Minggu, 21 Juli 2019

MENGENAL BUDAYA DAN SENI, SEJAK DINI






Derasnya arus informasi mancanegara yang masuk ke Indonesia telah membawa budaya asing yang memengaruhi perubahan budaya masyarakat. Secara perlahan tetapi pasti, rasa cinta maupun pemahaman terhadap budaya bangsa sendiri mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda. Tergantikan oleh budaya asing yang tidak seluruhnya sesuai dengan norma etika bangsa Indonesia.

Secara perlahan kemajuan ini mampu mengikis kesadaran masyarakat dalam mencintai seni budaya tradisional. Padahal, kesenian tradisional merupakan bagian dari kebudayaan yang menjadi ciri sebuah bangsa dan patut dijaga kelestariannya.

Aku ingat, Jose Rizal Manua, seorang budayawan menjelaskan dalam sebuah artikel online, budaya asing, khususnya dari Barat, berhasil memengaruhi generasi muda Indonesia. Itu terlihat dari kamar pribadi hingga ruang-ruang privasi mereka yang dihinggapi budaya luar negeri. Budaya asing yang serba instan tersebut akhirnya mampu menggantikan budaya tradisional yang seharusnya dipegang teguh para pemuda Indonesia.

Aku berpendapat, untuk membentengi perkembangan budaya luar, pendidikan seni dan budaya sejak usia dini wajib diberikan kepada setiap anak. Hakikat manusia adalah mencerna dan mengingat apa yang mereka kerjakan untuk pertama kali dan terus berulang. Layaknya belajar berdiri dan berbicara bagi seorang balita, pelajar muda baik sejak PAUD maupun sekolah dasar alangkah bagusnya mulai diperkenalkan seni dan budaya negaranya sendiri.

Dengan pembekalan sejak dini, para penerus bangsa ini diharap mampu membentengi diri mereka guna menghidupkan kesenian dan kebudayaan tradisional. Salah satu cara untuk menerapkan seni budaya di tubuh para penerus bangsa yaitu memperbanyak mengenalkan seni dan budaya sejak di lingkungan keluarga. 

Aku mulai mengingatkan anak-anak terhadap sosok wali yang banyak berjasa dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga.

Dalam peranannya menyebarkan dakwah di Jawa, Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang seniman, budayawan, filsuf, dan waliyullah. Dalam menyebarkan dakwah dia sangat luwes dalam memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya Jawa. Hal ini bisa kita lihat ketika Sunan Kalijaga melakukan dakwah melalui wayang kulit. Meskipun tradisi wayang pada mulanya bukan berasal dari Islam, namun Sunan Kalijaga memodifikasinya dengan cerita yang berbau Islam.

Selain berdakwah melalui wayang, Sunan Kalijaga sangatlah kreatif dalam bidang seni dan budaya. Beliau merupakan pencipta lagu ilir-ilir yang sampai sekarang masih kita kenal. Selain menciptakan lagu ilir-ilir, Sunan Kalijaga merupakan pencipta pertama bedug yang digunakan untuk memanggil umat muslim untuk salat. Beliau juga orang pertama kali yang mengadakan grebeg maulid di Demak dalam menyambut kelahiran Rasulullah dan masih banyak lagi seni yang beliau geluti.

Begitu banyak kontribusi Sunan Kalijaga di dalam melakukan penyebaran dakwah Islam di Jawa. Cara dakwah yang beliau lakukan tidaklah menggunakan kekerasan, namun beliau menggunakan cara yang amat lunak untuk mengambil hati masyarakat Jawa pada saat itu. 

Aku menjelaskan kepada Aksan dan Shahia bahwa cara dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga inilah yang seharusnya dicontoh. Beliau berdakwah tidak hanya sebatas di atas mimbar, namun beliau juga berdakwah melalui tradisi, kesenian, maupun budaya. 

Sembari menjabarkan pentingnya belajar seni dan budaya, aku mengamati keduanya. Aksan yang masuk tipe pembelajar visual lebih fokus pada penglihatan. Dia cenderung lebih mudah memahami materi pelajaran dengan cara melihat. Aksan juga sangat peka terhadap warna, garis maupun bentuk.

Karakteristik yang paling kelihatan dari Aksan adalah lebih mudah mengingat informasi dari apa yang dilihat ketimbang didengar.
Anak visual suka tampil menarik karena apa yang dilihat itu memang penting.

Shahia adalah pembelajar yang suka melibatkan gerakan. Dia tidak sekadar melihat wayang atau beberapa benda yang dipajang, tapi juga menggerak-gerakkan tangannya, berusaha menyentuh benda-benda itu.

Dengan menyentuh atau mengoperasikan suatu obyek, anak kinestetik menjadi lebih mudah memahami materi pelajaran. Jika diminta untuk mendengarkan dan membayangkan saja, mereka bisa mengalami kendala belajar.


Memahami gaya belajar anak Anda akan membantu proses pembelajaran jadi lebih optimal.

Berdasarkan penelitian, seseorang yang belajar sesuai dengan gaya belajarnya mampu meningkatkan efektivitas belajar hingga 90%.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika