Senin, 22 Juli 2019

SAAT SEMUA TERLIHAT KECIL


Saat harus menjalankan tugas negara sebagai seorang Asesor, diriku harus menempuh pilihan beberapa malam meninggalkan anak-anak. Memang sebuah konseskuensi yang harus dihadapi. Selama segala sesuatu tetap mengencangkan niat hanya mencari ridho Allah, aku yakin, anak-anak pun akan tetap dalam penjagaan-Nya.

Rezeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari. Begitulah mantra yang selalu aku tancapkan dalam benakku, sebuah kata penuh hikmah dari Ibu Septi Wulandani, founder Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah, kali ini, Allah izinkan aku bekerja sambil "momong".  Dua malam, ketiga krucilsku aku boyong menginap di Harris Hotel, Semarang. Saat sang mamak bekerja, mereka kubiarkan asik bermain di dalam kamar hotel. Kerja jalan, observasi terhadap anak-anak pun tetap jalan. Nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan?

Masih seputar observasi gaya belajar anak, keterbatas media belajar dan tempat yang hanya dalam satu ruang kamar, alhamdulillah, tetap membuahkan sebuah proses belajar baru bagi mereka. Qodarullah, kami menginap di lantai 12, sehingga, dari jendela kamar, anak-anak bisa melihat ke bawah, di mana rumah-rumah dan pemandangan lainnya nampak begitu kecil.

"Melihat dari atas", begitu aku memberi judul pelajaran dua hari ini. Saat anak-anak melihat dari atas, dan semua nampak kecil, aku kembali mengingatkan bahwa Allah berada jauh di atas kita. Dan tentunya, semakin Allah melihat segala sesuatu itu kecil bagi-Nya.



Anak-anak mulai menganggukkan kepala. Aku pun kembali memberikan pemahaman, bahwa melihat ke bawah, akan senantiasa meningkatkan rasa syukur. Seperti yang diajarkan Rosulullah. Rasulullah menasehati para sahabat dan juga kita semua sebagai umat beliau agar melihat orang yang berada di bawah kita dan jangan memandang orang yang berada di atas kita.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang ada di atas kalian..” (HR. Muslim)

Mengapa demikian? Alasannya ada dalam lanjutan hadits tersebut.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang ada di atas kalian karena hal itu lebih layak membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah atas kalian” (HR. Muslim)

Rupanya, ini alasannya. Agar kita tidak mengkufuri nikmat Allah.

Sebab sering kali, orang yang rumah yang lebih megah lalu membadingkan dengan rumahnya, ia merasa rumahnya kecil dan sempit. Padahal Allah telah memberinya rezeki yang banyak hingga bisa beli rumah.

Pun dengan kendaraan. Jika melihat dan iri dengan orang yang lebih baik kendaraannya, kita bisa kehilangan rasa syukur. Yang hanya punya sepeda lihat yang punya motor, yang punya motor lihat yang punya mobil, yang punya mobil lihat yang punya mobil mewah. Dan seterusnya. 

Berbeda jika pandangannya seimbang, atau lebih sering melihat orang yang lebih terbatas sehingga tumbuh rasa syukurnya. “Alhamdulillah punya mobil meskipun mobil bekas, orang lain hanya punya motor.” Yang punya motor pun bersyukur, “Alhamdulillah punya motor, ada orang yang hanya punya sepeda.” Yang punya sepeda pun bersyukur, “Alhamdulillah punya sepeda, ada orang yang ke mana-mana jalan kaki.” Yang jalan kaki juga bersyukur, “Alhamdulillah masih bisa jalan, ada orang yang nggak bisa jalan.” Bahkan yang sedang terluka hingga nggak bisa jalan pun bersyukur, “Alhamdulillah masih hidup, tetanggaku ada yang sudah meninggal.”

“Jika seseorang sering melihat orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah. Namun jika ia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, ini akan membuatnya ridha dan mensyukuri nikmat Allah.”

Aku bercerita juga bahwa Imam Ghazali menjelaskan, syetan akan mengarahkan pandangan manusia agar selalu melihat orang yang berada di atasnya dalam materi. Lalu membisikkan agar ia memburu dunia agar bisa hidup mewah.

Apakah melihat orang yang di atas ini dilarang secara mutlak? Ternyata tidak. Jika melihat seseorang yang kaya namun tidak membuatnya mengkufuri nikmat Allah, namun memotivasinya untuk bekerja keras dalam rangka meningkatkan amal shalih, maka hal itu diperbolehkan.

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kami semua terhindar dari kufur nikmat. Dan Allah menjadikan kami sebagai hamba-Nya yang pandai bersyukur atas nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kami. Inti dari pelajaran yang aku sampaikan ke anak-anak hari ini adalah tentang hikmah tersebut. 



Aksan lebih tertarik dengan langsung melihat objek. Sedangkan Shahia, nampak lebih banyak bergerak, melihat dari berbagai sudut pandang. 

Aku semakin memahami bahwa Aksan cenderung memiliki gaya belajar visual audirory, sedangkan Shahia cenderung kinestetik auditory. 

Semoga pengamatanku terhadap keduanya sesuai dengan kebutuhan mereka terkait gaya belajar  masing-masing. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika