Rabu, 13 November 2019

Level Awal Semester Kedua

November 13, 2019 0 Comments
Tak terasa, level #7 berakhir dengan bahagia. Awal semester kedua di kelas bunsay "Semua Anak adalah Bintang" adalah tantangan yang meggelora.

Berusaha menemukan momen AHA pada Shahia setiap hari, yang awalnya aku ragu, kini justru menjadi candu. Bukan hanya untuk Shahia saja kini aku mencari-cari gundukan gunung, akan tetapi pada ketiga buah hatiku.

Dari Shahia aku banyak belajar, dari Kak Aksan dan si bungsu Lula pun, emak menjadi semakin bertambah ilmu. 




Menanamkan rasa yakin akan kuasa Allah adalah hal penting, sehingga mereka mulai tumbuh dan lebih mengenal dirinya sendiri. Menumbuhkan rasa percaya diri, bahwa Allah memberikan kekuatan sedemikian untuk digunakan dalam menjalankan peran di dunia.
Menanamkan mental pantang menyerah dan tidak takut gagal, tidak takut untuk mencoba, tidak takut juga pada kesalahan yang mungkin diperbuat, dengan catatan kesalahan tersebut bukanlah hal yang dilarang Allah SWT. Karena, orang sukses tidak pernah lepas dari kesalahan.
Orang sukses tidak tumbuh tanpa kegagalan, dan tidak ada dalam sejarah kisah sukses mana pun, orang yang gampang menyerah kemudian menjadi sosok sukses di masa depannya. 

Menggambarkan sukses dengan realita yang ada. Membaca dan berdiskusi dengan anak-anak tentang kisah-kisah tokoh yang sukses, lebih memberikan motivasi kepada anak-anak.

Pun, menyikapi sebuah kehilangan. Saat pemahaman terhadap diri sendiri sudah tumbuh dan berkembang, kepedulian terhadap sesama juga semakin menyubur, maka penguatan pondasi spiritual tentang hal-hal lainnya juga diperlukan. 

Anak-anak sudah mulai memahami prinsip, bahwa segala sesuatu yang nampaknya dia miliki saat ini, itu hanyalah fatamorgana. Mata, kaki, tangan, hidung, telinga, lidah dan organ-organ lainnya yang melekat pada tubuh mereka bukanlah milik mereka.

Apalagi harta? Yang jelas-jelas tidak menempel pada dirinya. 

Semua itu hanyalah titipan Allah ta'ala. DIA lah Mahamemiliki segala sesuatu. Sehingga, jika konsep dasar "kita tidak memiliki apapun", apakah pantas jika kita merasa kehilangan?

Alhamdulillah, anak-anak mulai sedikit memahami konsep kepemilikan tersebut. Bahwa hanya Allah lah yang pantas dianggap sebagai pemilik, sedangkan kita, manusia, hanyalah bertugas menjaga apa saja yang DIA telah titipkan.


Sukses itu bukan semata-mata berlimpahnya harta.
Melainkan lebih utama mendapatkan ridho Allah ta'ala.

Sukses itu bukan semata-mata menjadi populer namanya.
Melainkan menjadi lebih bermanfaat karena perannya.

Sukses itu bukan soal seberapa mewah tempat tinggalnya, berapa banyak mobilnya dan hal-hal materiil lainnya.
Melainkan seberapa baik dia menjaga amanah yang Allah titipkan padanya.

Semua anak adalah bintang!
Dan semua bintang harusnya bersinar!
Bukan hanya bersinar dalam gemerlap dunia melainkan bersinar dalam kilaunya surga.

Semoga anak-anak kita senantiasa terjaga oleh-Nya, dimudahkan menjadi bintang di bidang masing-masing, sehingga perannya di dunia mendapat ridho dan keberkahan dari Allah ta'ala.

Aamiin ...

Kamis, 07 November 2019

BUKAN OLEH-OLEH BIASA

November 07, 2019 0 Comments


"Bunda, ada tante Nisa!" Shahia dengan sigap membuka pintu.

"Suruh masuk aja, Nak!" Aku sedikit berteriak dari arah dapur. Tanggung, lagi bikin kopi herbal, temen nglembur malam ini, batinku.

Suara Nisa sudah terdengar di ruang depan. Shahia pun sudah bercengkrama hangat dengan salah satu teman baikku itu. 

Sapa sipi, cipika cipiki, dan obrolan pun mengalir.

"Eh, sampai lupa Bun. Ini ada oleh-oleh." Nisa menyodorkan kantong plastik kepada Shahia.

"Apa nih, Tante?" 

Si penerima langsung  membuka isi kantong plastik itu. "Ini pedes ya?"

"Itu pangsit balado buatan Tante, Shahia. Cobain deh! Enggak pedes kok!" 

"Tapi kok merah amat warnanya, kaya pedes gitu." 

"Udah, sana ambil toples! Terus dibuka dan cobain sama-sama. Yang bikin aja bilang enggak pedes, kok Shahia ngeyel pedes." Aku mulai mengendalikan Shahia.

"Oke Bunda! Siap!" kata Shahia sambil menghormat bak pasukan tentara.

Kami terkekeh kemudian. Tak lama, toples sudah dia bawa, pangsit balado pun terbongkar dari packing-nya. 

Kress!

"Hmmm... enak ya, Tante!"

"Ya iya lah enak, kan gratis." Aku meledeknya sambil tertawa.

"Bunda nih, beneran enak kok. Iya kan Kak?" Dia meminta pembelaan, Aksan, kakaknya.

Yang ditanya cuma cengengesan sambil meanggukkan kepala. Dasar Aksan! Selain pemalu, dia yang sudah mulai masa remaja dan satu-satunya laki-laki di rumah selalu ngumpet kalau aku kedatangan tamu teman-teman perempuan!

"Alhamdulillah kalau semua suka. Emang beneran enak ya, Bun?" tanya Nisa serius padaku.

"He em, Nis! Serius ini renyah banget! Emang cuma bikin rasa balado? Atau ada varian lain?" tanyaku seserius pertanyaannya.

"Iya, Bun. Ada beberapa rasa aku buat. Aku juga udah punya beberapa reseller, alhamdulillah. Anak-anak sekolah gitu, Bun. SMP, ada juga yang SMA. Mereka gak malu loh jualan di sekolahnya." Nisa bercerita panjang lebar.

"Tante, aku juga mau dong jualan." Tiba-tiba gadis 7 tahunku itu menyela cerita Nisa.

"Serius? Shahia mau jualan?" Nisa menatapnya dalam.

"Dia itu Nis, apa aja dijual." Aku menimpali.

"Mosok Bun? Jual apa aja emangnya Shahia?" Nisa justru kepo.

"Banyak lah Tante. Waktu itu Shahia jualan kertas bagus gitu, Jadi Shahia tuh dibeliin Bunda kertas yang bagus-bagus itu loh. Eeeh, temen-temen Shahia pada kepengen, ya udah Shahia bilang, ini tak jual, mereka beli deh. Terus waktu itu juga juala stiker nama untuk sampul buku. Terus jualan bukunya Bunda juga pernah, tapi gak laku. Eeh, laku satu ya Bun. Abis itu dipakai buat renang deh uang jualan bukunya." Shahia berapi-api menceritakan "kisah sukses" -nya.

Nisa bolak balik menatapku dan Shahia. Seolah meminta dukungan, apakah cerita Shahia itu patut dia percaya atau dia abaikan saja. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.Nisa pun kembali antusias mendengarkan cerita Shahia.

"Kalau mau jualan pangsitnya Tante, nanti Tante buatkan yang kemasan kecil-kecil. Shahia jual di sekolah satu bungkusnya 1.000 rupiah," jelas Nisa.

"Wah, beneran Tante? Shahia mau!!" 

Kunjungan Nisa ke rumahku malam itu berakhir dengan kesepakatan antara Shahia dengan Nisa. Shahia sudah dapat satu lagi supplier! Pangsit balado yang dibawa Nisa, bukan oleh-oleh biasa!

***

Pengusaha dan pendiri bisnis sering memiliki cerita yang menarik. Sementara banyak anak-anak mungkin memiliki pahlawan yang pasti layak dikagumi itu, baik mereka petugas pemadam kebakaran atau dokter, aku pun jadi ada ide untuk mengajari anak-anakku, khususnya Shahia untuk mengagumi perjalanan mereka yang telah memulai dan menjalankan bisnis juga.
Aku mencoba mencari info tentang beberapa pengusaha terkenal, seperti Richard Branson, Steve Jobs, Henry Ford, Chairil Tanjung bahkan Jusuf Kalla. Cara terbaik yang dapat aku ajarkan kepada anak-anak untuk mencintai kewirausahaan, kreativitas dan inovasi adalah dengan menunjukkan kepada mereka betapa aku menyukainya dan berbagi cerita dengan mereka.
Kadang, jika aku kekurangan cerita sebelum tidur, aku masukkan mereka dengan anekdot tentang forays pertamaku untuk memulai bisnis. Dan aku juga berbagi bahwa keberhasilan itu selalu dimulai dengan banyak kegagalan. Aku mencoba mengajarkan mereka, tidak apa-apa mengambil risiko. Tidak selamanya kesalahan itu adalah hal yang tidak benar, jika kesalahan yang dimaksud adalah kegagalan. Kesalahan yang tidak benar adalah jika melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, yang kemudian kita kenal dengan sebutan "dosa". 



MENGEMBANGKAN JIWA ENTERPRENEURKID

November 07, 2019 0 Comments

Setiap anak adalah bintang!
Shahia yang nampaknya biasa-biasa saja dalam urusan akademik, tapi aku yakini bahwa dia punya bidang sendiri yang membuatnya akan bersinar nantinya. 

Dan, yap! Bidang itu sepertinya adalah dunia bisnis, wirausaha!

Dengan leadership-nya yang tinggi, Shahia nampaknya bukan sosok yang bisa dengan mudah diperintah orang lain. Sehingga jiwanya bukanlah jiwa karyawan. Kesenangannya dengan jualan apa saja, membulatkan kesimpulanku bahwa memang dunia enterpreneur adalah bidang yang akan menjadikannya bintang jika mulai sekarang aku fokuskan dia di bidang itu.

"Lagi ngapain sih, Nak?" tanyaku penasaran saat melihatnya begitu sibuk.

"Lagi motongin stiker," jawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari gunting dan stiker yang ada di hadapannya.

"Memang mau diapain stikernya? Kata Bunda kan gak usah banyak-banyak dipotong. Dipotong seperlunya aja. Buku Shahia ada berapa emangnya? Kok banyak banget motongin stikernya." Aku mulai penasaran dengan apa yang dia kerjakan dan rencanakan.

"Bunda, Shahia itu motongin stiker bukan buat Shahia doang!"

"Lha terus?" Aku makin kepo!

"Sini deh, Shahia kasih tahu Bunda!" Dia mencoba bertransaksi denganku, supaya aku memenuhi kemauannya.

Aku menurutinya, mengambil posisi duduk di lantai, persis di sebelahnya. Sejurus kemudian, dia berdiri, mengambil dompet merah yang dia simpan di almari bukunya.

"Nih lihat, Bun!" Dia menyodorkan dompet merahnya.

"Kenapa dengan dompetnya?" Aku masih belum paham.

"Bunda buka dulu aja deh!" pintanya, lebih tepat sepertinya "perintahnya".

Mataku sedikit membelalak. Aku kaget! Dari mana gadis kecilku  ini mendapatkan uang recehan sebanyak ini? batinku. 

"Shahia itu jualan stiker ini, Bun!" segera dia memberiku jawaban atas rasa penasaran sekaligus keterkejutanku.

"Jualan stiker?"

"Iya. Abisnya, semua nanyain di mana Shahia beli stiker buat buku-buku Shahia. Terus Shahia bilang, kalau Shahia masih punya banyak. Mau beli di Shahia gak. Terus Shahia bawain kemarin ke sekolah, eh, banyak yang beli loh Bun!" Dia dengan berbinar-binar menjelaskan detail.

"Terus, karena stiker yang dibawa kemarin udah habis, lalu sekarang Kakak gunting lagi gitu? Besok mau dijual lagi, gitu?"

"Betuuuuuuul sekali, Bunda!" sambil mengacungkan dua jempol tangannya ke arahku. 

Dia mulai komat kamit menghitung stiker nama yang sudah dia potong. Aku tersenyum melihat keceriaan serta semangat bisnisnya.

Hati kecilku berbisik mendoakan dia, "Semoga laris manis, Nak. Barakallah, Nak."

Kuelus lembut kepalanya dan mendaratkan kecupan mesra di pipi kanannya. 
"Jadi pengusaha sukses dunia akherat ya, Nak!" 

"Aamiin," jawabnya sambil tersenyum lebar, selebar peluang yang selalu dia jadikan sebagai lahan bisnis!

***


Melangsir dari situs yang aku kepoin beberapa waktu lalu terkait dengan membentuk jiwa wirausaha anak, www.anakku.net.



Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang muncul pada awal abad ke-17 atau 18, yang memiliki makna 'dikelola'. Singkatnya, arti dari pengusaha yang dicetuskan oleh Jean Baptiste Katakan ini adalah 'orang yang mengelola suatu kegiatan'.

Bakat kewirausahaan biasanya sudah terlihat sejak kecil. Dengan bimbingan dan arahan orang tua serta mereka yang terlatih, kesadaran tentang nilai-nilai kerja keras dan kreativitas sudah bisa ditanamkan pada anak untuk mengasah jiwa kewirausahaannya.
Ciri-ciri anak dengan 'bakat' wirausaha
Anak-anak tentu tidak mengerti tentang perencanaan bisnis dan istilah-istilah bisnis lain, namun mereka sudah memiliki 'ciri-ciri' tertentu yang berkaitan dengan meningkatkan kewirausahaan mereka. Tanda terkuat yang mudah dilihat adalah keinginan mereka untuk menghasilkan uang tambahan dari hasil usaha mereka sendiri. Tentu saja yang membahas tentang usaha-usaha sederhana yang mampu mendatangkan uang dari usaha yang mereka lakukan. Contohnya saja, berjualan camilan ringan, kerajinan tangan buatannya atau menerima jasa perawatan hewan peliharaan.
Secara perlahan, muncullah kesadaran bahwa mereka dapat memperoleh keuntungan dari hal-hal sederhana seperti itu. Ciri-ciri umum lain yang ditemukan dari jiwa wirausaha seorang anak adalah kemandirian yang muncul sejak dini, kreativitasnya yang tak terbatas, ketekunan dan percaya diri. Dengan memberikan ciri-ciri tersebut dengan motivasi untuk mendapatkan uang tambahan, Anda telah memperoleh anak berjiwa kewirausahaan.
Arahan dibutuhkan tetap dibutuhkan
Di dunia di mana anak dapat dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, penting untuk sedikit berjuang, mengembangkan motivasi dan melecutkan daya kreativitasnya. Sebagai kredit, sedikit ketat dengan uang saku yang diberikan mungkin memotivasi anak mencari uang tambahan. Komunikasikan pada anak tentang nilai uang sehingga mereka paham dari mana uang dibutuhkan dan bagaimana harus uang yang dimiliki.
Cara termudah untuk mengubah proses ini pada anak adalah dengan cara menerbitkan rekening tabungan di bank. Anak dapat melihat uang yang masuk versus uang yang dikeluarkan dengan cara yang sangat teratur. Anak juga dapat memperoleh manfaat dari cara mengakses cara kerja cek dan kartu debit serta (persetujuan) kartu kredit).
Ketika anak-anak beranjak dewasa, anak-anak juga dapat mengenalkan anak-anak mereka tentang cara menilai uang mereka dengan cara anak-anak. Ini memberikan pelajaran hidup dasar-dasar bisnis sederhana pada anak.
Ayo simak tipnya dan Anda dapat bermain sambil belajar berwirausaha dengan anak.
Tips mengasah jiwa wirausaha anak
  • Ajarkan anak menentukan dan dapatkan persetujuan. Buatlah daftar dan tulis tujuan apa saja yang ingin diraih. Menuliskan tujuan yang ingin dicapai 80% dari hanya memenuhi atau membicarannya saja.
  • Ajari anak melihat peluang dan menyusun rencana untuk memperoleh. Biasakan anak untuk menciptakan solusi yang positif terhadap kesulitan yang muncul, kebiasaan ini akan memunculkan ide-ide hebat!
  • Keterampilan menjual mengasah yang dapat berguna suatu hari nanti. Ajarkan anak untuk memulai usahanya dalam skala kecil terlebih dahulu, misalnya menjual mainan lama, hasil kerajinan tangan sendiri hingga camilan.
  • Pemahaman tentang keuangan penting dipahami sejak dini. Cara paling mudah adalah dengan membukakan rekening tabungan untuk anak.
  • Ajarkan anak pemasaran senior, karena pembeli adalah kunci dari keberhasilan suatu usaha. Ajak mereka menarik iklan-iklan di berbagai media dan tanyakan apa yang membuat iklan-iklan tersebut menarik. Lalu, minta mereka membuat sendiri bahan iklan dan cara menjual produk yang menarik.
  • Tanamkan pada anak yang membantah, bisa menjadi pelajaran positif. Hindari menghukum anak jika gagal, lawan ajak anak untuk membahas faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kegagalan kali ini dan bagaimana mencegahnya terjadi kembali.
  • Komunikasi yang efektif meningkatkan penjualan. Usaha yang berhasil memerlukan kemampuan khusus. Ajarkan anak berbicara dengan efektif, sopan termasuk gestural yang baik seperti memandang mata lawan bicara, berbicara di telepon dengan cepat dan jelas juga sopan, menulis surat atau email dengan bahasa yang sopan.
  • Tanamkan keinginan membantu orang lain. Diskusikan dengan anak-anak mengenai kegiatan berwirausaha yang menunjang kegiatan sosial bagi sesama. Jelaskan tentang anak konsep bisnis-bisnis hebat itu mesti juga mampu meningkatkan taraf hidup banyak orang.
  • Kemandirian menciptakan rasa percaya diri pada anak. Saat anak meminta uang untuk membeli mainan, ajaklah ia berdiskusi tentang cara mendapatkan uang tersebut melalui usaha sendiri.
Tanamkan jiwa pemimpin sejak dini pada anak, sekaligus mampu berpikir 'di luar kotak' serta buat solusi unik dari setiap pertentangan.


***


Sepertinya penjelasan yang aku dapatkan dari situs tersebut semakin menguatkanku untuk menumbuh suburkan jiwa kewirausahaan yang ada dalam diri Shahia. Dari ciri-ciri di atas, alhamdulillah, Shahia punya. Peranku makin mantap untuk memberikan lingkungan yang kondusif supaya mental enterpreneurnya semakin terasah.

JUALAN BUKU DULU, BERENANG KEMUDIAN

November 07, 2019 0 Comments


"Bunda, ada paket!" teriak si tengahku, Shahia.

"Tolong diterima dulu ya, Nak!" balasku dari arah dapur.

"Oke, Bunda!"

***

"Udah diterima ya paketnya?" tanyaku pada Shahia yang menghampiriku ke dapur.

"Sudah, Bun! Buesaaaaar kardusnya!" balasnya.

"Ohya? Besar banget? Gak kaya biasanya gitu kardusnya?" Aku penasaran.

"Ya, enggak besar-besar amat sih. Tapi lebih besar dari biasanya."

"Nanti Bunda lihat deh, abis goreng nugget."


***

Memang benar, kardus paket itu enggak seperti biasanya. Lebih besar, dan memang nampak lebih berat. Shahia pun tanpa komando membawa gunting.

"Ini, Bun!" 

"Terimakasih, Cantik. Buka yuk, kita lihat apa isinya." Aku mencoba membangkitkan rasa penasarannya.

"Ya, palingan buku lah! Bunda kan tukang jualan buku sama sabun ramah lingkungan. Kalau sabun, yang nganter tuh bukan JNE, tapi temennya Bunda. Kalau yang ini sih jelas buku," celetuknya.

"Ya jelas pasti buku, Nak! Cuman kan buku yang judulnya apa, kita belum tahu." Aku menjawab sambil membuka kardus paket di hadapan kami.

"Waaaaaah, gambar sampulnya bagus, Bun! Pe-tu-a-lang-an Ma-lam. Yang ini, Pe-tu-a-lang-an Tak Ter-du-ga. Yang ini, Li-bu-ran Se-ko-lah. Bun, kok gambarnya bagus ya."

"He em, itu memang buku anak. Jadi gambarnya dibuat lucu dan bagus yang disukai anak-anak."

"Bun, Shahia mau jual di sekolah boleh?"

"Eh, beneran?? Shahia mau jualan buku di sekolah?"

"Iya, bener! Besok Shahia bawa ya, Bun. Eh kalau laku bukunya, nanti hari Sabtu renang ya Bun! Pake uang jualan buku!" pintanya sedikit merengek.

"Halah, kok pake upeti segala. Tekor Bunda dong, jualin buku bayar gajinya pake renang." Aku protes tidak sepakat dengan idenya.

"Ah, Bunda! Shahia kan masih anak-anak. Boleh ya Bun? Kalau bukunya laku, Shahia mau renang!"

"Hm.. ya udah deh, boleh! Mau jualan yang mana?"

"Shahia bawain satu-satu ya, Bun. Harganya berapa?"

"Harganya 95 ribu."

"Oke!" jawabnya singkat.

"Harganya 95 ribu lo, Nak!" 
Aku mengingatkan dia lagi, seolah tak percaya, anak gadisku itu mau jualan buku di sekolahnya dengan harga yang "lumayan".

Tapi okelah, aku mengikuti saja semangatnya. Aku berikan dia kepercayaan. Tiga buah buku dengan judul yang berbeda, aku sodorkan padanya.


***

Besok siangnya, sepulang sekolah, dia memberikan laporan singkat.

"Ini Bun bukunya." 

Utuh tiga eksemplar! Aku terkekeh dalam hati. 

"Kata temen Shahia, bukunya bagus. Tapi mereka gak punya uang. Katanya mau bilang Mamahnya dulu."

"Oh gitu, oke gak pa pa!"

"Gak laku deh, ga jadi renang deh!" Dia menggerutu sendiri. Aku masih saja terkekeh dalam hati.

Sore harinya, tiba-tiba ada pesan masuk dari aplikasi WhatsApp ku. Salah satu wali murid, sekelas dengan Shahia bertanya tentang buku yang ditawarkan Shahia di sekolah. Anaknya bercerita, Shahia jualan buku bagus dan minta pada mamahnya untuk membelikan buku itu. 

Aku kirimkan tiga cover buku beserta penjelasan masing-masing. Dan berakhir closing! Dia membeli satu buku setelah memilih tiga judul yang aku kirimkan. Transaksi terjadi dan buku yang dia beli aku berikan pada Shahia agar besok disampaikan kepada temannya.

Aku memeluk Shahia dan berkata, "Kita jadi renang, Nak! Barakallah! Shahia udah pinter jualan buku!"


***

Mungkin sebagian besar orang tua yang merupakan seorang wirausahawan ingin meneruskan bisnis ke anaknya karena dengan begitu mereka masih dapat mengontrol jalannya bisnis tersebut. Namun, apabila seorang anak tidak dididik untuk menjadi wirausaha sejak dini, dikhawatirkan ia akan kaget dan kebingungan dengan hal yang asing baginya.
Menanamkan jiwa wirausaha pada anak sejak dini bukanlah perkara yang sulit ternyata. Terlebih lagi jika kita sebagai orang tua sudah berpengalaman di dunia bisnis.

Hanya sedikit orang yang lahir dengan bakat 'kewirausahaan. Namun, keinginan dan kemampuan seseorang untuk menjadi seorang wirausaha sukses suatu hari nanti perlu dipupuk dan dibuat sejak dini. 


SISTER PRENEURSHIP

November 07, 2019 0 Comments

Al Ghazali melalui Ihya Ulumuddin : 
Hati anak-anak masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari segala corak dan warna. Ia siap dibentuk dan dijadikan apa saja tergantung keinginan pembentuknya. Jika dibiasakan melakukan kebaikan, ia akan menjadi baik. Orangtua, guru dan pendidiknya pun akan menuai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan dan diabaikan pembinaannya layaknya binatang ternak, maka buruk dan rugilah ia. Orangtua, guru dan pendidik akan turut menanggung dosanya.
Tidak ada hubungan kakak dan adik yang berjalan mulus. Setiap anggota keluarga pasti pernah mengalami konflik. Aku berani menyimpulkan seperti ini, setelah aku bertanya (survei tipis-tipis) ke beberapa sahabat. Dari mereka yang memiliki krucils dengan usia sepantar dengan anak-anakku, atau bahkan dengan usia yang terpaut agak jauh. Hasilnya tetap sama, konflik kakak-adik tetap berlangsung bahkan hingga anak beranjak di usia dewasa sekali pun!!

Oh my God!!! Kabar baik? Karena merasa punya teman, tidak sendirian menghadapi anak-anak yang berkonflik antar saudara. Atau justru merasa ini sebagai kabar buruk? Karena harus mampu bertahan untuk mendamaikan konflik-konflik yang sepertinya akan senantiasa mewarnai.

Aku menjadi terkekeh sendiri. Namun, satu hal yang jadi benang merah adalah ternyata kita sebagai orang tua, jangan terlalu khawatir apabila anak-anak sering bertengkar, memperebutkan sesuatu dan saling adu pendapat. Yang perlu kita perhatikan adalah sikap mereka setelah berkonflik.


Apakah mereka mampu introspeksi diri?
Apakah mereka berani mengakui kesalahan?
Apakah mereka berani meminta maaf dan memaafkan?
Apakah mereka bisa memanfaatkan konflik untuk memperbaiki diri?
Apakah mereka mampu menggunakan konflik untuk belajar mengatasi masalah?

Aku sadar, justru di sinilah peran pentingku sebagai orangtua. Memanfaatkan konflik untuk membangun karakter anak-anak dan membina hubungan harmonis di antara mereka.
Yess, menemukan berlian di antara gundukan lumpur! Menemukan hikmah berharga setelah berbagai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak!
Bagaimana pun, seperti kata pepatah, ‘darah lebih kental daripada air’. Kita memiliki hubungan yang dalam dan dekat dengan saudara kita. Sebagai orangtua, aku merasa harus memanfaatkan hal ini untuk melatih kemampuan anak dalam berinteraksi. Karena teman pertama bagi anak adalah saudaranya.
Hubungan pertama anak dengan manusia adalah bersama orangtuanya. Setelah itu, mereka akan mengenal saudara (kakak atau adik) sebelum keluar dari lingkungan rumah. Jadi, hubungan antara adik dan kakak adalah wadah tepat untuk melatih kemampuan berinteraksi.
***
"Bunda, kalau Shahia punya warung nanti, kalau Kakak atau Adek beli, bayar ga?" si gadis 7 tahunku bertanya.
"Menurut Shahia gimana?" Aku balik bertanya.
"Ya tetep bayarlah, Bun! Namanya juga beli. Kalau gak mau bayar, ya bilangnya minta aja." Shahia menjawab cepat.
"Nah, ituuu ... sudah tahu jawabannya sendiri," balasku sambil tersenyum tipis. 
"Nak, kalau Allah titipkan rezeki, harus dibagi ke saudaranya. Nah, kalau masalah usaha, kalau Shahia besok besar jadi pedagang, jualan apa gitu ... kalau kakak atau adiknya beli, ya memang harus membayar. Akad-nya kan jual-beli. Tapi, kalau Shahia memang mau ngasih kakak atau adik, ya akadnya diubah. Bukan jual beli, tapi Shahia niatkan memang mau memberi Kakak Aksan atau Lula hadiah aja. Gitu ... jadi semuanya diawali dengan niat." 
Gadis 7 tahunku itu manggut-manggut tanda memahami. 
"Nah, coba liat foto-foto ini." Aku menyodorkan gawaiku padanya.
Beberapa deret foto kebersamaan Shahia-Lula nampak di sana.
"Bunda dulu gendong-gendong Shahia, sekarang, Shahia gantian gendongin Adek ya! Dulu, kalau mainan mobil-mobilan kaya gitu, Shahia didorongin Kakak karena takut dan belum bisa nyetir sendiri. Sekarang, Shahia dorongin Lula. Iiiih, masyaAllah, anak Bunda luarbiasa! Kakak yang hebat, memang!" Aku meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.
Bagiku, obrolan tipis-tipis seperti ini saja sudah merupakan momet AHA. Aku bisa dapatkan sesuatu yang bisa aku gali lebih dalam lagi dari Shahia. 
SisterPreneurship! 
Wkwkwkwk, Istilah yang aku buat sendiri dalam menggambarkan makna persaudaraan dan bisnis. 

TIME FOR MOMONG ADEK

November 07, 2019 0 Comments



Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati 
yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda 
(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani)

Pesan Baginda Rosulullah itu selalu mengingatkanku tentang peran orang tua dalam mendidik anak, yang kaitannya dengan membangun hubungan kakak-adik, mengembangkan kepedulian antar saudara, bahkan secara lebih meluas tentunya, kepedulian terhadap sesama umat-Nya.

PR besar orang tua memang melukis akhlak anak serta membersamai mereka meraih apa yang dicita-citakan. Sikap peduli terhadap sesama serta lingkungan sekitar, merupakan salah satu hal yang tidak boleh dianggap sepele. Karena sikap ini yang akan menumbuhsuburkan rasa empati serta simpati anak dalam kondisi apapun, bahkan dalam meraih cita-cita mereka tidak bole mengabaikan kepentingan orang lain, atau bahkan menginjak-injak orang lain. 

Dengan membangun kepedulian, anak bisa memiliki kemampuan untuk berempati kepada orang lain dan menjalani hidup berdasarkan rasa kasih sayang, cinta kasih, dan belas kasih kepada orang-orang di sekitar mereka. Selalu akan ada godaan untuk menjalani hidup yang hanya peduli pada kepentingan diri sendiri dan terfokus hanya pada apa yang menjadi tujuan dan keinginan sendiri, tetapi hari-hari anak akan menjadi jauh lebih berharga jika mereka memikirkan tentang apa yang orang-orang dalam kehidupan mereka pikirkan dan rasakan. Membangun kepedulian berarti bersedia mendengarkan, mengerti jika seseorang membutuhkan bantuan, dan memberikan dukungan bagi komunitas tanpa mengharapkan penghargaan. 

Dalam hadits Nabi yang aku sisipkan di atas, dijelaskan peran kakak terhadap adik adalah mencurahkan kasih sayang dan melakukan penjagaan. Inilah salah satu manfaat pentingnya menjaga hubungan adik dan kakak, yakni melatih sikap tanggung jawab dan belajar menyayangi orang lain.

Poin penting yang bisa kita ambil dari nasehat Nabi SAW di atas adalah:
  1. Hak seorang kakak adalah mendapatkan penghormatan adiknya dan kewajiban kakak terhadap adiknya adalah mencurahkan kasih sayang.
  2. Saling membantu dalam kesusahan dan saling mengingatkan tentang kebaikan.
  3. Memberikan support karena berasal dari ayah dan ibu yang sama.
Dari situlah, aku mulai membiasakan Shahia untuk bisa ikut berperan dalam kegiatan "momong adiknya".

"Bunda kerja dulu, ngajar. Kak Shahia kalau mau ikut boleh, tapi nanti di sana, tugas Kak Shahia momong Lula ya!" Aku membuat kesepakatan sebelum mengajak keduanya ke sebuah workshop di mana aku diberi amanah untuk menjadi salah satu pembicara.

"Tapi nanti Shahia boleh pinjem HP? Kalau bosan mainan boneka yang dibawa, Shahia sama Lula boleh main HP?" tanyanya mengharap.

"Boleh, ini kan hari Sabtu. Tapi, Bunda juga minta tolong, kalau adek minta nenen botol, Kak Shahia yang bikinin ya!" Sekali lagi aku membuat pasal-pasal kesepakatan dengannya.

"Oke, siap Bunda!" Shahia tersenyum lebar dan memelukku. "Sayaaaaaaaang, Bunda" Rayuan mautnya pun menggelora. wkwkwkkwwk ....

Yess, begitulah kami membuat kesepakatan, hingga saat aku "manggung" di ruang workshop, segala hal tentang Lula sudah menjadi bagian yang tidak perlu aku pikirkan. Kakaknya sudah sigap mengurus adiknya.

Sesekali aku keluar kelas, melirik mereka di ruang sebelah. Alhamdulillah, panitia menyediakan bantal panjang dengan karpet bulu yang nyaman. Keduanya tiduran, nampak akur berbagi bantal serta nonton video "Nusa dan Rara" dari layar pipihku. Di mulut si adik sudah tersumpal "nenen botol". Shahia sudah mengurus adiknya dengan luarbiasa. Hatiku tersenyum puas dan bahagia.

Kutinggalkan mereka lagi, kembali menuju kelas, menuntaskan tugas.