Rabu, 01 Mei 2019

Hubungan antara Pengasuhan, Kemandirian dan Kesuksesan

Kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu bagi diri sendiri, termasuk kemampuan untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab. Kemandirian menjadi keterampilan yang sangat penting bagi anak-anak, untuk digunakan sebagai pijakan dalam mengatasi persoalan saat meraka dewasa. Kemandirian, kini menjadi modul penting dalam pengasuhan. Orangtua menyadari bahwa, hanya mereka yang mampu mandiri, yang dapat mencapai kesuksesan. 




Apa hubungan antara pengasuhan, kemandirian dan kesuksesan?
Keeratan hubungan antara pengasuhan, kemandirian dan kesuksesan, merujuk pada sebuah penelitian dirilis pada tahun 2016. Dalam penelitian ini melibatkan 1600 orangtua dan mahasiswa dengan membandingkan keberhasilan akademis siswa yang dihubungkan dengan pengasuhan. Dapat dilihat hubungan langsung antara gaya pengasuhan dan kesuksesan yang dicapai oleh para mahasiswa/i melalui pengukuran kinerjanya
Penelitian tersebut menyampaikan sebuah kesimpulan bahwa “Berdasarkan dari penelitian yang dijalani, untuk mendukung anak mencapai kesuksesan, orangtua sangat disarankan memperkuat kedekatan dan membina saling pengertian bersama anak,” Ini membuktikan bahwa pengasuhan yang tepat dapat memperbesar peluang menciptakan anak-anak mandiri dan sukses.
Rachel K. Gillette (seorang pengacara Amerika yang mempunyai spesialisasi dalam hukum yang berkaitan dengan ganja dan industri ganja, tinggal di Lafayette, Colorado. Amerika Serikat.), di independent.co.uk memperkuat kesimpulan dari penelitian tersebut dengan menyampaikan bahwa ada 13 kesamaan yang dimiliki oleh orangtua yang memiliki anak-anak sukses dan mandiri.
13 kesamaan tersebut adalah:
  1. Membiasakan anak-anaknya untuk mengerjakan tugas rumahan (Activity Daily Living)
  2. Mengajarkan anak mampu berinteraksi sosial dengan benar (sesuai dengan nilai-nilai yang dianut)
  3. Memiliki harapan dan keyakinan anak-anaknya mampu meraih prestasi tinggi
  4. Ayah dan ibu memiliki hubungan yang harmonis
  5. Berpendidikan. (Tingkat pendidikan anak, dipercaya bergantung pada level pendidikan yang dimiliki oleh orangtuanya saat anak berumur 8 tahun)
  6. Orangtua mengajarkan anak-anaknya berhitung sejak usia dini
  7. Mampu melakukan Active Listening untuk meningkatkan kelekatan antara orangtua dan anak
  8. Sedikit mengalami stress
  9. Orangtua menghargai keputusan anak, dan mengajarkan anak untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bahkan jika keputusan tersebut menghasilkan kegagalan
  10. Ibu bekerja 
  11. Memiliki kehidupan yang mapan
  12. Memiliki pola asuh otoritatif
  13. Mendidik anak berkepribadian “GRIT” (memiliki kecenderungan kuat untuk mempertahankan minat dan berjuang mencapai tujuan)


Dari tiga belas point yang disampaikan oleh Gillete, aku menyimpulkan bahwa para orangtua tersebut, telah memiliki kematangan sebagai individu dewasa. Meski tak sepenuhnya aku setuju dengan poin 10, ibu bekerja yang dimaksudnya oleh Gillete adalah bekerja di ranah publik. Aku percaya bahwa ibu bekerja di ranah domestik pun juga sama-sama memiliki potensi anaknya sukses dan mandiri. Dalam hal ini:
  • Orangtua tidak memiliki “hambatan” dalam “penerimaan” dirinya sendiri.
  • Orangtua memiliki kemampuan mengelola diri dengan baik, terkait dengan kesehatan, kehidupannya, keuangannya dan dalam merencanakan masa depan. Termasuk mengerti menghadapi tantangan
  • Orangtua menjadi role-model anak atas kehidupan sukses dan mandiri
  • Orangtua mampu menentukan dan membidik goal dalam pengasuhan
  • Pola asuh yang diterapkan, memfasilitasi anak untuk mengembangkan dan mampu bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan (pola asuh otoritatif)
  • Hubungan antara orangtua dan anak berdasarkan saling percaya, hubungan yang baik untuk membina kepercayaan anak, merupakan perjalanan anak dalam masa tumbuh kembangnya.


Gillete juga mengungkapkan komponen orangtua dalam pengasuhan. “Parenting atau Pengasuhan” sebenarnya punya 2 komponen penting, yaitu komponen anak dan komponen orangtua. Pengasuhan HANYA akan berhasil, JIKA anak memiliki kesiapan. DAN ORANGTUA YANG MENGASUH PUN SIAP.
Lalu, pengasuhan seperti apa yang memberikan dampak signifikan bagi kesukseskan dan kemandirian anak? Bahasan poin ke 12, dari artikel Gillete, menyampaikan pola asuh autoritatif. Apa yang dinamakan dengan pola asuh autoritatif?
Ibu Dyah dalam tulisan di theasianparent, mengungkapkan ada 21 pola asuh yang digunakan oleh orangtua. Salah satunya adalah Autoritatif. Dimana ciri-ciri orangtua yang melakukan pengasuhan autoritatif (dikenal dengan nama lain propagative) adalah:
  • Orangtua mengatur batas, memberi pemahaman kepada anak-anak, dan tanggap terhadap kebutuhan emosional mereka.
  • Orangtua dengan pola asuh anak otoritatif sangat hangat kepada anak-anak mereka, dan menekankan alasan diberlakukannya aturan.
  • Anak-anak mungkin menjadi lebih mandiri, diterima secara sosial, sukses dalam akademis, dan berperilaku baik.


Adapun 20 jenis pola asuh yang lain, adalah sebagai berikut, (dapat dijadikan pembanding dari pengasuhan autoritatif yang telah disampaikan di atas).
1. Parenting Permisif (Permissive parenting atau Indulgent parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak permisif cenderung tanggap terhadap anak-anak mereka, namun longgar terhadap aturan dan disiplin.
  • Orangtua sangat jarang memberi tuntutan dan harapan kepada anak.
  • Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya ini cenderung tumbuh tanpa sikap disiplin.


2. Parenting Acuh tak acuh (Uninvolved parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua sangat sedikit memberikan kehangatan kepada anak mereka, tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak menentukan batasan dan tidak menuntut), dan kurang tanggap terhadap kebutuhan anak.
  • Orangtua dengan gaya pengasuhan ini tidak memantau aktivitas anak mereka.
  • Anak-anak akan sering merasa takut, gelisah, dan stres karena tak ada dukungan dari orangtuanya.


3. Parenting Sembrono (Neglectful parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak ini cenderung mengabaikan emosi dan opini anak-anak mereka.
  • Rendahnya daya tanggap orangtua terhadap tuntutan anak.
  • Anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini kurang disiplin, tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, berkembang menjadi dewasa sebelum waktunya. dan sering mengalami pertengkaran dengan orangtua mereka.


4. Parenting Otoritarian (Authoritarian parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan aturan yang ketat, hukuman keras, hanya memberikan sedikit pemahaman kepada anak, dan kurang ramah kepada anak-anaknya.
  • Orangtua sering berkata, “Saat ibu/ayah seusiamu, ibu/ayah sudah bisa ….”.
  • Mengakibatkan anak menjadi pendiam, kurang percaya diri, kurang terampil secara sosial, dan kurang berprestasi di sekolah.


5. Parenting Kasih Sayang (Attachment parenting, Intuitive Parenting, atau Natural Parenting)
Ciri-cirinya:
  • Keterikatan emosional dipupuk dengan baik oleh orangtua.
  • Orangtua dengan pola asuh anak kasih sayang biasanya menghindari hukuman fisik dan mengajarkan disiplin melalui interaksi antara orangtua dan anak.
  • Anak menjadi manja dan terlalu tergantung kepada orangtuanya.


6. Parenting Positif (Positive parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua membimbing dan menasehati anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
  • Orangtua mengajarkan cara positif dan menjelaskan bahwa setiap pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri.
  • Anak-anak belajar untuk mampu mempertimbangkan pilihan yang ada dan lebih bertanggung jawab.


7. Parenting Narsistik (Narcissistic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Anak diharuskan untuk mencapai semua impian dan cita-cita yang tidak dapat dicapai oleh orangtua.
  • Orangtua yang narsis bisa sangat memuja anaknya secara berlebihan, atau merasa tersaingi oleh kehadiran anaknya.
  • Anak-anak tidak mendapat keleluasaan untuk mengeksplorasi minat dan potensi mereka.


8. Parenting Pendampingan (Nurturant parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua mengharapkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan pengawasan orangtua.
  • Orangtua menerapkan batasan kepada anak dan mengharapkan orang lain akan mematuhinya juga.
  • Anak cenderung merasa empati kepada orang lain, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta lebih percaya diri.


9. Parenting yang Berlebihan (Overparenting atau Helicopter parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua terlibat langsung dalam setiap aspek kehidupan anak dan menyelesaikan semua permasalahan anak.
  • Orangtua melindungi anak secara berlebihan dan tidak membiarkan anak menghadapi kesulitan.
  • Anak menjadi tidak mandiri dan tidak memahami kesalahan dan konsekuensi yang akan mereka hadapi.


10. Parenting menyesuaikan dengan keadaan (Slow parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua untuk terlibat sesedikit mungkin dalam kehidupan anak dan memastikan bahwa ada cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga.
  • Orangtua membatasi anak untuk menggunakan peralatan elektronik dan menggantinya dengan mainan atau buku yang mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak.
  • Anak-anak mengetahui batas dan kemampuan mereka.


11. Parenting yang Meracuni (Toxic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua seringkali melakukan kekerasan.
  • Orangtua mengabaikan kebutuhan anak, baik secara emosional maupun fisik.
  • Anak tidak dapat mengenali diri sendiri dan rasa percaya dirinya berkurang.


12. Parenting Lumba-lumba (Dolphin parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua menghindari perencanaan kegiatan yang berlebihan bagi anak-anak mereka, menahan diri untuk tidak terlalu overprotektif, dan memperhitungkan keinginan, cita-cita, dan tujuan anak.
  • Orangtua dapat memperlakukan setiap anaknya secara berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian dari masing-masing anak.
  • Anak-anak mempunyai keterampilan sosial, percaya diri, kreatif, mudah beradaptasi, dan termotivasi untuk mengembangkan dirinya.


13. Parenting Ubur-ubur (Jellyfish parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak ubur-ubur menerapkan sedikit aturan dan memberikan sedikit harapan kepada anak.
  • Orangtua seringkali mengalah untuk menghindari konfrontasi/perlawanan dari anak.
  • Anak menjadi kurang pandai dalam bersosialisasi dan bidang akademis, serta cenderung melibatkan diri dalam perilaku yang berisiko saat remaja/dewasa.


14. Parenting Hipnosis (Hypnoparenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan sugesti positif kepada anaknya berkaitan dengan perkembangan dan pendidikan anak.
  • Orangtua memberikan bantuan dan dukungan kepada anak secara emosional.
  • Anak-anak lebih terbuka dan berdiskusi dengan orangtua mengenai persoalan yang mereka hadapi.


15. Parenting Berlebihan (Hyperparenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua memberikan kontrol berlebihan agar anak mencapai yang terbaik dalam segala hal.
  • Orangtua tidak memperbolehkan anak untuk membuat keputusan sendiri.
  • Anak menjadi kurang berkembang, mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, dan cepat merasa stres.


16. Parenting ala Macan (Tiger parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua mengharuskan anak mereka untuk mencapai kesuksesan dalam segala bidang, khususnya akademis.
  • Orangtua memberlakukan kedisiplinan ketat dan keras, mengontrol secara psikologis, dan memiliki harapan tinggi kepada anak mereka.
  • Anak menjadi mudah cemas, depresi, dan kurang percaya diri.


17. Parenting ala Gajah (Elephant parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua tanggap terhadap kebutuhan anak dan melindungi anak agar tidak mengalami kesulitan dan persoalan.
  • Orangtua memberikan kasih sayang dan mendukung anak secara emosional.
  • Anak-anak menjadi kurang memahami batasan dan aturan.


18. Parenting Mercu Suar (Lighthouse parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua membiarkan anak mereka untuk merasakan dan mengalami kegagalan dan berbagai konsekuensi yang menyertainya.
  • Orangtua memberikan nasehat, dukungan, dan dorongan agar anak mereka dapat belajar mengatasi masalah mereka sendiri.
  • Anak dapat menjadi menjadi individu tangguh dan cakap.


19. Parenting Holistik (Spiritual parenting/Holistic parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua dengan pola asuh anak holistik memberikan contoh yang baik kepada anak melalui perilaku orangtua itu sendiri.
  • Orangtua menghargai perbedaan kepribadian anak dan memberikan keleluasaan kepada anak untuk mengembangkan keyakinan mereka sesuai kepribadian dan potensi masing-masing.
  • Anak-anak lebih memiliki kesadaran batin dan menghargai lingkungan sekitarnya.


20. Parenting Tanpa Syarat (Unconditional Parenting atau Conscious Parenting)
Ciri-cirinya:
  • Orangtua menerima dan mendukung anak secara positif.
  • Orangtua memberikan pujian atas perilaku anak yang baik.
  • Anak belajar memahami bahwa perilaku yang baik itu adalah perilaku yang diterima dan diperhatikan.


Dari 21 teori parenting di atas, kita bisa pilah dan pilih mana yang sesuai dengan visi misi keluarga kita masing-masing. Seperti diriku, yang seorang singlemom, tentunya tidak bisa menunjukkan keharmonisan kedua orangtua pada anak. Akan tetapi hal tersebut aku ganti dengan tetap berkomunikasi baik dengan ayah kandung anak-anak, meski kami tak lagi tinggal satu atap. Kemudian, aku memilik menerapkan kolaborasi beberapa teori pola asuh atau teori parenting. Yang terpenting adalah tujuan mendidik kemandirian anak tercapai dengan baik.

Seperti saat aku harus ke luar kota, si sulung Aksan banyak menggantikan peranku, seperti mengurus adik bungsunya. Dan hari ini, satu prestasi lagi tertoreh atas kemandiriannya, memandikan hingga membantu adiknya memakaikan baju. 
Subhanallah wal hamdulillah ...


Sumber Referensi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika