Senin, 24 Juni 2019

Membangun Kembali Kejayaan Islam dari Rumah




"Barakallah ya Nak, bukunya sudah mau dicetak loh ... MasyaALLAH Kakak keren!"


"Ohya Bun? Beneran?"

Aku menganggukkan kepala. Aksan nampak berbinar karenanya. Alhamdulillah ... berdesir hatiku ...

"Nak, masih inget gak, kenapa kita harus membaca dan menulis?" tanyaku di sela-sela kegembiraannya.

"Masih dong Bun! Bunda pernah bilang dulu, kalau membaca dan menulis itu adalah perintahnya Allah." 

"Wah, Kakak keren, masih inget aja apa yang pernah Bunda katakan. Kalau inget surat Al Alaq, jadi inget perintah Allah tentang membaca dan menulis kan ya, Nak."

"Iya, Bun."

***

"Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq QS 96 ayat 1-5


***


"Ayat inilah yang pertama kali turun, didengarkan manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW. Turunnya wahyu ini sekaligus mengesahkan pelantikan beliau sebagai Nabi. Dari ayat ini pula, peradaban Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi. Lalu apa sih Nak yang menjadi keistimewaan ayat ini, hingga memberikan dampak besar bagi peradaban dunia?"

"Membaca (iqra`) merupakan proses awal pembelajaran dan pintu ilmu pengetahuan. Pepatah Arab menyebut, “Ta'allam, falaisa al-mar`u yuuladu 'aaliman” (Belajarlah, sebab tidak seorang pun lahir berilmu). Siapa yang banyak membaca, wawasan keilmuannya akan meluas, mendalam, dan bijaksana."

Aksan nampak khusyuk sambil beberapa kali mengganggukkan kepalanya. 

"Jika kita membaca sejarah kejayaan serta puncak keemasan, maka hal yang tidak boleh dan tidak bisa ditinggalkan adalah, adanya peran perpustakaan, serta banyaknya ilmuwan muslim yang suka menulis. Saat kejayaan umat Islam, hampir di penjuru kerajaan dan pusat pemerintahan hingga ke masjid-masjid, semua berlomba-lomba membangun perpustakaan, serta menggerakan umatnya untuk suka membaca dan menulis. Saat itu, pusat ilmu pengetahuan tak hanya disandang Baghdad saja, melainkan hampir semua dinasti-dinasti Islam lainnya berlomba-lomba membangun perpustakaan guna menjadi yang terbaik."

Literasi bagiku adalah bagian dari proyek menstimulai kecerdasan spiritual.

Filsuf Prancis, Roger Garaudy (wafat 2012), dalam bukunya 'Promesses de l'Islam' menyebut keunikan dalam peradaban Islam. keunikan tersebut terletak pada kemampuannya untuk meyerap kebudayaan lainnya kemudian disempurnakan dan akhirnya menghasilkan ragam pengetahuan. Inilah yang seharusnya menjadi dasar bagi kita untuk menyerap kebudayaan yang sudah ada. Untuk kemudian kita telaah lagi, guna memberikan manfaat bagi semesta alam. Inilah konsep rahmatan lil alamin yang sebenarnya.

Karena itulah, penting bagi umat Islam saat ini untuk kembali mengedepankan kekuatan literasi untuk kembali meraih kejayaan yang meredup. Konsistensi mempelajari Alquran dan Hadist merupakan kuncinya. Tabir keilmuan yang dahulu terbuka luas, harus kembali digali lagi. Teknologi yang sudah berkembang saat ini bisa dimanfaatkan untuk mengejar ketertinggalan. Karena Islam memandang penting kedudukan literasi dalam perjuangan di jalan Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika