Minggu, 21 Juli 2019

BELAJAR SEJARAH, MENGALIRKAN NASIONALISME DALAM DARAH

Gaya atau cara belajar ini sangat penting untuk diketahui. Kita akan melihat bahwa tiap orang belajar dan mencoba memahami sesuatu dengan caranya masing-masing.


Masih bicara tentang gaya belajar, kali ini aku mengajak Aksan dan Shahia city tour, mengunjungi beberapa tempat bernilai sejarah. Ada misi khusus sebenarnya kenapa aku membawa mereka ke tempat-tempat bersejarah.


Ada pepatah mengatakan bahwa bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah. Maksudnya, kita sebagai bangsa yang hebat harus mengingat sejarah dan belajar dari apa yang terjadi di masa lalu. Sejarah memang penting untuk diajarkan sedari dini pada anak. Sayangnya, belajar sejarah terkesan menjemukan dan membosankan sehingga banyak yang mengaku enggak suka dengan palajaran sejarah. Padahal, sejarah bermanfaat juga bagi perkembangan karakter anak.


Beberapa alasanku yang menjadikan belajar sejarah penting bagi anak, antara lain :


1. Mengajarkan nilai nasionalisme

Saat belajar sejarah, anak akan mengetahui bagaimana terbentuknya Nusantara hingga Indonesia seperti yang mereka kenal saat ini. Mereka juga akan memahami bagaimana Indonesia terbentuk dari berbagai suku, ras, adat, hingga agama terbentang dari ribuan pulau dan berakhir berdiri tegak dalam satu bendera. Hal positif dari yang mereka pelajari, tumbuhnya jiwa nasionalisme dalam diri mereka seiring dengan semakin mengenalnya mereka tentang nilai sejarah Indonesia.


2. Mencontoh nilai perjuangan pahlawan

Saat mempelajari sejarah, anak juga akan mempelajari bagaimana perjuangan kakek buyut mereka yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Melalui sejarah mereka akan menemukan inspirasi dari pejuangan para pahlawan terdahulu. Bagaimana pahlawan mengorbankan nyawanya untuk berjuang melawan penjajah. Ini juga akan melatih rasa patriotisme anak sehingga lebih cinta dan mau berjuang untuk Negara.


3. Melatih disiplin dan etos kerja yang tinggi

Sejarah adalah tentang menghargai data secuil apa pun yang ditemukan. Bagaimana mengumpulkan fakta dengan serius dan mendetail. Sehingga ini akan melatih rasa displin dan etos kerja anak karena melihat perjuangan di balik itu.


Itulah kenapa, aku kali ini mengajak anak-anak berkunjung ke museum, menceritakan kisah sejarah Indonesia, dan saat di rumah, aku memberi mereka buku untuk dibaca sendiri. Dengan begitu anak-anakku akan lebih mengenal sejarah bangsanya tersendiri. Kalau mereka memang bosan, aku mencoba untuk memberikan permainan asyik dengan tema sejarah. Aku menggunakan alat peraga seperti kostum pahlawan, video, atau set alat peraga sejarah lainnya. 


Aksan dan Shahia menunjukkan ketertarikan saat mengunjungi salah satu taman di pusat kota Semarang. Taman Srigunting yang sudah disulap menjadi lebih cantik, akhir-akhir ini juga menyuguhkan suasana ala kolonial Belanda. Beberapa sosok berdandan ala patung tokoh pejuang Nasional siap diajak selfie, berikut beberapa atribut antik, sepeda becak, dan sebagainya.


Seperti biasa, Aksan yang visual, selalu rapi, teratur dan necis dalam berpakaian. Dalam pengamatanku, saat berjalan-jalan ke beberapa tempat bersejarah itu, Aksan tidak begitu banyak bicara, dan ketika mendapat instruksi, ia akan menunggu adiknya bergerak, barulah ia mengikuti. Sehingga aku menyimpulkan, gaya belajar anak visual adalah dengan memberikannya contoh-contoh nyata tentang materi yang diberikan.


Sedangkan Shahia, hampir tidak pernah dapat berdiam diri. Ia akan menggambar atau memainkan pensilnya saat aku menerangkan sesuatu. Simbol, peta, lambang adalah hal tersulit baginya. Aku pun menyimpulkan untuk Shahia yang kinestetik, alat peraga adalah teman belajar paling tepat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika