Sabtu, 04 Mei 2019

Kemandirian Beribadah

Berdasarakan hadis Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Perintakanlah anak-anak kalian untuk shalat, jika mereka telah mecapai usia tujuh tahun. Pukul lah mereka karena meninggalkanya, jika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka di tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).


Ada apa di balik penekanan terhadap shalat setelah usia ini?
Apa hikmah yang ada di dalamnya? Menurutku ada dua hikmah dan penekanan tentang perintah shalat di usia ini. 

Pertama, saat anak berada di usia tersebut, berarti anak ada di fase sebelum fase balig dan remaja. Dan fase balig biasanya ditandai dengan pertumbuhan jasmani yang cepat. Oleh karena itu, pada fase ini tubuh sangat rentan terhadap berbagai kerusakan jasmani. Sebagian besar kerusakan pada tubuh manusia datang bersamaan dengan pertumbuhan yang cepat ini, jika tidak ada sarana untuk menjaga struktur tubuh dan memperbaikinya dari kerusakan-kerusakan ini.

Penekanan Rasul yang mulia Saw terhadap shalat pada usia ini tidak lain sebagai program pencegahan dan terapi terhadap kerusakan-kerusakan yang kadang menyertai fase balig. Sama saja dalam hal ini antara anak laki-laki dan anak perempuan. 

Kedua, shalat memiliki tujuan menciptakan hubungan antara anak dan Tuhannya SWT. Sebelum terjadinya perubahan-perubahan yang menyertai fase balig, dan mendidik anak untuk takut dan taat kepada Allah SWT. Sebelum dua malaikat mulai mencatat dan menulis amal-amalnya saat dia mencapai usia balig.

Kedua alasan itulah yang membuatku selalu disiplin dalam penerapannya ke anak-anakku. Kalau si sulung Aksan kubiasakan dekat dengan masjid, karena dia laki-laki, yang sudah seharusnya lebih banyak shalat di masjid. Berbeda dengan Shahia, si tengah, aku lebih sering mengajaknya berjamaah di rumah. 

Hari ini diriku sedang berhalangan, dan biasanya Shahia akan ikut berlari ke masjid dengan kakaknya. Akan tetapi, karena iqomat sudah mulai terdengar sayup-sayup, aku pun menyarankan untuk shalat di rumah saja.

Sebelumnya, aku mengingatkan bahwa jumlah rakaat shalat Magrib ada 3. Kemudian membimbing niat shalat munfarid. Shahia sudah tidak banyak bertanya kenapa bunda tidak shalat. Alhamdulillah, anak-anak sudah mengerti tentang "halangan" yang setiap bulan pasti mengharuskan bundanya untuk libur shalat.

Alhamdulillah, dengan izin dan kemudahan dari-Nya, Shahia bisa melakukan ibadah shalatnya sendiri di rumah! 

Nikmat manalagi yang bisa aku dustakan, jika Allah senantiasa membimbing hati anak-anakku untuk selalu dekat dengan Rabb. Satu lagi alasan bersyukur hari ini, anakku sudah memiliki kemandirian beribadah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika