Jumat, 31 Januari 2020

BUNDA BERKISAH PART #6 : PENA DAN BIBI HANA





PENA DAN BIBI HANA
Oleh: Prihantini

            “Assalamualaikum ...., Bibi Hana, Bi .... bukain pintu.”
            Suara Pena memecah keheningan dini hari itu. Waktu menunjukkan pukul 03.30. Pena dan Ayah Novo baru saja sampai di rumah Bibi Hana. Kedatangan mereka tidak diketahui oleh Bibi Hana dan juga oleh Bilo dan Dilo. Bibi Hana adalah adik dari Ayah Novo. Bibi Hana memiliki dua anak laki-laki bernama Dilo dan Bilo. Ayah Novo memiliki dua anak perempuan yaitu Pena dan Kena. Ayah Novo tinggal jauh dari Bibi Hana, namun silaturahmi kedua kakak beradik ini masih terjalin sangat baik. Hubungan baik juga dilanjutkan oleh anak-anak mereka, Pena, Kena, Dilo, dan Bilo. Jarak yang memisahkan karena beda kota pun tidak menjadi masalah.
            Liburan sekolah telah datang, dan sudah seperti biasa, Kena selalu minta untuk bisa liburan ke rumah Bibi Hana. Suara salam yang dikenal itu membangunkan Bibi Hana yang tengah terlelap tidur bersama Dilo dan Bilo.
            “Walaikumsalam”, jawab Bibi Hana.
            Mata yang belum sempurna membuka itu, secara perlahan melihat bayangan. Sosok yang tak asing ada di luar pagar rumah Bibi Hana.
            “Oh ... Kakak Novo dan Pena, sebentar ya Bibi bukain pintu.
            “Iya Bi, ini Pena dan Ayah Novo.” Jawab Pena.
            Bibi Hana bergegas mencari kunci pagar pintu. Bibi Hana merasa senang dengan kedatangan Pena dan tentunya Ayah Novi yang tak lain adalah Kakak kandungnya. Bibi Hana mempersilahkan Pena dan Ayah Novo masuk ke rumah. Bibi Hana dengan sigap menyiapkan teh hangat untuk mereka. Pena dan Ayah Novo tampak kelelahan menempuh perjalanan jauh. Bibi Hana mempersilahkan mereka untuk beristirahat.
            “Pena, diminum dulu teh hangatnya, ayo Ayah Novo juga, nanti kalau masih ngantuk bobok dulu aja ya.” Kata Bibi Hana.
            “Iya Bi, tapi sebentar lagi Subuh Bi.” Jawab Pena.
            Ayah Novo pun perlahan meminum teh hangat yang telah dihidangkan beserta roti kering yang tersedia di meja. Ayah Novo dan Bibi Hana terlibat percakapan seperti layaknya kakak beradik yang telah lama tidak bertemu. Sementara Pena tak sabar menunggu pagi dan bermain bersama Dilo dan Bilo yang saat itu masih terlelap. Adzan Subuh pun berkumandang, Pena bergegas sholat. Bibi Hana mempersilakan Pena untuk beristirahat, namun Pena tetap tidak mau.
            Tidak berselang lama, Bilo dan Dilo pun terbangun. Mereka kaget karena ada kakak sepupunya, Pena.
            “Lho...ada Kakak Pena.” Kata Bilo.
            Dilo pun juga terbangun dan tersenyum. Mereka bertiga tak perlu waktu untuk beradaptasi. Mereka bermain untuk melepas rindu beberapa bulan tidak bertemu. Bibi Hana merasa senang memandang anak dan keponakannya sangat rukun dan saling sayang.

***
            Ayah Novo tidak bisa terlalu lama dirumah Bibi Hana. Ayah Novo harus kembali bekerja dan juga mengawasi adiknya Pena yaitu Kena. Ibunya Pena sedang menjalankan tugas mulia yaitu bertelur. Keluarga Pena adalah keluarga Penyu Hijau. Penyu berkembang biak dengan bertelur dan semua jenis Penyu sudah termasuk satwa langka yang dilindungi. Oleh karena itu Ibu Pena harus berkonsentrasi penuh di masa bertelurnya. Di Indonesia terdapat enam jenis Penyu, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Belimbing, Penyu Pipih, Penyu Tempayang, dan Penyu Lekang. Awal bulan Juli merupakan waktu yang tepat untuk berkembang biak. Cara berkembang biak Penyu Hijau adalah dengan bertelur. Penyu Hijau yang hidup di Indonesia biasanya bertelur pada musim kemarau yaitu antara bulan Juli dan Oktober.
            Penyu Hijau memiliki tempat favorit untuk bertelur. Lokasi bertelur Penyu Hijau biasanya memiliki garis pantai yang panjang, pasir yang putih dan disekitarnya ditumbuhi lamun. Tumbuhan lamun ini biasanya tumbuh di perairan laut dangkal (kurang dari tiga meter) dan bisa dianggap sebagai bagian dari ekosistem mangrove. Lamun memiliki fungsi sebagai tempat berkembang biak ikan-kan kecil, sebagai penahan erosi, dan penyedia makanan bagi makhluk hidup di laut.
***
            Ayah Novo berpamitan pada Bibi Hana, dan meminta tolong untuk menjaga Pena sementara selama liburan ini. Bibi Hana tidak berkeberatan justru merasa senang.
            “Hana, tolong jagain Pena ya, jangan lupa dia ada PR selama liburan ini”.
Kata Ayah Novo saat berpamitan dan memberi pesan kepada Bibi Hana. Pena merupakan anak yang pintar matematika terlebih kemampuannya diasah dengan mengikuti kegiatan ekstra di luar jam sekolah yaitu les Matematika.
“Iya Kak Novo, tenang saja.” Jawab Bibi Hana.
“Pena....Ayah pulang dulu ya, yang rukun sama Adik Bilo dan Adik Dilo, dan jangan lupa ngerjain PR nya ya.” Pesan Ayah Novo kepada Pena.
“Siap Yah, hati-hati ya Ayah.”.Jawab Pena.
Ayah Novo pun berangkat kembali ke kotanya. Bibi Hana dan kedua anaknya pun bergegas menyusun rencana liburan bersama Pena. Mereka berencana pergi ke taman bunga. Waktu yang dinanti tiba, Pena pergi ke taman bunga bersama keluarga Bibi Hana. Keseruan dan kegembiraan terpancar di wajah mereka.
Tidak berasa waktu liburan hampir berakhir. Ayah Novo menelepon Pena untuk menentukan waktu penjemputan. Pena masih ingin menghabiskan waktu liburan bersama Bibi Hana. Ayah Novo memberikan pengertian kepada Pena. Waktu liburan yang sudah hampir habis, jika pulang di akhir waktu liburan akan sangat rentan dengan kemacetan. Akhirnya Pena pun setuju untuk dijemput lebih awal dari yang direncanakan.
***
            Pena dijemput oleh keluarganya. Pena pun segera berkemas dengan berat hati. Satu per satu barang dikemasi dengan rapi. Semua barang dimasukkan di bagasi, dan Pena pun tak lama berpamitan dengan Bibi Hana. Semua telah siap untuk berangkat, Pena telah masuk dalam mobil. Tetiba saja Pena minta turun karena merasa ada barang yang tertinggal. Dia berlari kembali ke rumah Bibi Hana. Dari kejauhan Bibi Hana melihat Pena.
            “Ada apa Pena, kenapa lari-lari? Ada barang yang tertinggal?” Tanya Bibi Hana.
            “Iya Bi, Pena merasa ada yang tertinggal.” Jawab Pena.
            Bibi Hana tersenyum, dan memandang Pena. Bibi Hana tahu bahwa sebenarnya Pena belum ingin pulang. Pena anak yang baik, dia menuruti nasihat orang tua dan mengabaikan keinginannya. Bibi Hana memeluk Pena.
            “Pena, yang tertinggal ya Bibi Hana, iya kan?” Bibi Hana menggoda Pena.
            Pena tersenyum. “Ahhh Bibi Hana bisa aja.”
            Bibi Hana pun kembali mengantar Pena ke mobil keluarganya yang telah menunggu di luar. Bibi Hana membesarkan hati Pena. Dia sungguh anak yang baik. Pena tidak hanya pintar tapi dia berbakti dan sayang kedua orang tuanya. Pena mampu meredam keinginannya sendiri demi menghormati orang tuanya. Pena berpamitan sekali lagi kepada Bibi Hana.
            “Pena pulang ya Bi, Assalamualaikum.” Kata Pena.
            “Walaikumsalam Pena, hati-hati ya.” Balas Bibi Hana.
            Pena pulang ke kotanya. Bibi Hana kembali disibukkan dengan dua anak laki-lakinya. Bibi Hana bersyukur karena sekalipun berjauahan dengan Pena namun kasih sayangnya begitu terasa. Seberapa jauh jarak yang memisahkan saudara, tidak akan terasa. Kasih sayang tidak akan lekang oleh jarak sejauh apapun.
***

Pesan Moral:
  1. Mematuhi perintah orang tua salah satu bentuk bakti dan kasih sayang anak kepada orang tua
  2. Komunikasi dan diskusi antara orang tua dan anak serta keluarga itu penting untuk mengurangi kesalahpahaman dan menjaga silaturahmi
  3. Kasih sayang kakak beradik itu tidak tergantikan sekalipun telah berkeluarga dan hidup berjauhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika