Senin, 16 September 2019

MENGENAL ANGKA DAN MENULISNYA


Membaca, menulis, dan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan oleh anak ketika ia ingin masuk sekolah. Saatnya aku sebagai orangtua mengenal tahapan normal perkembangan membaca, menulis, dan berhitung anak seperti yang aku kutip di website milik Ikatan Dokter Anak Indonesia, www.idai.or.id:

Membaca dan Menulis Usia 2-4 tahun

Pada usia ini, membacakan suatu cerita pada anak sesering mungkin bisa menumbuhkan minat baca dan memperluas kosakata. Anak juga bisa mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis nantinya. Keterampilan tersebut bisa Anda ajarkan berupa menarik garis, menggambar lingkaran, dan menghubungkan titik-titik. Mewarnai juga bisa menunjang keterampilan ini lho, Bunda. Gunakan alat tulis yang sesuai ukuran tangan anak agar nyaman dan mudah dipakai.

Berhitung Usia 2-3 tahun

Pada usia prasekolah, balita Anda mulai mengenal angka satu digit mulai dari 1 hingga 9. Bahkan beberapa anak mulai bisa menulis angka. Menghitung benda juga bisa mulai diajarkan, terutama jika jumlah benda tidak lebih dari lima. Selain itu, si kecil juga bisa mulai belajar mengelompokkan benda menjadi dua bagian menurut warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya. Seperti mengelompokkan mainan menjadi dua kelompok merah dan biru.

Berhitung usia 4-5 tahun

Di usia Taman Kanak-Kanak (TK), si kecil sudah bisa mengenali angka 1 hingga 20. Bahan beberapa anak sudah mulai bisa menghitung loncat. Untuk mengelompokkan benda, anak usia ini bisa membuat tiga kelompok atau lebih berdasarkan warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya.

***

Anak-anak memang sangat bersemangat untuk belajar hal baru dan menulis adalah salah satunya. Dan bagaimana cara mengajar anak menulis adalah pertanyaan yang paling banyak diajukan. Biasanya, usaha pertama anak-anak untuk menulis akan dilakukan pada usia prasekolah mereka. Inilah saat ketika mereka memperluas kosa kata mereka dan mulai mengerti bahwa huruf, angka dan simbol semuanya memiliki makna. Huruf, angka, atau simbol apa yang seharusnya dimiliki anak-anak benar-benar belajar terbentuk begitu mereka menguasai pegangan yang benar. 


Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak-anak didorong untuk mencoret-coret, dan mewarnai dengan bebas dengan cara yang menyenangkan dan tanpa stres, mereka ingin menulis lebih banyak. Dan sungguh, itulah yang kita inginkan: anak-anak yang memiliki keinginan untuk menulis! Sebagai orang tua, kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk menjaga suasana tenang dan ringan saat bekerja dengan anak-anak kita, dengan menggunakan pujian yang spesifik dan terarah bila memungkinkan.

Kemampuan anak untuk menulis yang baik tidak mungkin datang dalam semalam, sehingga peran orang tua sangatlah penting dalam mengajar anak menulis. Oleh sebab itu, sebagai orang tua aku pun tidak ragu mengenalkan anak dengan membaca, menulis, dan berhitung di usia balita.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi, calistung dapat diajarkan kepada anak usia 7-8 tahun. Namun, jika anak terlihat mampu dan sudah lulus pra-calistung, orang tua boleh mengajarkannya sejak usia 5-6 tahun.



Aku melatih Lula dengan menebalkan garis putus-putus Setelah dia berhasil mengajarinya menulis sesuai garis kertas, selanjutnya adalah latihan menebalkan garis putus-putus. Aku menyediakan gambar dengan garis putus-putus dan mengajak dia untuk menghubungkan tiap garis-garis pada kertanya.

Karena aku ingin dia menghafal angka, maka garis putus-putus yang aku jadikan bahan lahitan adalah angka-angka. Dan cara ini efektif, selain menstimulasi motoriknya, dengan sering menulis angka, Lula menjadi lebih cepat menghafal angka dari 0 sampai 9.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika