Selasa, 07 Mei 2019

ALLAH MENYUKAI YANG RAPI DAN INDAH

Membiasakan anak shalat sejak usia dini adalah bagian dari pola asuhku. Tidak untuk memaksa anak beribadah, hanya saja tujuanku adalah membiasakan anak mengenal shalat 5 waktu. Walau pun untuk usia Lula, si bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun, shalat bukanlah sesuatu yang aku haruskan.

Sesekali Lula bersemangat mengikuti gerakan shalat, bahkan dari cara berwudhu pun Lula sudah mulai belajar. Gerakan shalat, alhamdulillah dia sudah hafal. 

Setelah shalat pun, aku membiasakan dia melipat sendiri mukena serta sajadahnya. Alhamdulillah, Lula sudah bisa melakukan semua hal itu. Yaaa ... meski lipatannya tidak terlalu rapi, tetapi itu sebuah prestasi yang patut aku syukuri.

"Nanti abis shalat, mukena dan sajadahnya dirapiin lagi ya, Sayang."

"Kaya kalau abis mainan ya Bun? Diberesin lagi kalau abis mainan," balasnya dengan aksen lucu.

"Iya, Sayang. Dilipet yang rapi kalau abis shalat, terus disimpen mukena dan sajadahnya di tempat alat shalat."

"Iya Bun!"

"Eh, kenapa ya kita harus rapi-rapi? Lula tau ga? Hayooo ... inget ga kenapa harus rapi-rapian?"

"Anuuu ... itu lo Bun, biar kita disayang Allah. Allah kan suka yang rapi-rapi ya Bun."

"Wah, masyaAllah, anak soliha Bunda inget loh. Iya Nak, Allah itu suka sama yang rapi-rapi. Jadi, kalau mau disayang Allah, ya kita harus rapi juga."

Dia mengganggukkan kepala. Dan setelah melipat mukena serta sajadahnya, Lula berlari ke arah almari kecil tempat penyimpanan alat shalat.

Hmm ... desis alhamdulillah membanjiri bibirku. Ternyata mendidik anak untuk mandiri di usia dini, tidaklah terlalu rumit. Mengenalkan apa yang disukai Allah bisa memberikan motivasi anak untuk merapikan barang-barangnya sendiri. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika