Kamis, 07 November 2019

MENGEMBANGKAN JIWA ENTERPRENEURKID


Setiap anak adalah bintang!
Shahia yang nampaknya biasa-biasa saja dalam urusan akademik, tapi aku yakini bahwa dia punya bidang sendiri yang membuatnya akan bersinar nantinya. 

Dan, yap! Bidang itu sepertinya adalah dunia bisnis, wirausaha!

Dengan leadership-nya yang tinggi, Shahia nampaknya bukan sosok yang bisa dengan mudah diperintah orang lain. Sehingga jiwanya bukanlah jiwa karyawan. Kesenangannya dengan jualan apa saja, membulatkan kesimpulanku bahwa memang dunia enterpreneur adalah bidang yang akan menjadikannya bintang jika mulai sekarang aku fokuskan dia di bidang itu.

"Lagi ngapain sih, Nak?" tanyaku penasaran saat melihatnya begitu sibuk.

"Lagi motongin stiker," jawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari gunting dan stiker yang ada di hadapannya.

"Memang mau diapain stikernya? Kata Bunda kan gak usah banyak-banyak dipotong. Dipotong seperlunya aja. Buku Shahia ada berapa emangnya? Kok banyak banget motongin stikernya." Aku mulai penasaran dengan apa yang dia kerjakan dan rencanakan.

"Bunda, Shahia itu motongin stiker bukan buat Shahia doang!"

"Lha terus?" Aku makin kepo!

"Sini deh, Shahia kasih tahu Bunda!" Dia mencoba bertransaksi denganku, supaya aku memenuhi kemauannya.

Aku menurutinya, mengambil posisi duduk di lantai, persis di sebelahnya. Sejurus kemudian, dia berdiri, mengambil dompet merah yang dia simpan di almari bukunya.

"Nih lihat, Bun!" Dia menyodorkan dompet merahnya.

"Kenapa dengan dompetnya?" Aku masih belum paham.

"Bunda buka dulu aja deh!" pintanya, lebih tepat sepertinya "perintahnya".

Mataku sedikit membelalak. Aku kaget! Dari mana gadis kecilku  ini mendapatkan uang recehan sebanyak ini? batinku. 

"Shahia itu jualan stiker ini, Bun!" segera dia memberiku jawaban atas rasa penasaran sekaligus keterkejutanku.

"Jualan stiker?"

"Iya. Abisnya, semua nanyain di mana Shahia beli stiker buat buku-buku Shahia. Terus Shahia bilang, kalau Shahia masih punya banyak. Mau beli di Shahia gak. Terus Shahia bawain kemarin ke sekolah, eh, banyak yang beli loh Bun!" Dia dengan berbinar-binar menjelaskan detail.

"Terus, karena stiker yang dibawa kemarin udah habis, lalu sekarang Kakak gunting lagi gitu? Besok mau dijual lagi, gitu?"

"Betuuuuuuul sekali, Bunda!" sambil mengacungkan dua jempol tangannya ke arahku. 

Dia mulai komat kamit menghitung stiker nama yang sudah dia potong. Aku tersenyum melihat keceriaan serta semangat bisnisnya.

Hati kecilku berbisik mendoakan dia, "Semoga laris manis, Nak. Barakallah, Nak."

Kuelus lembut kepalanya dan mendaratkan kecupan mesra di pipi kanannya. 
"Jadi pengusaha sukses dunia akherat ya, Nak!" 

"Aamiin," jawabnya sambil tersenyum lebar, selebar peluang yang selalu dia jadikan sebagai lahan bisnis!

***


Melangsir dari situs yang aku kepoin beberapa waktu lalu terkait dengan membentuk jiwa wirausaha anak, www.anakku.net.



Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang muncul pada awal abad ke-17 atau 18, yang memiliki makna 'dikelola'. Singkatnya, arti dari pengusaha yang dicetuskan oleh Jean Baptiste Katakan ini adalah 'orang yang mengelola suatu kegiatan'.

Bakat kewirausahaan biasanya sudah terlihat sejak kecil. Dengan bimbingan dan arahan orang tua serta mereka yang terlatih, kesadaran tentang nilai-nilai kerja keras dan kreativitas sudah bisa ditanamkan pada anak untuk mengasah jiwa kewirausahaannya.
Ciri-ciri anak dengan 'bakat' wirausaha
Anak-anak tentu tidak mengerti tentang perencanaan bisnis dan istilah-istilah bisnis lain, namun mereka sudah memiliki 'ciri-ciri' tertentu yang berkaitan dengan meningkatkan kewirausahaan mereka. Tanda terkuat yang mudah dilihat adalah keinginan mereka untuk menghasilkan uang tambahan dari hasil usaha mereka sendiri. Tentu saja yang membahas tentang usaha-usaha sederhana yang mampu mendatangkan uang dari usaha yang mereka lakukan. Contohnya saja, berjualan camilan ringan, kerajinan tangan buatannya atau menerima jasa perawatan hewan peliharaan.
Secara perlahan, muncullah kesadaran bahwa mereka dapat memperoleh keuntungan dari hal-hal sederhana seperti itu. Ciri-ciri umum lain yang ditemukan dari jiwa wirausaha seorang anak adalah kemandirian yang muncul sejak dini, kreativitasnya yang tak terbatas, ketekunan dan percaya diri. Dengan memberikan ciri-ciri tersebut dengan motivasi untuk mendapatkan uang tambahan, Anda telah memperoleh anak berjiwa kewirausahaan.
Arahan dibutuhkan tetap dibutuhkan
Di dunia di mana anak dapat dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, penting untuk sedikit berjuang, mengembangkan motivasi dan melecutkan daya kreativitasnya. Sebagai kredit, sedikit ketat dengan uang saku yang diberikan mungkin memotivasi anak mencari uang tambahan. Komunikasikan pada anak tentang nilai uang sehingga mereka paham dari mana uang dibutuhkan dan bagaimana harus uang yang dimiliki.
Cara termudah untuk mengubah proses ini pada anak adalah dengan cara menerbitkan rekening tabungan di bank. Anak dapat melihat uang yang masuk versus uang yang dikeluarkan dengan cara yang sangat teratur. Anak juga dapat memperoleh manfaat dari cara mengakses cara kerja cek dan kartu debit serta (persetujuan) kartu kredit).
Ketika anak-anak beranjak dewasa, anak-anak juga dapat mengenalkan anak-anak mereka tentang cara menilai uang mereka dengan cara anak-anak. Ini memberikan pelajaran hidup dasar-dasar bisnis sederhana pada anak.
Ayo simak tipnya dan Anda dapat bermain sambil belajar berwirausaha dengan anak.
Tips mengasah jiwa wirausaha anak
  • Ajarkan anak menentukan dan dapatkan persetujuan. Buatlah daftar dan tulis tujuan apa saja yang ingin diraih. Menuliskan tujuan yang ingin dicapai 80% dari hanya memenuhi atau membicarannya saja.
  • Ajari anak melihat peluang dan menyusun rencana untuk memperoleh. Biasakan anak untuk menciptakan solusi yang positif terhadap kesulitan yang muncul, kebiasaan ini akan memunculkan ide-ide hebat!
  • Keterampilan menjual mengasah yang dapat berguna suatu hari nanti. Ajarkan anak untuk memulai usahanya dalam skala kecil terlebih dahulu, misalnya menjual mainan lama, hasil kerajinan tangan sendiri hingga camilan.
  • Pemahaman tentang keuangan penting dipahami sejak dini. Cara paling mudah adalah dengan membukakan rekening tabungan untuk anak.
  • Ajarkan anak pemasaran senior, karena pembeli adalah kunci dari keberhasilan suatu usaha. Ajak mereka menarik iklan-iklan di berbagai media dan tanyakan apa yang membuat iklan-iklan tersebut menarik. Lalu, minta mereka membuat sendiri bahan iklan dan cara menjual produk yang menarik.
  • Tanamkan pada anak yang membantah, bisa menjadi pelajaran positif. Hindari menghukum anak jika gagal, lawan ajak anak untuk membahas faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kegagalan kali ini dan bagaimana mencegahnya terjadi kembali.
  • Komunikasi yang efektif meningkatkan penjualan. Usaha yang berhasil memerlukan kemampuan khusus. Ajarkan anak berbicara dengan efektif, sopan termasuk gestural yang baik seperti memandang mata lawan bicara, berbicara di telepon dengan cepat dan jelas juga sopan, menulis surat atau email dengan bahasa yang sopan.
  • Tanamkan keinginan membantu orang lain. Diskusikan dengan anak-anak mengenai kegiatan berwirausaha yang menunjang kegiatan sosial bagi sesama. Jelaskan tentang anak konsep bisnis-bisnis hebat itu mesti juga mampu meningkatkan taraf hidup banyak orang.
  • Kemandirian menciptakan rasa percaya diri pada anak. Saat anak meminta uang untuk membeli mainan, ajaklah ia berdiskusi tentang cara mendapatkan uang tersebut melalui usaha sendiri.
Tanamkan jiwa pemimpin sejak dini pada anak, sekaligus mampu berpikir 'di luar kotak' serta buat solusi unik dari setiap pertentangan.


***


Sepertinya penjelasan yang aku dapatkan dari situs tersebut semakin menguatkanku untuk menumbuh suburkan jiwa kewirausahaan yang ada dalam diri Shahia. Dari ciri-ciri di atas, alhamdulillah, Shahia punya. Peranku makin mantap untuk memberikan lingkungan yang kondusif supaya mental enterpreneurnya semakin terasah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika