Selasa, 18 Juni 2019

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN






Ayat yang aku renungkan pada kesempatan kali ini adalah firman Allah Ta’ala,


سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21)

Allah juga berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 148 yang artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

2 ayat tersebut cukup menjadi dasar kuat dalam family projectku episode ini. Menstimulasi Kecerdasan Spiritual Anak dengan tema "Berlomba Berbuat Baik di Rumah". 

"Nak, Islam tidak hanya meminta umatnya untuk berbuat kebaikan. Tapi sebagai seorang muslim, Allah meminta untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan." Aku memulai sesi obrolan dengan anak-anak dengan menjelaskan konsep Fastabiqul Khoirot dengan bahasa sesederhana mungkin.

"Berlomba-lomba berbuat baik itu bisa dimulai dari dalam rumah loh. Misalnya, saat Bunda sedang sibuk, tanpa perlu diminta, Kakak Aksan, Kakak Shahia atau pun Lula itu berlomba-lomba mengerjakan pekerjaan rumah yang belum Bunda selesaikan. Menyapu, mengepel, mengangkat jemuran, melipat pakaian yang sudah dicuci Bunda, mencuci piring setelah makan, baik piringnya sendiri maupun piring yang dipakai oranglain. Paham?"

"Hmmm ... iya Bun, paham." Aksan dan Shahia serentak menjawab, si bungsu Lula hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Tak lama berselang, si bungsku itu berlari ke arah dapur. Dia membawa 2 botol minuman yang sudah kosong.

"Bunda, Lula juga mau ikut lomba. Lula ngisi botol terus dimasukin ke kulkas ya!" Ceteluk gadis kecilku itu dengan nada ceria.

MasyaAllah ... semangat berlomba berbuat baik di rumah sudah dia nampakkan dengan segera. Kedua kakaknya berpandangan, dan ikut beranjak berdiri, mencari sesuatu untuk mereka kerjakan. Si sulung Aksan mengambil sapu, si tengah Shahia memposisikan diri di depan tumpukan piring dan gelas kotor. 

Alhasil rumah bersih dan rapi seketika. Tanpa keluhan, mereka nampak semangat mengerjakan pekerjaan rumahtangga. 


Aku membaca ulang beberapa referensi tentang Fastabiqul Khoirot. Fastabiqul Khoirot adalah suatu konsep yang menghendaki segenap umat Islam segera melakukan aksi kebaikan untuk mendapat ridha-Nya. Jika ada orang lain juga melakukan, maka berusahalah untuk melakukan dengan kualtias terbaik (ahsanu ‘amala) dan terus-menerus.

Dalam Tafsir al Qurtuby (6/153) Firman Allah, “Maka berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan”, maksudnya bersegeralah kalian pada keta’atan. Ayat ini menunjukkan bahwa mendahulukan kewajiban lebih utama daripada mengakhirkannya, ulama tidak berbeda dalam hal ini, terutama dalam masalah sholat di awal waktu.

Sementara itu, dalam Tafsir Ibnu Katsir ayat tentang berlomba-lomba dalam kebaikan maksudnya agar kita senantiasa taat kepada syari’at Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai penghapus syariat yang sebelumnya dan membenarkan kitab-Nya, yaitu Al Qur’an yang menjadi akhir kitab yang diturunkan-Nya.

Fastabiqul Khoirot sangat membutuhkan perencanaan, pelaksanaan dan kontroling sehingga waktu tidak ada yang terbuang percuma. Energi tersalurkan pada peningkatan mutu diri secara keseluruhan.

Dengan berlomba-lomba dalam kebaikan, kita akan mendapatkan faedah yang luar biasa, yaitu semua waktu akan menjadi produktif, tidak ada waktu yang terbuang percuma, karena manusia akan sibuk dengan amal kebaikan.

Selain itu, membiasakan diri ber-fastabiqul khoirot akan menyelamatkan diri kita pada kesia-siaan waktu, karena semua dihadapi dengan perencanaan dengan sebaik-baiknya dan amalan yang kita lakukan akan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ ala.

Umat muslim harus menjadikan fastabiqul khoirot menjadi sebuah karakter yang melekat pada diri kita, maka insyaAllah kita akan merasakan hadirnya cinta dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik yang Allah ridhai.

Faedah yang terakhir, kita diselamatkan dari bisikan setan yang merugikan. Pada dasarnya manusia diciptakan dengan fitrah bekerja. Ketika segala apa yang kita kerjakan tidak berdasarkan fitrah yang Allah cipta, maka akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan, karena menyimpang dari yang seharusnya.




Sumber referensi :

https://suaramuslim.net

https://dalamislam.com

https://tarbawiyah.com









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika