Selasa, 18 Juni 2019

BUKAN MILIK KITA



"Bun, beliin jam donk!" Shahia merengek saat kami sedang berjalan-jalan di area pertokoan di pusat Kota Semarang.


"Lula juga!" Adiknya pun menyumbang sebuah rengekan.


Dan yap! Mamak merasa kalah telak saat melirik wajah-wajah memelas itu menunjuk sebuah jam tangan bergambar Hello Kitty berwarna pink, khas anak-anak. 


"Oke deh, tapi jamnya dipakai kalau pas pergi atau sekolah aja ya, Nak. Kalau di rumah, apalagi mandi dan renang, jamnya dilepas. Biar awet, kita jaga apa yang Allah titipkan. Bisa?" Aku berusaha membuat sebuah negoisasi.


"Janji, Bunda!" Mereka serempak menjawab.


Alhasil, di pergelanga keduanya tak lama sudah bertengger jam berwarna pink dengan gambar pilihannya, LOL, aliasa enggak jadi memilih yang Hello Kitty. Mataku pun sekejap menangkap kerling-kerling jam tangan wanita yang nampak mengulik hati. Sejenak aku memandang, kemudian mengambil dan mencobanya. 


"Bunda mau beli juga?" Shahia menangkap mataku yang berbinar saat kulihat jam itu cocok sekali dengan pergelangan tanganku yang berangka besar.


"Belum tahu. Pas kemaren Bunda dapet jam tangan warna item, waktu kita di hotel itu loh, inget gak? Bunda nemuin jam tangan warna item, keren, tapi Kakak gak boleh." Aku sengaja memancing anak sulungku, Aksan yang sedari tadi hanya diam menonton gerak gerik adik-adiknya yang merengek minta dibelikan jam tangan.


"Oh iya Bun, waktu itu kan Bunda bilang nemuin jam di mushola hotel ya Bun. Jamnya bagus." Shahia mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"He em. Bagus kan, gratis lagi. Kan Bunda nemu, jadi ga usah beli," kataku menimpali.


"Tapi Bun, jam itu kan bukan milik Bunda loh. Kata Bunda, kalau bukan milik kita, harus dikembalikan pada yang punya. Ya jadi Kakak gak setuju kalau jam-nya dipakai Bunda. Nanti dosa loh, Bun!" Akhirnya sulungku angkat bicara.




Yess!! Alhamdulillah ...

Allah menghendaki anak-anakku belajar langsung dengan studi kasus di lapangan. Kejadian yang kami alami beberapa hari sebelumnya ternyata membekas bagi mereka. Dan saat ini aku sengaja mengungkitnya untuk menstimulasi kecerdasan spiritual mereka tentang "Konsep Kepemilikan".


Ada nilai penting yang sudah anak-anakku pahami hari ini, masyaAllah. Luarbiasa DIA membuat skenario yang tinggal aku perankan saja. Menemukan sebuah jam tangan wanita yang cantik, kemudian aku sengaja memakainya agar anak-anakku bertanya. Hingga kemudian aku bercerita bahwa jam tersebut aku temukan di mushola. Dan kemudian Aksan dengan tegas memintaku melepasnya, dan membawa ke Resepsionis untuk diinformasikan kepada para tamu hotel lainnya yang mungkin kehilangan jam tangan hitam itu.


Seorang Muslim terlarang untuk menggunakan barang milik orang lain tanpa izin. Jika larangan ini terlanggar, maka sudah termasuk dosa. Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, dalam fikih, barang yang ditemukan di tempat terbuka tanpa diketahui pemiliknya disebut dengan barang luqathah. Syeikh Ahmad bin Umar As Syathiri dalam kitabnya Al Yaqutun Nafis, menjelaskan apa yang dimaksud dengan barang luqathah.

"Menurut syara' (aturan Islam), luqathah adalah barang yang ditemukan berupa hak yang dimuliakan di tempat yang tidak terjaga di mana penemu barang tidak mengetahui orang yang berhak atas barang tersebut."

Jenis luqathah tidak terpaku hanya pada barang berharga seperti uang atau emas perhiasan. Barang yang juga termasuk luqathah bisa berupa buku, tas, apa saja, selama ditemukan di tempat terbuka dan tidak diketahui siapa pemiliknya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa aturan di tanah haram, di antaranya,

وَلاَ تَحِلُّ سَاقِطَتُهَا إِلاَّ لِمُنْشِدٍ

"Tidak halal diambil barang temuannya, kecuali bagi orang yang hendak mengumumkannya." 
(HR. Bukhari 112 & Muslim 3371).




Pendapat yang rajih (mendekati kebenaran) terkait barang temuan, bahwa tidak ada perbedaan antara barang temuan di tanah haram (Mekah) dan selain tanah haram. Karena itu, ketika kita merasa ada orang lain yang lebih memungkinkan untuk mengembalikan barang itu, sebaiknya kita serahkan ke orang lain, dan kita tidak mengambilnya.


MasyaAllah betapa luarbiasa ajaran Islam jika terus menerus dibumikan. Jangankan harga diri, barang yang hilang saja, dalam islam dijaga, agar bisa dikembalikan kepada pemiliknya. Andai semua umat Islam mempraktekkan semua ajaran Rosulullah SAW, negaranya akan menjadi negara yang aman dan damai.



Allahu'alam ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika