Kamis, 07 November 2019

SISTER PRENEURSHIP


Al Ghazali melalui Ihya Ulumuddin : 
Hati anak-anak masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari segala corak dan warna. Ia siap dibentuk dan dijadikan apa saja tergantung keinginan pembentuknya. Jika dibiasakan melakukan kebaikan, ia akan menjadi baik. Orangtua, guru dan pendidiknya pun akan menuai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan dan diabaikan pembinaannya layaknya binatang ternak, maka buruk dan rugilah ia. Orangtua, guru dan pendidik akan turut menanggung dosanya.
Tidak ada hubungan kakak dan adik yang berjalan mulus. Setiap anggota keluarga pasti pernah mengalami konflik. Aku berani menyimpulkan seperti ini, setelah aku bertanya (survei tipis-tipis) ke beberapa sahabat. Dari mereka yang memiliki krucils dengan usia sepantar dengan anak-anakku, atau bahkan dengan usia yang terpaut agak jauh. Hasilnya tetap sama, konflik kakak-adik tetap berlangsung bahkan hingga anak beranjak di usia dewasa sekali pun!!

Oh my God!!! Kabar baik? Karena merasa punya teman, tidak sendirian menghadapi anak-anak yang berkonflik antar saudara. Atau justru merasa ini sebagai kabar buruk? Karena harus mampu bertahan untuk mendamaikan konflik-konflik yang sepertinya akan senantiasa mewarnai.

Aku menjadi terkekeh sendiri. Namun, satu hal yang jadi benang merah adalah ternyata kita sebagai orang tua, jangan terlalu khawatir apabila anak-anak sering bertengkar, memperebutkan sesuatu dan saling adu pendapat. Yang perlu kita perhatikan adalah sikap mereka setelah berkonflik.


Apakah mereka mampu introspeksi diri?
Apakah mereka berani mengakui kesalahan?
Apakah mereka berani meminta maaf dan memaafkan?
Apakah mereka bisa memanfaatkan konflik untuk memperbaiki diri?
Apakah mereka mampu menggunakan konflik untuk belajar mengatasi masalah?

Aku sadar, justru di sinilah peran pentingku sebagai orangtua. Memanfaatkan konflik untuk membangun karakter anak-anak dan membina hubungan harmonis di antara mereka.
Yess, menemukan berlian di antara gundukan lumpur! Menemukan hikmah berharga setelah berbagai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak!
Bagaimana pun, seperti kata pepatah, ‘darah lebih kental daripada air’. Kita memiliki hubungan yang dalam dan dekat dengan saudara kita. Sebagai orangtua, aku merasa harus memanfaatkan hal ini untuk melatih kemampuan anak dalam berinteraksi. Karena teman pertama bagi anak adalah saudaranya.
Hubungan pertama anak dengan manusia adalah bersama orangtuanya. Setelah itu, mereka akan mengenal saudara (kakak atau adik) sebelum keluar dari lingkungan rumah. Jadi, hubungan antara adik dan kakak adalah wadah tepat untuk melatih kemampuan berinteraksi.
***
"Bunda, kalau Shahia punya warung nanti, kalau Kakak atau Adek beli, bayar ga?" si gadis 7 tahunku bertanya.
"Menurut Shahia gimana?" Aku balik bertanya.
"Ya tetep bayarlah, Bun! Namanya juga beli. Kalau gak mau bayar, ya bilangnya minta aja." Shahia menjawab cepat.
"Nah, ituuu ... sudah tahu jawabannya sendiri," balasku sambil tersenyum tipis. 
"Nak, kalau Allah titipkan rezeki, harus dibagi ke saudaranya. Nah, kalau masalah usaha, kalau Shahia besok besar jadi pedagang, jualan apa gitu ... kalau kakak atau adiknya beli, ya memang harus membayar. Akad-nya kan jual-beli. Tapi, kalau Shahia memang mau ngasih kakak atau adik, ya akadnya diubah. Bukan jual beli, tapi Shahia niatkan memang mau memberi Kakak Aksan atau Lula hadiah aja. Gitu ... jadi semuanya diawali dengan niat." 
Gadis 7 tahunku itu manggut-manggut tanda memahami. 
"Nah, coba liat foto-foto ini." Aku menyodorkan gawaiku padanya.
Beberapa deret foto kebersamaan Shahia-Lula nampak di sana.
"Bunda dulu gendong-gendong Shahia, sekarang, Shahia gantian gendongin Adek ya! Dulu, kalau mainan mobil-mobilan kaya gitu, Shahia didorongin Kakak karena takut dan belum bisa nyetir sendiri. Sekarang, Shahia dorongin Lula. Iiiih, masyaAllah, anak Bunda luarbiasa! Kakak yang hebat, memang!" Aku meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.
Bagiku, obrolan tipis-tipis seperti ini saja sudah merupakan momet AHA. Aku bisa dapatkan sesuatu yang bisa aku gali lebih dalam lagi dari Shahia. 
SisterPreneurship! 
Wkwkwkwk, Istilah yang aku buat sendiri dalam menggambarkan makna persaudaraan dan bisnis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika