Kamis, 07 November 2019

TIME FOR MOMONG ADEK




Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati 
yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda 
(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani)

Pesan Baginda Rosulullah itu selalu mengingatkanku tentang peran orang tua dalam mendidik anak, yang kaitannya dengan membangun hubungan kakak-adik, mengembangkan kepedulian antar saudara, bahkan secara lebih meluas tentunya, kepedulian terhadap sesama umat-Nya.

PR besar orang tua memang melukis akhlak anak serta membersamai mereka meraih apa yang dicita-citakan. Sikap peduli terhadap sesama serta lingkungan sekitar, merupakan salah satu hal yang tidak boleh dianggap sepele. Karena sikap ini yang akan menumbuhsuburkan rasa empati serta simpati anak dalam kondisi apapun, bahkan dalam meraih cita-cita mereka tidak bole mengabaikan kepentingan orang lain, atau bahkan menginjak-injak orang lain. 

Dengan membangun kepedulian, anak bisa memiliki kemampuan untuk berempati kepada orang lain dan menjalani hidup berdasarkan rasa kasih sayang, cinta kasih, dan belas kasih kepada orang-orang di sekitar mereka. Selalu akan ada godaan untuk menjalani hidup yang hanya peduli pada kepentingan diri sendiri dan terfokus hanya pada apa yang menjadi tujuan dan keinginan sendiri, tetapi hari-hari anak akan menjadi jauh lebih berharga jika mereka memikirkan tentang apa yang orang-orang dalam kehidupan mereka pikirkan dan rasakan. Membangun kepedulian berarti bersedia mendengarkan, mengerti jika seseorang membutuhkan bantuan, dan memberikan dukungan bagi komunitas tanpa mengharapkan penghargaan. 

Dalam hadits Nabi yang aku sisipkan di atas, dijelaskan peran kakak terhadap adik adalah mencurahkan kasih sayang dan melakukan penjagaan. Inilah salah satu manfaat pentingnya menjaga hubungan adik dan kakak, yakni melatih sikap tanggung jawab dan belajar menyayangi orang lain.

Poin penting yang bisa kita ambil dari nasehat Nabi SAW di atas adalah:
  1. Hak seorang kakak adalah mendapatkan penghormatan adiknya dan kewajiban kakak terhadap adiknya adalah mencurahkan kasih sayang.
  2. Saling membantu dalam kesusahan dan saling mengingatkan tentang kebaikan.
  3. Memberikan support karena berasal dari ayah dan ibu yang sama.
Dari situlah, aku mulai membiasakan Shahia untuk bisa ikut berperan dalam kegiatan "momong adiknya".

"Bunda kerja dulu, ngajar. Kak Shahia kalau mau ikut boleh, tapi nanti di sana, tugas Kak Shahia momong Lula ya!" Aku membuat kesepakatan sebelum mengajak keduanya ke sebuah workshop di mana aku diberi amanah untuk menjadi salah satu pembicara.

"Tapi nanti Shahia boleh pinjem HP? Kalau bosan mainan boneka yang dibawa, Shahia sama Lula boleh main HP?" tanyanya mengharap.

"Boleh, ini kan hari Sabtu. Tapi, Bunda juga minta tolong, kalau adek minta nenen botol, Kak Shahia yang bikinin ya!" Sekali lagi aku membuat pasal-pasal kesepakatan dengannya.

"Oke, siap Bunda!" Shahia tersenyum lebar dan memelukku. "Sayaaaaaaaang, Bunda" Rayuan mautnya pun menggelora. wkwkwkkwwk ....

Yess, begitulah kami membuat kesepakatan, hingga saat aku "manggung" di ruang workshop, segala hal tentang Lula sudah menjadi bagian yang tidak perlu aku pikirkan. Kakaknya sudah sigap mengurus adiknya.

Sesekali aku keluar kelas, melirik mereka di ruang sebelah. Alhamdulillah, panitia menyediakan bantal panjang dengan karpet bulu yang nyaman. Keduanya tiduran, nampak akur berbagi bantal serta nonton video "Nusa dan Rara" dari layar pipihku. Di mulut si adik sudah tersumpal "nenen botol". Shahia sudah mengurus adiknya dengan luarbiasa. Hatiku tersenyum puas dan bahagia.

Kutinggalkan mereka lagi, kembali menuju kelas, menuntaskan tugas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika