Jumat, 14 Juni 2019

STIMULASI KECERDASAN SPIRITUAL #2





Masih di proyek menstimulasi Kecerdasan Spiritual untuk pasukan krucilsku, membaca dan belajar dari beberapa literatur adalah sebuah keharusan. Sekali lagi mencerna tentang apa itu kecerdasan spiritual, yang merupakan kemampuan seseorang untuk bisa memahami makna yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat sehingga bisa memiliki fleksibilitas ketika menghadapi persoalan yang ada di dalam masyarakat. Dalam artian, kecerdasan tersebut bisa digunakan untuk menempatkan perilaku serta hidup ke dalam konteks dengan makna yang lebih luas, keceradasan tersebut nantinya akan menilai jika tindakan ataupun jalan hidup dari seseorang akan lebih bermakan dibandingkan dengan yang lainnya. Kecerdasan Spritual (SQ) sebenarnya merupakan landasan yang digunakan untuk memfungsikan Intellegent Quotient (IQ) serta Emotional Quotient (EQ) dengan efektif.


Kecerdasan spiritual perlu distimulasi sejak dini, agar seorang anak dapat memiliki kepekaan batin dan jiwa terhadap diri sendiri maupun orang lain. Di samping itu, dengan mengembangkan kecerdasan spiritual seorang anak akan lebih mampu mengenali dirinya sendiri, seperti kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Dengan demikian anak akan mampu menutupi kekurangan dirinya dengan mengasah kelebihannya secara maksimal agar sukses di masa depan.
Taat kepada agama, hal ini menjadi tolak ukura yang cukup penting. Agama akan mengajarkan manusia agar dapat berbuat kebaikan bahkan kepada sesama. Mengajarkan untuk saling membantu, tidak mencuri, dan lainnya. Jika hal ini diterapkan dalam kegiatan yang ada di masyarakat maka tentunya kita akan dianggap sebagai orang baik di mata masyarakat lainnya.


Beberapa kiat untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual pada anak yang aku baca dari beberapa sumber adalah sebagai berikut :
  • Memancing kreativitas anak untuk bertanya, terutama pertanyaan-pertanyaan yang mendasar seperti pertanyaan mengenai Tuhan, terjadinya alam semesta, tentang keberadaan dirinya, cinta, dan sebagainya. Siapkan jawaban-jawaban yang bijaksana. 
  • Mendengarkan mereka sehingga mereka merasa bebas mengekspresikan perasaan, khayalan dan sudut pandangan mereka, menjadi orangtua yang dapat dipercaya oleh mereka. 
  • Mengajak anak terlibat dalam ritual atau aktivitas keagamaan atau spiritual, serta menjelaskan maknanya. 
  • Jangan pernah bosan dan lelah membimbing mereka, karena semua proses membutuhkan waktu. Dampingi dengan penuh kasih sayang. 

Sebagai ibu tunggal, sudah pasti aku pun memiliki peran utama dalam mendidik ketiga buah hatiku dalam bidang ini. Menanamkan mereka akan pentingnya ibadah adalah sebuah keharusan. Maka, aku mencoba setiap hari makin menggemakan aktivitas ruhiyah (keagamaan), terlebih saat ini mereka masih dalam nuansa liburan.


"Ibadah itu perintah, Nak, bukan pilihan." Aku mencoba memberikan pemahaman kepada ketiga anakku.

"Kalau perintah Allah, kira-kira boleh ga kalau tidak dilakukan?" Aku memberikan brainstorming saat kami sedang santai di rumah.

"Ya enggak lah Bun. Kalau perintah Allah dilanggar nanti dosa dong," si Sulung menjawab dengan mantap.

"Yess! Jadi, solat lima waktu, yang juga ibadah wajib, adalah perintah Allah. Betul kan? Nah, boleh ga kalau gak solat?" tanyaku sengaja memicu pemahaman mereka.

"Gak boleh dong Bun," sahut Shahia, si tengah dengan cepat.

"Nah, oke, berarti solat gak boleh ditinggalin ya. Kalau ditunda-tunda boleh ga?" tanyaku lagi, sambil sesekali memberikan senyum supaya mereka tidak merasa terintimidasi.

"Hmm ... ya gak boleh juga sih harusnya," jawab Aksan sambil mendesah.

"Oke, kalau begitu, sepakat ya, kita gak boleh membuat Allah menunggu. Begitu denger adzan, Kakak langsung ke mesjid, Shahia, Nayura dan Bunda solat di rumah. Sebaik-baik tempat solat bagi wanita adalah di rumahnya, sedangkan untuk laki-laki, Nabi memberi nasehat untuk ke masjid." Aku mulai serius.

"Bagaimana? Kita sepakat?" tanyaku sekali lagi untuk menegaskan ending diskusi kami.

"Sepakaaaaat Buuun," Aksan dan Shahia kompak, Nayura hanya tersenyum dengan wajah lucunya memperhatikan kedua kakaknya berseru kompak. Ketiganya toss dan kemudian tertawa.

"Oke, mulai nanti Magrib, kita lakukan ya. Karena sudah tahu kalau solat itu ibadah wajib, dan perintah dari Allah, dan tidak ada pilihan untuk menundanya, berarti Bunda udah gak lagi ngingetin untuk wudhu dan segera melaksanakan solat loh ya ...."

"Oke Bun!" jawab keduanya nyaris bersamaan.



Alhamdulillah, sekali lagi Allah mudahkan diriku memberikan mereka pemahaman tentang ibadah. Semoga Allah senantiasa memberikan anak-anakku hati yang lembut, sehingga selalu dapat menjemput hidayah Islam dan Iman dalam keistiqomahan. Aamiin Allahumma Aamiin ....

2 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika