Jumat, 27 Desember 2019

#5 : MENJEMPUT PANGGILAN-NYA




Allah tidak MEMANGGIL orang-orang yang MAMPU tapi Allah MEMAMPUKAN orang-orang yang TERPANGGIL untuk berkunjung ke Baitullah (ka’bah).


Sebagai hamba, siapa pun orangnya, apa pun pekerjaannya, bagaimana pun keadaannya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhannya. Ibadah adalah terminologi untuk menyebut tindak-tanduk seorang hamba untuk mendapatkan ridha Tuhannya. Bagi umat muslim, salah satu bentuk ibadah adalah haji dan umroh. Setiap orang Islam yang beriman pasti ingin untuk melaksanakan ibadah ini, tak terkecuali aku.

Seringkali kita mendengar istilah “haji adalah panggilan Allah”. Lalu menyalahartikan istilah tersebut sebagai alasan belum berhaji atau berumroh padahal mampu dengan dalih belum dipanggil. Padahal, Allah sudah menyebarluaskan panggilan atau undangan ini kepada seluruh umat manusia. Undangan ini sudah dibuat oleh Allah dan disebarluaskan untuk hamba-Nya sejak ribuan tahun lalu oleh Nabi Ibrahim AS dan dilanjutkan oleh Rasulullah SAW, undangan ini akan tetap ada sampai akhir zaman.

Panggilan yang satu ini adalah sebuah “inisiatif” yang didasari keimanan dan taqwa, yang ‘mengharuskan’ diri untuk mau hadir, ‘harus’ bisa hadir, ‘harus’ merasa tidak enak jika tidak hadir. 

Memang benar-benar tidak ada pilihan lagi bagi yang berkesempatan. Harus hadir. Urusan undangan yang satu ini kaitan tanggung jawabnya lebih berat daripada sekadar ‘tidak enak’ pada si Pengundang. Tidak semudah itu pula lantas kita ‘bisa’ menghubungi si Pengundang dan dengan enteng memohon maaf atas ketidak hadiran kita karena bermacam alasan-alasan tertentu.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imraan [3]; ayat: 96-97)

Umroh yang juga disebut al-hajj al-ashghar atau haji kecil, karena seluruh ritual yang dilakukan ketika melaksanakan umrah, tercakup dalam ritual ibadah haji, dari segi bahasa, umrah berarti berkunjung. Secara syar’i, umrah berarti berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah dengan aturan tertentu. Umroh boleh dilakukan kapan saja, tidak seperti haji yang hanya dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. 

Ada dua hal sebenarnya yang menentukan keberangkatan kita ke Baitullah, yang pertama adalah Nisab. Apakah itu Nisab? kurang lebih, Nisab itu mengandung arti persiapan yang terukur secara manusiawi. Kalau kita sudah punya uang untuk bayar biaya paket haji/umroh, kondisi fisik secara medis bisa berangkat ibadah, kemudian waktu juga sudah bisa dikondisikan, maka ketiga hal tadi merupakan bentuk kesiapan kita secara Nisab -artinya kesiapan berangkat dalam ukuran kita sebagai manusia.

Namun, kita juga harus sadar bahwa ada satu lagi penentu keberangkatan kita ke Baitullah, yaitu Nasib. Faktor Nasib inilah yang dimaknai sebagai ketentuan dari Allah SWT. Kepada Allah jualah nasib keberangkatan haji/umroh kita serahkan. Apakah bisa berangkat tahun ini ataukah tertunda ke tahun berikutnya. Meskipun secara Nisab kita sudah siap, namun belum tentu Nasib-nya siap.

Oleh karena itu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT adalah hal utama dan pertama yang kulakukan. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, hamba-Nya, karena bisa jadi Allah sedang menguji keimanan kita. Tugasku adalah ikhtiar batin dan lahir serta senantiasa istiqomah menjaga prasangka baik, bahwa Allah akan kabulkan semua doa hamba-Nya, sesuai timing terbaik menurut-Nya. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-‘Ankabuut [29] : 2-3)

“Sungguh menakjubkan (luar biasa) urusan seorang mukmin. Sesungguhnya setiap urusannya akan mendatangkan kebaikan, apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan syukur itu adalah kebaikan untuknya. Bila ia mendapatkan musibah, dia bersabar dan sabar itu adalah kebaikan untuknya. Hal yang demikian itu tidaklah diberikan kecuali untuk orang yang beriman.” (HR. Muslim)

Untuk bisa menjadi yang “terpanggil” niat saja memang tidak cukup. Harus dengan “niat dan keinginan yang kuat” yang dimanifestasikan dalam tindakan sebagai bentuk “menjemput panggilan” itu sendiri. Berdoa setiap waktu dan mengerahkan segenap tenaga dan usahanya untuk bisa pergi ke Baitullah. Aku yakin, keinginan yang kuat akan menuntun ke jalan menuju Baitullah. 

Di akhir tahun 2019 ini, dalam waktu yang berdekatan, dua orang sahabat baikku yang telah menjadi hamba terpanggil Allah ke Baitullah melangitkan doa-doanya di sana, untukku!

Yaa .. untukku! Air mata haru sontak tumpah ruah tak terbendung saat sebuah foto terkirim kepadaku. Untaian kata doa yang singkat namun begitu indah. Rapalan doa dari sahabat-sahabat solihaku, kuyakini sebagai salah satu wujud panggilan-Nya yang semakin mendekat padaku, insyaAllah.


***

“Bunda lagi apa?”

Shahia menyapaku saat aku sedikit termangu di depan beberapa buah toples yang jarang kami gunakan. 

“Bunda mau bikin celengan. Mau bantu?”

“Celengan apa? Kan Shahia, Lula sama Kakak udah ada celengan.” 

“Kita bikin celengan lain. Celengan umroh, celengan qurban, celengan infaq dan sedekah. Kan pas nih, ada 3 toples.”

Shahia semangat. Dia memang paling seneng kalau diajak bebikinan, maklum lah anak kinestetik. 

Beberapa bahan dia siapkan, kertas manila berwarna ungu sisa prakarya Aksan beberapa waktu lalu, gunting, pensil, penggaris, isolasi dan cutter.

Aku mulai mengukur kertas pembungkus sesuai dengan toples. Shahia kemudian menggunting sesuai garis yang kubuat.

Menempel dengan isolasi, meski enggak terlalu rapi, tapi okelah semua terlihat cukup baik. Aku mulai membuat lubang pada tutup toples dengan cutter. Dan taraaaa … jadilah 3 celengan hasil kreativitas kami. Aku mengambil kertas label, menuliskan label pada masing-masing toples sesuai fungsinya.

Biiznillah … kami menjemput panggilan-Mu Ya Rabb …




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika