Selasa, 14 Januari 2020

KOPI DAN ALIRAN HATI

Januari 14, 2020 0 Comments


Tak terasa game level #9 sudah di ujung waktu. Secangkir kopi menemaniku mengalirkan isi hati. Allah memang Mahadahsyat! Kenapa? Karena, DIA benar-benar selalu tepat menempatkan diriku di kelas bunda sayang batch ini. 

Setelah bulan lalu, aku alirkan bagaimana menjalani liku asik di level-level sebelumnya, yang kadang, aku tak punya ide untuk berkegiatan mengasah logika matematika anak. Kemudian, Allah tunjukkan sendiri, ketiga anakku, antusias belajar angka, bentuk dan sebagainya yang terkait dengan logika matematika. Allah lah yang memberiku solusi, diriku hanya menulis apa yang sudah Allah berikan.
MasyaAllah ....

Pun, kali ini. Di level tentang berpikir kreatif, tepat Allah skenario-kan di masa liburan sekolah anak-anak. Berkegiatan sederhana, mengisi liburan mereka, mengasah kreativitas ketiganya. Pas banget!

Aku nggak sempet membayangkan, kalau saja game level ini harus aku lalui saat kondisi normal anak-anak bersekolah. Rasanya akan sulit mengatur waktu bermain-main lebih leluasa dengan mereka. Bebikinan buku gambar dari kertas bekas, memanfaatkan kardus bekas susu formula, dan sebagainya. MahaBesar Allah dengan segala kuasa-Nya.

Di akhir semua petualangan kreativitas, diriku menemukan fakta bahwa ternyata proses kreatif itu erat kaitannya dengan bagaimana cara kita bersyukur atas apa saja yang DIA amanahkan (titipkan) serta anugerahkan pada kita.

Proses kreatif menggunakan daya pikir/akal kita, sebagai wujud syukur bahwa Allah ciptakan milyaran sel otak dalam diri kita, supaya kita menggunakannya dengan bijak dan untuk tujuan baik.

Proses berpikir kreatif juga melahirkan hal-hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri, dan bagi orang lain. Wujud syukur atas potensi yang telah Allah berikan dalam diri kita. Potensi fitrah yang jika dikembangkan, akan menjadikan kita lebih sukse dalam hidup. Sukses dalam arti sesungguhnya. 

"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain."





Kenapa Harus Bersama?

Januari 14, 2020 0 Comments

Saat bersama, sedih menjadi sirna
Saat bersama, duka berganti ceria
Saat bersama, terlahir lah karya
Saat bersama, bagai kertas dengan pena


Sepenggal asa masih tersisa, di sela reruntuhan harapan yang tak lagi menerpa. 
Sepi yang terasa sejak sekian purnama, memang tak bisa menghapus sekian dalam kenangan yang pernah ada.

Keriuhan dan kehangatan ruang virtual tempat belajar para pengelana aksara dan pencinta kata berkumpul, haruskah hanya menjadi "sejarah"?
Sejarah yang hanya dikenang ... 
Sejarah yang hanya dilewati masa berikutnya ....

Kali pertama merasakan ghiroh belajar, antusias berbagi informasi, bahkan mencetak karya buku, bukan hanya satu! Melainkan dua buku dalam satu tahun!
Sebuah prestasi dan bukti kesungguhan belajar bersama. Mendewasakan diri dan menulis pengalaman inspiratif dalam sebuah buku.

Aku, sungguh berharap, rumah belajar ini tetap ada. Bukan hanya kegiatan online, melainkan juga kegiatan offline. Menyuarakan literasi yang dianggap lesu!

Sesungguhnya, menulis itu seperti mengayuh sepeda. 
Jika berhenti, maka kita akan terjatuh. 


Rumah Belajar Literasi Media di IP Semarang adalah wadah berkumpulnya para pengayuh sepeda. Berhenti sejenak untuk minum kopi dan diskusi, sehingga bisa kembali bersemangat saat mengayuh sepeda. Kebersamaan memberikan kumparan energi yang besar. Sehingga bersepeda bersama-sama tentu menjadi lebih menyenangkan, daripada hanya sendirian!


#SaveRumbelLM
#IbuProfesionalSemarang
#SemestaKarya