Senin, 02 Desember 2019

#2 : Mengajarkan Anak Mengatur Pengeluaran





"Tau gak, uang itu asalnya darimana?" Sore itu aku membuka obrolan dengan ketiga krucilsku.

"Dari ATM, Bun." Si bungsu, Lula menjawab polos. Dua kakaknya pun tergelak.

"Dari Allah lah," Shahia, si tengah menjawab dengan yakin.

"Pinter anak soliha, kalau rezeki memang dari Allah. Tapi rezeki itu gak hanya uang. Nah, kalau uang yang didapatkan dengan bekerja dulu, atas izin Allah tentunya." Aku memberikan pemahaman pada mereka.

Anak-anak memang biasanya belum mengerti sepenuhnya bahwa untuk membeli atau mendapatkan sesuatu dengan bekerja. Maka itu, aku sengaja memberi tahu mereka, terutama Shahia dan Lula, bahwa ada banyak pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Aku menekankan pada anak-anakku bahwa mereka tidak bisa mendapatkan uang dengan cuma-cuma tanpa bekerja.

"Nah, siapa yang mau dapat tambahan uang jajan?"

"Shahia"

"Lula"

"Kakak, Bun!"

Ketiganya menjawab serempak. 

"Oke, kalau gitu, aktivitas hariannya harus tertib dilakukan tanpa disuruh Bunda."

Sebagai orangtua, aku memang melatih mereka mengenal ‘pekerjaan’ dan menghasilkan uang dengan cara memintanya untuk membantu pekerjaan rumah yang ringan. Shahia dengan minat dagangnya, selalu melihat peluang setiap ada buku baru yang aku terbitkan, terutama buku genre anak tentunya. 

"Hmm ... kalau udah punya uang, Shahia mau beli sepeda ah."

"Lula mau beli es krim." 


Dan sederet keinginan mereka alirkan begitu saja. 

Aku pun mulai mengajarkan konsep memilih. Saat anak-anak tahu bagaimana perjuangan mengumpulkan uang, mereka akan belajar juga untuk lebih bijak membelanjakan uang.


"Boleh beli ini, Bun?" Shahia mengambil sebuah mainan, semacam alat kasir, saat belanja di pasar modern. 

"Harganya berapa? Uang Shahia ada berapa?" 


"Seratus enam puluh lima," jawabnya sambil mengeja angka yang tertera di label harga.

"Lalu?"

"Hmm ... enggak jadi deh, Bun."

"Kenapa?"


"Mahal. Shahia mau nabung aja ah, Bun. Mainannya di rumah juga masih banyak."


Aku pun tersenyum penuh syukur. Alhamdulillah, anakku sudah mulai paham, mana yang dibutuhkan dan mana yang hanya keinginan. Aku sering mengatakan kepadanya bahwa kebutuhan adalah sesuatu yang harus dimiliki untuk bertahan hidup, seperti makanan, air dan tempat tinggal. Aku juga menjelaskan a bahwa keinginan adalah sesuatu yang ingin ia miliki.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika