Kamis, 07 November 2019

BUKAN OLEH-OLEH BIASA



"Bunda, ada tante Nisa!" Shahia dengan sigap membuka pintu.

"Suruh masuk aja, Nak!" Aku sedikit berteriak dari arah dapur. Tanggung, lagi bikin kopi herbal, temen nglembur malam ini, batinku.

Suara Nisa sudah terdengar di ruang depan. Shahia pun sudah bercengkrama hangat dengan salah satu teman baikku itu. 

Sapa sipi, cipika cipiki, dan obrolan pun mengalir.

"Eh, sampai lupa Bun. Ini ada oleh-oleh." Nisa menyodorkan kantong plastik kepada Shahia.

"Apa nih, Tante?" 

Si penerima langsung  membuka isi kantong plastik itu. "Ini pedes ya?"

"Itu pangsit balado buatan Tante, Shahia. Cobain deh! Enggak pedes kok!" 

"Tapi kok merah amat warnanya, kaya pedes gitu." 

"Udah, sana ambil toples! Terus dibuka dan cobain sama-sama. Yang bikin aja bilang enggak pedes, kok Shahia ngeyel pedes." Aku mulai mengendalikan Shahia.

"Oke Bunda! Siap!" kata Shahia sambil menghormat bak pasukan tentara.

Kami terkekeh kemudian. Tak lama, toples sudah dia bawa, pangsit balado pun terbongkar dari packing-nya. 

Kress!

"Hmmm... enak ya, Tante!"

"Ya iya lah enak, kan gratis." Aku meledeknya sambil tertawa.

"Bunda nih, beneran enak kok. Iya kan Kak?" Dia meminta pembelaan, Aksan, kakaknya.

Yang ditanya cuma cengengesan sambil meanggukkan kepala. Dasar Aksan! Selain pemalu, dia yang sudah mulai masa remaja dan satu-satunya laki-laki di rumah selalu ngumpet kalau aku kedatangan tamu teman-teman perempuan!

"Alhamdulillah kalau semua suka. Emang beneran enak ya, Bun?" tanya Nisa serius padaku.

"He em, Nis! Serius ini renyah banget! Emang cuma bikin rasa balado? Atau ada varian lain?" tanyaku seserius pertanyaannya.

"Iya, Bun. Ada beberapa rasa aku buat. Aku juga udah punya beberapa reseller, alhamdulillah. Anak-anak sekolah gitu, Bun. SMP, ada juga yang SMA. Mereka gak malu loh jualan di sekolahnya." Nisa bercerita panjang lebar.

"Tante, aku juga mau dong jualan." Tiba-tiba gadis 7 tahunku itu menyela cerita Nisa.

"Serius? Shahia mau jualan?" Nisa menatapnya dalam.

"Dia itu Nis, apa aja dijual." Aku menimpali.

"Mosok Bun? Jual apa aja emangnya Shahia?" Nisa justru kepo.

"Banyak lah Tante. Waktu itu Shahia jualan kertas bagus gitu, Jadi Shahia tuh dibeliin Bunda kertas yang bagus-bagus itu loh. Eeeh, temen-temen Shahia pada kepengen, ya udah Shahia bilang, ini tak jual, mereka beli deh. Terus waktu itu juga juala stiker nama untuk sampul buku. Terus jualan bukunya Bunda juga pernah, tapi gak laku. Eeh, laku satu ya Bun. Abis itu dipakai buat renang deh uang jualan bukunya." Shahia berapi-api menceritakan "kisah sukses" -nya.

Nisa bolak balik menatapku dan Shahia. Seolah meminta dukungan, apakah cerita Shahia itu patut dia percaya atau dia abaikan saja. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.Nisa pun kembali antusias mendengarkan cerita Shahia.

"Kalau mau jualan pangsitnya Tante, nanti Tante buatkan yang kemasan kecil-kecil. Shahia jual di sekolah satu bungkusnya 1.000 rupiah," jelas Nisa.

"Wah, beneran Tante? Shahia mau!!" 

Kunjungan Nisa ke rumahku malam itu berakhir dengan kesepakatan antara Shahia dengan Nisa. Shahia sudah dapat satu lagi supplier! Pangsit balado yang dibawa Nisa, bukan oleh-oleh biasa!

***

Pengusaha dan pendiri bisnis sering memiliki cerita yang menarik. Sementara banyak anak-anak mungkin memiliki pahlawan yang pasti layak dikagumi itu, baik mereka petugas pemadam kebakaran atau dokter, aku pun jadi ada ide untuk mengajari anak-anakku, khususnya Shahia untuk mengagumi perjalanan mereka yang telah memulai dan menjalankan bisnis juga.
Aku mencoba mencari info tentang beberapa pengusaha terkenal, seperti Richard Branson, Steve Jobs, Henry Ford, Chairil Tanjung bahkan Jusuf Kalla. Cara terbaik yang dapat aku ajarkan kepada anak-anak untuk mencintai kewirausahaan, kreativitas dan inovasi adalah dengan menunjukkan kepada mereka betapa aku menyukainya dan berbagi cerita dengan mereka.
Kadang, jika aku kekurangan cerita sebelum tidur, aku masukkan mereka dengan anekdot tentang forays pertamaku untuk memulai bisnis. Dan aku juga berbagi bahwa keberhasilan itu selalu dimulai dengan banyak kegagalan. Aku mencoba mengajarkan mereka, tidak apa-apa mengambil risiko. Tidak selamanya kesalahan itu adalah hal yang tidak benar, jika kesalahan yang dimaksud adalah kegagalan. Kesalahan yang tidak benar adalah jika melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, yang kemudian kita kenal dengan sebutan "dosa". 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika