Selasa, 03 Desember 2019

#7 : TABUNGAN AKHIRAT



"Bunda mau cerita tentang orang yang sangat mencintai hartanya. Mau dengerin gak?" Suatu sore yang santai, aku berusaha memecah fokus mereka yang sedang asik bermain sendiri-sendiri, supaya mau duduk di dekatku dan berkumpul di hadapanku.


"Boleeeeh laaah, Bun," celetuk Shahia dengan nada centilnya. Sedangkan Lula, langsung berlari menubruk, kemudian duduk di pangkuanku.


"Ada seorang pedagang yang sukses luarbiasa, Pak Mahmud namanya. Pak Mahmud ini dikenal teman-teman, tetangga dan saudara-saudaranya sebagai orang yang sangat mencintai hartanya."


"Mencintai harta kan gak baik ya, Bun." Aksan menyela.


"Hmm ... kenapa kok ga baik?" Aku bertanya pada Aksan.


"Kan orang yang mencintai harta itu biasanya pelit atau serakah." Aksan dengan yakin menjawab.


"Nah, itu menurut Kakak. Tapi menurut Pak Mahmud berbeda. Karena dia sangat mencintai hartanya, bahkan tidak mau berpisah dengan hartanya, maka Pak Mahmud sangat rajin menabung. Tapi ... tau gak tabungannya itu ditaruh di mana?" 


"Di Bank dong," Shahia menjawab dengan cepat.


"Hmmm ... kurang tepat," sahutku sambil mengedipkan mata kiri.


"Trus tabung di mana, Bun?" tanya Shahia penasaran.


"Pak Mahmud saking cintanya sama hartanya, dia bahkan berencana membawa hartanya itu hingga dia meninggal dunia."


"Aneh ... orang meninggal kan ga bisa bawa hartanya, Bun." Aksan kembali menyela.


"Kata siapa enggak bisa bawa harta ke akherat?" tanyaku.


Aksan dan Shahia nampak bingung. Lula yang masih belum paham apa-apa cuma cengar cengir menunggu aku melanjutkan cerita.


"Pak Mahmud saking cinta kepada hartanya, dia pun membawa hartanya hingga akherat. Dia menabung hartanya di jalan Allah. Pak Mahmud selain selalu menunaikan zakat fitrah dan zakat mall yang memang wajib dilakukan, dia juga banyak bersedekah, infaq bahkan wakaf. Dia habiskan harta yang dicintainya di jalan Allah. Dia berkata pada teman-teman, tetangga dan saudaranya bahwa harta yang dia sangat mencintai hartanya, oleh sebab itu dia tabung untuk akherat."


"Ooooh gitu ya, Bun. MasyaAllah ..." Shahia bergumam kagum.


"Tabungan akherat itu berarti sedekah, beramal, wakaf, infaq, gitu ya Bun? Karena kalau harta yang disedekahkan itu pahalanya dibawa sampai ke akherat, jadi benar kalau Pak Mahmud sangat mencintai hartanya ya, Bun. Dibawa sampai meninggal, bahkan sampai akherat." Aksan mulai memahami dan mengulang ceritaku dengan bahasanya sendiri.


"Begitulah kalau sangat mencintai harta karena Allah, seharusnya membawanya juga sampai akherat. Jangan hanya mencintai harta di dunia saja. Kalau mencintai harta hanya di dunia, kita akan jadi orang yang pelit, atau malah serakah, sombong, atau bahkan menghamburkannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Naudzubillah."


"Manusia memang diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memiliki kecenderungan ini. Tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Tetapi mereka mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi cintanya pada Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah. Pernah dengar tentang kisah Abu Thalhah saat mensedekahkan hartanya?"

"Belum, Bun. Ceritain dong!" Shahia kembali menjawab dengan cepat.

Aku membuka sebuah laman internet, www.an-najah.net, lalu membacanya.



“Abu Thalhah adalah orang Anshar kaya yang paling banyak memiliki kebun kurma di Madinah. Dia sangat mencintai Bairuha (nama kebun) yang berhadapan dengan Masjid. Rasul juga suka masuk ke sana dan minum air segar dari mata airnya. Tatkala turun ayat (Qs. Ali Imran: 92). لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ Abu Thalhah berkata: Wahai Rasul, Allah telah menegaskan bahwa tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali menginfakkan apa yang dicintai; harta yang amat saya cintai adalah kebun Bayruha, maka dengan ini saya sedekahkan karena Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah SWT. Gunakanlah wahai Rasul sesuai kehendakmu. Rasul SAW bersabda: Bakh (kata-kata kagum), ini adalah harta yang sangat baik yang sangat bernilai! Saya mendengar apa yang kamu ucapkan! Saya berpendapat alangkah baiknya engkau berikan ke kerabatmu. Dia mengatakan aku lakukan wahai Rasul! Kemudian Abu Thalhah membagikannya ke kaum kerabat dan anak pamannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)."


"Kisah Abu Thalhah yang menyadari bahwa harta yang akan ia sedekahkan tersebut adalah harta yang sebetulnya sangat ia cintai. Akan tetapi, karena seruan Allah lebih ingin ia dengarkan dari pada seruan perasaan yang ada dalam hatinya, ia rela berbuat kemuliaan tersebut. Semakin besar ia berkorban, entah dengan harta ataupun jiwa, semakin kuat pula keimananya. Sebaliknya, semakin pelit dan kikirnya seseorang, akan menunjukkan keimannya yang tipis terhadap akhirat."


Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(Qs. Ali Imran: 92)



"Sahabat yang lain adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu, harta yang paling ia cintai adalah seekor kuda yang bernama ‘Sabl’. Ketika ayat 92 dari surah Ali Imran ini turun, ia menyedekahkannya dengan memberikannya kepada Rasulullah. Ketika kuda tersebut digiring oleh anaknya untuk diberikan kepada Rasulullah, baginda melihat wajah Zaid bin Haritsah berubah, namun Rasulullah segera bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menerimanya darimu (wahai Zaid)!” (Diriwaytkan oleh Ibnu Abi Hatim; lihat Tafsir Al Qurthuby dan Al Alusy)."


"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu"
(QS Al-Baqoroh: 267)

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya, memperoleh pahala yang besar.” (QS Al-Hadiid: 7)


“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shale?” (QS Al-Munaafiquun: 10)




"Dari tiga ayat tersebut memang tidak dijelaskan besaran pasti untuk kita melakukan setoran. Yang diminta hanya sebagian. Bisa sebagian kecil, bisa sebagian besar. Tergantung diri kita masing-masing maunya berapa. Ketika kita sudah menyedekahkan harta kita, maka otomatis catatan kebaikan di buku amal kita akan bertambah."

"Dan, “bunga” yang kita dapatkan dari hasil sedekah kita adalah 700 persen. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus benih. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqoroh: 261)"

"Hitung-hitungannya, gini nih: 1 butir benih x 7 bulir x 100 benih = 700 benih. Itu minimalnya loh, paling sedikitnya loh. Coba lihat di hitungan tersebut, setiap benih itu bisa menghasilkan tujuh bulir. Kalo kita punya 700 benih berarti jadi 4.900 bulir yang akan menghasilkan lagi 100 biji pada masing-masing bulir. Begitu seterusnya. Tak akan pernah berhenti. Hal itu bisa dilihat di ayat yang tadi Bunda sebutin. “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”

"Bank akhirat ini memang tidak punya kantor resmi. Tapi kita bisa melakukan setoran di mana saja. Misal, ke Bunda nih, saudara ... kakak-adik, anak-anak yatim, orang miskin dan musafir."

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqoroh: 215)"

"Mudah banget kan?"



"Juga, gak perlu khawatir salah catat setoran. “Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Baqoroh: 121)

"Dengan membuka rekening di bank akhirat ini berarti kita telah menyimpan harta kita dalam bank teraman di dunia, bahkan di akhirat. Yang namanya tabungan tentu saja harta yang kita tabung sebenarnya masih ada hak kita. Hanya saja kita memang tidak memegangnya. Apalagi di bank akhirat ini kita tidak bisa melakukan penarikan tunai. Tapi kita bisa merasakan manfaat dari tabungan kita tersebut. Bisa di dunia ini atau di akhirat nanti."


Aku melihat ketiganya manggut-manggut. Semoga Allah benar-benar memahamkan mereka. Aaamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika