Jumat, 31 Januari 2020

BUNDA BERKISAH PART #4 : KURI SI KURA-KURA



Bersyukurlah dengan apa yang ada pada diri kita. Allah pasti menciptakan yang terbaik untuk kita. Yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, begitu juga sebaliknya.

"Bun, kita kok enggak punya mobil sih. Coba punya mobil, kalau hujan kan enggak kehujanan. Kalau panas, enggak kepanasan juga." Shahia suatu sore mengeluhkan hujan yang mengguyur tanah.

"Hmm, kita harus bersyukur, Nak. Apa saja yang Allah titipkan kepada kita, itu adalah amanah sekaligus rezeki. Jadi, kalau memang masih dititipin motor, ya bersyukur."

"Mau gak dengerin cerita tentang kura-kura yang bersyukur?" 

"Maaauuuu, Bun!"

"Oke!"

***

KURI SI KURA-KURA
Oleh: Yuli Rakhmawati
           

Beberapa hari lagi libur sekolah tiba, Kuri si kura-kura bersiap-siap untuk berlibur. Kali ini ia akan pergi ke rumah nenek.  Rumah nenek Kuri berada di hutan sebelah, yang dibatasi oleh ladang para petani dan tidak terlalu jauh jaraknya.  Ayah dan ibu Kuri tidak bisa mengantar ke rumah nenek,  karena tidak libur.
Bunyi ayam jago yang bersahut-sahutan pagi ini, membuat Kuri bergegas bangun. Ia bangun dengan bersemangat, karena hari ini Kuri akan berlibur ke rumah nenek. 
“Kuri ayo sarapan dulu, biar tidak lapar di tengah jalan,” kata sang ibu.
“Iya bu,” jawab Kuri
“Wah,  kamu bersemangat sekali pagi ini Nak,” sahut ayah Kuri.
“Iya Yah, aku sudah tidak sabar bertemu nenek, Kuri sudah kangen,” jawab Kuri.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Kuri pun berpamitan kepada ayah dan ibunya. Diciumnya tangan ayah ibunya.
“Kuri berangkat ya,” kata Kuri, sambil  melambaikan tangan pada ayah dan ibunya.
“Hati-hati di jalan ya Nak,” jawab ayah dan ibu Kuri seraya membalas lambaian tangan Kuri.
Dengan hati yang riang Kuri melangkahkan kaki menuju rumah nenek. Kadang terdengar sayup-sayup nyanyian dari bibirnya. Kuri sengaja bernyanyi agar tidak mudah lelah dan perjalanan yang lama tidak terasa. Jalannya yang lambat,  membuat Kuri membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah nenek.  
Ketika lelah melanda, Kuri beristirahat sejenak di bawah pohon. Dia duduk-duduk sambil mengibas kibaskan daun kering untuk menghilangkan peluh. Sambil bersandar ia melihat sekeliling.
Dilihatnya Titi merpati yang terbang kesana kemari bersama teman-temannya. Ah, seandainya aku punya sayap, pasti aku akan sampai di rumah nenek dengan cepat, batin Kuri. Mengapa tuhan menciptakan jalanku lambat ya? Tuhan tidak adil, gerutu Kuri dalam hati.
Tanpa Kuri sadari, Pupu si kupu, menghampirinya.
“Hai Kuri, mau kemana?” tanya Pupu yang hinggap di bunga, tidak jauh dari  tempat Kuri.
“Eh Pupu, bikin kaget saja. Aku mau berlibur ke rumah nenek.”
“O … nenekmu yang rumahnya di hutan sana ya. Lalu mengapa engkau melamun?” tanya Pupu lagi.
“Iya Pupu. Aku tidak melamun, aku lelah, maka,  aku rehat dulu di sini. Enak kamu ya punya sayap, kalau kemana-mana bisa cepat,” jawab Kuri sedikit menggerutu. 
“Jangan mengeluh Kuri, kamu harus bersyukur dengan apa yang ada pada dirimu. Maaf Kuri aku tidak bisa menemanimu berbincang, aku harus mencari nectar lagi,” Kata Pupu sambil bersiap-siap untuk terbang.
“Hati-hati Kuri,” kata Pupu.
“Terima kasih Pupu,” jawab Kuri.
Tidak lama kemudian Kuri meneruskan perjalanannya. Matahari yang menyengat membuat Kuri merasa haus. Ia berjalan menuju sungai kecil yang ada di pinggir hutan. Setelah sampai di air yang dangkal, ia menjulurkan kepalanya dan meminum air sungai yang terasa segar.
Sedang asik-asiknya minum, ia mendengan suara air berkecipak.
“Kuri ya?” tanya Kiki si ikan sambil berusaha mendekat.
“Eh Kiki, iya, ini aku,” jawab Kuri sambil mendongakkan kepalanya.
“Tampaknya kamu kehausan, dari mana?”
“Dari rumah mau ke rumah nenek. Sebenarnya jarak rumah nenek tidak jauh, tapi karena jalanku pelan jadi terasa jauh dan melelahkan. Enak kamu ya Ki bisa berenang dengan cepat, kadang bisa melompat juga,” jawab Kuri mengeluh.
“Ah sudah, jangan mengeluh terus. Segera lanjutkan perjalananmu, agar tidak terlalu sore sampai di rumah nenek. Semangat Kuri!”  jawab Kiki si ikan sambil berenang ke tengah sungai.
“Terima kasih Kiki,” jawab Kuri setengah berteriak, karena Kiki si ikan sudah tidak terlihat.
Setelah hausnya hilang, Kuri meneruskan perjalanan ke rumah nenek. Selang beberapa saat kemudian, sawah para petani sudah terlihat. Itu menandakan, bahwa rumah nenek sudah dekat.
Pelan-pelan Kuri menyusuri pematang sawah. Sisa hujan semalam, meninggalkan jejak genangan air hampir di sepanjang pematang yang Kuri lalui. Padi yang ditanam pak tani tampak hijau, menghampar bak permadani. Kuri sangat senang memandangi hamparan padi yang menghijau. Di tepi sawah juga tumbuh pohon kelapa yang tinggi menjulang. Beberapa di antaranya berbuah sangat lebat.
“Kuri, Kuriii, kaukah itu, tunggu aku!”
Kuri menoleh kearah suara yang sangat dikenal. Ia berhenti sejenak untuk menunggu temannya.
“Haii … Dodo! Apa kabar?” jawab Kuri ketika teman yang memanggilnya sudah agak dekat.
“Baik Kuri. Apakah kamu mau ke rumah nenek? Nenek sudah menunggumu dari tadi,” jawab Dodo si kodok, yang tidak lain adalah teman bermain Kuri,  ketika di rumah nenek.
“Senang rasanya bertemu denganmu. Ya Do, aku mau ke rumah nenek. Sebenarnya aku sudah berangkat sejak tadi pagi, tapi, karena jalanku lambat, aku baru sampai sekarang,” kata Kuri sambil menunduk lesu.
“Ah, sudahlah yang penting kamu sudah sampai dengan selamat,” Kata Dodo si kodok berusaha menenangkan sahabatnya.
“Rasanya Tuhan tidak adil kepadaku. Aku iri dengan kamu dan teman-teman yang lain. Titi merpati bisa menjelajahi angkasa dengan mudah. Pupu si kupu bisa hinggap di setiap bunga dengan cepat. Kiki si ikan bebas berenang dan bermain air sesuka hatinya, dan kamu Do, bisa meloncat tinggi dengan ringan.  Kalian bisa kemana-mana dengan cepat.  Sedangkan aku, berlaripun tidak bisa.”
“Jangan berkecil hati Kuri, Tuhan menciptakan  makhluknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” jawab Dodo si kodok.
Tidak terasa sampailah mereka di tepi sawah yang di tumbuhi pohon kelapa. Tiba-tiba, sebuah kelapa jatuh.
“Awas Kuri, cepat minggir!” seru Dodo yang melihat buah kelapa jatuh.
apia pa mau di kata, karena geraknya yang lamban, Kuri tidak sempat menghindar. Buah kelapa itu jatuh tepat di atas badannya. Dodo yang melihat sahabatnya tertimpa buah kelapa, menjerit-jerit khawatir. Dihampirinya Kuri yang tidak bergerak.
“Kuri …, kuriii, kamu baik-baik saja?” Tanya Dodo sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kuri.
Agak lama Dodo menggoyang goyang tubuh Kuri, sambil memeriksa tubuh sahabatnya yang tertimpa kelapa. Tidak dijumpainya luka di tubuh Kuri, tapi Kuri tetap diam tidak bergerak. Melihat hal itu Dodo berinisiatif untuk memanggil kawan-kawannya yang lain.
“Dodo, apa yang kamu lakukan?” tanya kuri bingung melihat Dodo yang mondar mandir.
“Kuri, kamu tidak apa-apa?” tanya Dodo dengan raut muka yang bingung.
“Sedikit pusing, sepertinya ada benda berat yang menimpa tubuhku.”
“Tapi kamu tidak terluka kan?”
“Tidak, karena tempurungku sangat keras dan kuat, sehingga bisa melindungi tubuhku yang lain dari buah kelapa yang menimpaku.”
“Syukurlah kalau begitu. Eh, tunggu sebentar. Aku tahu sekarang, berarti Tuhan adil kepadamu Kuri.”
“Maksudmu Do?”
“Ah, masak kamu gak tau sih!”
Kuri menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengernyitkan dahi, karena dia tidak mengerti maksud Dodo.
“Kamu memang lambat berjalan, tapi Tuhan menciptakan perisai yang kuat di tubuhmu. Coba bayangkan kalau buah kelapa itu jatuh di tubuhku, atau teman-teman yang lain. Bisa-bisa kami terluka parah bahkan bisa mati!” jelas Dodo panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan Dodo. Kuri baru menyadari kelebihan yang dimilikinya. Yang selama ini tidak disadarinya.
“Kamu benar Do, aku yang kurang bersyukur,” kata Kuri dengan nada menyesal.
Sampai di rumah nenek, Kuri merasa senang dan menceritakan semua yang di alaminya kepada nenek. Esoknya Kuri mengundang teman-temannya untuk bermain bersama dan mencicipi makanan nenek yang lezat.
Sungguh liburan yang penuh arti bagi Kuri. Sejak saat itu Kuri berjanji akan tetap mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Belajar lebih giat, tidak mengeluh ketika membantu ayah ibu, serta tidak akan pernah iri dan membandingkan dengan teman-teman yang lain.
Banyak sekali yang ingin Kuri ceritakan, baik kepada ayah dan ibu, maupun teman-temannya di sekolah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika