Jumat, 31 Januari 2020

BUNDA BERKISAH PART #9 : PETUALANGAN PASUKAN SEMUT


"Bun, semutnya banyak!!" Lula menjerit.

"Gak papa, Nak! Cuma semut aja kok heboh!" Aku tertawa.

"Semut itu hebat loh, tuh liat pasukan semut yang akur dan kompak banget. Itu mereka saling tolong-menolong. Selalu salaman kalau ketemu sesama semut." Aku menjelaskan. 

Aku ingat, saat editing salah satu naskah buku genre anak yang diterbitkan Pejuang Literasi, ada cerita tentang pasukan semut. Aku raih dari rak buku dan mulai bercerita pada Lula, bungsuku.

"Mau denger Bunda bacain cerita tentang semut?"

"Mauuuu!" jawabnya cepat.

"Oke, sini!"

***

PETUALANGAN PASUKAN  SEMUT
Oleh : Ayunaidawita

Semut-semut kecil
Saya mau tanya
Apakah kamu didalam tanah
Tidak takut cacing

Pagi yang cerah, matahari bersinar amat terik. Tak terasa hari liburan yang sangat ditunggu-tunggu telah tiba. Kami warga hutan rimba Sumatera merencanakan untuk liburan ke Pulau Mandeh, pulau yang sangat indah yang tidak kalah indahnya kalau dibandingkan dengan pulau-pulau yang ada di Bali. Kami membayangkan alangkah asyiknya bermain-main pasir dipantai, berenang ditengah tengah ombak yang membawa dan menghempaskan kita kembali  kepantai.
Semua warga Hutan Rimba sangat bahagia, mereka telah bersiap-siap untuk naik keatas mobil. Bekal diperjalanan sudah mereka persiapkan sejak semalam. Mulai dari  makanan yang enak-enak, pakaian untuk berenang, handuk bahkan kaca mata untuk berenang.
Semua warga satu persatu sudah mulai menaiki mobil, mereka naik sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Mereka mulai berebutan untuk mendapatkan tempat duduk yang mereka inginkan. Hanya saja ada pasukan semut yang tidak mau berebutan, mereka sepertinya kurang menyukai liburan yang telah direncanakan oleh warga Hutan Rimba.
Diam-diam pasukan semut keluar dari kerumunan binatang, dia merasa iri dengan binatang lain. Kalau saja tubuhnya tidak kecil dan jalannya cepat, alangkah bahagianya dia bermain-main di pantai.
“Huh, gara-gara tubuhku yang kecil ini aku jadi tak bisa menikmati liburan di pantai. Aku tidak bisa berenang, kalau ombak datang aku pasti hanyut dibawa oleh ombak.”
“Tiba-tiba terdengar suara ajakan, ayo kita ikut, Nak! Aku tahu suatu tempat yang dapat mengajakmu untuk menikmati liburan”.
Mendengar ajakan tadi pasukan semut kembali bersemangat untuk pergi, dengan bernyanyi-nyayi kecil mereka mengangkat semua barang-barang keperluan keatas mobil. Mereka sedang membayangkan kemana  kira-kira kita akan dibawa liburannya.
Sepanjang perjalanan warga Hutan Rimba sangatlah bahagia, pemandangan yang begitu indah mereka lewati.Mereka juga melewati desa terindah didunia,desa yang paling dibanggakan oleh warga Sumatera Barat khususnya Kabupaten Tanah Datar. Mereka menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan berkaroeke dan bermain tebak-tebakkan.
Perjalanan ini memang cukup melelahkan, setelah naik mobil selama kurang lebih empat jam kemudian naik speed boat selama setengah jam, karena kami berangkat sudah kesiangan maka sampai dilokasi hari sudah sore. Sampai dilokasi semua warga berebutan mencari kamar tempat istirahat walaupun sebenarnya sudah diatur oleh kepala rombongan.
Setelah kami semua istirahat, mandi semua kami segera menuju  tempat yang telah disediakan oleh panitia, disana panitia rombongan sudah mempersiapkan acara pesta pada malam itu.
 “Asyik pasti disana banyak makanan! Aku bisa makan sepuasnya! Sorak Ketty sianak kucing. Aku juga bisa makan biji-bijian kan? Oh ya, bagi para ulat kalian tenang saja, aku tak akan memakan kalian kok! Pekik Ckacky si ayam jago”.
Belalang asyik memainkan biola kesayangan sambil bernyanyi dan menari. Rere sang semut juga tidak mau ketinggalan, Rere menari sangatlah lincah dan badannya yang langsing, mungilmeliuk-liuk lemah gemulai sepeti mau patah.
“Ayolah teman-teman marilah kita nikmati liburan ini. Mari kita bernyanyi dan menari, kita habiskan malam ini dengan penuh kegembiraan” ungkap Rere sang semut.
Mendengar ajakan dari temannya kupu-kupu tak mau ketinggalan. Tariannya semakin indah memukau semua warga hutan rimba yang sedang menikmati liburan.Heli si anjing hutan, mencoba untuk menirukan tarian kupu-kupu dan semut namun tidak bisa.
“Kenapa aku tidak bisa seperti kupu-kupu, padahal aku cantik menurut teman-teman.
Percuma aku cantik kalau aku tidak bisa menari” ujarHeli dengan sedih.
“Tak usah sedih teman, Kita kan kesini untuk bersenang-senang, kalaupun kamu tidak bisa menari pasti kamu bisa bernyanyi. Mari kita nikmati malam ini sepuas-puasnya,nanti kalau sudah mulai sekolah kita tidak bisa lagi kesini” ujar Rere.
Akhirnya semua warga hutan rimba yang ikut berliburan kekawasan Mandeh dapat menikmati malam yang sangat menyenangkan.
Keesokkan harinya, mereka semua warga Hutan Rimba menuju kepantai,semua binatang sudah tak sabar karena pantai yang sudah memanggil-manggil. Merekapun segera meluncur kepantai, menyentuh dan bersalaman dengan air laut.
Semua warga Hutan Rimba kecuali Rere dan pasukan semut,sudah siap untuk berbasah-basahan bermain air laut. Pantai yang ada dikawasan Mandeh ini memang begitu cantik, airnya bersih, pantainya landai, pasirnya putih halus, ombaknya kecil, sehingga mereka bisa bermain-main dibibir pantai tanpa harus takut terbawa arus ombak.
Rere dan pasukan semut, hanya bisa memandang teman-temanya yang sedang bergembira. Mereka takut terseret oleh ombak, badannya yang kecil itu tidak akan bisa melawan arus ombak. Mereka sedih tidak bisa ikut bermain air.
Seekor rusa yang biasa mereka panggil paman Rubby melihat kesedihan yang dirasakan oleh semut, dia mengajak semua semut agar dapat mengikutinya. Mereka mengikuti paman Rubby, mereka tidak tahu kemana mereka akan dibawa oleh paman Rubby.
“Ayo teman-teman ikuti aku, aku akan mengajakmu  kesuatu tempat yang bagus dan menyenangkan” ajak Paman Rubby.
“Kita kemana paman?” tanya Rere.
Paman Rubby tidak menjawab pertanyaan Rere. Akhirnya sampailah mereka disuatu tempat.
“Paman ini tempat apa?”Rere kembali bertanya.
“Nah kita akan berjalan diperbukitan ini, kita menuju ke atas.Apakah Kalian mau ikut?” kata paman Rubby.
“Tapi paman, apakah kami akan sanggup keatas sana? Badan kami kecil tentu banyak halangan-halangan yang harus kami lewati” jawab Rere mewakili pasukan semut.
Mulailah mereka berjalan bersama-sama. Tanpa terasa mereka sudah sampai dipertengahan perjalanan. Mereka pun beristirahat, ternyata persediaan air minum mereka sudah habis.
”Paman rubby, air minum kita habis sedangkan perjalanan kita masih jauh, tanya Rere.”
“Nanti kita cari sumber mata air, kata paman Rubby.”
“Rere sudah merasa tak kuat lagi Paman, aku nggak sangggup lagi berjalan, kakiku sakit sekali.”
Semut yang lain merasa kasihan sekali melihat Rere, nafasnya sesak.Mereka menolong Rere dengan berganti-gantian memapah Rere.
Jalan yang mereka lewati ternyata semakin terjal, satu persatu semut merasa tidak kuat lagi, mereka saling berpegangan tangan untuk menaiki bukit  itu. Semut yang masih kuat menggendong sebahagian  temannya yang sudah lemah. Mereka saling membantu agar mereka sampai ke tujuan. Sebagian semut  mencari air minum untuk teman-temannya.
Perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya pasukan semut sampai juga ke puncak bukit Mandeh. Rere yang tadinya lemas, setelah sampai diatas bukit bersorak kegirangan.
”Teman-teman kesinilah, lihatlah kebawah, pemandangan yang sangat indah sekali,jalan yang berliku-liku, laut yang terbentang luas. Tidak sia-sia kita melakukan perjalanan yang sangat melelahkan.”
Teman-teman Rere semua terkejut dan melihat kebawah.
“Rere, kita bisa juga melihat teman-teman kita yang sedang bermain dipantai. Wow...indahnya , Subhanallah..alangkah indahnya ciptaan MuYa Allah.”
Paman Rubby, Rere dan teman-temannya mengabadikan pemandangan yang indah itu,walaupun mereka bersusah payah untuk naik kebukit , tapi setelah sampai diatas bukit hilanglah semua rasa lelah mereka.
“Rere..kamu tidak sedih lagi kan? Walaupun kamu badannya kecil dan tidak bisa berenang, tapi kamu mampu untuk naik bukit, berarti kamu memliki kelebihan. Paman bangga dengan kalian, kalian sangat kompak sekali. Kalian berusaha sampai kepuncak bukit dan menolong teman-teman kalian yang tidak sanggup lagi untuk berjalan. Dan kalian berusaha mencari air minum  untuk teman kalian yang sedang kehausan”. Ungkap Paman Rubby.
Setelah puas mereka menikmati pemandangan dan bermain-main dipuncak bukit Mandeh, tak terasa perut mereka sudah lapar. Semua warga semut dan Paman Rubbyberlari-lari menuju rumah makan. Pasukan semut tidak sedih lagi karena liburan mereka juga lebih asyik,walaupun mereka tidak bisa bermain dipantai,tetapi mereka bisa melihat pantai dari pemandangan bukit Mandeh.
“Hai teman-teman, hari ini semuanya senangkan? Nah, Sore ini kita akan  pulang. Semuanya harus bersiap-siap, sebentar lagi mobil kita akan datang menjemput. Jangan sampai ada yang ketinggalan ya, sapa ketua rombongan”.
Pasukan semut sangatlah bahagia sekali, mereka menikmati liburan dengan perjuangan yang sangat melelahkan tetapi merupakan liburan yang paling mengesankan bagi mereka. Mereka sangat bersyukur dengan liburan dapat mempererat tali silaturrami diantara warga hutan rimba.





Pesan moral :
Dari cerita tadi dapat kita ambil manfaatnya yaitu :
Semut memiliki sikap tolong menolong yang sangat tinggi, sikapini harus kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tolong menolong adalah merupakan kegiatan membantu dikarenakan rasa simpati atau peduli terhadap orang lain baik berupa dalam bentuk benda, nasihat maupun tenaga.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.


Salam kenal,


Hessa Kartika