Senin, 28 Oktober 2019

CERITA TENTANG SHAHIA : MENUMBUHKAN ETOS KERJA PADA ANAK





Game level #7 ini sejujurnya membuatku mengerutkan dahi. Kenapa? 
Karena aku harus memilih untuk satu saja dari ketiga buah hatiku. Ya ... memilih satu dari mereka untuk dijadikan bahan tulisan T10. Observasiku tetap pada ketiganya, namun memang ada ketentuan untuk memilih pada anak yang mana untuk lebih difokuskan.


Pilihanku jatuh pada Shahia, 7 tahun. Kenapa? Itu pasti akan jadi pertanyaan berikutnya bukan?

Jawabannya, terkait dengan tema "Semua anak adalah bintang" dan di game level #7 ini, diriku harus menaklukkan tantangan untuk menemukan "gunung" pada ketiga anakku, yang kemudian fokus pada meninggikan gunung tersebut, bukan meratakan lembah.

InsyaAllah, gunung Kak Aksan, si sulung, sudah lebih mengerucut. Mulai meninggi? Belum juga sebenarnya, namun setidaknya diriku sudah mulai perlahan memahami di mana letak gunung sulungku itu.

Sedangkan Lula, si bungsu? Apakah juga sudah ketemu gunungnya sehingga memilih Shahia, si tengah, untuk game level ini? Enggak juga! Justru karena Lula masih berusia 4 tahun, dan menurutku, saat ini dia masih berada pada masa mengeksplor semua bidang, jadi belum nampak sepertinya gundukan gunung miliknya.

Yap! Akhirnya pilihan jatuh pada Shahia. Dengan segenap jiwa (eeaaa eeaaa) aku pun mulai lebih fokus mengamati setiap aktivitasnya. 

Ketiga anakku sudah memiliki kebiasaan yang kami sebut "aktivitas harian". Aktivitas harian itu berisikan beberapa pekerjaan rumahan yang memang sudah mereka petakan waktunya dan bagi sesuai porsi. 

Sesungguhnya apa yang aku terapkan adalah dalam rangka membangun etos kerja sejak usia dini. Mungkin akan timbul pertanyaan berikutnya, "Apa mungkin kita mengajarkan budaya kerja keras pada anak?" 

Jika yang kita pahami di situ adalah memberi kuliah, pengajaran atau bimbingan, maka jawaban yang relatif benar adalah tidak mungkin. Tetapi, jika yang dimaksud di sini adalah mendidik, merangsang perkembangan, mengarahkan, atau mewariskan nilai, dengan cara-cara yang pas buat mereka, tentu ini sangat mungkin. Bahkan inilah tugas kita yang sebenarnya. Tinggal kitanya, apakah kita mau atau tidak. Itulah kenapa seluruh teori pendidikan di dunia ini berkesimpulan bahwa rumah adalah lembaga pendidikan yang pertama kali dijumpai oleh anak-anak.

Para ahli dari Harvard University menyarankan (www.sahabatnestle.co.id) agar orangtua mampu memfasilitasi berbagai pengalaman belajar untuk anak-anaknya. Misalnya yang aku lakukan, memberi tanggung jawab kepada anak untuk merapikan sendiri tempat tidurnya, memilih warna sarung bantal-guling serta sprei pada saat jadwal mengganti sarung bantal dan sprei, atau sekadar menyodorkan buku bacaan bergambar yang warnanya kontras untuk melatih pandangannya. Penting juga menurut pendapatku, untuk memfasilitasi anak dengan berbagai macam pengalaman bermain (gerakan fisik), misalnya ke mall, ke tempat rekreasi, ke pekarangan, ke lapangan, dan lain-lain. 

Aku mengusahakan jangan sampai anak-anak bermain dengan yang itu-itu saja, karena setiap pengalaman bermain akan membentuk jalur baru dalam otaknya. Yang perlu dijaga dari orangtua adalah jangan sedikit-sedikit mengeluarkan kata ”jangan”. Kenapa? Setiap satu kali kata itu terlontarkan, ia akan membentuk pembatas (mental barrier) dalam otaknya. Anak merasa ada pembatas untuk bereksplorasi dan belajar. Justru yang dibutuhkan adalah komentar dan dorongan positif.

Kenapa rangsangan pada otak sangat terkait dengan budaya kerja mereka, nantinya? Penelitian membuktikan, semakin banyak dan semakin variatif rangsangan belajar yang diterima anak, maka semakin banyak koneksi dalam otak yang terbentuk. Ini akan membuat mereka lebih responsif, kreatif dan lebih bagus daya tangkapnya.

Selain perlu memfasilitasi pengalaman belajar sebanyak mungkin dan sevariatif mungkin, sesuai keadaan kita, yang perlu diperkenalkan juga adalah prinsip-prinsip management by performance (manajemen kinerja). 

Apa prinsipnya? Seperti kita tahu, prinsipnya adalah seseorang mendapatkan sesuatu karena melakukan sesuatu. Prinsipnya lagi, ada sebab pasti ada akibat. Tentu ini perlu kita sesuaikan dengan perkembangan dan daya tangkapnya. Yang perlu dicatat adalah, prinsip itu hendaknya kita terapkan dengan mengacu pada asas friendly dan fair. 

Saat Shahia melakukan semua aktivitas hariannya dengan ceria, aku merasa lega. Artinya dia sudah menikmati aktivitas itu, dan tidak menganggapnya sebagai beban. Dan tak lupa asas fair kemudian aku sajikan dalam bentuk gift khusus, dalam bentuk memenuhi apa yang ingin beli, misalnya bando, kerudung dan sebagainya. Atau hanya sekadar membawa anak-anak makan di luar, nonton bioskop atau pun bermain di area playground di kawasan mall.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika