Kamis, 26 Desember 2019

#1 : KADO ROMANTIS DI HARI IBU






22 Desember nampaknya selalu menjadi hari melow se-Indonesia. Bagaimana tidak, pada hari tersebut, secara tidak langsung, kita akan kembali mengingat peran dan jasa-jasa sosok ibu dalam kehidupan kita masing-masing. Meski pun di hari lain kita juga harus selalu mengingat tentunya, tetapi, di tanggal khusus tersebut, seolah menjadi pengingat massal tentang jasa dan peran ibu bagi semua orang. 


Aku membaca sejarah, kenapa Hari Ibu diperingati tanggal 22 Desember. Dan ternyata, itu bermula dari niat mulia Presiden RI pertama, Ir. Sukarno yang menyampaikannya dalam Dekrit Presiden nomor 316 tahun 1959 yang ditetakna sebagai Hari Ibu, tanggal tersebut dipilih karena dalam sejarah pergerakan perempuan pejuang kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928, diadakan kongres perempuan pertama kali, yang dilaksanakan di Yogyakarta. Sehingga tanggal 22 Desember dipilih sebagai tanggal bersejarah untuk memberikan apresiasi terhadap kaum perempuan, khususnya para ibu, atas jasa-jasanya serta peran-peran mulianya, bukan hanya untuk keluarga, namun juga masyarakat, negara dan bangsa Indonesia.


Mengutip pidato DJami dari Organisasi Darmo Laksmi, 

“Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.”

Yang artinya adalah tidak akan berhasil seorang anak jika ibunya tidak memiliki pengetahuan dan budi yang baik. 

Bicara tentang Hari Ibu, bukan hanya mengingatkanku pada dua sosok ibuku. Lho kok dua? Yes!! Ibu kandung yang melahirkanku, serta ibu angkat yang telah merawat, mengasuh serta membesarkanku sejak usia 3 tahun-an hingga aku usia 11 tahun. Ibu angkatku meninggal karena sakit jantung kronis puluhan tahun silam. Selantun Fatihah mengecap diiringi untaian air mata rindu dan memohon Allah memberikan tempat lapang untuk beliau. Ibu kandungku saat ini pun hanya bisa berkomunikasi via telepon, karena sedang berada di Tangerang. 

Tiba-tiba, Shahia menghampiriku, memelukku dari belakang dan mencium pipiku. Aku yang terduduk di meja kerja tersentak. Cepat-cepat kuhapus air mata yang sempat menitik.

"Duh, kaget Bunda." 

"Bunda, ini Shahia ada sesuatu buat Bunda. Selamat Hari Ibu Bunda sayang ..." katanya dengan romantis.

Anak keduaku ini memang paling romantis! Juara pokoknya. 

Selembar kertas berwarna kuning, berbentuk hati, dia sodorkan kepadaku. Sederet tulisan dengan huruf-huruf ala anak usia 7 tahun berjejer di sana. Ku baca dalam hati dengan mulut komat-kamit. Shahia, si romantis itu, masih berdiri di sampingku dengan setia menantiku menuntaskan membaca deretan kata yang dia rangkai.

Dan tangisku kembali pecah!

Kuraih tubuh mungilnya, kupeluk, kucium sembari membisikkan kata terimakasih padanya. Kurasakan Shahia pun ikut terisak dalam dekapanku.

Ya Allah ... kreativitas anakku memberi kado Hari Ibu yang sungguh romantis ini benar-benar membuatku meleleh.

Bagaimana tidak jika deretan kalimat tersebut menyebutkan bahwa "Shahia mau ngasih Bunda hadiah mahkota tahfidz." 

Aku tidak bertanya darimana dia dapatkan kosakata indah itu. Aku juga tidak bertanya siapa yang memberinya ide, atau darimana ide itu lahir, yang aku lihat adalah ketulusannya. Kata per kata yang dia susun, benar-benar gaya bahasa ala dia sendiri.


Subhanallah ... 

"Barakallah, Nak!" bisikku di sela tangis kami berdua.


Dalam hati aku kumandangkan doa, semoga Allah mudahkan anak-anakku menghafal ayat-ayatNya, serta mengamalkan dalam kehidupan mereka. Aamiin Allahumma Aamiin ....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika