Jumat, 27 Desember 2019

#6 : IMAJINASI, KREATIVITAS DALAM FIKSI






Menulis, bagiku bukan hanya sekadar hobi atau kegemaran. Menulis adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin aku bagikan juga kepada orang-orang di sekitarku, teman-teman yang tergabung di komunitas yang aku bangun, Pejuang Literasu. Latar akademikku memang bukan pendidikan Bahasa atau Sastra. Namun dari pengalaman terapi jiwa dengan menulis, serta mengikuti beberapa kelas pelatihan menulis baik online maupun offline membuaku cukup bermodal dan ingin membagikannya kepada lebih banyak orang, sehingga, jadilah diriku seorang mentor di dunia tulis menulis. 


Menulis, memang sebuah kesenangan yang menguntungkan dan sebenarnya mudah dilakukan, bahkan oleh anak-anak. Mereka hanya berbekal kemampuan sederhana; menulis, kemampuan yang hampir dimiliki oleh setiap anak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Yang membedakan penulis cilik dengan anak-anak lainnya hanyalah soal kemauan dan ketekunan dalam menulis.


"Anak saya tak berbakat menulis," celetuk seorang ibu padaku. 

Sebenarnya tak perlu khawatir. Karena kemampuan menulis itu bisa dilatih. Bakat hanya memainkan peranan tak sampai setengahnya dalam bidang ini. Sisanya latihan. 

Memiliki bakat menulis tetapi tidak berlatih menulis, sama seperti sebuah mata pisau yang tumpul, tak dapat digunakan untuk menyayat. Sebaliknya, besi tumpul yang diasah terus-menerus akan berubah menjadi tajam. Dan, seringkali kita tak menyadari bahwa kita mempunyai bakat menulis sebelum menuliskan sesuatu yang berasal dari pikiran kita.


"Untuk apa menulis cerita? Buang-buang waktu saja. Lebih baik belajar." Pendapat para orangtua seperti ini juga sering aku dengar.

Menulis juga belajar. 
Anak yang suka menulis, biasanya lebih teliti dan memahami apa yang dibacanya, tak sekadar membaca, lalu lupa. Selain itu, biasanya anak-anak ini lebih cerdas, kritis dan mudah menuangkan ide-idenya.

Cerdas bukan berarti harus meraih ranking pertama di sekolah, karena banyak anak cerdas dan jenius yang ternyata tidak cocok dengan sistem belajar yang diterapkan oleh sekolah, sehingga kerap membuat masalah. 

Cerdas adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya dengan baik, tuntas dan dengan cara yang baik pula. 

Anak yang terbiasa menulis cerita, tanpa disadari juga terlatih mencari jalan keluar yang terbaik dari masalah-masalah yang ada dalam ceritanya. Karena inti dari menulis cerita itu adalah adanya pemicu masalah, konflik antartokoh, dan penyelesaian.

Anak yang suka menulis juga dapat mengatasi trauma emosional dengan menuliskan unek-uneknya. Kebiasaan memendam persoalan sendiri memang tidak baik, karena dapat menimbulkan trauma yang lebih parah.

Yang juga tak kalah penting, orang yang mampu menulis biasanya akan mempunyai keuntungan yang luar biasa dalam sebagian besar pekerjaan. Hampir semua bidang pekerjaan memerlukan orang yang bisa menulis. Bayangkan, bagaimana rumitnya membuat laporan kegiatan jika orang yang bersangkutan tak bisa menuliskan apa yang sudah dilakukannya? Bagaimana bingungnya seorang mahasiswa ketika menulis skripsi? Bagaimana sulitnya menuangkan ide-ide brilian jika orang tersebut tak terbiasa menuliskan isi pikirannya?

"Lalu, bagaimana melatih anak menulis? Saya sendiri tak bisa menulis." 
Kalimat ini juga sering dilontarkan oleh para orangtua. 

Sederhana sekali sebenarnya. Untuk tahap awal, yang aku lakukan adalah membiasakan anak untuk menulis apa saja; pengalaman sehari-hari, curahan hati, kesukaannya, ketakutannya, impiannya, dan apa pun yang ingin ditulis mereka. Bila tulisan anak masih "kacau", aku berupaya menahan diri untuk tidak mengkritiknya ataupun menuntut kesempurnaan. Karena bisa jadi, anak akan "down" dan tidak mau menulis lagi. Sebaliknya, aku memberikan dukungan untuk mereka. Dalam setiap karya, sesederhana apa pun itu, tetap ada sisi positif yang dapat dipuji. Apakah ketekunannya, kemajuannya dibandingkan karya sebelumnya, dan lain sebagainya. Aku selalu menghindari menyensor tulisan anak. Walaupun masih kecil, sebagai orangtua, aku tetap menghargai privasi anak dan "posisinya" sebagai penulis karya tersebut.

Aku mencoba menekankan pada diri sendiri untuk tidak terjebak dengan konsep konvensional bahwa hasil akhir kegiatan menulis harus berupa cerita atau laporan. Karena sebetulnya, ranah penulisan kreatif justru lebih menarik bagi anak, dan hal itu dapat menggali lebih banyak potensinya.

Menurut Amelia Hirawan, seorang psikolog anak sekaligus art therapist dan writing coach, Budaya menulis pada anak bisa dikembangkan dengan menulis puisi, quote, komik, resensi film yang baru dia tonton, mengutip bagian favorit dari buku yang sudah dia baca, atau bahkan menulis status di sosial media, bila anak sudah diberikan akses ke sana. Anak bahkan juga bisa saja membuat liputan hasil risetnya sendiri, menulis lirik lagu, dan menyusun lapbook (buku atau sampul berisi gambar, tulisan, benda, apa pun terkait suatu topik).

Apabila dalam bentuk cerita, aku sendiri cenderung mendorong anak menulis fiksi (cerita khayalan) atau dongeng. Berdasarkan pengalamanku, anak-anak pun sebetulnya lebih suka menulis genre tersebut karena menyenangkan. Dalam dongeng, anak bebas berimajinasi tanpa terlalu berisiko menyinggung seseorang, atau khawatir menggunakan informasi yang salah.

Pendapat bahwa penulis fiksi itu tidak cerdas dan sekadar tukang khayal adalah salah besar. Justru fiksi lebih menantang daripada tulisan definisi atau liputan, yang konsepnya adalah memindahkan kejadian ke dalam tulisan. Fiksi itu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. 

Saat menuliskan laporan atau hal-hal nonfiksi lain, anak akan lebih banyak menggunakan otak kiri (bahasa, logika, analisis, urutan, detail). Sedangkan untuk menulis fiksi, anak juga sekaligus bisa mengasah kemampuan otak kanannya karena ada unsur imajinasi, kreativitas, emosi, membuat opini dan konsep.

Jadi, kalau ingin menantang anak menulis, jangan melulu menyuruh dia menuliskan pengalaman berlibur. Minta juga dia menulis hal-hal di luar kebiasaan yang memancing imajinasi, seperti kisah tentang harimau yang terjebak di tengah laut. Pasti seru!

Setelah kemampuan menulis anak-anak semakin baik. Mereka sudah memiliki banyak koleksi tulisan, atau volume tulisannya cukup panjang, maka inilah saatnya untuk membukukan karya tersebut. Punya buku akan sangat membanggakan, karena buku memiliki bentuk fisik yang nyata, dan ini murni miliknya, berbeda dengan bila tulisan dimuat di majalah. Minimal aku mendorong anak-anak untuk menerbitkan karyanya sendiri secara sederhana untuk dibaca oleh orang-orang terdekatnya, misalnya keluarga atau teman-teman. Yang penting, anak sudah selangkah lebih maju; dari hanya menulis untuk diri sendiri, kini sudah menulis untuk dibaca orang lain.

Aku berharap, keinginan dan rasa percaya dirinya untuk terus berkarya lebih baik lagi akan semakin kuat. Yang harus disadari, anak yang masih kecil belum bisa "bergerak" sendiri untuk mewujudkan impiannya menjadi penulis. Karena itu, sebagai orangtua, aku menyediakan waktu untuk memahami bagaimana cara merealisasikan keinginan anak menjadi penulis. Misalnya, membantu editing naskah, tentunya atas seizin mereka.

Selain itu, berhasil menyusun buku juga memiliki semacam gengsi yang bisa mendongkrak kepercayaan diri anak, karena prosesnya lebih kompleks, memerlukan waktu, juga komitmen jangka panjang. Setelah dicetak menjadi buku, jangkauan penyebaran tulisan pun jadi lebih luas. Tentunya, ini akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri, karena cerita dan informasi yang ditulis anak, bisa dibaca banyak orang. Banyak pengaruh positif didapatkan anak-anak dari menulis dan menerbitkan buku. Di antaranya adalah tanggung jawab pada deadline penulisan bukunya.

Bahkan manfaatnya tidak berhenti hingga saat buku terbit. Setelahnya, anak bisa dilatih public speaking pada saat mengadakan acara bedah buku. Anak juga belajar konsep wirausaha, misalnya dengan meminta anak menetapkan harga dan memasarkan bukunya sendiri, seperti yang kami lakukan di Pejuang Literasi.

Buku berjenis antologi (kumpulan tulisan dari beberapa penulis) dapat dijadikan pilihan, karena jumlah tulisan anak-anak kurang mencukupi untuk satu buku. Aku menggabungkan saja naskah mereka dengan tulisan kawan-kawannya, tentunya memiliki benang merah yang sama, yakni satu tema.

***

Pencerahan juga aku dapat dari website mba Winda, www.urbanmama.com, tentang bagaimana melatih anak menjadi penulis, bahkan di usia yang sangat muda.

Sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak mempunyai atau menguasai kemampuan menulis huruf sekali pun. Lho, kok bisa?

Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.

Pertama, dapat mencoba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita. Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan out of the box selain anak-anak itu sendiri.

Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H: who (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.

Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map. Mind map atau 'jejaring ide' adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.


Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).

Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar. 

Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?


***


Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Maka, memberikan semangat kepada anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku adalah hal utama. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sedari kini. Semoga anak-anakku pun ikut bekontribusi dalam sejarah kebangkitan literasi di Indonesia.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika