Sabtu, 24 Agustus 2019

KONFERENSI IBU PROFESIONAL 2019, TOREHKAN SEJARAH PERUBAHAN!



Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rinduMasih seperti dulu ... Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa maknaTerhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktuNikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti, Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berseleraOrang duduk bersilaMusisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmuMerintih sendiri ... di telan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembaliNamun kotamu hadirkan senyummu abadiIjinkanlah aku untuk slalu pulang lagiBila hati mulai sepi tanpa terobati (tak terobati)




Lirik lagu sendu Kla-Project sayup-sayup menggelayuti batinku. Hari itu, aku kembali ke Jogja, ya ... tanggal 16 Agustus 2019 aku kembali menginjakkan kakiku di Kota Gudeg setelah sekian tahun tak pernah menilik kota ini.

Pikiranku melayang-layang belasan tahun silam, romantisme masa-masa kuliah membuatku tersenyum sendiri. Sama seperti hari ini, aku kembali ke Jogja untuk "belajar". Namun bukan di bangku perkuliahan, tapi belajar dari para "Change Maker" dalam Konferensi Ibu Profesional.

Menjadi panitia yang kami sebut diri kami genk "Timses Konferensi" membuatku gugup, sekaligus bersyukur. Bagaimana tidak? Ini adalah perhelatan pertama yang diselenggerakan komunitas kami, Ibu Profesional.

Memasuki Sahid Hotel, dadaku berdesir!
Bagaimana tidak? Kegugupanku semakin menjadi, karena pada akhirnya, kami, genk panitia ini terkumpul menjadi satu frame! Sejak beberapa bulan yang lalu, persiapan event besar ini, kami koordinasikan hanya lewat komunikasi online.







Aaah, mataku langsung terpaku pada ucapan selamat datang. Aku benar-benar di sini gaes!!! Aku akan menjadi saksi Konferensi Ibu Profesional dan ikut menorehkan sejarah bagi kaum perempuan!!

Desiran batinku semakin membuncah, tatkala aku melihat beberapa bentuk wajah berdandan totalitas ala "Inem Jogja", sosok wanita yang akan menjadi nara sumber hari ini. Tidak berfoto dengan teman-teman panitia saat wajahnya mengenakan make up maksimal, akan rugi berat pokoknya!!



Lalu mataku tertuju pada panggung yang begitu artistik, Njawani Banget! 


Aku makin gemetar saat aku mulai membayangkan akan berdiri di atas panggung, membacakan doa pembuka ples di hari kedua, diriku diberi amanah bersama mbak Marita menjadi Jubir KLIK IP Semarang yang menjadi salah satu pemenang CFP.

Hari pertama KIP, kami sudah diracuni virus-virus positif dari nara sumber. Dibuka dengan tarian bersama INEM Jogja, dilanjutkan dengan acara pembukaan, termasuk menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza yang sukses membuatku meleleh! (Nyanyi Indonesia Raya sambil mbrebes mili!).

Setelah hingar  bingar pembukaan, nara sumber pertama yang sudah muncul di awal mengajak menari semua peserta kini duduk di atas panggung. Talkshow bersama INEM Jogja, yang bernama asli Made Dyah Agustina. 

Bliau bercerita mulai dari alasan kenapa "Inem", kenapa berdandan clemang clemong dan sebagainya. Lagi-lagi, sukses membuatku makin bergidik. Satu pesan yang aku simpulkan dari mbak Made :

Jadilah diri sendiri, lakukan apa yang ingin dilakukan. Jangan pernah ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, selama itu bermanfaat. Jika kita niatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Tidak perlu menjadi seperti Inem yang edan dan tidak waras, jadilah versi terbaik diri sendiri masing-masing. 


Bukan hanya materi pembuka dari Inem, nara sumber berikutnya di hari pertama cukup mampu membuatku terus melek, bahkan "ngowoh" (melongo). Dia lah Ibu Sumitra Pasupahaty, dari Singapura. Bu Sumi mewakili  Ashoka Foundation. 


Beberapa game dari Bu Sumi, cukup membuat kami berpikir keras untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk dirimu sendiri?
2. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk orang lain? 
3. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk diri sendiri dan orang lain saat remaja?
Bu Sumi berbagi kisah perjalanannya hingga kemudian bertemu Ashoka. Bagaimana dia awalnya membuat perubahan kecil yang pada awalnya hanya berniat memberikan "wadah bermain" bagi anak-anak di Singapura yang mulai kesulitan untuk bermain bersama.
Bu Sumi ternyata tidak hadir sendirian. Selain ditemani Ara Kusuma, putri kedua Ibu Septi Peni-Pak Dodik, yang juga menjadi bagian dari Ashoka. Bu Sumi ternyata juga membawa young fellow lainnya, yaitu Lita dan Rere.
Lita dengan program kelas melukis dan bermain bersama, kemudian dia juga menjadi motivator bagi rekan-rekannya atau pun anak-anak yang lebih mudah dibanding dirinya. Lita selalu mengobarkan semangat kepada mereka untuk "berani bermimpi!"
Sedangkan Rere, gadis asal Magelang ini adalah dengan mendirikan Rumah Baca Mc Ganz, yang memiliki arti Allah bersama kita. Di rumah bacanya, Rere memberikan pelatihan menulis gratis hingga menghasilkan karya.
Aku seperti ditampar .... Usia 15 tahun, aku ngapain? Aku kemana aja?
Aah ... MasyaAllah ... cipratan semangat untuk menjadi bunda yang membersamai generasi perubahan spontan meletup di dadaku! Anak-anakku harus berani bermimpi dan harus berani beraksi mewujudkan impian tersebut!




Belum menginjak hari kedua, aku sudah lemes saking terpesona dengan aroma luarbiasa para nara sumber!!!
Racun-racun pembawa perubahan itu terus menyusup ke relung jiwaku. 

"Aku pun harus bisa membuat perubahan!! Minimal perubahan dari dalam dirku sendiri, keluarga kecilku!"



 #CatatanHariPertama




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika