkan perubahan modal baru, menambahkan mentol pada rokok atau mengubah ukuran dari rokok tersebut. 

  • Inovasi terus menerus secara dinamis 
Jenis inovasi ini bisa melibatkan penciptaan produk baru atau perubahan produk yang telah ada sebelumnya, akan tetapi tidak mengubah pola yang sudah mapan dari kebiasaan belanja pelanggan atau pengguna produk. Misalnya sikat gigi listrik, compact disk, makanan alami dan raket tensi yang sangat besar. 

  • Inovasi terputus 
Merupakan jenis inovasi yang melibatkan sebuah produk yang sepenuhnya baru dan menyebabkan pembeli atau pengguna memngubah secara signifikan pola perilaku mereka. Misalnya komputer, videocasset reccorder.


Menurut Wibisno (2006:113) cara yang paling mudah untuk mendeteksi kebershasilan suatu inovasi dapat melalui pengecekan didapatkannya pelanggan baru (akuisisi pelanggan), pertumbuhan penjualan, loyalitas pelanggan, atau peningkatan margin keuntungan.


***


Nah, yang ketiga, ulasan tentang inspiratif. Inspiratif berasal dari kata inspirasi. Inspirasi merupakan ilham dalam KBBI. Secara umum inspirasi artinya sebuah proses yang mendorong manusia agar terangsang pikirannya untuk tergerak berbuat sesuatu, utamanya melakukan perbuatan yang berkaitan dengan sesuatu yang kreatif. Inspirasi ini seringkali dirangsang oleh sesuatu yang ada di sekitarnya, sesuatu ini bisa jadi menyentuh.


Pengertian Inspirasi

Definisi inspirasi yang lain yaitu suatu ide kreatif yang timbul dengan sendirinya atau dengan melakukan pengamatan di tempat tertentu yang kadang-kadang pada waktu dan tempat yang jarang terfikirkan. Inspirasi memiliki perbedaan dengan motivasi. Karena motivasi bersifat mendorong atau mempengaruhi seseorang untuk memperoleh atau mencapai apa yang menjadi keinginannya.

Sedangkan inspirasi adalah ide-ide kreatif yang timbul dari dalam diri karena adanya rangsangan dari luar. Tetapi inspirasi bias menjadi suatu motivasi untuk orang meraih tujuannya. 

Inspirasi dapat diperoleh kapan saja atau di mana saja, kadang-kadang tanpa disengaja tiba-tiba mendapatkan suatu inspirasi dalam bentuk ide yang kreatif.

Inspirasi dapat muncul dan diperoleh pada saat orang membaca buku, menjalankan aktivitas atau kegiatan sehari-hari, ketika sedang sendirian, melihat orang lain, melihat lingkungan sekitar, sedang menikmati pemandangan alam, menonton film, menulis, sedang menggambar dan lain sebagainya.

Manusia diciptakan sudah memiliki perasaan, kekuatan berfikir didalamnya. Sehingga mencari inspirasi terkadang didapatkan ketika sedang menikmati suasana atau perasaan senang, sedih, atau sedang merenung.



Hubungan Kreatif, Inovatif dan Inspiratif

Seperti ulasan di atas, kreativitas adalah kemampuan untuk mencanangkan sesuatu yang berbeda dan orisinil, sedangkan inovasi adalah proses penerapan atau penciptaan suatu hal yang memiliki nilai bagi orang lain.

Menjadi kreatif artinya seseorang mampu mengeluarkan potensi yang ada dalam diri sendiri. Potensi tersebut tidak harus berwujud sesuatu yang dapat dilihat. Seseorang juga tidak harus menciptakan sesuatu untuk bisa disebut sebagai orang yang kreatif.

Kreativitas seseorang dapat berlangsung dalam benaknya sendiri. Misalnya ketika bertukar pikiran dan berbagi gagasan dengan orang lain. Seluruh proses ini melibatkan kreativitas yang ada pada diri seseorang.

Sebaliknya, inovasi adalah suatu hal yang dapat diukur. Seseorang yang inovatif mampu mengenalkan sebuah terobosan baru pada sistem yang telah berjalan dengan stabil. Dalam dunia kerja, inovasi berperan penting ketika suatu perusahaan mengalami kendala atau memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi. Dengan berinovasi, perusahaan dapat menciptakan solusi untuk berbagai jenis masalah.

Kreativitas membuat siapa pun bisa menghasilkan ide yang cemerlang. Namun, ide paling kreatif sekali pun tidak dapat disebut sebagai inovasi apabila belum ada yang mewujudkannya. Dengan kata lain, inovasi merupakan perwujudan dari kreativitas. Inilah sebabnya kreativitas dan inovasi sering disejajarkan antara satu sama lain sekalipun keduanya memiliki makna yang berbeda.

Anak-anak tentunya harus ditumbuhsuburkan kedua hal tersebut, karena pada dasarnya Allah ciptakan manusia di muka bumi adalah untuk menjadi khalifah, pemimpin. Pemimpin yang mampu bersikap kreatif sekaligus inovatif akan menjadi sosok yang menginsipirasi oranglain, atau seluruh anggota timnya. Budaya kreatif dan inovatif pun turut terbentuk dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkup dunia kerja kelak.


Proses yang mewadahi ide kreatif sekaligus inovatif disebut sebagai design thinking. Dalam lingkup dunia kerja, design thinking memungkinkan perusahaan untuk mengukur sejauh apa inovasi telah dilakukan. Prosesnya terdiri dari tiga tahapan, yakni inspirasi, pengembangan ide, dan implementasi (penerapan).

Inspirasi adalah momen ketika telah mengenali masalah yang dihadapi. Tahap pengembangan ide merupakan proses untuk mendiskusikan gagasan. Sementara implementasi adalah tahap untuk mewujudkan ide menjadi solusi konkret.

Ketiga tahap tersebut tidak harus terjadi secara berturut-turut. Selama tahap pengembangan ide, seseorang bisa saja menemukan masalah lain yang baru terlihat. Hal ini dapat terjadi seiring proses eksplorasi, pengembangan, dan implementasi ide.

Jika suatu ide dinilai tidak efektif, maka dapat kembali ke tahap selanjutnya untuk mempelajari akar permasalahannya. Beberapa hal penting mungkin saja terlewat dan memengaruhi keberhasilan proses design thinking.

Konsep ini yang kemudian aku usung di rumah dalam kegiatan-kegiatan sederhana. Puanjangnya ulasan di atas sebenarnya sebagai pengingat untuk diriku sendiri, bahwa untuk menumbuhhkan sesuatu yang inspiratif itu dimulai dari ide kreatif dulu, kemudian diwujudkan menjadi sesuatu yang inovatif, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang inspiratif.

Bermodal tumpukan kertas bekas yang masih banyak belum termanfaatkan setelah event “beberes rumah” bulan November lalu, dan aku menemukan tiga buah binder bekas agendaku beberapa waktu lalu. 

“Bunda punya tiga binder, mau diapain ya?” 

“Dibikin buku aja, kaya punya Bunda,” jawab Shahia singkat.

“Ide bagus tuh! Kertas pengisinya gimana kalau kita pakai kertas bekas?” tanyaku.

“Dilubangi pake pembolong kertas ya Bun?” Shahia antusias.

“Iya, pakai ini.” 

Aku membuka laci yang berisi peralatan kantor, seperti gunting, cutter, stapler dan sebagainya. Lalu kukeluarkan benda berwarna hitam yang disebut anak-anak sebagai pembolong kertas. Kusodorkan ke depan Aksan dan Shahia.

“Coba Kakak yang bolongin kertasnya. Dirapiin dulu kan ya Bun, dikasih titik di mana akan dilubangi kertasnya.” 

Aksan menata kertas, kemudian yang paling atas dia ambil lalu binder dia bentangkan dan memberikan titik-titik sebagai tanda untuk melubangi kertas.

“Diukur dulu dong Kak, lebarnya berapa. Kertasnya dipotong sesuai ukuran binder.” Aku mengingatkan supaya ukuran kertasnya pas dengan binder.

“Iya, Bun. Ini sekalian diukur,” jawab Aksan.

Tak lama kemudian mereka sudah sibuk memotong kertas-kertas bekas itu, lalu melubangi pinggir kertas sesuai jumlah gerigi di binder. 

Yess! Selesai sudah. Masing-masing memiliki binder yang terisi kertas-kertas dari bekas dokumen-dokumen tak terpakai. 

Aktivitas sederhana memang, tapi aku berharap hal ini bisa menumbuhkan kreatifivas anak-anak, meski bukan hal baru, sehingga aku tidak bisa sebut ini sebuah inovasi. Akan tetapi, aku berharap ini tetap bisa menjadi inspirasi, karena mereka berusaha memanfaatkan kertas bekas untuk dijadikan kertas pengisi binder. Dan kemudian mereka sulap sendiri menjadi buku gambar.