Rabu, 01 Mei 2019

4 Langkah Melatih Kemandirian Anak

Aku pernah membaca beberapa artikel serta pengalaman pribadi dalam perjalanan  menjadi anak mandiri, antara lain:
1. Mengajarkan anak untuk mandiri sejak dini
Menyayangi anak tidak sama dengan memanjakan anak, atau memberikan serta melakukan segalanya seperti yang mereka inginkan. Sebagai bunda, kita dapat melatih kemandirian pada anak bahkan ketika mereka masih bayi.
Ketika mereka telah cukup umur untuk bermain sendiri di dalam rumah, biarkan ia mengambil sendiri mainan yang mereka inginkan. Kita sebaiknya bertindak ketika ia telah menyerah atau menangis karena tak dapat meraih mainan yang ia mau.
2. Mengetahui potensi anak sedini mungkin
Membantu anak untuk mandiri dengan meningkatkan rasa percaya dirinya. Sedangkan rasa percaya atau kebanggaan diri dapat terealisasi jika anak bisa meraih sesuatu berdasarkan potensi yang terpendam dalam dirinya.
3. Melatih anak untuk membuat keputusan
Situasi lingkungan yang tidak aman mungkin membuat kita, sebagai orang tua, khawatir membiarkan anak mereka bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Padahal bermain bersama teman sebaya itu perlu untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan membuat keputusan.
Misalnya, sesekali aku biarkan anak keduaku, Shahia (7y), bermain dengan teman-temannya di sekitar rumah. Meski aku tahu teman-temannya itu bervariasi, ada beberapa yang kurang sesuai dengan kultur keluarga kami, bisa dikategorikan usil dan suka mem-bully teman lainnya. Aku biarkan saja, karena aku ingin ia belajar membela diri dan bagaimana ia harus menyikapi ketika teman-temannya mengajak ia berbuat usil.
4. Memberikan tugas ringan
Memberikan tugas sederhana seperti membuang bungkus bekas makanan ke tempat sampah atau membereskan mainannya sendiri dapat melatih anak untuk bertanggung jawab. Kita bahkan bisa mengajarkan hal ini ketika mereka masih berumur 2-3 tahun dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.
Aku selalu membiasakan anak-anak melakukan pekerjaan rumah (menyapu, mengepel, mencuci piring dan lain-lain.), meskipun anak sulungku laki-laki tak menjadikan pembeda dengan kedua adiknya. 


Yess, pekan kedua ini, aku ingin fokus pada anak keduaku, Shahia. Mengobservasi kemandirian yang sudah aku tanamkan pada dirinya sejak dini. Alhamdulilllah, Shahia saat ini sudah memiliki kebiasaan membantu melipat pakaian yang sudah kering setelah kucuci. Agenda harian ini sudah menjadi rutinitas sore harinya sepulang dari TPQ.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika