Kamis, 16 Mei 2019

SYUKUR TIADA PUTUS

Mei 16, 2019 0 Comments

Gak terasa, bulan kedua sudah terlampaui dengan apik. Lagi-lagi, meski tak menghasilkan award apapun, diriku tetap puas dan bersyukur telah menyelesaikan tantangan hingga tuntas. Syukur tiada putus, di sela aktivitas yang mulai kejar mengejar, diriku masih DIA mampukan untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Alhamdulillah ....

Mendidik kemandirian anak, bukan sebuah pekerjaan mudah. Konsistensi dalam membangun aktivitas harian, acap kali jatuh bangun karena kesibukanku sebagai orang tua yang punya peran ganda. Alhamdulillah sekali lagi, lagi-lagi Allah mudahkan. Anak-anakku, DIA bimbing untuk cepat memahami dan mengerti apa itu "kemandirian" serta DIA mudahkan anak-anakku menjalankan semua rentetan aktivitas yang mulai kubangun dalam keseharian mereka. Doa ku pun tak putus, semoga mereka senantiasa istiqomah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik dalam rangka memupuk kemandirian dan kematangan mereka, baik secara psikis maupun mental.



Tak ada yang sempurna, selain DIA. Selalu ada celah dalam mendidik anak menuju insan yang mandiri sekaligus berdedikasi. Bukan hanya bisa mengandalkan diri sendiri, akan tetapi juga meneladani sosok yang amat disayang Illahi, Rosulullah saw. Aksan insyaAllah sudah mulai membangun kebiasaan baik meneladani Rosulullah yang tidak malu dan sungkan mengerjakan pekerjan rumahtangga. Shahia, insyaAllah sudah bisa menata dirinya sendiri serta mulai terbentuk rasa empati untuk lingkungan sekitar (baca : rumah) sehingga dia selalu ikut ambil bagian dalam prosesi "beberes" rumah tanpa perintah. Nayura si bungsu, alhamdulillah sudah memahami konsep "tanggung jawab" saat bermain. membereskan mainannya kembali, kemudian ke kamar kecil sendiri, bahkan dia juga sudah mulai menawarkan dirinya untuk membantu hal-hal lain, misalnya mengisi botol minuman untuk dimasukkan ke dalam kulkas, dan sebagainya.

Sebuah pencapaian yang tidak mungkin tanpa campur tangan Allah. Syukurku tiada putus! Alhamdulillah  ... alhamdulillah ... 

Semoga Allah senantiasa mereka semua dalam keistiqomahan. Aamiin ....


Selasa, 07 Mei 2019

ALLAH MENYUKAI YANG RAPI DAN INDAH

Mei 07, 2019 0 Comments
Membiasakan anak shalat sejak usia dini adalah bagian dari pola asuhku. Tidak untuk memaksa anak beribadah, hanya saja tujuanku adalah membiasakan anak mengenal shalat 5 waktu. Walau pun untuk usia Lula, si bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun, shalat bukanlah sesuatu yang aku haruskan.

Sesekali Lula bersemangat mengikuti gerakan shalat, bahkan dari cara berwudhu pun Lula sudah mulai belajar. Gerakan shalat, alhamdulillah dia sudah hafal. 

Setelah shalat pun, aku membiasakan dia melipat sendiri mukena serta sajadahnya. Alhamdulillah, Lula sudah bisa melakukan semua hal itu. Yaaa ... meski lipatannya tidak terlalu rapi, tetapi itu sebuah prestasi yang patut aku syukuri.

"Nanti abis shalat, mukena dan sajadahnya dirapiin lagi ya, Sayang."

"Kaya kalau abis mainan ya Bun? Diberesin lagi kalau abis mainan," balasnya dengan aksen lucu.

"Iya, Sayang. Dilipet yang rapi kalau abis shalat, terus disimpen mukena dan sajadahnya di tempat alat shalat."

"Iya Bun!"

"Eh, kenapa ya kita harus rapi-rapi? Lula tau ga? Hayooo ... inget ga kenapa harus rapi-rapian?"

"Anuuu ... itu lo Bun, biar kita disayang Allah. Allah kan suka yang rapi-rapi ya Bun."

"Wah, masyaAllah, anak soliha Bunda inget loh. Iya Nak, Allah itu suka sama yang rapi-rapi. Jadi, kalau mau disayang Allah, ya kita harus rapi juga."

Dia mengganggukkan kepala. Dan setelah melipat mukena serta sajadahnya, Lula berlari ke arah almari kecil tempat penyimpanan alat shalat.

Hmm ... desis alhamdulillah membanjiri bibirku. Ternyata mendidik anak untuk mandiri di usia dini, tidaklah terlalu rumit. Mengenalkan apa yang disukai Allah bisa memberikan motivasi anak untuk merapikan barang-barangnya sendiri. 




Menjadi Lelaki yang Bisa Diandalkan!

Mei 07, 2019 0 Comments

"Kak, alhamdulillah, Bunda dapet rezeki nih. Kita bisa beli kipas angin."

"Wah, alhamdulillah Bun."

Aku dan anak-anak memang belajar untuk lebih menyayangi alam. Kami sepakat tidak menggunakan pendingin ruangan. Hanya angin sepoi dari kipas angin lah yang biasanya membantu menyejukkan ruangan di dalam rumah kami.

Qodarullah, beberapa waktu lalu, kipas angin kami rusak. Ketika kutanyakan ke tukang reparasi, ongkos perbaikan dengan beli baru kok terasa tipis. Akhirnya, setelah dua bulan tanpa kipas angin, Allah memperkenankan aku membeli baru bulan ini.

Seperti biasa, beli kipas angin model stand tentunya dirakit sendiri di rumah. Sebenarnya bukan hal yang rumit sih, karena ada manual book, tinggal ikuti langkah-langkahnya saja. 

"Bun, sini Kakak aja yang bantu masang-masang."

"Emang Kakak bisa? Ini pakai obeng segala lo, Kak."

"Kakak coba ya Bun. Kakak ambil obeng dulu deh."

Tak lama dari dia mencari obeng di box peralatan, dia kembali di hadapanku. Dengan sigap, dia membaca buku panduan, lalu tangannya luwes memegang obeng.

"Bun, bantuin Kakak meganging yang ini, Kakak pasang ini dulu, lalu kencengin mur-nya dengan obeng."

"Hmmm, oke. Jadi Bunda cuma bantu megangin aja ya?"

Dia menggangguk dan kembali fokus pada kipas yang kini sudah berhasil berdiri di hadapannya. Tinggal memasang bagian kincir angin saja.

Sebentar kemudian, aku mengikuti aba-abanya, bagian mana yang kupegang dan kukaitkan. Kemudian Aksan mulai mengencangkan dengan obeng. Dan yap! Selesai!

Kipas angin sudah berputar-putar menggerakkan udara, menghasilkan angin sepoi-sepoi. Alhamdulillah, Aksan tumbuh menjadi sosok yang mandiri, menjadi lelaki yang bisa kuandalkan.



KOMPAK BERAKTIVITAS DI BULAN RAMADHAN

Mei 07, 2019 0 Comments



Mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak aktivitas ibadah tentu sudah menjadi sebuah keharusan. Apalagi, di awal bulan Ramadhan ini, anak-anak libur sekolah. Sekolah memberikan kesempatan untuk beradaptasi dengan menjalankan puasa di rumah, tanpa kegiatan sekolah.


Aksan dan Shahia sepakat, bahwa belajar mengaji bersama menjadi agenda Ramadhan tahun ini. Tarawih, dan bahkan shalat wajib ke masjid bersama-sama menjadi bagian dari kesepatakan keduanya. Pagi ini aku masih riweh dengan si bungsu yang memang lengket kaya permen karet denganku. Bahkan saat aku habiskan waktu dengan tilawah pun dia maunya duduk di pangkuanku. 

Shahia yang merengek mengantri ingin disimak ngaji jilid dua-nya harus bersabar dengan monopoli adiknya terhadap diriku. Akhirnya, Aksan, si sulung menawarkan diri.


"Shah, sini ngaji sama Kakak aja. Mau ga?"

"Emang Kakak bisa?"

"Yeee ... ngremehin Kakak! Kakak kan udah sampai ghorib. Bisa lah kalau ngajarin kamu yang masih jilid dua."

"Emangnya boleh gitu ya, Bun?" Shahia meminta pendapatku. Aku menganggukkan kepala tanda setuju.

Oke! Masalah terpecahkan, alhamduillah. Mereaka berdua beringsut mengambil posisi berhadapan. Si Kakak bak guru, menyimak dan membenarkan beberapa bacaan adiknya yang masih kurang tepat.



MasyaAllah ... hatiku gerimis! Dasar emak baper!

Sesungguhnya, Allah lah yang menggerakkan hati keduanya sehingga sedemikian enjoy belajar mengenal huruf-huruf yang menjadi aksara firman-firman Allah. 

Satu alasan bersyukur hari ini. Anakku kompak belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah tanpa dipandu bundanya. Allah membimbing keduanya, subhanallah wal hamdulillah ....





Melatih Kemandirian Anak

Mei 07, 2019 0 Comments
"Bun, kita maem soto donk buka puasanya!" usul Shahia.

"Hmm ... oke deh."

***

Setelah khusyuk menyantap Soto Semarang-an dengan mangkuk gerabah yang khas. Tempat sederhana, namun hangat dan menjadi favorit anak-anak. Bukan saja rasa masakannya yang memang pas di lidah kami, namun juga kehangatan Budhe dan Pakdhe pemilik warung yang sekaligus menjadi peramu serta penyajinya menghipnotis kami dan menjadikan warung Soto Gerabah masuk dalam list kuliner yang rekomended.

"Nak, nanti Shahia ya yang ngitung ke Budhe."

"Ngitung apa Bun?"

"Ngitungin kita ini berapa harus bayar. Soto besar 3, kecil 1, es teh 3, sate telur 3, tempe 3, sama air putih anget."

"Oke Bun!"

"Shahia inget ga? Coba ulang lagi, kita maem apa aja. Bismillah dulu ya, biar Allah bantu Shahia inget-inget."

Dia pun mulai bergumam, sesekali melirikku untuk meminta penilaian, benar atau salah. Dan yap! Dia mampu mengingat dengan benar. Gadis kecilku yang kini sudah berusia 7 tahun itu menuju pemilik warung, menyampaikan apa saja yang kami makan dan minum.

Budhe pemilik warung terkekeh, melirikku sesekali, dan aku balas dengan anggukkan kepala pertanda setuju bahwa yang disampaikan Shahia semua adalah benar.

Alhamdulillah, satu lagi hari ini misiku berhasil, Allah memudahkan.
Shahia belajar mengingat informasi yang lebih rumit, kemudian menyampaikannya kepada oranglain dengan benar. Keberanian menyampaikan kepada oranglain juga merupakan poin yang aku harapkan. Dan dia lulus kedua poin tersebut. MasyaAllah ....

Ah, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan, Allah benar-benar Maha Luarbiasa. DIA membantu anakku mengingat informasi dan menumbuhkan keberanian untuk bersosialisasi dengan orang dewasa.





Sabtu, 04 Mei 2019

Biarkan Anak Persiapkan Bekalnya Sendiri

Mei 04, 2019 0 Comments
"Bun, Shahia hari ini mau bawa botol minum dua."

"Lha kok dua?"

"Iya, yang satu isi teh, yang satunya air putih aja."

"Wah, repot dong Bunda nyiapin dua-duaan."

"Bunda bantu siapin yang teh aja, Shahia isi sendiri yang air putih."

"Oke deh anak soliha."

Perbincangan singkat dengan anak keduaku menuai bahagia di hatiku. Bagaimana tidak, dia sekarang sudah lebih mandiri mengurus dirinya sendiri sebelum ke sekolah. Bekal minuman selalu dia siapkan sendiri setiap pagi. Alhamdulillah ....

Peranku hanya mengawasi sambil menyiapkan bekal makan siangnya. Ah, lega rasanya satu lagi kebiasaan sudah terbangun dalam keseharian Shahia.

"Nah, sudah penuh Bun!"

"Oke, teh -nya juga sudah jadi. Bunda yang nuang atau Shahia yang nuang ke botol?"

"Shahia aja deh, Bun!"

"Oke Sayang. Abis itu ganti baju, pakai kerudungnya, kaos kaki, tas dirapikan, kita berangkat ya!"

"Oke Bunda!"


Alhamdulillah ... Berkali-kali gumam hatiku berdentum memuji-Nya.



Biasakan Anak Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

Mei 04, 2019 0 Comments
Pekerjaan rumah tangga biasanya identik dikerjakan oleh orang tua, terutama ibu. Padahal, anak juga bisa ikut berperan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai usianya. 

Menurut sebuah penelitian, melakukan pekerjaan rumah tangga bisa mengajarkan anak tentang pentingya tanggung jawab di dalam keluarga.

Shahia, usia 7 tahun, mulai banyak aku libatkan dan berikan peran dalam pekerjaan rumah tangga. Kami bekerja sebagai teamwork. Ada pembagian tugas, atau kadang kami melakukannya sambil bermain. 

Aku membiasakan tidak hanya menyuruh anak, akan tetapi mencontohkan cara mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut sebelum benar-benar melepasnya. Kami biasa mencuci piring bersama, kadang juga menjemur pakaian bersama, diselingi permainan atau hanya sekadar candaan.

Endingnya, aku memberikan dia apresiasi atas kinerjanya. Memberinya pujian dan ucapan terimakasih, bahkan hanya membolehkannya membeli sebungkus permen saja itu sudah sangat membuatnya tersenyum lebar.

Alhamdulillah ... Bahagia itu sederhana bukan? 
Mendidik kemandirian anak setiap hari, melihat perkembangannya, selalu saja menjadi satu alasan syukurku setiap hari.

Subhanallah wal hamdulillah ....



Kemandirian Beribadah

Mei 04, 2019 0 Comments
Berdasarakan hadis Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Perintakanlah anak-anak kalian untuk shalat, jika mereka telah mecapai usia tujuh tahun. Pukul lah mereka karena meninggalkanya, jika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka di tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).


Ada apa di balik penekanan terhadap shalat setelah usia ini?
Apa hikmah yang ada di dalamnya? Menurutku ada dua hikmah dan penekanan tentang perintah shalat di usia ini. 

Pertama, saat anak berada di usia tersebut, berarti anak ada di fase sebelum fase balig dan remaja. Dan fase balig biasanya ditandai dengan pertumbuhan jasmani yang cepat. Oleh karena itu, pada fase ini tubuh sangat rentan terhadap berbagai kerusakan jasmani. Sebagian besar kerusakan pada tubuh manusia datang bersamaan dengan pertumbuhan yang cepat ini, jika tidak ada sarana untuk menjaga struktur tubuh dan memperbaikinya dari kerusakan-kerusakan ini.

Penekanan Rasul yang mulia Saw terhadap shalat pada usia ini tidak lain sebagai program pencegahan dan terapi terhadap kerusakan-kerusakan yang kadang menyertai fase balig. Sama saja dalam hal ini antara anak laki-laki dan anak perempuan. 

Kedua, shalat memiliki tujuan menciptakan hubungan antara anak dan Tuhannya SWT. Sebelum terjadinya perubahan-perubahan yang menyertai fase balig, dan mendidik anak untuk takut dan taat kepada Allah SWT. Sebelum dua malaikat mulai mencatat dan menulis amal-amalnya saat dia mencapai usia balig.

Kedua alasan itulah yang membuatku selalu disiplin dalam penerapannya ke anak-anakku. Kalau si sulung Aksan kubiasakan dekat dengan masjid, karena dia laki-laki, yang sudah seharusnya lebih banyak shalat di masjid. Berbeda dengan Shahia, si tengah, aku lebih sering mengajaknya berjamaah di rumah. 

Hari ini diriku sedang berhalangan, dan biasanya Shahia akan ikut berlari ke masjid dengan kakaknya. Akan tetapi, karena iqomat sudah mulai terdengar sayup-sayup, aku pun menyarankan untuk shalat di rumah saja.

Sebelumnya, aku mengingatkan bahwa jumlah rakaat shalat Magrib ada 3. Kemudian membimbing niat shalat munfarid. Shahia sudah tidak banyak bertanya kenapa bunda tidak shalat. Alhamdulillah, anak-anak sudah mengerti tentang "halangan" yang setiap bulan pasti mengharuskan bundanya untuk libur shalat.

Alhamdulillah, dengan izin dan kemudahan dari-Nya, Shahia bisa melakukan ibadah shalatnya sendiri di rumah! 

Nikmat manalagi yang bisa aku dustakan, jika Allah senantiasa membimbing hati anak-anakku untuk selalu dekat dengan Rabb. Satu lagi alasan bersyukur hari ini, anakku sudah memiliki kemandirian beribadah.





Rabu, 01 Mei 2019

4 Langkah Melatih Kemandirian Anak

Mei 01, 2019 0 Comments
Aku pernah membaca beberapa artikel serta pengalaman pribadi dalam perjalanan  menjadi anak mandiri, antara lain:
1. Mengajarkan anak untuk mandiri sejak dini
Menyayangi anak tidak sama dengan memanjakan anak, atau memberikan serta melakukan segalanya seperti yang mereka inginkan. Sebagai bunda, kita dapat melatih kemandirian pada anak bahkan ketika mereka masih bayi.
Ketika mereka telah cukup umur untuk bermain sendiri di dalam rumah, biarkan ia mengambil sendiri mainan yang mereka inginkan. Kita sebaiknya bertindak ketika ia telah menyerah atau menangis karena tak dapat meraih mainan yang ia mau.
2. Mengetahui potensi anak sedini mungkin
Membantu anak untuk mandiri dengan meningkatkan rasa percaya dirinya. Sedangkan rasa percaya atau kebanggaan diri dapat terealisasi jika anak bisa meraih sesuatu berdasarkan potensi yang terpendam dalam dirinya.
3. Melatih anak untuk membuat keputusan
Situasi lingkungan yang tidak aman mungkin membuat kita, sebagai orang tua, khawatir membiarkan anak mereka bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Padahal bermain bersama teman sebaya itu perlu untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan membuat keputusan.
Misalnya, sesekali aku biarkan anak keduaku, Shahia (7y), bermain dengan teman-temannya di sekitar rumah. Meski aku tahu teman-temannya itu bervariasi, ada beberapa yang kurang sesuai dengan kultur keluarga kami, bisa dikategorikan usil dan suka mem-bully teman lainnya. Aku biarkan saja, karena aku ingin ia belajar membela diri dan bagaimana ia harus menyikapi ketika teman-temannya mengajak ia berbuat usil.
4. Memberikan tugas ringan
Memberikan tugas sederhana seperti membuang bungkus bekas makanan ke tempat sampah atau membereskan mainannya sendiri dapat melatih anak untuk bertanggung jawab. Kita bahkan bisa mengajarkan hal ini ketika mereka masih berumur 2-3 tahun dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.
Aku selalu membiasakan anak-anak melakukan pekerjaan rumah (menyapu, mengepel, mencuci piring dan lain-lain.), meskipun anak sulungku laki-laki tak menjadikan pembeda dengan kedua adiknya. 


Yess, pekan kedua ini, aku ingin fokus pada anak keduaku, Shahia. Mengobservasi kemandirian yang sudah aku tanamkan pada dirinya sejak dini. Alhamdulilllah, Shahia saat ini sudah memiliki kebiasaan membantu melipat pakaian yang sudah kering setelah kucuci. Agenda harian ini sudah menjadi rutinitas sore harinya sepulang dari TPQ.



Anak Sudah Mandiri? Cek Yuk Ciri-Cirinya!

Mei 01, 2019 0 Comments
Bicara tentang kemandirian anak, kita tentu ingin tahu “Ciri-ciri Kemandirian”. Dengan mengetahui, kita dapat memastikan tujuan kemandirian yang akan dicapai. Apakah sudah tepat jika dinyatakan mandiri?
Beberapa ahli mengemukankan pendapatnya tentang ciri-ciri kemandirian. Pendapat-pendapat para ahli, seperti Gilmore dalam Chabib Thoha, Lindzey & Ritter, Hasan Basri, Antonius, mengutip hal-hal berikut ini dalam ciri-ciri kemandirian:
  1. Ada rasa tanggung jawab
  2. Mampu bekerja sendiri secara mandiri (jarang meminta pertolongan orang lain)
  3. Memiliki sikap kreatif,
  4. Punya insiatif,
  5. Menguasai ketrampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pelatihan
  6. Menghargai waktu
  7. Punya rasa aman jika memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain
  8. Telah menyelesaikan pembicaraan
  9. Mampu menimbang dengan baik masalah yang diselesaikan oleh intelegen
  10. Puas dengan pekerjaan yang dipindahkan.
  11. Punya percaya diri
  12. Dapat melayani diri sendiri, khusus untuk hal-hal pribadi
Ciri-ciri yang diambil oleh para ahli melalui penelitian bermasyarakat dan istiadat masyarakat melalui penelitian. 
Tak ayal, aku pun langsung mengecek 12 point tersebut, apakah sudah terpenuhi pada sosok sulungku, Aksan, yang menginjak usia pra-remaja. Alhamdulillah,sebagian besar sudah terbangun menjadi kebiasaan Aksan. Mengupayakan tetap selaras antara mendidik kemandirian dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh agama adalah suatu keharusan.

Alhamdulillah, DIA mudahkan Aksan untuk memahami dan meneladai apa yang dilakukan oleh Rosulullah dalam keseharian beliau. Aksan sudah memiliki inisiatif, membuatkan susu botol untuk adik bungsunya saat aku sedang sibuk berkutat dengan urusan domestik lainnya.

Hanya bertanya berapa takaran sendok susu yang dituang ke botol, kemudian pertanyaan seputar perpaduan seberapa banyak air biasa dan air panas dari  termos, Aksan sudah bisa menyediakan apa yang dibutuhkan adiknya. MasyaAllah .... 



Hubungan antara Pengasuhan, Kemandirian dan Kesuksesan

Mei 01, 2019 0 Comments
Kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu bagi diri sendiri, termasuk kemampuan untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab. Kemandirian menjadi keterampilan yang sangat penting bagi anak-anak, untuk digunakan sebagai pijakan dalam mengatasi persoalan saat meraka dewasa. Kemandirian, kini menjadi modul penting dalam pengasuhan. Orangtua menyadari bahwa, hanya mereka yang mampu mandiri, yang dapat mencapai kesuksesan. 




Apa hubungan antara pengasuhan, kemandirian dan kesuksesan?
Keeratan hubungan antara pengasuhan, kemandirian dan kesuksesan, merujuk pada sebuah penelitian dirilis pada tahun 2016. Dalam penelitian ini melibatkan 1600 orangtua dan mahasiswa dengan membandingkan keberhasilan akademis siswa yang dihubungkan dengan pengasuhan. Dapat dilihat hubungan langsung antara gaya pengasuhan dan kesuksesan yang dicapai oleh para mahasiswa/i melalui pengukuran kinerjanya
Penelitian tersebut menyampaikan sebuah kesimpulan bahwa “Berdasarkan dari penelitian yang dijalani, untuk mendukung anak mencapai kesuksesan, orangtua sangat disarankan memperkuat kedekatan dan membina saling pengertian bersama anak,” Ini membuktikan bahwa pengasuhan yang tepat dapat memperbesar peluang menciptakan anak-anak mandiri dan sukses.
Rachel K. Gillette (seorang pengacara Amerika yang mempunyai spesialisasi dalam hukum yang berkaitan dengan ganja dan industri ganja, tinggal di Lafayette, Colorado. Amerika Serikat.), di independent.co.uk memperkuat kesimpulan dari penelitian tersebut dengan menyampaikan bahwa ada 13 kesamaan yang dimiliki oleh orangtua yang memiliki anak-anak sukses dan mandiri.
13 kesamaan tersebut adalah:
  1. Membiasakan anak-anaknya untuk mengerjakan tugas rumahan (Activity Daily Living)
  2. Mengajarkan anak mampu berinteraksi sosial dengan benar (sesuai dengan nilai-nilai yang dianut)
  3. Memiliki harapan dan keyakinan anak-anaknya mampu meraih prestasi tinggi
  4. Ayah dan ibu memiliki hubungan yang harmonis
  5. Berpendidikan. (Tingkat pendidikan anak, dipercaya bergantung pada level pendidikan yang dimiliki oleh orangtuanya saat anak berumur 8 tahun)
  6. Orangtua mengajarkan anak-anaknya berhitung sejak usia dini
  7. Mampu melakukan Active Listening untuk meningkatkan kelekatan antara orangtua dan anak
  8. Sedikit mengalami stress
  9. Orangtua menghargai keputusan anak, dan mengajarkan anak untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bahkan jika keputusan tersebut menghasilkan kegagalan
  10. Ibu bekerja 
  11. Memiliki kehidupan yang mapan
  12. Memiliki pola asuh otoritatif
  13. Mendidik anak berkepribadian “GRIT” (memiliki kecenderungan kuat untuk mempertahankan minat dan berjuang mencapai tujuan)


Dari tiga belas point yang disampaikan oleh Gillete, aku menyimpulkan bahwa para orangtua tersebut, telah memiliki kematangan sebagai individu dewasa. Meski tak sepenuhnya aku setuju dengan poin 10, ibu bekerja yang dimaksudnya oleh Gillete adalah bekerja di ranah publik. Aku percaya bahwa ibu bekerja di ranah domestik pun juga sama-sama memiliki potensi anaknya sukses dan mandiri. Dalam hal ini:
  • Orangtua tidak memiliki “hambatan” dalam “penerimaan” dirinya sendiri.
  • Orangtua memiliki kemampuan mengelola diri dengan baik, terkait dengan kesehatan, kehidupannya, keuangannya dan dalam merencanakan masa depan. Termasuk mengerti menghadapi tantangan
  • Orangtua menjadi role-model anak atas kehidupan sukses dan mandiri
  • Orangtua mampu menentukan dan membidik goal dalam pengasuhan
  • Pola asuh yang diterapkan, memfasilitasi anak untuk mengembangkan dan mampu bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan (pola asuh otoritatif)
  • Hubungan antara orangtua dan anak berdasarkan saling percaya, hubungan yang baik untuk membina kepercayaan anak, merupakan perjalanan anak dalam masa tumbuh kembangnya.


Gillete juga mengungkapkan komponen orangtua dalam pengasuhan. “Parenting atau Pengasuhan” sebenarnya punya 2 komponen penting, yaitu komponen anak dan komponen orangtua. Pengasuhan HANYA akan berhasil, JIKA anak memiliki kesiapan. DAN ORANGTUA YANG MENGASUH PUN SIAP.
Lalu, pengasuhan seperti apa yang memberikan dampak signifikan bagi kesukseskan dan kemandirian anak? Bahasan poin ke 12, dari artikel Gillete, menyampaikan pola asuh autoritatif. Apa yang dinamakan dengan pola asuh autoritatif?
Ibu Dyah dalam tulisan di theasianparent, mengungkapkan ada 21 pola asuh yang digunakan oleh orangtua. Salah satunya adalah Autoritatif. Dimana ciri-ciri orangtua yang melakukan pengasuhan autoritatif (dikenal dengan nama lain propagative) adalah:
  • Orangtua mengatur batas, memberi pemahaman kepada anak-anak, dan tanggap terhadap kebutuhan emosional mereka.
  • Orangtua dengan pola asuh anak otoritatif sangat hangat kepada anak-anak mereka, dan menekankan alasan diberlakukannya aturan.
  • Anak-anak mungkin menjadi lebih mandiri, diterima secara sosial, sukses dalam akademis, dan berperilaku baik.


Adapun 20 jenis pola asuh yang lain, adalah sebagai berikut, (dapat dijadikan pembanding dari pengasuhan autoritatif yang telah disampaikan di atas).
1. Parenting Permisif (Permissive parenting atau Indulgent parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak permisif cenderung tanggap terhadap anak-anak mereka, namun longgar terhadap aturan dan disiplin.
  • Orangtua sangat jarang memberi tuntutan dan harapan kepada anak.
  • Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya ini cenderung tumbuh tanpa sikap disiplin.


2. Parenting Acuh tak acuh (Uninvolved parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua sangat sedikit memberikan kehangatan kepada anak mereka, tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak menentukan batasan dan tidak menuntut), dan kurang tanggap terhadap kebutuhan anak.
  • Orangtua dengan gaya pengasuhan ini tidak memantau aktivitas anak mereka.
  • Anak-anak akan sering merasa takut, gelisah, dan stres karena tak ada dukungan dari orangtuanya.


3. Parenting Sembrono (Neglectful parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak ini cenderung mengabaikan emosi dan opini anak-anak mereka.
  • Rendahnya daya tanggap orangtua terhadap tuntutan anak.
  • Anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini kurang disiplin, tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, berkembang menjadi dewasa sebelum waktunya. dan sering mengalami pertengkaran dengan orangtua mereka.


4. Parenting Otoritarian (Authoritarian parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan aturan yang ketat, hukuman keras, hanya memberikan sedikit pemahaman kepada anak, dan kurang ramah kepada anak-anaknya.
  • Orangtua sering berkata, “Saat ibu/ayah seusiamu, ibu/ayah sudah bisa ….”.
  • Mengakibatkan anak menjadi pendiam, kurang percaya diri, kurang terampil secara sosial, dan kurang berprestasi di sekolah.


5. Parenting Kasih Sayang (Attachment parenting, Intuitive Parenting, atau Natural Parenting)
Ciri-cirinya:
  • Keterikatan emosional dipupuk dengan baik oleh orangtua.
  • Orangtua dengan pola asuh anak kasih sayang biasanya menghindari hukuman fisik dan mengajarkan disiplin melalui interaksi antara orangtua dan anak.
  • Anak menjadi manja dan terlalu tergantung kepada orangtuanya.


6. Parenting Positif (Positive parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua membimbing dan menasehati anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
  • Orangtua mengajarkan cara positif dan menjelaskan bahwa setiap pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri.
  • Anak-anak belajar untuk mampu mempertimbangkan pilihan yang ada dan lebih bertanggung jawab.


7. Parenting Narsistik (Narcissistic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Anak diharuskan untuk mencapai semua impian dan cita-cita yang tidak dapat dicapai oleh orangtua.
  • Orangtua yang narsis bisa sangat memuja anaknya secara berlebihan, atau merasa tersaingi oleh kehadiran anaknya.
  • Anak-anak tidak mendapat keleluasaan untuk mengeksplorasi minat dan potensi mereka.


8. Parenting Pendampingan (Nurturant parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua mengharapkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan pengawasan orangtua.
  • Orangtua menerapkan batasan kepada anak dan mengharapkan orang lain akan mematuhinya juga.
  • Anak cenderung merasa empati kepada orang lain, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta lebih percaya diri.


9. Parenting yang Berlebihan (Overparenting atau Helicopter parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua terlibat langsung dalam setiap aspek kehidupan anak dan menyelesaikan semua permasalahan anak.
  • Orangtua melindungi anak secara berlebihan dan tidak membiarkan anak menghadapi kesulitan.
  • Anak menjadi tidak mandiri dan tidak memahami kesalahan dan konsekuensi yang akan mereka hadapi.


10. Parenting menyesuaikan dengan keadaan (Slow parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua untuk terlibat sesedikit mungkin dalam kehidupan anak dan memastikan bahwa ada cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga.
  • Orangtua membatasi anak untuk menggunakan peralatan elektronik dan menggantinya dengan mainan atau buku yang mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak.
  • Anak-anak mengetahui batas dan kemampuan mereka.


11. Parenting yang Meracuni (Toxic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua seringkali melakukan kekerasan.
  • Orangtua mengabaikan kebutuhan anak, baik secara emosional maupun fisik.
  • Anak tidak dapat mengenali diri sendiri dan rasa percaya dirinya berkurang.


12. Parenting Lumba-lumba (Dolphin parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua menghindari perencanaan kegiatan yang berlebihan bagi anak-anak mereka, menahan diri untuk tidak terlalu overprotektif, dan memperhitungkan keinginan, cita-cita, dan tujuan anak.
  • Orangtua dapat memperlakukan setiap anaknya secara berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian dari masing-masing anak.
  • Anak-anak mempunyai keterampilan sosial, percaya diri, kreatif, mudah beradaptasi, dan termotivasi untuk mengembangkan dirinya.


13. Parenting Ubur-ubur (Jellyfish parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak ubur-ubur menerapkan sedikit aturan dan memberikan sedikit harapan kepada anak.
  • Orangtua seringkali mengalah untuk menghindari konfrontasi/perlawanan dari anak.
  • Anak menjadi kurang pandai dalam bersosialisasi dan bidang akademis, serta cenderung melibatkan diri dalam perilaku yang berisiko saat remaja/dewasa.


14. Parenting Hipnosis (Hypnoparenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan sugesti positif kepada anaknya berkaitan dengan perkembangan dan pendidikan anak.
  • Orangtua memberikan bantuan dan dukungan kepada anak secara emosional.
  • Anak-anak lebih terbuka dan berdiskusi dengan orangtua mengenai persoalan yang mereka hadapi.


15. Parenting Berlebihan (Hyperparenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan kontrol berlebihan agar anak mencapai yang terbaik dalam segala hal.
  • Orangtua tidak memperbolehkan anak untuk membuat keputusan sendiri.
  • Anak menjadi kurang berkembang, mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, dan cepat merasa stres.


16. Parenting ala Macan (Tiger parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua mengharuskan anak mereka untuk mencapai kesuksesan dalam segala bidang, khususnya akademis.
  • Orangtua memberlakukan kedisiplinan ketat dan keras, mengontrol secara psikologis, dan memiliki harapan tinggi kepada anak mereka.
  • Anak menjadi mudah cemas, depresi, dan kurang percaya diri.


17. Parenting ala Gajah (Elephant parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua tanggap terhadap kebutuhan anak dan melindungi anak agar tidak mengalami kesulitan dan persoalan.
  • Orangtua memberikan kasih sayang dan mendukung anak secara emosional.
  • Anak-anak menjadi kurang memahami batasan dan aturan.


18. Parenting Mercu Suar (Lighthouse parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua membiarkan anak mereka untuk merasakan dan mengalami kegagalan dan berbagai konsekuensi yang menyertainya.
  • Orangtua memberikan nasehat, dukungan, dan dorongan agar anak mereka dapat belajar mengatasi masalah mereka sendiri.
  • Anak dapat menjadi menjadi individu tangguh dan cakap.


19. Parenting Holistik (Spiritual parenting/Holistic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak holistik memberikan contoh yang baik kepada anak melalui perilaku orangtua itu sendiri.
  • Orangtua menghargai perbedaan kepribadian anak dan memberikan keleluasaan kepada anak untuk mengembangkan keyakinan mereka sesuai kepribadian dan potensi masing-masing.
  • Anak-anak lebih memiliki kesadaran batin dan menghargai lingkungan sekitarnya.


20. Parenting Tanpa Syarat (Unconditional Parenting atau Conscious Parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua menerima dan mendukung anak secara positif.
  • Orangtua memberikan pujian atas perilaku anak yang baik.
  • Anak belajar memahami bahwa perilaku yang baik itu adalah perilaku yang diterima dan diperhatikan.


Dari 21 teori parenting di atas, kita bisa pilah dan pilih mana yang sesuai dengan visi misi keluarga kita masing-masing. Seperti diriku, yang seorang singlemom, tentunya tidak bisa menunjukkan keharmonisan kedua orangtua pada anak. Akan tetapi hal tersebut aku ganti dengan tetap berkomunikasi baik dengan ayah kandung anak-anak, meski kami tak lagi tinggal satu atap. Kemudian, aku memilik menerapkan kolaborasi beberapa teori pola asuh atau teori parenting. Yang terpenting adalah tujuan mendidik kemandirian anak tercapai dengan baik.

Seperti saat aku harus ke luar kota, si sulung Aksan banyak menggantikan peranku, seperti mengurus adik bungsunya. Dan hari ini, satu prestasi lagi tertoreh atas kemandiriannya, memandikan hingga membantu adiknya memakaikan baju. 
Subhanallah wal hamdulillah ...


Sumber Referensi :