Senin, 22 Juli 2019

BERMAIN SERU DENGAN TEMAN BARU





Bermain di sekolah #2. Masih berkutat dengan kegiatan bernyayi dan bermain, Nayura terlihat happy. Meski belum bisa benar-benar ditinggal. Menunggunya bermain, sambil sesekali terlibat dalam permainan yang sedang dia lakukan, aku pun mengamati gaya belajarnya.

Nayura yang belum genap berusia 4 tahun, mungkin memang harus lebih jeli dalam observasi gaya belajarnya. Di kelas yang memang jumlah murid untuk kelas playgroup tidak banyak (hanya 4 anak, red) Nayura tampak happy dan fokus dengan beberapa bentuk puzzle di depannya.

Nayura terlihat tertarik dengan warna, bergerak cepat menyesuaikan puzzle dengan bentuk yang ada di papan. Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah menyelesaikan beberapa papan puzzle.

Bermain dengan teman-teman seusianya di kelas pun menjadi pengamatanku. Nayura memang cenderung introvert, lebih menyukai melakukan hal-hal sendiri, seperti menyusun puzzle, bahkan saat berbaris pun, justru dia meminta aku memotretnya daripada ikut berjingkrak jingkrak melompat sesuai arahan Guru.

Sebenarnya simpel saja, tujuannku memasukkan Nayura ke Playgroup adalah supaya dia memiliki pengalaman bermain dengan teman sebayanya. Menurut psikolog Anna Surti Ariani , yang aku baca dari sumber www.gayahidup.republika.co.id, sebetulnya anak-anak memang butuh orang dewasa dalam pengasuhannya. Orang dewasa yang dibutuhkan adalah orang dewasa yang matang, sayang kepada anak, juga konsisten dalam menjalankan pengasuhan. Jadi bukan orang dewasa yang labil.

Jika rumah dipenuhi dengan orang-orang dewasa seperti ini, maka anak mendapatkan manfaat sebesar-besarnya untuk perkembangannya. Misalnya, anak jadi belajar berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda-beda kepribadiannya. Anak juga dapat mengamati kerja sama atau interaksi yang terjalin di antara orang-orang dewasa.

Namun jika orang-orang dewasa yang ada selalu berganti (misalnya pembantu selalu berganti) atau orang dewasa yang ada adalah mereka yang saling membuat masalah atau terus bertengkar, maka anak justru mengalami kerugian dengan berada di dalam rumah keluarga besar. Contoh kerugian, jika orang dewasa selalu berganti (misalnya pengasuh terus berganti), maka aturan kemungkinan berganti juga. Anak jadi bingung dalam menaati. Padahal tiap berubah aturan, anak perlu fase adaptasi dulu.

Ada beberapa perbedaan keuntungan antara bermain dengan teman lebih tua, sebaya, dan lebih muda. Bermain dengan teman lebih tua, anak akan belajar mengikuti, mengobservasi, memantau, mencontoh dan lain sebagainya. Bermain dengan teman lebih muda, membuat anak akan belajar menjadi pemimpin, mengayomi dan menjaga. Sedangkan bermain dengan teman sebaya menjadikan anak belajar berinteraksi setara.

Berbagai keterampilan sosial seperti berkenalan, berbagi, minta tolong dan saling membantu sangat bisa berkembang pada saat anak bermain dengan teman sebayanya, menurutku. Walaupun demikian, tetap penting bagi anak untuk berinteraksi dengan orang lebih tua ataupun lebih muda karena ada manfaat yang didapatkan anak.

Saat bermain dengan teman-teman sebayanya (playing date) sebetulnya anak bisa dilepas secara alamiah. Aku tidak terlalu khawatir, karena kalau terlalu khawatir, anak justru menangkap kekhawatiran orang tua dan malah tidak bisa bermain secara lepas.

Akan tetapi, sebagai orang tua, tentunya aku juga harus selalu perlu tahu apa yang dilakukan Nayura yang sedang bermain bersama temannya dan di mana mereka melakukan kegiatannya. Aku berupaya agar jangan sampai ternyata Nayura melakukan kegiatan yang berbahaya, saling bertengkar atau saling menyakiti. Aku juga merasa punya tanggung jawab untuk memastikan Nayura bermain di tempat yang tidak berbahaya.

Semakin kecil usia anak, memang semakin perlu pendampingan orang dewasa walaupun bukan menempel pada si anak. Harus tetap sedikit berjarak. Semakin besar usia anak maka pendampingan bisa lebih longgar. Akan tetapi tetap perlu diketahui aktivitasnya oleh orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika