Selasa, 07 Mei 2019

Melatih Kemandirian Anak

"Bun, kita maem soto donk buka puasanya!" usul Shahia.

"Hmm ... oke deh."

***

Setelah khusyuk menyantap Soto Semarang-an dengan mangkuk gerabah yang khas. Tempat sederhana, namun hangat dan menjadi favorit anak-anak. Bukan saja rasa masakannya yang memang pas di lidah kami, namun juga kehangatan Budhe dan Pakdhe pemilik warung yang sekaligus menjadi peramu serta penyajinya menghipnotis kami dan menjadikan warung Soto Gerabah masuk dalam list kuliner yang rekomended.

"Nak, nanti Shahia ya yang ngitung ke Budhe."

"Ngitung apa Bun?"

"Ngitungin kita ini berapa harus bayar. Soto besar 3, kecil 1, es teh 3, sate telur 3, tempe 3, sama air putih anget."

"Oke Bun!"

"Shahia inget ga? Coba ulang lagi, kita maem apa aja. Bismillah dulu ya, biar Allah bantu Shahia inget-inget."

Dia pun mulai bergumam, sesekali melirikku untuk meminta penilaian, benar atau salah. Dan yap! Dia mampu mengingat dengan benar. Gadis kecilku yang kini sudah berusia 7 tahun itu menuju pemilik warung, menyampaikan apa saja yang kami makan dan minum.

Budhe pemilik warung terkekeh, melirikku sesekali, dan aku balas dengan anggukkan kepala pertanda setuju bahwa yang disampaikan Shahia semua adalah benar.

Alhamdulillah, satu lagi hari ini misiku berhasil, Allah memudahkan.
Shahia belajar mengingat informasi yang lebih rumit, kemudian menyampaikannya kepada oranglain dengan benar. Keberanian menyampaikan kepada oranglain juga merupakan poin yang aku harapkan. Dan dia lulus kedua poin tersebut. MasyaAllah ....

Ah, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan, Allah benar-benar Maha Luarbiasa. DIA membantu anakku mengingat informasi dan menumbuhkan keberanian untuk bersosialisasi dengan orang dewasa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika