Jumat, 31 Januari 2020

BUNDA BERIKISAH PART #2 : MELUKIS INDAHNYA PAGI


Masih melanjutkan kebiasaan mendongengkan cerita kepada anak-anak, terutama Lula, gadis empat tahunku.

Masih bersumber pada buku hasil karya teman-teman Pejuang Literasi, aku mulai beraksi. Memasang mimik, mengatur napas dan intonasi suara. Kalau sudah begini, anak-anak, terumata Shahia dan Lula akan menjadi lebih fokus mendengarkan apa yang aku baca.

Simak serunya yuk!

***





MELUKIS INDAHNYA PAGI
Oleh : Isya

“Aku akan melukis indahnya pagi!” ujar Dipo dengan suara lantang.
Bu guru dan teman-teman sekelas tertegun setelah mendengar ide liburan Dipo. Kagum dengan ide Dipo yang luar biasa, semua hanya hening. Dipo pun membusungkan dada karena bangga, melihat reaksi Bu guru dan teman-temannya yang kagum dengan dirinya. Kagum? Tentu saja. Kelelawar adalah makhluk yang aktif di malam hari dan akan tidur di pagi hari. Jadi sudah tentu kelelawar tidak bisa memandang indahnya pagi.
“Tapi, Dipo sayang, kita makhluk nokturnal. Makhluk yang aktif di malam hari,” kata Bu guru setelah tertegun sesaat.
“Pasti mudah, Bu Guru. Aku pasti bisa!” jawab Dipo sedikit sombong.
Malam ini adalah pertemuan terakhir di sekolah Kelelawar Cerdas, semua siswasangat gembira karenaliburan telah tiba. Ide liburan Dipo yang mengagumkan, menjadi perbincangan hangat teman-temannya.
Semua kagum, hi hi. Lihat nanti, aku akan melukis pagi dengan indahnya, dan aku berikan kepada Ibu guru. Pasti aku akan sangat disayang dan disanjung. Ujar Dipo dalam hati.
Sesampainya di rumah, dengan bangganya Dipo menceritakan ide liburannya kepada Ayah dan Ibunya. Untuk sesaat keduanya tentu saja tertegun.
“Dipo, Ayah tahu kamu pasti ingin membuat cerita yang hebat untuk teman sekelas mu. Tapi apakah kamu tahu,kita bangsa kelelawar sudah diciptakan untuk aktif di malam hari dan tidur di pagi hari. Kita diciptakan istimewa dengan keistimewaan itu,” nasihat Ayah.
“Ayah, Pon-Pon teman ku, si Monyet Ekor Panjang saja bisa aktif di pagi hari. Aku pasti bisa!” jawab Dipo.
“Itu berbeda, Nak. Mereka diciptakan untuk aktif di pagi hari,” ujar Ayah.
“Ayah, kok gitu. Anaknya membuat ide cemerlang, Ayah tidak mendukung,” jawab Dipo sambil cemberut.
Ibu yang melihat perdebatan Ayah dan Dipo segera menengahi, Ibu menggenggam tangan Ayah, menenangkan Ayah. Ibu lalu mendekati Dipo.
“Dipo, berat loh melawan kebiasaan alami kita untuk terjaga di pagi hari,” kata Ibu sambil mengusap kepala Dipo.
“Dipo mau main dengan Pon-Pon, Bu. Mau melihat indahnya pagi. Pasti keren, ketika nanti Dipo menceritakan hal itu di depan teman-teman,” kata Dipo penuh harap.
“Baiklah, Ibu akan menyiapkan semua hal yang Dipo perlukan. Tetapi berjanjilah, untuk tidak terlalu memaksakan diri,” kata Ibu dengan bijak.
“Terima kasih, Ibu,” jawab Dipo sambil memeluk erat Ibu.
Dipo segera berlari memeluk Ayah dan berlari kembali menuju kamar, menuliskan rencana liburannya. Ayah menatap Ibu dengan heran.
“Tak apa Ayah, pengalaman hidup akan mengajarkan Dipo nanti,” ucap Ibu.
***
Hari pertama, rencana Dipo untuk tidak tidur di pagi hari dimulai. Dipo akan mulai dengan membaca buku kesukaannya, yaitu cerita tentang perjalanan berkelana ke pulau lain. Dengan semangat membara Dipo menyiapkan cemilan dan teh, dan bersiap membaca buku di atas meja belajarnya. Ayam sudah berkokok, memberi tahu bahwa pagi akan segera datang.
Sedikit lagi, aku akan berhasil tidak tidur di pagi hari. Kata Dipo dalam hati dengan sangat gembira.
Namun apa yang terjadi, ketika Dipo menginjak ke halaman ke sepuluh seri ketiga buku kesukaannya. Dipo tertidur di atas meja belajarnya.
Ketika hari beranjak senja, Dipo terbangun. Sadar bahwa usaha di hari pertamanya gagal, Dipo amat menyesal. Ah, masih hari pertama. Aku masih punya 13 hari liburan, pasti bisa. Pikir Dipo dalam hati. Mulailah Dipo mencatat kegagalan rencananya dan membuat rencana baru.
***
Hari kedua dimulai dengan bermain congklak dan catur bersama Ayah sepanjang dini hari sampai pagi. Setelah Dipo berhasil membujuk Ayah, akhirnya mereka berdua berencana bermain congklak dan catur sampai empat belas ronde. Tentu saja Ayah sudah mengalahkan Dipo dalam 4 ronde permainan catur. Tapi Dipo boleh berbangga, karena sudah empat ronde Ayah kalah main congklak dengan Dipo.
Ayam sudah mulai berkokok, tanda matahari akan mulai muncul. Ayah sudah menguap berkali-kali, mata Ayah pun sudah memerah menahan kantuk. Dipo masih terus bersemangat bermain congklak, sudah ronde ke sembilan. Ketika giliran Dipo yang membagikan biji congklak, rupanya Ayah tertidur di sofa. Dipo yang melihat Ayah tertidur, berinisiatif mengambilkan selimut untuk Ayah. Dipo sangat senang Ayahnya sudah berusaha menemani Dipo mewujudkan liburan impiannya.
Sambil meneruskan permainan congklaknya, Dipo berkali-kali mengusap matanya yang mengantuk. Berat rasanya menahan kantuk sambil memikirkan strategi bermain. Ketika Dipo sudah berat menahan kantuk, diletakkan kepalanya ke sofa. Sebenarnya niat Dipo hanya untuk tidur sesaat, namun apa daya ternyata Dipo tertidur sampai senja. Rencana Dipo gagal lagi.
***
Hari ketiga Dipo berencana akan menonton film kesayangannya sampai matahari terbit sambil memakan biji kopi. Dipo dengar kopi bisa membuat mata terjaga, sehingga alih-alih menyeduhnya, Dipo memilih mengunyahnya. Karena menurut pemikiran Dipo, jika sambil dikunyah maka mulut akan bekerja dan otak akan sibuk, sehingga kantuk pun akan hilang. Dimulailah rencana ketiga Dipo, Ayah sudah menyiapkan berbagai film dokumenter kesayangan Dipo. Kali ini Ayah tidak bisa menemani Dipo, karena Ayah ada rapat dan pulang agak sedikit terlambat.
Dipo sudah memulai mengunyah biji kopi, rasa pahit meledak di mulut Dipo. Tapi demi memuluskan rencananya, Dipo tetap menelan dengan susah payah. Pintu depan tiba-tiba terdengar membuka. Pasti Ayah baru pulang, wah sudah pukul empat pagi. Ayah pasti lelah. Pikir Dipo. Tak disangka Ayah menengok Dipo yang sudah mulai menonton film dokumenter kesukaannya.
“Dipo perlu Ayah temani, Nak?” tanya Ayah.
“Tidak perlu, Ayah. Ayah istirahat saja, Ayah pasti lelah,” jawab Dipo sambil tersenyum.
Ayah pun akhirnya memutuskan untuk segera tidur, karena esok malam pekerjaan masih menunggu Ayah.
Dipo melirik jam, sudah pukul lima pagi. Sedikit lagi, yes. Satu jam lagi.Ujar Dipo dalam hati.
Ayam sudah mulai berkokok menandakan matahari semakin meninggi. Layar televisi di kamar Dipo sedang menayangkan dokumenter penemuan bohlam lampu, namun sayang Dipo sudah tertidur lelap. Rencana ketiga gagal lagi.
***
Senja ini adalah senja kesepuluh, Dipo sudah melalui berbagai cara untuk bisa tetap terjaga sepanjang pagi. Dimulai dengan tetap berolahraga, bersepeda berkeliling desa kelelawar, mendengarkan musik klasik, sampai mengobrol dengan Pan-Pan sepanjang pagi, semua gagal. Impian Dipo untuk dipuji Bu guru di depan semua teman-teman sekelasnya, hancur berantakan.
Dipo dengan gontai terbang ke pohon buah markisa, rumah Pan-Pan si Monyet Ekor Panjang, sahabat baiknya.
“Kenapa muka mu kusut, Dipo?” tanya Pan-Pan.
“Aku gagal, Pan-Pan. Teman-teman pasti akan menertawakan ku nanti,” ujar Dipo sambil menangis.
Pan-Pan pun ikut sedih mendengar kegagalan Dipo, “Tapi kamu hebat. Kamu sudah mencoba berbagai hal, untuk bisa tetap terjaga di pagi hari. Bukankah itu hebat!” puji Pan-Pan.
Dipo hanya menunduk terdiam.
“Ini hadiah untuk mu, oleh-oleh liburan ku,” kata Pan-Pan. 
Dibukanya album foto itu satu per satu. Ada matahari terbit di ufuk timur dan Pak Jago yang sedang berkokok. Pan-Pan dan teman-temannya sedang berayun, bahkan Kuki si Kupu-Kupu yang sedang hinggap di salah satu bunga di ladang bunga pun ada. Dan satu lagi foto Dipo dan teman-temannya yang berangkat ke sekolah saat senja.
“Tapi bukankah Dipo itu memang sudah hebat ya. Dipo dan teman-teman bisa terbang di malam hari tanpa tersesat. Aku saja akan sangat sulit melihat dalam gelap,” ujar Pan-Pan.
Dipo berpikir sejenak setelah mendengar ucapan sahabatnya. Dipo memeluk sahabatnya dan mengucapkan terima kasih. Dia membawa hadiah berharga pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Dipo memeluk Ayah dan Ibunya. Mengucap maaf dan terima kasih. Dipo pun membawa album foto tersebut ke dalam kamar dan mulai menuliskan liburannya.
***
Senja pertama kembali ke Sekolah, Dipo sudah gugup dengan cerita liburannya.
“Ayo, siapa yang akan pertama kali maju berbagi cerita tentang liburannya?” kata Bu Guru.
Dipo mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Setelah dipersilahkan Bu Guru, akhirnya Dipo maju ke depan kelas.
Dipo pun mulai menceritakan rencana terjaga di pagi hari selama liburan, kegagalan pertamanya ketika membaca buku, kegagalan keduanya ketika bermain congklak dan catur bersama Ayah, dan kegagalan-kegagalan selanjutnya. Ada kalanya teman-temannya tertawa mendengar ide lucu Dipo untuk melawan kantuk. Dan ada kalanya teman-temannya terkagum-kagum dengan ide Dipo.
“Liburan ku melukis indahnya pagi, gagal teman-teman. Tapi sahabat ku telah melukiskan indahnya pagi melalui hadiahnya,’ ujar Dipo, “Mungkin aku hanya akan bisa melihat indahnya malam, tapi tetap akan selalu seindah pagi. Karena itulah kebesaran Ilahi yang harus kita syukuri. Di saat makhluk lain buta akan gelapnya malam, justru kita bangsa kelelawar bisa terbang dengan tenangnya tanpa menabrak apa pun. Tanpa bisa tersesat,” tambah Dipo.
Setelah Dipo bercerita semua teman-teman bertepuk tangan, memberi Dipo penghargaan atas ceritanya yang hebat. Mulai senja ini Dipo tidak akan iri dengan makhluk lain, karena kini Dipo sadar bahwa dirinya juga istimewa.


***

"Nah, bagaimana ceritanya? Seru kan." Aku menutup cerita dengan mencoba berdiskusi dengan mereka.

"Iya, Bun! Besok lagi ya," celetuk Lula.

"Boleh! Tapi inget ya ... cerita barusan mengajarkan apa aja hayo?"

Shahia nampak berpikir keras, Lula hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Jadi, kita tidak boleh memiliki sifat iri dengan orang lain. Dan ... harus selalu mencintai diri sendiri, karena Allah menciptakan makhluk-Nya dengan keistimewaan masing-masing."

Kedua putriku meanggukkan kepala tanda paham. Aku menutup buku, mengecup kening mereka dan meminta mereka membaca doa sebelum tidur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika