Senin, 22 Juli 2019

SEKOLAH = TAMBAH TEMPAT BERMAIN


Setiap orang punya gaya belajar yang beda-beda, seorang pengajar harusnya memahami gaya belajar masing-masing orang yang diajarnya agar tepat memilih metode belajar, sehingga proses belajar efektif.

Setiap individu yang lahir memiliki caranya sendiri untuk menyerap segala informasi termasuk dalam proses belajar. Nayura-ku, yang mulai masuk playgroup hari ini sejak pagi sudah semangat. Aku selalu mengatakan padanya, bahwa sekolah itu adalah tempat bermain. Ada prosotan, puzzle bahkan boneka dan mainan masak-masakan. 

Hari pertama masuk sekolah, selalu diawali dengan ritual "ditemani orangtua". Tak terkecuali diriku, beberapa jam memenuhi kebutuhan Nayura, menemani hari pertamanya di sekolah. Aku mengamati beberapa gaya belajar anak-anak di sana. Memang benar, tak semua anak bisa menangkap pelajaran dari gambar yang ditampilkan Guru di depan kelas. 

Ada anak yang butuh ngobrol dengan gurunya untuk bisa menangkap hal-hal baru yang sedang dipelajari. Ada pula yang butuh dibacakan keras-keras oleh gurunya atau malah ada beberapa anak yang mengambil kertas dan praktik langsung, meniru gambar yang dipegang Bu Guru.

Nayura, karena dia masih di kelas playgroup, hari itu hanya diisi dengan bermain fisik, seperti bernyayi sambil bergerak-gerak, dia seperti seorang observer, yang hanya diam terpaku, enggan mengikuti adegan-adegan yang diperagakan guru dan teman-temannya.

Jujurly, sesungguhnya aku sempat mengalami sedikit kecemasan, karena Nayura sama sekali terlihat tidak fun. Tapi ternyata itu salah. Aku melihatnya dengan lebih seksama, dia sedang mengamati dan nampaknya dia berusaha mempelajari dengan mengingat nada nyanyian serta gerakan, meskipun dia tidak mengikuti instruksi apapun. Gaya belajar anak memang erat kaitannya dengan jenis kecerdasan yang dominan pada masing-masing anak.

Sebagai orangtua, aku memang perlu mempertimbangkan proses stimulasi, pola asuh orangtua, dan kecerdasan emosi Nayura untuk melakukan observasi terhadap kondisinya. Idealnya, orangtua juga melakukan pemetaan perkembangan atau identifikasi kecerdasan majemuk anaknya terlebih dulu, untuk mengetahui kecerdasan apa saja yang sudah berkembang dan menonjol dalam diri anak, dan kecerdasan apa yang belum berkembang dan masih perlu diasah lagi agar lebih optimal. 

Observasi  dapat dilakukan dengan mengamati perilaku keseharian anak, termasuk lewat minat dan aktivitas kegemaran anak. Proses stimulasi perlu diberikan orangtua sedini mungkin, sehingga setiap kecerdasan dapat tampil optimal. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar efektif pemberian stimulasi antara lain adalah gaya belajar. Bisa dengan medium visual (melalui indera penglihatan), auditori (melalui indera pendengaran) dan atau kinestetik (melalui indera peraba). 

Agar stimulasi diterima secara optimal, ada baiknya orangtua menyesuaikan metode dan gaya belajar yang digunakan, dengan gaya belajar anak. Bermain merupakan salah satu bentuk stimulasi positif kecerdasan majemuk. Dan aku menanamkan mindset bahwa sekolah adalah sebagai tempat bermain.  

Anak-anak seusia Nayura (kurang dari 5 tahun), memang cenderung tinggi auditorynya. Nampak betul dari apa yang aku lihat pada Nayura hari itu. 

Nayura mudah mengingat apa yang dia dengar. Dia menceritakan kembali padaku sepulang sekolah. Meski nampak anteng dan pasif di sekolah, tapi ternyata Nayura bisa bercerita dengan bahasa sederhana tentang apa saja yang dia lakukan di sekolah bersama Guru dan teman-teman barunya. Dia menyanyikan beberapa lagu yang diajarkan di sekolah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika