Minggu, 25 Agustus 2019

DARI TUGAS KELAS, HINGGA JADI AKTIVITAS

Agustus 25, 2019 0 Comments



Beberapa level enggak setor aliran rasa (jujur banget!!), bukan karena tidak merasakan apapun, tapi justru karena terlalu fantastis rasanya hingga tak mampu berkata-kata.

Di sela-sela aktivitas offline yang makin merajalela, dan secara otomatis mengurangi jam online, aku harus tetap berpaua berpacu dengan semua list agenda.

Sudah jadi prinsipku, saat menceburkan diri ke dalam kelas tertentu, maka aku enggak boleh setengah-setengah, kudu total! Meskipun aku menyadari bahwa upayaku tetap saja belum terlalu optimal. Sehingga tentu saja, hasilnya pun kurang maksimal.

Belum pernah menggondol badge "prestasti", namun aku tetap bangga pada diriku sendiri, setiap kali Allah mampukan menyelesaikan tantangan 10 hari! Aku menang! Aku menaklkukkan tantangan 10 hari kelas bunda sayang dengan perjuangan yang luarbiasa (menurutku siiih ...)

Masih harus ngajar kelas offline, tugas negara sebagai asesor ke beberapa kota, hingga pecutan tanggung jawab domestik yang masih banyak kukerjakan sendiri. Alhamdulillah delegasi tugas ke anak-anak sudah berjalan seperti sistem manajemen rumah tangga. 

Aku sudah tidak pernah lagi pegang sapu, pel, merapikan tempat tidur, melipat baju-baju yang sudah aku cuci hingga memasukkannya ke dalam almari. Aksan dan Shahia sudah membagi tugas untuk mengambil alih beberapa pekerjaan domestik itu. MasyaAllah ....

Mulai dengan komunikasi produktif, melatih kemandirian anak, menstimlasi kecerdasan anak, mengobservasi gaya belajar anak hingga pada titik menstimulasi minat membaca anak, merupakan level tantangan yang menjadi bagian dari konsekuensi kelas, namun pada akhirnya menjadi aktivitas harian. MasyaAllah ... 

Di level #5 ini, diriku pun berpacu dengan segala aktivitas yang mulai memadat. Semua Allah gariskan dan telah DIA izinkan aku masuk kelas bunda sayang batch ini, tepat pada saat kegiatan offline dan online saling sikut-sikutan!

Rencana Allah memang luarbiasa hebat. Di level #5 ini pula diriku menjadi bagian dari KIP 2019 (Konferensi Ibu Profesional), menjadi LO salah satu nara sumber pula di event bergengsi tersebut. Sebut saja Mata Aksara, pelopor inisiator literasi di kawasan jalan Kaliurang Jogjakarta ini mampu membuatku berkali-kali makin jatuh hati dengan dunia literasi.

Sungguh, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan, jika Allah begitu banyak memberikan kemudahan berupa rezeki silaturahmi dengan orang-orang yang DIA hebatkan!

Mendapatkan oleh-oleh satu paket buku dari Pak Adi dan Bu Heni, founder Mata Aksara, makin membuatku menggebu untuk menggeliatkan literasi di Semarang khususnya, dan semakin menebarkan manfaat lebih meluas lagi. Semoga Allah ijabah. Aamiin ...

Menstimulasi anak untuk membaca, meskipun dalam keseharian mereka sudah nampak akrab dengan buku, tetap saja membutuhkan kegigihan extra. Akan tetapi, aku yakin, anak-anakku menjadi lebih terpacu kini untuk berkreasi lebih banyak dalam literasi. 

Membaca lebih banyak buku akan semakin meluaskan dunia mereka, mempertajam pola pikirnya, memperkuat mental dan memperkokoh karakternya. Semoga Allah selalu istiqomahkan ketiga buah hatiku untuk terus membaca, membaca ayat-ayat-Nya yang tersurat maupun tersirat.




#SalamLiterasi

KONFERENSI IBU PROFESIONAL 2019, BAGIAN SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN!

Agustus 25, 2019 0 Comments

Aku masih gagal move on dari hingar bingar KIP 2019. Masih tetap merinding setiap kali mengingat semua moment itu. 3 hari 2 malam yang mampu membuatku terus tercengang. Takjub, bangga, haru, menjadi lebih banyak bermuhasabah, hingga merasa ledakan semangat menyeruak dari dalam kalbu! "Dare to make a big dream!" Kalimat sakti itu terus mencuat di benak dan memenuhi otakku untuk merangkai impian-impian di masa depan.

Menjadi panitia KIP 2019, membuatku banyak belajar tentang kekompakan team. Menangis haru bersama mereka, karena syukur tak terkira. Allah lancarkan semua acara. Alhamdulillah ....

Sungguh nikmat yang tak ternilai menjadi bagian dari konferensi, menimba ilmu dari para ahli. Jajaran wanita hebat yang menjadi nara sumber, Ibu Septi, Ibu Sumitra, Ibu Noor Lisnani, Mbak Made, Ibu Tri Mumpuni, Mbak Elsy, Mbak Uswah, Mbak Efi, Mbak Indah Laras, Mbak Puspa, Mbak Restu, Mbak Puri, Mbak   serta 3 bapak yang tak kalah memukau, Ustaz Yazid, Pak Adi dan Pak Dodik.






Hari kedua, mewakili KLIK IP  Semarang bersama Mbak Marita juga menjadi bagian yang mendebarkan. 

Banyaknya apresiasi terhadap KLIK, bahkan beberapa secara personal menyampaikan ketertarikan dan ingin melakukan hal yang sama di regionalnya membuatku trenyuh.


Datang ke KIP atas izin dan ridho-Nya, bukan hanya menjadi bagian dari "saksi sejarah", namun juga menjadi bagian dari "pelaku deklarasi" konferensi membuatku benar-benar bersyukur. 



Allah pertemukan dengan orang-orang hebat, maka aku yakin, Allah sesungguhnya ingin supaya aku menjadi lebih bermanfaat seperti mereka


.





Tak ingin meninggalkan Jogja tanpa jejak. Sebelum kembali ke Semarang, aku dan beberapa teman mampir ke Mata Aksara, salah satu nara sumber KIP. Pak Nuradi dan Bu Heni menyambut dengan hangat. Bincang santai di Taman Baca Mata Aksara, ngulik aktivitas apa saja yang diadakan di sana, lebih intim dengan pasangan inspiring ini menguras informasi tentang literasi.

Takjubku benar-benar tidak terkendali. Keduanya bercerita tentang segala perjalanan hingga berada di titik ini. Keduanya mewakafkan waktunya untuk dunia literasi. MasyaAllah ....
Barakallahu Pak Adi dan Bu Heni sekeluarga, batinku tak lepas dari doa untuk keduanya.



Segalanya tentang KIP tak mampu terlukiskan hanya dengan kata-kata. Bahkan pemilihan diksi indah pun tak mampu menggambarkan segala perasaan syukur yang tertumpah ruah saat aku mengingat kembali, betapa HTM untuk acara ini "SANGAAAATT MUUURAAAAHHH!!"

Konferensi Ibu Profesional merupakan inisiator serta inspirator! Deklarasi yang dibacakan secara langsung oleh Ibu Septi, founder Ibu Profesional meluluh lantakkan jiwa, membakar gelora semangat baru. 

Dua tahun lagi, jadilah saksi sejarah temans!!
Karena dua tahun lagi, Konferensi Perempuan Indonesia akan kembali diselenggerakan, bukan lagi oleh kami, panitia KIP 2019, akan tetapi kalianlah yang akan menjadi bagian menjadi tim sukses penyelenggaraan Konferensi Perempuan Indonesia 2021!!!


#SalamPerubahan












Sabtu, 24 Agustus 2019

KONFERENSI IBU PROFESIONAL 2019, TOREHKAN SEJARAH PERUBAHAN!

Agustus 24, 2019 0 Comments


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rinduMasih seperti dulu ... Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa maknaTerhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktuNikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti, Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berseleraOrang duduk bersilaMusisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmuMerintih sendiri ... di telan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembaliNamun kotamu hadirkan senyummu abadiIjinkanlah aku untuk slalu pulang lagiBila hati mulai sepi tanpa terobati (tak terobati)




Lirik lagu sendu Kla-Project sayup-sayup menggelayuti batinku. Hari itu, aku kembali ke Jogja, ya ... tanggal 16 Agustus 2019 aku kembali menginjakkan kakiku di Kota Gudeg setelah sekian tahun tak pernah menilik kota ini.

Pikiranku melayang-layang belasan tahun silam, romantisme masa-masa kuliah membuatku tersenyum sendiri. Sama seperti hari ini, aku kembali ke Jogja untuk "belajar". Namun bukan di bangku perkuliahan, tapi belajar dari para "Change Maker" dalam Konferensi Ibu Profesional.

Menjadi panitia yang kami sebut diri kami genk "Timses Konferensi" membuatku gugup, sekaligus bersyukur. Bagaimana tidak? Ini adalah perhelatan pertama yang diselenggerakan komunitas kami, Ibu Profesional.

Memasuki Sahid Hotel, dadaku berdesir!
Bagaimana tidak? Kegugupanku semakin menjadi, karena pada akhirnya, kami, genk panitia ini terkumpul menjadi satu frame! Sejak beberapa bulan yang lalu, persiapan event besar ini, kami koordinasikan hanya lewat komunikasi online.







Aaah, mataku langsung terpaku pada ucapan selamat datang. Aku benar-benar di sini gaes!!! Aku akan menjadi saksi Konferensi Ibu Profesional dan ikut menorehkan sejarah bagi kaum perempuan!!

Desiran batinku semakin membuncah, tatkala aku melihat beberapa bentuk wajah berdandan totalitas ala "Inem Jogja", sosok wanita yang akan menjadi nara sumber hari ini. Tidak berfoto dengan teman-teman panitia saat wajahnya mengenakan make up maksimal, akan rugi berat pokoknya!!



Lalu mataku tertuju pada panggung yang begitu artistik, Njawani Banget! 


Aku makin gemetar saat aku mulai membayangkan akan berdiri di atas panggung, membacakan doa pembuka ples di hari kedua, diriku diberi amanah bersama mbak Marita menjadi Jubir KLIK IP Semarang yang menjadi salah satu pemenang CFP.

Hari pertama KIP, kami sudah diracuni virus-virus positif dari nara sumber. Dibuka dengan tarian bersama INEM Jogja, dilanjutkan dengan acara pembukaan, termasuk menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza yang sukses membuatku meleleh! (Nyanyi Indonesia Raya sambil mbrebes mili!).

Setelah hingar  bingar pembukaan, nara sumber pertama yang sudah muncul di awal mengajak menari semua peserta kini duduk di atas panggung. Talkshow bersama INEM Jogja, yang bernama asli Made Dyah Agustina. 

Bliau bercerita mulai dari alasan kenapa "Inem", kenapa berdandan clemang clemong dan sebagainya. Lagi-lagi, sukses membuatku makin bergidik. Satu pesan yang aku simpulkan dari mbak Made :

Jadilah diri sendiri, lakukan apa yang ingin dilakukan. Jangan pernah ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, selama itu bermanfaat. Jika kita niatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Tidak perlu menjadi seperti Inem yang edan dan tidak waras, jadilah versi terbaik diri sendiri masing-masing. 


Bukan hanya materi pembuka dari Inem, nara sumber berikutnya di hari pertama cukup mampu membuatku terus melek, bahkan "ngowoh" (melongo). Dia lah Ibu Sumitra Pasupahaty, dari Singapura. Bu Sumi mewakili  Ashoka Foundation. 


Beberapa game dari Bu Sumi, cukup membuat kami berpikir keras untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk dirimu sendiri?
2. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk orang lain? 
3. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk diri sendiri dan orang lain saat remaja?
Bu Sumi berbagi kisah perjalanannya hingga kemudian bertemu Ashoka. Bagaimana dia awalnya membuat perubahan kecil yang pada awalnya hanya berniat memberikan "wadah bermain" bagi anak-anak di Singapura yang mulai kesulitan untuk bermain bersama.
Bu Sumi ternyata tidak hadir sendirian. Selain ditemani Ara Kusuma, putri kedua Ibu Septi Peni-Pak Dodik, yang juga menjadi bagian dari Ashoka. Bu Sumi ternyata juga membawa young fellow lainnya, yaitu Lita dan Rere.
Lita dengan program kelas melukis dan bermain bersama, kemudian dia juga menjadi motivator bagi rekan-rekannya atau pun anak-anak yang lebih mudah dibanding dirinya. Lita selalu mengobarkan semangat kepada mereka untuk "berani bermimpi!"
Sedangkan Rere, gadis asal Magelang ini adalah dengan mendirikan Rumah Baca Mc Ganz, yang memiliki arti Allah bersama kita. Di rumah bacanya, Rere memberikan pelatihan menulis gratis hingga menghasilkan karya.
Aku seperti ditampar .... Usia 15 tahun, aku ngapain? Aku kemana aja?
Aah ... MasyaAllah ... cipratan semangat untuk menjadi bunda yang membersamai generasi perubahan spontan meletup di dadaku! Anak-anakku harus berani bermimpi dan harus berani beraksi mewujudkan impian tersebut!




Belum menginjak hari kedua, aku sudah lemes saking terpesona dengan aroma luarbiasa para nara sumber!!!
Racun-racun pembawa perubahan itu terus menyusup ke relung jiwaku. 

"Aku pun harus bisa membuat perubahan!! Minimal perubahan dari dalam dirku sendiri, keluarga kecilku!"



 #CatatanHariPertama




Jumat, 23 Agustus 2019

30 MENIT PER HARI, BERI DIRI SENDIRI AMUNISI

Agustus 23, 2019 0 Comments




"Lagi baca buku apa, Nak?"

"Ini loh Bun, Shahia lagi baca tentang anggota tubuh."

"Coba dong cerita, isinya tentang apa aja?"

"Ada panca indera nih, Bun. Ada nama bunda juga nih, AKU SI INDERA PENGECAP. Ini lidah kan ya, Bun?"

"Iya, sayang. Itu kan ada gambarnya. Hayo dibaca, fungsi lidah untuk apa saja coba?"

Shahia menundukkan pandangannya, fokus pada buku yang ada di hadapannya. Lalu dia mulai membaca dengan keras.



Selain berfungsi sebagai pengecap, lidah juga memiliki beberapa fungsi utama, antara lain membantu kita berkomunikasi, mengunyah, dan menelan makanan. Secara umum, lidah bisa mengecap empat rasa utama, yaitu manis, asam, pahit dan asin.
Untuk menjalankan fungsinya, lidah dibantu oleh sejumlah otot dan saraf yang langsung terhubung ke otak. Keberadaan otot-otot inilah yang membuat lidah bisa bergerak bebas ke segala arah di dalam rongga mulut.


"MasyaAllah, fungsi lidah luarbiasa ya, Nak. Allah Mahakeren ya ... Dia ciptain lidah dan anggota tubuh lainnya yang punya fungsi luarbiasa."

"Iya, Bun. Ini ada mata juga, indera penglihatan. Shahia baca lagi ya ..."

"Oke!"





Mata merupakan salah satu organ tubuh yang paling penting. Kita dapat melihat hijaunya sawah, kemacetan di jalan, dan rintik hujan di jendela karena mata kita berfungsi dengan baik.
Bila ditanya, pasti sebagian besar orang menjawab bahwa fungsi mata adalah alat untuk melihat. Namun, fungsi mata tidak hanya melihat gambar atau pemandangan saja. Fungsinya sangat amat banyak, hanya saja tidak terpikirkan oleh kita.
Selain melihat, ada beberapa kegunaan mata kita: menilai penampilan dan kepribadian seseorang, mengekspresikan emosi yang kita rasakan, mensyukuri keindahan, mengawasi segala hal yang mungkin membahayakan kita, mempelajari berbagai hal dan menjadi identitas diri seseorang.


"Pinter deh anak bunda, sekarang membacanya juga sudah lancar ya, Alhamdulillah ...."

"Shahia boleh lanjutin besok ya Bun?"

"Oke, Nak!"


***


Bagiku, membiasakan anak-anak membaca setiap hari minimal 30 menit membutuhkan effort yang luarbiasa. Meskipun emaknya dikenal sebagai penulis, yang tentunya punya amunisi tumpukan bacaan, bukan berarti dengan mudah anak-anak menuruni kegemaran membaca. 

Membiasakan mereka berinteraksi dengan buku setiap hari, merupakan misi panjang, hingga akhirnya akan tumbuh dalam dirinya mindset "Membaca adalah sebuah kebutuhan".






#SalamLiterasi







MEMBACA BUKU ISLAMI, PAHALA BERKALI-KALI

Agustus 23, 2019 0 Comments



Membaca merupakan salah satu aktivitas kegiatan transfer of knowledge yang sangat penting. Melalui kegiatan membaca seseorang dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan. Beberapa tokoh seperti BJ Habibie, Gus Dur, Gus Mus mengajarkan pentingnya membaca. Greg Barton, seorang penulis buku berjudul Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan cintanya Gus Dur terhadap buku. 

Aktivitas membaca buku untuk menambah wawasan dengan ilmu yang bermanfaat tentu merupakan aktivitas bernilai ibadah, terutama membaca susuatu yang mengajak kepada amal saleh dan beribadah kepada Allah SWT.

Sudah sangat jelas termaktub dalam Q.S. Al-Alaq Ayat 1-5 di mana di dalamnya terdapat sebuah penekananakan pentingnya membaca. Iqra’ yang dalam Bahasa Indonesia berarti membaca merupakan syari’at pertama yang diperintahkan oleh Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Melalui membaca seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Bukan tanpa alasan agama mensyariatkan pemeluknya untuk membaca. Membaca memiliki manfaat yang begitu besar, diantaranya adalah karena dengan mambaca akan menjernihkan pikiran seseorang.

Ayat Al-Qur'an yang pertama turun berisi perintah membaca ,bukan perintah yang lainnya. Karena tanpa kemampuan membaca, seseorang individu tidak akan bisa memahami apa pun yang sedang dan akan dikerjakannya. Oleh sebab itu Islam sejak dini sudah mendeklarasikan perang terhadap buta huruf,yang ditegaskan pula dalam Al-Qur'an bahwa janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tidak engakau ketahuinya terlebih dahulu, seperti halnya engkau dilarang mengatakan apa-apa yang engkau tidak memahaminya apalagi mengikutinya.

Jadi sekiranya kebanyak orang Islam malas membaca tentu saja berdosa, karena membaca merupakan intruksi Allah yang pertama sekali sebelum yang lainnya sebagai bukti betapa pentinganya membaca tersebut. Semua orang Islam mengetahuinya, bahwa seseorang yang shalat tidak memahami apa bacaaan dalam shalatnya itu boleh jadi shalatnya kurang kualitasnya.

Dalam konteks ini pula, bagi umat Islam dianjurkan supaya mencari ilmu pengetahuan sejak dari ayunan sampai liang lahat. Ataupun suatu anjuran yang sangat dikenal oleh orang muslim, bahwa sekiranya engkau ingin bahagia di dunia maka carilah ilmu, dan jika engkau ingin sejahtera di akhirat juga dengan mencari ilmu, dan jika ingin bahagia dunia akhirat maka carilah ilmu. 

Kewajiban mencari ilmu pengetahuan bagi umat Islam itu terjadi silang pendapat para ilmuwan muslim, ada yang mengatakan kewajiban mencari ilmu pengetahuan bagi muslim itu wajib bagi setiap muslim (fardhu a'in) dan ada pula yang menyebutkan kewajiban itu cukup dilakukan oleh salah seorang saja (fardhu kifayah). Namun dalam konteks mencari ilmu pengetahuan tersebut tidak ada para ilmuwan muslim yang menyebutkan sebaliknya, yang membuktikan bahwa membaca sangat penting dan strategis bagi kemajuan muslim. 

Sebagai ilutrasi tentang pentingnya bagi umat Islam untuk mencari ilmu pengetahuan itu, Al-Qur'an menegaskan dalam salah satu ayatnya sebagai berikut: Dan janganlah kamu semuanya ikut ke medan tempur untuk maju mempertahankan diri dari invasi musuh, tetapi hendaklah diantara kamu terdapat salah seorang yang mencari ilmu pengetahuan agar ke depan ia bisa memberi pembelajaran bagi masyarakatnya. 

Selanjutnya Rasulullah SAW dalam berbagai peperangan untuk mempertahankan diri dari invasi musuh, senantiasa beliau bebaskan tawanan perang dengan imbalan tawanan tersebut bisa membaca dan mengajarkan ilmu pengetahuannya kepada seluruh perajurit perajurit muslim, sehingga mereka yang sebelumnya tidak bisa membaca menjadi seorang perajurit yang pintar membaca sebagai modal utama untuk mencari ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini sekiranya sekarang umat Islam dianggap identik dengan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan, maka sesungguhnya hal itu karena kesalahan mereka sendiri yang malas belajar dan mencari ilmu pengetahuan.

Islam sejak dini sudah mengintruksikansupaya selalu membaca serta mencari ilmu-ilmu pengetahuan meskipun dalam kondisonal darurat perang sekalipun. 

Bagaimana bisa memiliki anak yang shaleh yang selalu mendoakan kepada orang tuanya,sekiranya tidak bisa membaca? Juga bagaimana bisa menjadi orang yang berguna bagi masyarakat jika tidak berilmu pengetahuan? Karena sebaik-baik manusia menurut Al-Qur'an adalah yang paling berguna bagi manusia lainnya.

Rasulullah menghendaki umatnya itu kuat dalam berbagai aspek sosialnya, aspek politik, ekonomi, sosial budaya supaya tidak tergilas oleh pihak-pihak lain yang tidak menghendaki kebebasan yang terukur sesuai ukuran ridha Allah. Jika tidak berilmu pengetahuan, maka apa yang disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW 15 abad lalu, bahwa umat Islam itu laksana buih di ombang-ambing oleh ombak laut yang bergelora, ataupun seperti hidangan makanan di depan orang-orang lapar dan rakus. Sekarang kelihatannya hal yang disinyalir Rasul sudah terjadi, meskipun umat Islam sekarang banyak namun tidak berdaya karena tidak menguasai ilmu pengetahuan.

***

Pilihan Shahia, buku berjudul Sholat ini membuatku berkali-kali bersyukur. Dia bukan hanya mendapatkan pahala membaca, akan tetapi dia juga insyaAllah mendapatkan pahala memahami bacaan sholat. Harapan dan doaku, semoga Shahia terus istiqomah mendirikan sholat.




#SalamLiterasi

INSPIRASI TERLAHIR DARI BUKU

Agustus 23, 2019 0 Comments





Mencintai buku bisa meraih apapun yang diinginkan. Itulah salah satu kalimat motivasi yang aku dengungkan ke telinga ketiga anakku. 

Alhamdulillah, meski tak bisa aku bilang "sukses" menyebarkan virus baca dan menulis kepada buah hatiku sendiri, tapi paling tidak, kini keintiman mereka dengan buku semakin erat dan mesra.

"Oke kak, sekarang saatnya kakak bercerita tentang isi buku 55 Tokoh Dunia." 

"Tapi Bun, boleh gak kalau pilih satu tokoh aja?"

"Boleh deh. Kakak mau pilih siapa?"

"Tulisan Bunda aja, tentang Benyamin Franklin."

"Hmm... oke deh, silakan."

"Benyamin Franklin adalah penemu penangkal petir, kacamata, odometer (pengukur jarak tempuh pada kendaraan) dan peralatan musik. Dia juga dikenal sebagai salah seorang Bapak Pendiri (Founding Father) dari negara Amerika Serikat. 

Benjamin pertama kali yang menemukan prinsip aliran listrik dan juga memberi tanda positif dan negatif untuk listrik. Dia kemudian melakukan percobaan yang membuktikan bahwa petir sebenarnya juga adalah listrik, dengan menerbangkan sebuah layang-layang pada saat badai. 

Percobaan terhadap listrik yang dilakukan oleh Benjamin, mengarahkan dia ke penemuannya, yaitu penangkal petir. Dia menulis bahwa konduktor (penghantar listrik) dengan ujung yang tajam memiliki kemampuan untuk menarik muatan listrik dan memiliki jangkauan penarikan yang lebih jauh dibandingkan dengan konduktor dengan ujung yang tumpul. 

Dia menyimpulkan bahwa pengetahuan akan hal ini ini bisa digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya tersambar petir, dengan memasang sebatang besi runcing seruncing jarum dan diberi lapisan anti karat, yang diarahkan ke langit, dan pada kaki besi, diikatkan dengan kabel yang menuju ke tanah. Penangkal petir ini akan menarik muatan listrik yang ada pada awan menuju ke tanah sehingga muatan yang ada pada awan tidak cukup untuk menimbulkan petir dan kilat."

Sumber gambar : http://www.ceritakecil.com


"MasyaAllah keren ya Kak."

"Iya, Bun. Kakak jadi kepengen jadi penemu apa gitu, Bun."

"Hmm ... ciptakan apa yang belum ada, yang jadi bidang kesukaan Kakak. Akan tetapi, inget, semua harus bermanfaat, dan terutama bisa membuat oranglain lebih taat. Bunda ada ide nih, Kakak kan suka nge-game. Ciptain aja tuh, game Islami gitu, perang Badar misalnya, lalu di game itu setiap waktu solat, ada suara azan. Dan kalau udah terdengar suara azan, secara otomatis game-nya akan sleep selama 30 menit. Jadi mau gak mau, si pemain game tadi kalau muslim, langsung wudhu dan solat."

"Wah, iya ya Bun. Ide Bunda keren deh ..."

"Siapa duluu doooonk ... Bunda Hessa ...."




Alhamduilllah, meski singkat, Aksan sudah mampu menceritakan apa yang dia baca. Karena sesungguhnya membaca bukan sekadar mengeja aksara, tetapi mendapatkan hikmah dari tulisan yang kita baca. 

#SalamLiterasi



Bentuk Karakter Anak dengan Minat Baca

Agustus 23, 2019 0 Comments


Pada saat ini masalah yang sering membuat orangtua khawatir adalah ketika anaknya menjadi seorang anak yang memiliki moral kurang baik. Apalagi ketika melihat berita tentang kenakalan remaja yang semakin menjadi, membuat para orangtua semakin cemas akan bahaya pergaulan saat ini, termasuk aku.

Namun, aku berusaha menepis kekhawatiran ini cara mengajarkan kepada anak-anak sejak usia dini untuk berperilaku yang baik di lingkungan sosial. Aku yakin, apa yang kita tanamkan kepada anak sejak masih berusia dini akan selalu melekat dalam benak sang anak hingga ia dewasa.

Tentu saja, jika kita ingin membangun karakter anak dengan baik sedari kecil, kita harus mengajarkan hal yang baik padanya. Namun, bagaimana caranya? Ternyata beberapa ahli menyatakan bahwa salah satu caranya adalah dengan menghadirkan minat baca pada anak. 


Lalu, apakah menghadirkan minat baca pada anak akan langsung berdampak baik pada pembangunan karakter anak kita?

Jawaban para ahli adalah YA, saat kita memberikan bahan bacaan yang baik pada anak sejak dini akan membantu buah hati kita dalam membangun karakter pribadinya. Ada baiknya saat membaca buku tersebut, kita juga mendampinginya sehingga kita bisa menjelaskan kepadanya tentang berbagai macam hal baik secara langsung kepadanya.


***

Banyak Tahu dengan Membaca


Di zaman sekarang ini semua orang dituntut untuk lebih dapat kreatif dan peka terhadap informasi. Maka dari itu siapa saja yang memiliki wawasan yang luas pastilah memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang karyawan yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan.

Nilai yang didapat dari sekolah atau perguruan tinggi tidak semata-mata akan membuktikan kemampuan seseorang. Orang yang wawasannya luas tentunya akan lebih mudah berkembang dalam berbagai hal, termasuk pekerjaan.

Tahukah temans manfaat memiliki minat baca sebenarnya amatlah besar, sayangnya masih banyak orang-orang yang merasa malas untuk melakukan kegiatan membaca karena berbagai macam alasan. Padahal jika kita lihat kembali, dengan minat baca bisa membimbing kita menjadi orang sukses yang siap menghadapi masa depan.

Ketika kita banyak membaca, maka kita akan lebih banyak tahu dan ketika sudah lebih banyak tahu maka kita akan semakin mudah bergaul. Mengapa demikian? Karena dengan banyak memiliki wawasan, kita akan lebih mudah berbaur dengan siapa saja, dan kita memiliki bahan pembicaraan yang banyak dengan orang-orang.

Begitu pula dalam pekerjaan pun, kita bisa lebih mudah berkembang karena wawasan tersebut membuat kita makin kreatif dan makin mudah dalam memecahkan berbagai macam masalah. Maka dari itulah dikatakan bahwa manfaat Minat baca itu memiliki dampak yang besar dalam kehidupan sehari-hari. 

Dan dari berbagai alasan itulah, aku sempat mengajak Aksan berkontribusi dalam antologi duet Ananda-Bunda dengan tema berbuat baik. Aksan menulis tentang pantang menyerah. Setelah selesai dengan beberapa buku pilihannya beberapa hari sebelumnya, kini Aksan memilih buku ketiganya bertajuk "Pecahkan Telurnya" untuk dia baca. 

Dan sekali lagi, apresiasi diberikan kepada editor atas naskahnya. Naskah Aksan terpampang paling depan, masyaAllah. Barakallah, Nak. Semoga tulisan-tulisanmu menginspirasi banyak orang. Aamiin ...




#SalamLiterasi


LITERASI LINGKUNGAN, SADARKAN PERAN ANAK DI BUMI

Agustus 23, 2019 0 Comments



Shahia masih meneruskan buku komik yang membahas tentang lingkungan. Dari situlah, aku mulai memberikan pemahaman lebih dalam lagi padanya, bahwa manusia merupakan mahluk yang diciptakan oleh Allah dengan baik-baik makhluk. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sudah selayaknya manusia menerima dirinya dan lingkungannya. Selaku makhluk yang tinggal di bumi, manusia mendekatnya memakmurkan bumi yang mereka tinggali, agar mereka dapat hidup dengan sejahtera dan dapat mengaktifkannya, sebagai khalifah di bumi dan hamba, mereka yang harus mangabdikan diri beribadah untuk pencipta-Nya 
Namun, sering kali manusia membalikkan serakah, dengan apa yang telah Allah sediakan di bumi. Manusia tidak bijak dalam menggunakan fasilitas yang telah disediakan. Mereka bahkan sering merusak fasilitas-fasilitas tersebut dengan segala hawa nafsunya. Hal ini jelas menimbulkan dampak yang tidak baik bagi bumi. Efeknya banyak sekali kerusakan yang timbul di bumi, baik dari udara, tanah, dan udara. Kerusakan ini menyebabkan terganggunya hidup makhluk hidup lain yang juga tinggal di bumi. 
Manusia tidak menggunakan sumber daya yang disediakan oleh alam berlebih. Lingkungan yang ada, seharusnya diupayakan dan dimanfaatkan manusia dengan sebaik-baiknya, agar sesuai dengan maksud Allah menyediakan itu semua. 
Dengan akal dan pikirannya manusia lebih banyak bertindak sesuai kebutuhan lebih dari sekadar mengutamakan kepentingan yang lain. Akan tetapi ironisnya, manusia dalam memenuhi kebutuhannya itu tidak menjamin keseimbangan lingkungan. 


Padahal sudah seharusnya, menjaga kebersihan dan kesehatan adalah tugas manudia. Namun terkadang  ada beberapa manusia yang memang enggan melakukan hal itu, dengan berbagai alasan. Minimnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, membuat diri mereka mudah terserang berbagai macam penyakit. 
Hal ini menjelaskan efek yang tidak baik dan harus diubah. Perubahan yang jelas adalah perubahan yang dimulai dari diri manusia itu sendiri, dengan memedulikan kebersihan dan kesehatannya. Jika manusia ini berhasil menjaga kesehatan dan kebersihan dirinya, maka secara tidak langsung, dia pun ikut menyelamatkan lingkungannya pula. 
Selain menstimulasi anak agar lebih sadar terhadap lingkungan dengan buku bacaan, peran kita sebagai orang tua ada beberapa poin sebagai berikut :
Keberhasilan orang tua dalam penerapan literasi lingkungan adalah saat anak sudah memahami perannya di Bumi. Bukan hanya memanfaatkan Bumi, akan tetapi justru menjaga Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan lewat penciptaan Bumi itu sendiri.


Kamis, 22 Agustus 2019

LITERASI LINGKUNGAN UNTUK ANAK

Agustus 22, 2019 0 Comments
Kemampuan literasi di era teknologi informasi saat ini penting agar generasi memahami teks secara analitis, kritis dan reflektif. Dengan kemampuan literasi yang baik, maka generasi memiliki kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas dan aman. 


Sadar atau tidak, Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Ia menjadi sarana bagi siswa dalam mengenal,memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.


Mengapa perlu adanya Gerakan Literasi Sekolah? Karena tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan efektif. Pembelajaran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21,. Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.


Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memang harus terus dikembangkan di sekolah, baik pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar maupun pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah. Agar lebih efisien, sebaiknya GLS dilaksanakan dengan tiga tahapan, yakni :
(1). Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku non-pelajaran.
(2). Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.
(3). Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran.

Jika ketiga tahapan ini terlaksana dengan baik, niscaya kemauan membaca siswa meningkat. Bahkan ada kesadaran siswa untuk membaca, ala bisa karena biasa.

Adanya Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) dengan menghadirksn Taman Baca Masyarakat(TBM), Perpustakaan Desa dan jenis lainnya sangat membantu warga untuk mengakses informasi. GLM juga menekankan pada kegiatan literasi yang mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber - sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori.

Pembiasaan membaca buku ini dianggap dapat menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Jika membiasakan diri untuk membaca sudah tertanam, tahap selanjutnya adalah terbentuk karakter gemar membaca, dan akhirnya memiliki budaya membaca yang baik.

Mereka yang tidak membudayakan membaca dan mudah bereaksi tanpa mempertimbangkan sesuatunya adalah cerminan masyarakat yang belum memiliki literasi informasi dengan baik. Untuk menjadi insan dengan literasi informasi yang baik, perlu pembiasaan membaca.

Namun tantangannya adalah pada menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat. Penumbuhan budaya baca penting mengingat kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi seseorang memeroleh pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap. Menjadi generasi literat berarti menuju masyarakat kritis dan peduli. Artinya, kritis terhadap segala informasi yang diterima, sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.


***


Pekan ini Shahia, si tengah, memilih buku tentang Keluarga Minim Sampah. Dengan khusyuk, meski agak terbata, Shahia mencoba memahami apa yang dia baca dari buku "Keluarga Minim Sampah". 

Buku pilihannya memang bertema agak berat, akan tetapi penyampaian cerita inspiratif dalam buku tersebut sangat menarik. Full dengan ilustrasi komik, membuat Shahia betah berlama-lama mengunyah isi buku itu.

Literasi lingkungan, begitulah batinku menyimpulkan tentang kategori apa yang sedang Shahia coba pelajari. Bukan hanya melulu pada alam sebenarnya, akan tetapi tentang seberapa dalam mereka mengenal lingkungan sekitar. 

Sudah cukup lama menentap, tetapi anak-anak tidak mengenal lingkungan. Bahkan mereka tidak tahu siapa tetangga dua rumah dari rumahnya apalagi keadaanya. Padahal lewat ponsel anak bisa memahami betul kejadian di belahan bumi lain dan sebagainya.Ini yang banyak terjadi di daerah komplek perumahan saat ini.

Padahal salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah learning to live together, yakni belajar hidup bersama, dimana pendidikan di Indonesia diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki peran dalam lingkungan dimanapun berada, mampu menempatkan diri sesuai perannya. Intinya, memahami peran diri dan orang lain dalam bersosialisasi di masyarakat.

Kebiasaan hidup bersama dapat mengasah rasa saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima. Kenyataannya, semakin ”lekat” seseorang dengan pendidikan justru semakin ”jauh” dari kebersamaan bermasyarakat dan menjadi pribadi yang individualistis. Tentu kita ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang tidak hanya baik secara akademik tetapi juga memilki kualitas ’memerankan diri’ dalam kehidupan bermasyarakat seiring meingkatnya taraf pendidikan. 

Sebagai orangtua, aku merasa harus bisa menanamkan literasi lingkungan terhadap anak-anak melalui hal-hal sederhana. Mengajak mereka terlibat saat menjenguk tetangga yang sakit atau melahirkan, mengajak ke acara-acara setempat, misalnya pengajian rutin, arisan bulanan dan sebagainya. Jika perlu, aku pun tak jarang melibatkan mereka untuk menyumbang. Melibatkan dalam kegiatan kerja bakti lingkungan. Jika tidak memungkinkan membantu pekerjaan, aku mengikutkan mereka untuk berpartisipasi dalam mengantar makanan atau minuman. Aku mengandalkan berjalan kaki untuk menempuh jarak dekat. Selain mengurangi jejak karbon yang baik bagi lingkungan, dan kesehatan tubuh, berjalan kaki juga bisa memberi efek psikologis mempererat kedekatan dengan lingkungan. Mengajarkan anak untuk bertegursapa dengan para tetangga. Aku terus memberi stimulus anak-anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. 

”Ayo Nak, salim dengan Pak Indra” atau ”Lihat Nak, got ini kehitaman, bagaimana caranya agar terlihat bersih?” 

Bisa juga, ”Zaman bunda masih kecil, banyak ikan yang hidup di dalam saluran air, bagaimana agar ikan-ikan bisa hidup lagi?” 

Atau, ”Sebelah kanan ini rumah Bu Ida, anak pertamanya Kak Lusia, hebat sekali matematikanya” dan lain sebagainya. 


***

Belajar Berbagi 

Berbagi bukan hanya soal makanan atau oleh-oleh dari luar kota. Jika anak kesulitan belajar, antarkan pada tetangga yang dianggap mampu dan mau membantunya. Begitu pula jika tetangga kita memerlukan bantuan dalam menyelesaikan tugas sekolah, misalnya mencari data, artikel dari koran, dan lainnya. Aku membuka diri untuk berbagi dalam rangka menyelesaikan permasalahan para tetangga dengan tetap memberi ruang partisipasi anak-anak. 

Literasi terhadap lingkungan menjadi hal yang penting ditanamkan pada anak-anak kita. Bukan hanya tugas guru, penegakkan pilar pendidikan learning to live together juga menjadi tugas orangtua. 

Literasi lingkungan memberikan pemahaman tentang peran diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial. Sehingga pada akhirnya pendidikan tidak hanya meningkatkan kualitas kemampuan intelektual dan profesional, tetapi juga peningkatan sikap, kepribadian, dan moral.




#SalamLiterasi





BELAJAR DARI DONGENG

Agustus 22, 2019 0 Comments



"Bunda, Lula mau dibacain buku ini!"

Gadis kecilku itu menyodorkan sebuah buku tebal, bergambar peri pada covernya.

Aku tersenyum tipis. Hatiku berdesir haru. Alhamdulillah, akhirnya, salah satu motivasiku menulis buku bergenre anak diijabah Allah.

Sejak awal nyemplung ke dalam genre anak, motivasiku selain mendapatkan ridho Allah adalah, agar kelak anak-anakku membaca cerita anak yang ditulis oleh bundanya. Dan ... yap! Allah Yang Mahaluarbiasa, mengijabah doaku.

Beberapa buku antologi bergenre anak mengukir namaku sebagai kontributor, baik terbitan mayor maupun indie.

Bicara tentang mengembangkan minat baca pada anak merupakan hal yang sangat penting, karena dengan membaca, pengetahuan kita akan semakin bertambah. Untuk dapat benar-benar menikmati waktu saat membaca, tentu perlu adanya kecintaan terhadap kegiatan membaca itu sendiri.

Hal ini perlu ditanamkan pada diri kita sebagai orang tua, dan khususnya kepada anak agar mereka menyukai membaca sejak dini. Minat dalam membaca pada anak dapat dimulai melalui lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.

Dalam lingkungan keluarga, meningkatkan minat baca tentunya dilakukan oleh orang tua. Banyak cara yang dapat dilakukan para orang tua untuk dapat menumbuhkan minat baca pada anak, salah satunya adalah dengan mendongeng. Mendongeng merupakan kegiatan mendengarkan cerita dengan cara yang menyenangkan serta dapat merangsang daya imajinasi dan kreativitas anak. 

Orang tua memang memiliki berperan penting dalam upaya mengembangkan minat baca pada anak. Salah satu cara mengajak anak untuk membaca adalah dengan cara mendongeng. Untuk mulai memperkenalkan dongeng pada anak dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Salah satu tempat terbaik untuk memulai kegiatan mendongeng adalah di rumah. Ketika anak dan orang tua berada di rumah tentu tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan selain berkumpul dengan keluarga, momen inilah yang dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk membacakan dongeng kepada sang anak. Karena diriku kurang pinter dalam bidang ini, maka yang bisa aku lakukan untuk Lula khususnya, adalah read a load. Membacakan buku berisi cerita dongeng dengan intonasi yang keras.

Saat di rumah pun anak akan merasa nyaman dan tenang sehingga anak akan memberikan perhatikan penuh pada cerita yang dibawakan. Metode yang diterapkan dalam mendongeng adalah metode bercerita, melalui metode tersebut anak akan menangkap isi cerita dengan cara yang menyenangkan serta mampu menangkap alur cerita tersebut dengan baik. Mendongeng tidak harus berpaku pada sebuah buku ataupun cerita yang itu-itu saja. Orang tua dapat mengeksplor dan menemukan inspirasi dalam mendongeng melalui cerita sehari-hari mulai dari cerita tentang makanan, hingga cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Salah satu teknik mendongeng yang paling penting adalah dengan memilih cerita yang sesuai dengan umur anak-anak. Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki pengalaman tentang dunia yang berbeda-beda sesuai umur mereka. Untuk anak usia balita 1-5 tahun, pilihlah cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya saja tentang makanan sehari-hari seperti cerita tentang pentingnya mengonsumi sayur dan buah untuk mereka. Orang tua juga dapat menceritakan hal-hal lucu dengan menggunakan hewan dan tumbuhan sebagai tokoh. Tentunya para orang tua harus menciptakan cerita yang menarik dan dapat menarik perhatian sang anak.

Berbeda untuk anak usia 6 tahun ke atas. Anak seusia ini dapat kita berikan cerita yang lebih bervariatif lagi mulai dari cerita rakyat, hingga cerita tentang patriotisme atau cinta tanah air. 

Bagaimana dengan anak yang sudah memasuki masa sekolah menengah atas? 
Apakah masih perlu kita membacakan dongeng? 
Jawabannya adalah tentu iya. Untuk anak seusia sekolah mengengah atas, orang tua dapat memberikan cerita yang insipiratif seperti cerita tentang motivasi.

Banyak jalan menuju literasi. Dan dari dalam rumah lah semua bermula.


#SalamLiterasi