Kamis, 22 Agustus 2019

LITERASI LINGKUNGAN UNTUK ANAK

Kemampuan literasi di era teknologi informasi saat ini penting agar generasi memahami teks secara analitis, kritis dan reflektif. Dengan kemampuan literasi yang baik, maka generasi memiliki kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas dan aman. 


Sadar atau tidak, Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Ia menjadi sarana bagi siswa dalam mengenal,memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.


Mengapa perlu adanya Gerakan Literasi Sekolah? Karena tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan efektif. Pembelajaran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21,. Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.


Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memang harus terus dikembangkan di sekolah, baik pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar maupun pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah. Agar lebih efisien, sebaiknya GLS dilaksanakan dengan tiga tahapan, yakni :
(1). Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku non-pelajaran.
(2). Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.
(3). Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran.

Jika ketiga tahapan ini terlaksana dengan baik, niscaya kemauan membaca siswa meningkat. Bahkan ada kesadaran siswa untuk membaca, ala bisa karena biasa.

Adanya Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) dengan menghadirksn Taman Baca Masyarakat(TBM), Perpustakaan Desa dan jenis lainnya sangat membantu warga untuk mengakses informasi. GLM juga menekankan pada kegiatan literasi yang mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber - sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori.

Pembiasaan membaca buku ini dianggap dapat menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Jika membiasakan diri untuk membaca sudah tertanam, tahap selanjutnya adalah terbentuk karakter gemar membaca, dan akhirnya memiliki budaya membaca yang baik.

Mereka yang tidak membudayakan membaca dan mudah bereaksi tanpa mempertimbangkan sesuatunya adalah cerminan masyarakat yang belum memiliki literasi informasi dengan baik. Untuk menjadi insan dengan literasi informasi yang baik, perlu pembiasaan membaca.

Namun tantangannya adalah pada menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat. Penumbuhan budaya baca penting mengingat kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi seseorang memeroleh pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap. Menjadi generasi literat berarti menuju masyarakat kritis dan peduli. Artinya, kritis terhadap segala informasi yang diterima, sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.


***


Pekan ini Shahia, si tengah, memilih buku tentang Keluarga Minim Sampah. Dengan khusyuk, meski agak terbata, Shahia mencoba memahami apa yang dia baca dari buku "Keluarga Minim Sampah". 

Buku pilihannya memang bertema agak berat, akan tetapi penyampaian cerita inspiratif dalam buku tersebut sangat menarik. Full dengan ilustrasi komik, membuat Shahia betah berlama-lama mengunyah isi buku itu.

Literasi lingkungan, begitulah batinku menyimpulkan tentang kategori apa yang sedang Shahia coba pelajari. Bukan hanya melulu pada alam sebenarnya, akan tetapi tentang seberapa dalam mereka mengenal lingkungan sekitar. 

Sudah cukup lama menentap, tetapi anak-anak tidak mengenal lingkungan. Bahkan mereka tidak tahu siapa tetangga dua rumah dari rumahnya apalagi keadaanya. Padahal lewat ponsel anak bisa memahami betul kejadian di belahan bumi lain dan sebagainya.Ini yang banyak terjadi di daerah komplek perumahan saat ini.

Padahal salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah learning to live together, yakni belajar hidup bersama, dimana pendidikan di Indonesia diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki peran dalam lingkungan dimanapun berada, mampu menempatkan diri sesuai perannya. Intinya, memahami peran diri dan orang lain dalam bersosialisasi di masyarakat.

Kebiasaan hidup bersama dapat mengasah rasa saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima. Kenyataannya, semakin ”lekat” seseorang dengan pendidikan justru semakin ”jauh” dari kebersamaan bermasyarakat dan menjadi pribadi yang individualistis. Tentu kita ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang tidak hanya baik secara akademik tetapi juga memilki kualitas ’memerankan diri’ dalam kehidupan bermasyarakat seiring meingkatnya taraf pendidikan. 

Sebagai orangtua, aku merasa harus bisa menanamkan literasi lingkungan terhadap anak-anak melalui hal-hal sederhana. Mengajak mereka terlibat saat menjenguk tetangga yang sakit atau melahirkan, mengajak ke acara-acara setempat, misalnya pengajian rutin, arisan bulanan dan sebagainya. Jika perlu, aku pun tak jarang melibatkan mereka untuk menyumbang. Melibatkan dalam kegiatan kerja bakti lingkungan. Jika tidak memungkinkan membantu pekerjaan, aku mengikutkan mereka untuk berpartisipasi dalam mengantar makanan atau minuman. Aku mengandalkan berjalan kaki untuk menempuh jarak dekat. Selain mengurangi jejak karbon yang baik bagi lingkungan, dan kesehatan tubuh, berjalan kaki juga bisa memberi efek psikologis mempererat kedekatan dengan lingkungan. Mengajarkan anak untuk bertegursapa dengan para tetangga. Aku terus memberi stimulus anak-anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. 

”Ayo Nak, salim dengan Pak Indra” atau ”Lihat Nak, got ini kehitaman, bagaimana caranya agar terlihat bersih?” 

Bisa juga, ”Zaman bunda masih kecil, banyak ikan yang hidup di dalam saluran air, bagaimana agar ikan-ikan bisa hidup lagi?” 

Atau, ”Sebelah kanan ini rumah Bu Ida, anak pertamanya Kak Lusia, hebat sekali matematikanya” dan lain sebagainya. 


***

Belajar Berbagi 

Berbagi bukan hanya soal makanan atau oleh-oleh dari luar kota. Jika anak kesulitan belajar, antarkan pada tetangga yang dianggap mampu dan mau membantunya. Begitu pula jika tetangga kita memerlukan bantuan dalam menyelesaikan tugas sekolah, misalnya mencari data, artikel dari koran, dan lainnya. Aku membuka diri untuk berbagi dalam rangka menyelesaikan permasalahan para tetangga dengan tetap memberi ruang partisipasi anak-anak. 

Literasi terhadap lingkungan menjadi hal yang penting ditanamkan pada anak-anak kita. Bukan hanya tugas guru, penegakkan pilar pendidikan learning to live together juga menjadi tugas orangtua. 

Literasi lingkungan memberikan pemahaman tentang peran diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, baik alam maupun sosial. Sehingga pada akhirnya pendidikan tidak hanya meningkatkan kualitas kemampuan intelektual dan profesional, tetapi juga peningkatan sikap, kepribadian, dan moral.




#SalamLiterasi





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika