Senin, 22 Juli 2019

KERJASAMA ASIK, KESUKSESAN TER-TARIK



Memiliki anak yang sukses adalah impian setiap orang tua, begitu pun dengan diriku. Peran orang tua dalam hal ini tentu sangat besar. Memang benar, tidak ada cara atau trik pasti mengenai bagaimana cara membesarkan anak menjadi orang sukses. Namun, beberapa penelitian telah mengkaji hal ini dan menemukan beberapa faktor yang mungkin bisa membantu. Mengoptimalkan gaya belajar anak adalah sebuah keharusan. 
Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, secara umum, ada tiga gaya belajar anak, yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinestetik (gerak). Agar anak belajar dengan optimal, sebaiknya menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Lantas, bagaimana mengetahui anak memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik? 
Bersumber dari www.lifestyle.kompas.com, seorang psikolog anak dan remaja di TigaGenerasi, Putu Andita mengatakan, mengenali gaya belajar lebih mudah saat anak mulai memasuki TK. Kalau masih terlalu kecil belum kelihatan bagaimana gaya belajarnya. Saat TK, anak akan mulai lebih banyak interaksi dan eksplorasi, jadi lebih mudah dikenali. 

Putu juga memaparkan, anak yang memiliki gaya visual akan lebih mudah mengerti jika diberikan gambar, video, atau film. Tanda-tandanya, anak juga mudah terganggu jika ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Misalnya lagi belajar di kelas, lalu ada orang lewat. Dia akan terdistraksi (terganggu).

Sementara itu, anak yang memiliki gaya belajar auditori atau pendengaran cenderung mudah terganggu jika ada suara berisik. Sebab, anak dengan gaya belajar auditori lebih mudah menyerap informasi melalui pendengarannya. Anak ini akan lebih mudah memahami sesuatu ketika dibacakan cerita, dibanding ia membacanya sendiri tanpa suara. 

Untuk anak dengan gaya belajar kinestetik, biasanya akan merasa terganggu jika ada yang menyentuhnya. Untuk belajar dengan baik, anak ini tidak bisa hanya duduk manis saja. Saat membaca, anak dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah mengerti jika membaca sambil menunjuk huruf di buku. 

Anak mungkin saja memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi, umumnya ada satu gaya belajar yang lebih menonjol. Untuk mengenali gaya belajar anak, orangtua harus sering menghabiskan waktu dengan anak. Orangtua perlu mengobservasi anak dan lebih peka.

Dari sumber lain,www.simulasikredit.com,  aku mendapatkan informasi mengenai beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan orang tua sejak dini agar anak-anak mereka tumbuh menjadi seseorang yang sukses adalah sebagai berikut :

  • Suka Membaca
Setiap orang sukses memiliki satu persetujuan: membaca. Bill Gates, Warren Buffet, hingga Mark Zuckerberg tidak pernah melewatkan hari mereka tanpa membaca. Menurut survei yang dilakukan terhadap milyuner Amerika Serikat yang berhasil membangun kekayaan mereka sendiri, 63% di setuju dibiasakan membaca oleh orang tua sejak kecil.
Menanamkan kebiasaan membaca anak sejak kecil adalah sebuah keharusan ternyata. Hal ini dapat dimulai dari membaca cerita sebelum tidur untuk menumbuhkan minat mereka dalam membaca. Anak yang suka membaca akan menyukai rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu. Saat mereka dewasa, mereka akan tumbuh menjadi anak yang ingin belajar dan menemukan sesuatu yang baru.

  • Membantu Pekerjaan Rumah
Berangkat dari logistik “Jika anak-anak tidak mencuci piring mereka sendiri, orang lain yang melakukan untuk mereka”, Julie Lythcott-Haims, mantan dekan di Universitas Stanford mengatakan bahwa anak-anak harus menjadi bagian dari hidup untuk mendapatkan sukses. Salah satunya adalah membantu orang tua mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci rumah, hingga mencuci baju mereka sendiri.
Anak-anak yang tumbuh dengan pekerjaan rumah yang dapat diandalkan dengan lebih baik, di lingkungan kerja dan memiliki rasa yang lebih tinggi. Mereka mengerti harga kerja keras untuk menyelesaikan tugas tugas dan masalah mereka sendiri.

  • Melatih Kemampuan Bersosialisasi
Hal yang satu ini sangat penting dalam kehidupan semua orang. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Duke dan Universitas Negeri Pennsylvania membuktikan anak-anak dengan kemampuan sosialisasi memiliki peluang besar untuk meraih keberhasilan.
Anak-anak yang mampu bersosialisasi dengan baik, mampu bekerja sama dengan orang lain, mudah membantu orang lain, memahami perasaan mereka, dan menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan baik. Di usia 25 tahun, anak-anak ini akan menyelesaikan pendidikan mereka dan mendapatkan pekerjaan tetap. Sementara anak-anak yang tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik akan kesulitan memperoleh semua itu.

  • Pemahaman Penting Usaha Lebih Penting Daripada Hasil
Kesuksesan menyukai sesuatu yang bisa diraih dalam sekejap. Karena itu, orang tua harus mendidik anak-anak sejak kecil agar ia bisa meraih sukses di masa depan. Anak-anak akan membutuhkan banyak dukungan dalam penyelesaian, dan disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan.
sebagai orang tua, aku merasa harus memberikan pemahaman kepada anak-anakku tentang usaha dan meminta mereka lebih mementingkan dari apa pun. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin tidak memberikan beban kepada anak. Misalnya, aku mendorong mereka untuk ikut lomba mewarnai, namun tidak menekan mereka untuk menjadi juara. Sekalipun mereka tidak menang, yang terpenting telah membuktikan kelemahan dan usahanya. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi orang yang berusaha dan berusaha, juga tidak akan merasa kecewa dengan kesulitan.

  • Dorongan Untuk Bangkit dari Kegagalan
Orang yang sukses telah mengalami kegagalan sebelumnya. Tidak mudah untuk bangkit dari kegagalan dan memulai lagi, bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Aku berusaha memerikan anak semangat saat ia gagal, dan mendorong ia untuk mencoba lagi. 
Anak yang mengalami kesulitan dan bangkit memiliki peluang yang lebih besar di masa depan. Anak akan mengerti untuk mencapai sesuatu, diperlukan kerja keras dan ia tidak akan bisa mendapatkan dengan mudah.

  • Hubungan yang Sehat dengan Orang Tua
Penelitian yang dilakukan di University of Illinois menemukan sangat penting bagi anak-anak untuk tumbuh dalam keluarga harmonis tanpa konflik. Hubungan yang baik antara orang tua, anak dengan orang tua, dan antar saudara memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.
Masih dalam penelitian yang sama, ditemukan anak-anak yang mendapatkan kasih sayang di tiga tahun pertama kehidupannya adalah mereka yang lahir di bawah kemiskinan. Jika anak-anak memiliki keluarga harmonis, ia bisa meraih prestasi yang baik di usia 30-an.
PR banget buatku, sebagai ibu tunggal, memberikan kasih sayang dan memaikan peran ganda adalah hal yang harus selalu aku upayakan untuk memenuhi tangki cinta mereka.

  • Tahu Pentingnya Sebuah Pendidikan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah aspek terpenting untuk meraih kesuksesan. Anak-anak harus menyadari bahwa berprestasi di bidang tertentu sesuai dengan passion dan talent-nya adalah sebuah keberhasilan. Tidak melulu prestasi secara akademik, tapi lebih utama adalah akhlak dan adab serta pemahaman tentang bakat dan minat masing-masing.

  • Perkenalan dengan Matematika Sedini Mungkin
Matematika membalik menjadi “momok” sulit bagi sebagian besar murid. Mereka yang sangat kesulitan kesulitan matematika dan sulit tersebut di sekolah. Memperkenalkan anak dengan matematika sedini mungkin, bahkan sebelum mereka masuk sekolah formal dengan cara yang asik, sehingga mengurangi kesan "mengerikan" saat mereka mulai duduk di bangku sekolah formal.
Pendidikan matematika ini tidak hanya berguna untuk mengembangkan mereka dalam bidang tersebut. Lebih dari itu, seorang anak yang berkemampuan dengan matematika sejak kecil memiliki kemampuan membaca yang lebih dari anak-anak seusianya.

Tidak ada ramuan yang pasti. Lebih penting bagi orang tua untuk dipahami masing-masing anak istimewa. Mendidik anak menjadi orang sukses adalah proses panjang yang tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu semalam.
Dalam aktivitas yang hari ini aku amati adalah tentang pola kerjasama anak-anakku. Melatih bekerjasama dalam pekerjaan rumah. Aku mengamati Aksan seksama melihat apa saja yang ada di depannya, dia cenderung rapi. Sedangkan Shahia yang kinestetik, dia memilih pekerjaan yang membuatnya lebih leluasa bergerak. Mengisi botol-botol, kemudian mondar-mandir ke almari pendingin adalah hal yang membuatnya nampak semangat. Berbeda dengan Aksan yang lebih fokus dengan apa yang sedang dia lakukan di depan kompor. Dia mengamati betul perubahan warna, dari bahan mentah menjadi matang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika