Selasa, 03 Desember 2019

#9 : DECLUTTERING : Kebiasaan menuju Keteraturan



“Menjalani hidup minimal bukanlah tentang hidup kekurangan, tapi tentang bagaimana memiliki kebendaan sesuai kebutuhannya.”



Kebanyakan orang memiliki banyak tumpukan barang yang jarang atau tidak terpakai dan tidak memiliki fungsi esensial. Budaya ini akan semakin berkembang dan menjangkiti seiring dengan meningkatnya penghasilan dan meniru budaya Barat. Tanpa disadari, kita sudah nggak hanya beli barang sesuai kebutuhan, tapi karena keinginan. Termasuk diriku, yang dulu sering terlena dengan pop up diskon! 

Kemampuan untuk membeli dan memiliki banyak barang tentunya sering menjadi ukuran kemampuan finansial seseorang di mata orang lain. Namun, apakah kita sadar berapa banyak barang yang diperlukan untuk hidup dan bukan sekadar keinginan? Selain itu, apakah kita juga menyadari faktor-faktor yang diperlukan untuk menjaga dan merawat barang yang menumpuk di rumah? 


Kebiasaan ini kalau dibiarkan terus tentu akan menjadi mindset yang terikat pada kebendaan. Seberapa pun uang yang dimiliki, akan habis untuk membeli barang. Budaya konsumtif yang dibungkus oleh materialisme dan hedonisme. 

Oleh sebab itu, barang-barang tersebut sebaiknya dibuang atau disumbangkan. Dalam Islam, konsep hidup sederhana mengajarkan untuk tidak mubazir, melatih untuk ikhlas, membiasakan sedekah, disiplin dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya agar tidak hidup atau memiliki sesuatu secara berlebih-lebihan.

Ada banyak keuntungan apabila kita berhasil melepaskan diri dari kebendaan ini. Terutama dalam ajaran Islam yang mengingatkan kita “Genggamlah Dunia dengan Tanganmu, Bukan dengan Hatimu.”


Kalau sudah terlanjur mengoleksi beragam barang dan ingin menguranginya, proses ini dikenal dengan istilah DECLUTTERING. Dan inilah proyek keluarga kami pekan ini. Akhir November 2019, "beberes rumah" menjadi agenda utama. 


Decluttering adalah membuang atau merapikan barang-barang tidak penting yang memenuhi tempat tertentu.

Buat beberapa orang, decluttering ini nggak gampang karena terikat dengan kenangan pada suatu barang, misalnya kenangan masa kecil, kampung halaman, travelling dan sebagainya. Tapi kalau kita ingin hidup lebih ringkas, hemat dan rumah juga lebih lapang, harus ada sedikit “memaksakan diri” menyingkirkan barang-barang nggak perlu.

Aku sendiri termasuk orang yang nggak suka rumah berantakan, tapi sayang kalau membuang benda. Ya itu, banyak kenangannya. Tapi berangkat dari keinginan untuk hidup minimalis, kondisi harus diusahakan. Nggak bisa terbentuk dengan sendirinya.

Aku pun melibatkan genk krucils dalam proyek tersebut, agar mereka dapat belajar, bahwa mengoleksi barang sebenarnya tidak efektif, dan memberikan pemahaman, bahwa dalam hukum Islam, kita nanti akan ditanyai tentang kemanfaatan semua benda yang ada di sekeliling kita. Supaya tidak ada yang mubazir, aku pun meminta anak-anak ikut serta memilih serta memilah barang-barang mereka. Mulai pakaian, buku-buku, hingga mainan.


Aku menggunakan 10 cara merapikan barang (decluttering) yang kukutip dari buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay:


1. Start Over (Mulai dari awal)

Kosongkan sebuah ruang. Ketika kita ingin meminimalisir isi lemari, maka bongkar dan kosongkan isi seluruh lemari. Hal ini dilakukan agar kita benar-benar bisa memilih mana yang harus masuk dan keluar. Setelah semua barang dikeluarkan dan diletakkan di satu tempat, kita akan bisa memutuskan barang mana yang masih digunakan atau tidak.


2. Trash, Treasure, or Transfer (Buang, simpan atau berikan)


Setelah menyortir isi lemari akan tersisa barang-barang yang tidak dimasukkan kembali, yaitu barang yang tidak layak pakai atau jarang digunakan. Sediakan satu kardus besar kemudian letakkan semua barang yang masih kita pertimbangkan apakah masih akan digunakan atau tidak. Setelah selesai menyortir, pikirkan kembali apakah barang-barang tersebut sangat perlu untuk disimpan, dibuang atau diberikan pada orang lain.


3. Reason for Each Item (Barang harus beralasan)

Setiap barang harus memiliki alasan kuat mengapa ia disimpan. Kenali kegunaan setiap barang. Barang dibagi menjadi fungsional, dekoratif dan emosional. Barang dekoratif hanya berfungsi sebagai hiasan dan barang emosional adalah barang yang kita sukai meski tidak berfaedah. Yang akan kita simpan adalah barang fungsional yaitu barang yang akan kita gunakan untuk bertahan hidup.



4. Everything in Its Place (Letakkan sesuai tempatnya)

Letakkan kembali setiap barang yang telah digunakan ke tempat semula. Sering kali kita kesulitan mencari barang yang diperlukan karena menaruh barang tersebut sembarangan. Jika setiap barang diletakkan di tempatnya, tiap permukaan akan bersih dari barang-barang yang tercecer dan rumah tampak lebih rapi.


5. All Surfaces Clear (Semua permukaan bersih)

Semua permukaan datar seperti lantai dan meja harus dibiarkan kosong dan rapi.


6. Modules (Punya ruang)

Siapkan ruang-ruang untuk menyimpan barang dengan membaginya sesuai kebutuhan. Sebuah ruang yang bebas akan membantu kita bernapas lega di dalam rumah.


7. Limits (Batas)

Batasi jumlah barang yang dimiliki seperti baju, sepatu, aksesoris atau yang lain. Jangan hanya karena suka, kita jadi memiliki suatu barang dengan jumlah yang berlebihan. Dikutip dari majalah forbes, dulu seorang wanita pada tahun 1930 hanya memiliki 36 pakaian namun kini seorang wanita bahkan bisa memiliki 120 pakaian sementara 80% di antaranya jarang digunakan.


8. If One Comes in, One Go (satu masuk, satu keluar)

Jika ada satu barang baru masuk, keluarkan satu barang lama sejenis yang sudah usang dan waktunya pensiun. Kitalah yang menentukan keluar masuknya barang ke dalam ruang yang kita miliki.


9. Narrow It Down (Kurangi)

Kurangi benda-benda yang lama tidak terpakai atau sudah tidak digunakan. Sedikit barang akan menurunkan stres karena kita tidak pusing memikirkan perawatannya.


10. Everyday (Perawatan tiap hari)

Rawatlah rumah agar tetap rapi setiap hari. Perawatan yang istiqomah itu penting.


***


Pada minggu ini, kami merasakan beberapa manfaat yang diperoleh apabila dapat menahan diri untuk tidak menjadi konsumtif dan membatasi jumlah barang-barang yang dimiliki. Setelah bersih-bersih rumah, beberapa manfaat yang kami dapat sebagai berikut:


1. Mengurangi stress yang disebabkan oleh menumpuknya barang


Seringkali kita menganggap enteng tumpukan barang yang berada di rumah. Padahal, secara tidak sadar, tumpukan tersebut dapat menjadi pemicu kegelisahan dan stress dalam hidup. Secara visual, apa yang kita pandang hanyalah tumpukan barang yang berantakan dan membuatnya tidak dapat beristirahat. Belum lagi ketika harus mencari sebuah barang di dalam tumpukan tersebut. Dan setelah mengurangi barang-barang dan hanya menyimpan yang diperlukan agar tidak mengganggu keharmonisan hidup. 

Aku dan anak-anak sepakat akan menyisihkan waktu untuk membereskan barang-barang di rumah sebelum menumpuk dan akhirnya menjadi enggan untuk membereskannya.


2. Menciptakan lingkungan yang lebih sehat

Ketika kita memiliki banyak barang yang tercecer dan tidak rapi, tentu akan memakan banyak waktu untuk merapikannya. Jika tidak dirapikan, barang-barang tersebut dapat menjadi berdebu dan lebih parahnya lagi, menjadi sarang binatang kecil, seperti cicak dan tikus. 

Setelah menata ruang aktivitas sedemikian rupa, sehingga tidak tercemar oleh debu yang berlebihan dan kotoran lainnya. Hal ini juga dapat memperbaiki kualitas udara yang kami hirup sehingga tidak menimbulkan alergi maupun penyakit respiratori lainnya.


3. Menjadi lebih fokus pada hal-hal yang tengah dikerjakan

Tumpukan barang-barang yang tidak teratur dapat mengganggu kemampuan berkonsentrasi dan memproses informasi dalam pikiran kita. Hanya dalam keadaan bersih dan teratur, baru kemudian kita dapat kembali bekerja tanpa gangguan dengan lebih efektif. Selain itu, dengan berkurangnya barang, kita juga dapat mengurangi waktu berbenah agar dapat menggunakan waktu tersebut untuk melakukan hobi, bersantai bersama keluarga, maupun beristirahat.


4. Lebih efisien dalam melakukan pekerjaan

Kami tentunya tidak akan membuang waktu mencari-cari barang yang diperlukan setelah lingkungan tertata rapi dan tidak terdapat tumpukan barang. Ini artinya, baik aku maupun anak-anak dapat memiliki waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan di rumah, seperti bekerja bagiku atau pun belajar bagi anak-anakku. Kami sepakat untuk tidak pernah menunda kegiatan merapikan barang ketika memiliki waktu agar tidak menumpuk semakin banyak barang yang kurang diperlukan.


5. Mengurangi pengeluaran 

Poin terakhir ini merupakan yang paling nyata manfaatnya, karena memiliki sedikit barang berarti tingkat konsumsi rendah, dan tentunya membuat kita dapat menabung lebih banyak. Selain itu, dengan keterbatasan ruang penyimpanan yang dimiliki di rumah, ruangan akan selalu kelihatan rapi karena tidak banyak barang yang memenuhi dan cenderung menumpuk. Hal ini berpengaruh pada pikiran, sehingga dapat hidup lebih efektif dengan mengutamakan kesederhanaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika