Senin, 22 Juli 2019

AJAK ANAK ZIARAH KUBUR, KENAPA TIDAK?






Setiap anak memiliki panca indra yang berkembang seiring stimulasi yang diberikan seorang bunda sejak ia dalam kandungan. Begitu lahir, berbagai rangsangan yang diterima anak semakin mempertajam kelima indra yang ia miliki.

Pada titik tertentu, khususnya saat ia mulai memasuki usia prasekolah atau sekitar 4-5 tahun, anak mulai menunjukkan preferensi pada gaya belajar tertentu: visual, kinestetik, dan auditori. Tanpa kita sadari, anak bisa belajar lebih mudah dengan salah satu gaya belajar tersebut. Maka, sebagai orangtua perlu melakukan pengamatan untuk mengenali gaya belajar anak.

Bagi sebagian anak, indra pendengaran mereka berfungsi lebih optimal dibandingkan indra lainnya. Berbagai macam informasi mereka dengarkan, terima, serap, dan proses secara mendalam. Dari situlah anak belajar banyak hal, terutama dari apa yang ia dengarkan secara saksama.

Untuk anak usia 4-5 tahun, cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenali minat dan memberinya sumber atau materi apa saja yang bisa ia pelajari dengan gaya auditori. Aku terus mengamati mana aktivitas yang lebih disukai Nayura dan kemudian melakukan pendekatan belajar dari cara tersebut.

Anak memang seorang peniru ulung. Setiap saat, mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, dan pikirannya mencerna apa pun yang kita lakukan. Nayura di usianya yang belum genap empat tahun, aku mengamati dia cenderung visual auditori. Nayura mengamati apa yang aku lakukan selama di makam, beberapa saat kemudian dia meniru apa yang aku lakukan, menabur bunga di makam Mbah Kung-nya.

Sebagian orang memandang tradisi ziarah ke makam tidak perlu dilakukan. Menurut pendapat mereka, mendoakan jenazah bisa dilakukan di mana saja, tidak harus ziarah kubur. 

Ada lagi yang memandang tradisi ziarah merupakan perilaku sia-sia, karena mendoakan orangtua seharusnya dilakukan setiap hari tanpa perlu mengunjungi makamnya. Toh mereka yang sudah meninggal tidak akan tahu bahwa anak cucu mereka mengunjunginya di makam. Benarkah demikian? Wallahu'alam.

Tapi, aku memang masih sesekali mengunjungi makam almarhum bapak kandung, bapak dan ibu angkat serta nenek dan kakekku. Di samping untuk mengingat akhirat, ziarah kubur, terutama ziarah ke makam orangtua dan mendoakannya, memiliki nilai dalam Islam. Seperti hadis Rasullah SAW :

"Barangsiapa ziarah ke makam orang tuanya setiap hari Jum'at, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatatnya sebagai bukti baktinya kepada orang tua." (HR Abu Hurairah Ra)

Sedangkan anggapan bahwa ziarah kubur tidak bermanfaat bagi jenazah, dijawab melalui hadis Rasullah SAW : 

''Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu." (HR. Ibnu Abi ad-Dunya dari Aisyah Ra.)



Terdapat manfaat timbal balik dalam melakukan ziarah makam orangtua. Di satu sisi, orangtua yang telah tiada bisa merasakan kebahagiaan dengan hadirnya anak-anak tercinta di makamnya, di sisi lain, anak-anak dapat meneruskan baktinya kepada orangtua hanya dengan melakukan ziarah kubur dan mendoakannya. Itulah alasanku, sesekali berziarah ke makam dengan mengajak serta anak-anak.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika