Rabu, 13 November 2019

Level Awal Semester Kedua

Tak terasa, level #7 berakhir dengan bahagia. Awal semester kedua di kelas bunsay "Semua Anak adalah Bintang" adalah tantangan yang meggelora.

Berusaha menemukan momen AHA pada Shahia setiap hari, yang awalnya aku ragu, kini justru menjadi candu. Bukan hanya untuk Shahia saja kini aku mencari-cari gundukan gunung, akan tetapi pada ketiga buah hatiku.

Dari Shahia aku banyak belajar, dari Kak Aksan dan si bungsu Lula pun, emak menjadi semakin bertambah ilmu. 




Menanamkan rasa yakin akan kuasa Allah adalah hal penting, sehingga mereka mulai tumbuh dan lebih mengenal dirinya sendiri. Menumbuhkan rasa percaya diri, bahwa Allah memberikan kekuatan sedemikian untuk digunakan dalam menjalankan peran di dunia.
Menanamkan mental pantang menyerah dan tidak takut gagal, tidak takut untuk mencoba, tidak takut juga pada kesalahan yang mungkin diperbuat, dengan catatan kesalahan tersebut bukanlah hal yang dilarang Allah SWT. Karena, orang sukses tidak pernah lepas dari kesalahan.
Orang sukses tidak tumbuh tanpa kegagalan, dan tidak ada dalam sejarah kisah sukses mana pun, orang yang gampang menyerah kemudian menjadi sosok sukses di masa depannya. 

Menggambarkan sukses dengan realita yang ada. Membaca dan berdiskusi dengan anak-anak tentang kisah-kisah tokoh yang sukses, lebih memberikan motivasi kepada anak-anak.

Pun, menyikapi sebuah kehilangan. Saat pemahaman terhadap diri sendiri sudah tumbuh dan berkembang, kepedulian terhadap sesama juga semakin menyubur, maka penguatan pondasi spiritual tentang hal-hal lainnya juga diperlukan. 

Anak-anak sudah mulai memahami prinsip, bahwa segala sesuatu yang nampaknya dia miliki saat ini, itu hanyalah fatamorgana. Mata, kaki, tangan, hidung, telinga, lidah dan organ-organ lainnya yang melekat pada tubuh mereka bukanlah milik mereka.

Apalagi harta? Yang jelas-jelas tidak menempel pada dirinya. 

Semua itu hanyalah titipan Allah ta'ala. DIA lah Mahamemiliki segala sesuatu. Sehingga, jika konsep dasar "kita tidak memiliki apapun", apakah pantas jika kita merasa kehilangan?

Alhamdulillah, anak-anak mulai sedikit memahami konsep kepemilikan tersebut. Bahwa hanya Allah lah yang pantas dianggap sebagai pemilik, sedangkan kita, manusia, hanyalah bertugas menjaga apa saja yang DIA telah titipkan.


Sukses itu bukan semata-mata berlimpahnya harta.
Melainkan lebih utama mendapatkan ridho Allah ta'ala.

Sukses itu bukan semata-mata menjadi populer namanya.
Melainkan menjadi lebih bermanfaat karena perannya.

Sukses itu bukan soal seberapa mewah tempat tinggalnya, berapa banyak mobilnya dan hal-hal materiil lainnya.
Melainkan seberapa baik dia menjaga amanah yang Allah titipkan padanya.

Semua anak adalah bintang!
Dan semua bintang harusnya bersinar!
Bukan hanya bersinar dalam gemerlap dunia melainkan bersinar dalam kilaunya surga.

Semoga anak-anak kita senantiasa terjaga oleh-Nya, dimudahkan menjadi bintang di bidang masing-masing, sehingga perannya di dunia mendapat ridho dan keberkahan dari Allah ta'ala.

Aamiin ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika