Senin, 28 Oktober 2019

MENGAJARKAN ANAK TENTANG KEBIASAAN ORANG SUKSES






"Bun, Shahia kepengen jadi orang sukses!" celetuknya tiba-tiba.

Aku agak tersentak. Dia dapat kosakata "sukses" dari mana ya? batinku.

"Hmmm .... emang orang sukses itu apa sih?"

"Orang kaya itu lo, Bun"

"Terus kaya itu apa sih?"

"Banyak uangnya, rumahnya besar, bagus dan luas. Mainannya banyak dan bagus-bagus. Punya sepeda, punya mobil, punya buku banyak, punya Ipad, punya kasur tingkat dua, gamis dan kerudungnya bagus-bagus. Teruuuss orang kaya itu kalau sedekah banyak, Bun!"

Aku terkekeh pelan mendengar celotehannya. 

"Nak, mau gak Bunda ceritain kebiasaan orang sukses?"

"Mauuuu laaaah!" Dia pun beringsut mendekat padaku. Kakak dan adiknya ikut melirik dan tak lama ketiganya duduk mengelilingku.

"Nah, Bunda sekarang bacain tulisan tentang rahasia orang sukses ya ... Orang sukses itu punya kebiasaan. Aktivitas harian mereka itu berbeda dengan orang biasa. Orang sukses bukan hanya dinilai dari hartanya, Nak. Bukan berarti orang sukses itu kaya. Bukan berarti juga, orang-orang kaya itu adalah orang-orang yang sukses."

"Loh kok gitu, Bun?" Shahia mulai menyela.

"Dalam Islam, sukses juga memiliki arti khusus. Sukses dalam Islam bukan hanya terkait dengan hal duniawi saja, kekayaan harta misalnya, seperti yang sebagian besar orang pikirkan selama ini, termasuk Shahia tadi sebutkan.

Sukses dalam Islam berarti hal yang luas, mulai dari pekerjaan atau keuangan juga membantu orang lain, berhasil dalam hal mengendalikan hawa nafsu diri sendiri, misalnya mengendalikan marah. Dan yang paling penting adalah mampu menjalankan semua perintah Allah. Nah, sukses menurut Islam adalah kebahagiaan yang kekal atau abadi, yaitu kebahagiaan di dunia juga di akherat. Kita sebagai manusia tentu saja memiliki harapan untuk menjadi orang sukses, entah itu dalam urusan dunia atau akherat. Islam memiliki cara agar kita menjadi orang sukses. 

Kak Aksan, Shahia dan Lula sebenarnya bisa membangun kebiasaan sendiri yang akan menjadikan kalian orang sukses. Masa depan adalah kebiasaan-kebiasaan kita di masa lalu. Jadi, kalau mau sukses di masa depan, harus melakukan kebiasaan orang sukses di masa sekarang. Kuncinya mengikuti 4 hal. Mau tau gak nih?"

Kak Aksan dan Shahia menjawab nyaris serempak, "Maaauuuuu."

Sedangkan Lula hanya melongo, karena sudah pasti bocah 4 tahun itu belum paham apa yang aku sampaikan.

Aku pun melanjutkan, "Kebiasaan pertama orang sukses adalah membangun jiwa dengan rajin beribadah. Ibadah wajib dan juga ibadah sunnah. Ibadah wajib pasti sudah tau kan, sholat 5 waktu, puasa pada bulan Ramadhan. Nah, kalau ibadah sunnah apa aja hayo?"

"Sedekah Bun." Aksan menjawab dengan cepat.

"Sholat dhuha," Shahia ikut menjawab.

"Betul, sedekah, infaq, wakaf, sholat dhuha itu termasuk ibadah sunnah. Selain itu, adalagi, ibadah sunnah yang lain dan banyak sekali. Semua yang diajarkan Rosul adalah ibadah sunnah. Mencintai kebersihan dan kerapihan, makanya ada hadist tentang cinta kebersihan kan? Nah lalu yang kedua, kebiasaan orang sukses adalah mengatur pola makan dan olah raga. Makan tepat waktu, olahraga teratur, tidak harus lari pagi, tapi dengan melakukan aktivitas fisik di rumah pun juga sama halnya dengan berolah raga. Lalu yang ketiga, kebiasaan orang sukses adalah suka belajar dan membaca buku. Dan yang terakhir, kebiasaan orang sukses adalah selalu memikirkan mana yang dikerjakan dulu dan mana yang dikerjakan kemudian, ini yang sering Bunda sebut dengan skala prioritas."

"Wah, gitu ya Bu. Lalu kita mulai dari mana biar jadi orang sukses?" Shahia masih terus bertanya.

"Yuk, mulai dari membangun kebiasaan yang dilakukan orang sukses dulu, Nak. Karena kesuksesan itu terlahir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Belajar dan rajin membaca buku-buku yang bermanfaat sama halnya dengan berjalan menuju kesuksesan. Maka, mulai dari sekarang, harus lebih semangat saat melakukan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah."

"Oke, Bun!" jawab Shahia. Kak Aksan hanya tersenyum lebar.

Keesokan harinya, tanpa dikomando, Shahia setelah bangun tidur, wudhu, sholat Subuh, lalu dia menuju ke kamar lagi, dan kuintip dia sedang membereskan tempat tidur.

Ah, senangnya ... kupetik satu hal dari pengamatanku terhadap Shahia, nampaknya dia sedang bersungguh-sungguh menjadi orang sukses. Dan aku kembali mengingatkan diriku sendiri, aku juga perlu membangun kebiasaan menuju kesuksesanku. Suksesku adalah saat kutemukan gunungmu, Nak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika